MINIMALKAN RISIKO BAYI KUNING

28 Feb


Masalah ini sering dianggap remeh. Padahal, bila tak segera ditangani, anak bisa menderita cacat otak.

Kasus bayi kuning, kini semakin sering kita dengar. Kalau dilihat dari segi prosentase, jumlahnya mencapai 25-50 persen.”Bahkan angka itu meningkat jadi 75 persen pada bayi prematur atau lahir kurang dari 37 minggu,” ungkap dr. F. B. Soetikno, SpOG, dari Poli Kebidanan RSAB Harapan Kita, Jakarta.

Padahal, lanjut Soetikno, dampak dari kondisi yang secara medis disebut ikterus neonatorum (IN) ini, tak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih bila sudah kena dan menimbulkan kerusakan di otak bayi yang bersifat permanen, semisal gangguan CP(Cerebral Palsy). Kondisi ini biasanya terjadi pada IN patologis yang kadar billirubinnya sudah melebihi ambang batas yang ditolerir,yang disebut hiperbillirubinemia.

KETIDAKCOCOKAN DARAH

Secara garis besar, lanjut alumnus Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UI ini, faktor penyebab bayi kuning cukup beragam. Di antaranya yang berkaitan dengan darah, yaitu inkompatibilitas atau ketidaksesuaian darah. Baik inkompatibilitas rhesus maupun golongan darah ABO. Artinya, wanita bergolongan darah O yang bersuamikan pria golongan darah A, B, atau AB, berkemungkinan melahirkan bayi kuning sekitar 20-30 persen.

Sedangkan wanita dengan rhesus negatif yang menikah dengan pria rhesus positif, juga akan menghadapi masalah bila melahirkan bayi rhesus positif. Atau sebaliknya, wanita rhesus positif yang menikah dengan pria rhesus negatif. Bila bayi ternyata memiliki rhesus yang berbeda dengan rhesus ibu maka kepada si ibu harus diberikan suntikan Rhogam dalam waktu tak lebih dari 2×24 jam setelah persalinan.

Penyebab lain munculnya IN adalah kekurangan enzim G-6-PD yang menjadikan produksi billirubin berlebihan sementara bayi tak mampu mengeluarkannya. Atau adanya gangguan proses uptake billirubin ke sel-sel hati akibat kekurangan protein Y yang berperan dalam proses uptake ini, maupun akibat imaturitas/kurang matang organ hati itu sendiri pada bayi-bayi lahir kurang bulan.

Dapat pula akibat kurangnya substrat tertentu yang berfungsi dalam konjugasi billirubin maupun gangguan fungsi liver akibat hipoksia atau kekurangan oksigen. Demikian pula dengan penyakit infeksi seperti hepatitis, tbc, dan sifilis, serta penyakit sistemik atau penyakit yang berhubungan dengan sistem tertentu. Di antaranya kadar gula berlebih pada diabetes yang tak terkontrol.

BISA “DIRAMAL”

Ditilik dari beberapa faktor penyebab tersebut, lanjut Soetikno, sebenarnya sudah dapat “diramalkan” atau diketahui secara dini kemungkinan terjadi IN. Baik sejak sebelum kehamilan maupun selagi hamil, selama proses persalinan, bahkan saat perawatan bayi baru lahir sampai saat akan dipulangkan.

Langkah-langkah yang perlu diupayakan adalah pemeriksaan laboratorium pada calon suami-istri yang antara lain untuk mengetahui golongan darah dan rhesus, di samping untuk mendeteksi ada-tidaknya penyakit ataupun infeksi tertentu yang diidap oleh calon ayah/ibu yang bisa dilakukan dengan pemeriksaan tertentu pula.

Sedangkan saat kehamilan, terang Soetikno, biasanya akan dilakukan anamnesa dan pemeriksaan untuk penapisan kasus. Semisal dengan menelusuri apakah dari kehamilan dan atau persalinan terdahulu pernah melahirkan bayi yang menderita ikterus neonatorum. Hanya saja tak semua ibu hamil dianjurkan periksa ini-itu untuk mendeteksi semua penyakit tadi mengingat biaya pemeriksaan laboratorium yang tidak murah.

Yang pertama kali dilakukan biasanya adalah anamnesa pada ibu hamil yang dicurigai berpeluang melahirkan bayi kuning. Akan ditelusuri pula apakah sepanjang kehamilan, terutama trimester pertama, si ibu menggunakan zat-zat atau obat-obatan tertentu yang membahayakan kehamilan. Sebab, penggunaan obat-obatan asetosal atau jenis sulfa yang dulu biasanya digunakan untuk mengatasi penyakit perut, ternyata bisa pula menyebabkan bayi kuning.

KONSUMSI SAYURAN

Yang juga penting untuk dilakukan adalah menjalani antenatal care atau pemeriksaan kehamilan yang baik. Dengan begitu diharapkan kejadian infeksi, bila ada, bisa ditangani segera. Lewat pemeriksaan kehamilan yang teratur pun, kondisi kehamilan akan tetap terpantau, hingga hal-hal tak diinginkan semisal BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) maupun persalinan prematur bisa diantisipasi sedini mungkin. Lewat pemeriksaan teratur dan pengamatan terhadap riwayat kehamilan maupun persalinan sebelumnya, diharapkan bisa terdeteksi bila ada kelainan/gangguan yang mengancam kehamilan.

Salah satunya adalah gangguan anemia atau kadar Hb rendah yang akan menyebabkan bayi kuning. Wanita dewasa normalnya memiliki Hb berkisar 12-14 dan rata-rata ibu hamil di Indonesia mengalami penurunan kadar Hb menjadi 10-12. Di bawah angka yang ditolerir tersebut, tentu aliran darah dan transportasi oksigen ke janin akan terganggu. Lebih lanjut kondisi itu akan berdampak pada pertumbuhan bayi yang tak sesuai dengan kondisi semestinya. Entah jadi BBLR atau malah pertumbuhannya terganggu yang berpeluang besar menjadi keguguran atau prematur.

Bila si ibu rajin memeriksakan kehamilannya, kondisi anemia ini bisa terpantau. Bidan/ginekolog yang menangani tentu akan memberikan tablet preparat besi/Fe dan asam folat untuk mengatasi gangguan tersebut. Plusanjuran untuk mengkonsumsi banyak sayuran yang banyak mengandung asam folat. Ingat, lo, Bu-Pak, kecukupan konsumsi asam folat ini selain memperkecil risiko bayi lahir kuning juga memperkecil kemungkinan kecacatan pada janin.

EKSTRA HATI-HATI

Upaya lain yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko kelahiran bayi kuning adalah tindakan cermat saat persalinan. Artinya, menangani persalinan sesuai dengan indikasi yang ada dan prosedur semestinya. Dengan kata lain, memberikan pertolongan persalinan sesuai dengan prosedur yang tepat dan aman terhadap ibu maupun bayinya. Contohnya, penanganan segera pada kasus-kasus ketuban pecah awal atau pecah dini guna mencegah timbulnya infeksi.

Penting pulamelakukan monitoring sejak memasuki fase persalinan, hingga kelainan pada bayi dapat diketahui secara dini. Seorang ibu dikatakan memasuki fase persalinan bila sudah ada pembukaan mulut rahim. Biasanya dalam fase ini, si ibu sudah diharuskan berada di kamar bersalin. Pada si ibu akan dilakukan pemeriksaan kardiotokografi/CTG untuk memeriksa jantung bayi sekaligus kontraksi uterus yang bisa dilihat dari bentuk rekaman. Dari pemeriksaan tersebut dapat diketahui apakah ada penyimpangan atau tidak.

Dari hasil rekaman tersebut akan ditegakkan assesmentapakah kondisi bayi dalam keadaan baik, mengalami hipoksia atau malah terjadi distres karena bermacam-macam sebab. Di antaranya sirkulasi darah atau antaran zat makanan yang terganggu, atau sirkulasi uteroplasenta tidak mencukupi. Adanya hipoksia atau kondisi gawat janin bisa dideteksi melalui pemeriksaan CTG yang memonitor denyut jantungnya. Frekuensi jantung yang menurun, contohnya, berarti situasi gawat janin yang harus mendapat penanganan segera. Bila tidak segera ditangani bisa berakibat fatal pada bayi.

Pemeriksaan CTG ini akan dilakukan sesuai indikasi. Sedangkan pada kondisi-kondisi yang dicurigai adanya hipoksia, pemeriksaan CTG akan dilakukan secara kontinyu. “Denyut jantung bayi biasanya sekitar 120-160 kali per menit bisa saja bervariasi naik turun di antara angka tersebut. Namun bila angka tersebut mengalami penurunan secara drastis, berarti terjadi distres ataupun hipoksia yang harus segera ditangani.”

Bila terjadi gawat janin, imbuh Soetikno, namun proses persalinan diperkirakan masih lama, maka akan dilakukan percepatan persalinan dengan sesar. Sedangkan bila sudah memenuhi syarat-syarat tertentu, semisal kepala bayi sudah turun, maka percepatan dilakukan dengan vakum atau forcep. Dengan begitu, penanganan kasus dengan tindakan operatif yakni seksio, vakum, dan forcep harus dilakukan ekstra hati-hati. “Karena bila posisi kepala bayi masih tinggi dan dipaksakan tindakan vakum bukan tidak mungkin akan terjadi perdarahan pada kepala bayi yang dapat menimbulkan terjadinya IN.”

KETUBAN PECAH DINI

Yang juga harus diwaspadai adalah persalinan cepat atau partus presipitatus yang juga bisa menyebabkan bayi kuning. Sebabnya, kepala bayi masih kaku dan belum sempat beradaptasi dengan jalan lahir ibu hingga dikhawatirkan terjadi perdarahan di kepala bayi. Sebaliknya, persalinan lama akan menyebabkan kekurangan oksigen dan infeksi. Bila terjadi demikian, dokter yang menangani biasanya akan memberi percepatan. Tentu saja harus dicarikan dulu faktor penyebab persalinan lama tersebut. “Bila mulasnya kurang bagus akan diberi perangsang sesuai dosis.” Sedangkan jika terjadi gawat janin maka akan segera dilakukan tindakan sesuai indikasi.

Yang termasuk persalinan berisiko adalah bila ketuban pecah awal, yakni di luar atau sebelum masuk fase persalinan. Atau ketuban pecah dini atau minimal 6 jam sebelum persalinan. Bila muncul kejadian seperti itu, si ibu harus diberi perlindungan antibiotika untuk mencegah terjadinya infeksi pada ibu maupun bayinya.

SEGERA BERI ASI

Sedangkan pada masa nifas antara lain dapat dilakukan observasi pada bayi dengan menerapkan rawat gabung/rooming in. “Jadi, rawat inap minimal 3 hari itu bukan untuk mengulur-ulur waktu, melainkan kesempatan untuk memantau kondisi bayi. Salah satunya kemungkinan IN tadi. Dengan demikian, munculnya IN fisiologik maupun patologik dapat dikenali sekaligus ditangani secara dini.”

Ibu pun dianjurkan menyusui ASI sedini mungkin karena kolostrum yang ada dalam ASI mengandung antibodi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan bayi, “Dengan early feeding berupa ASI ini, bayi akan cepat BAK dan BAB, hingga mekonium yang mengandung banyak billirubin penghancur butir darah merah pun akan segera terbuang. Pengalaman telah membuktikan,bayi-bayi yang terlambat mendapat ASI atau intakePASI/Pengganti ASI terlalu cepat, berpeluang besar menjadi bayi kuning.”

Yang tak kalah penting, lanjutnya, adalah mengingatkan si ibu saat pulang untuk mewaspadai timbulnya IN yang mungkin terjadi di rumah. Bila terjadi demikian si ibu diminta agar segera berkonsultasi dengan dokter/bidan. Toh, secara sederhana, ibu bisa mencermati gejala bayi IN. Caranya, dengan menekan kulit, terutama pada bagian dada. Bila warna kuningnya tidak segera menghilang patut dicurigai adanya IN.

Bayi kuning “biasa” yang bersifat fisiologis biasanya warna kuningnya akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu kurang dari 14 hari. Bila bukan patologis, penanganan sederhananya bisa dilakukan dengan menjemur bayi sekitar setengah jam di pagi hari antara jam 7-8 pagi saat sinar matahari masih bersahabat.

Hanya saja cara ini cuma efektif untuk menangani bayi kuning selama seminggu pertama. Tak perlu khawatir kulitnya menjadi hitam karena hitam tidaknya kulit seseorang lebih ditentukan oleh pigmen.

Amati pula apakah bayinya malas atau rakus mengisap ASI. Bayi dengan kadar billirubin tinggi umumnya cenderung malas/pasif, karena metabolismenya memang terpengaruh oleh tingginya kadar billirubin tadi. Bila kadarnya lebih dari 20 mg persen,tidak ada cara lain kecuali transfusi tukar. Maksudnya untuk membuang kadar billirubin dalam darah, agar jangan mencapai otak. Kadar billirubin yang terlalu tinggi akan menempel dan merusak otak.

Yang jelas, penyakit kuning pada bayi tidak akan menular karena bukan termasuk penyakit infeksi.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi134/7 Oktober 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: