MITOS AGAR TAK HAMIL

28 Feb


Ternyata anggapan seperti itu sama sekali tak benar. Seperti juga teknik ganjal bantal untuk mempercepat kehamilan.

Kalau belum siap punya anak, habis berhubungan, langsung cuci bersih vagina dengan sabun supaya sperma mati.” Sering, kan, kita dengar nasihat macam itu? Jadilah langsung terbirit-birit ke kamar mandi usai berhubungan intim untuk membersihkan vagina dari sperma. Ada juga yang bilang, lompat-lompat setelah hubungan intim, bisa mencegah kehamilan karena sperma bakal keluar.

Betulkah begitu? “Itu semua cuma mitos!” tegas dr. Chairulsjah Sjahruddin, SpOG, MARS, dari RSIA Hermina, Jatinegara, Jakarta. Logikanya, lanjut Chairulsjah, “Sperma yang sudah telanjur menyemprot dan masuk ke liang vagina, kan, luar biasa cepat. Dalam sekian detik, sel-sel sperma yang jumlahnya jutaan itu sudah bisa menerobos masuk ke liang vagina menuju sel telur, hingga tak mungkin lagi terkejar.

“Dengan begitu, upaya untuk segera membilas vagina, boleh dibilang terlambat. Sementara mencuci vagina dengan sabun atau sampo merek apa pun, tidak akan mematikan seluruh atau sebagian dari sel sperma yang sudah kadung masuk ke dalam vagina. Terlebih bila kualitas spermanya baik, hingga geraknya sedemikian gesit dan cepat.

MASA SUBUR

Ketidak pahaman mengenai hal inilah, lanjut Chairulsjah, yang kerap dijadikan “kambing hitam” oleh para pasangan MBA (married by accident) alias “kecelakaan”. Biasanya, dengan wajah pias mereka bilang, “Kami cuma melakukannya sekali, kok. Itu juga cuma di ‘luar’. Kok, bisa hamil, sih?”

Hamil-tidaknya seseorang, jelas Chairulsjah, bukan semata-mata karena seluruh penis masuk ke dalam vagina. “Meski hanya masuk sebagian atau malah cuma numpang nempel, tetap bisa hamil. Apalagi kalau sperma yang disemprotkan cukup banyak dan saat itu si wanita sedang dalam keadaan sangat subur.”

Dengan kata lain, kehamilan amat ditentukan oleh masa subur. Jika hubungan intim dilakukan pada masa subur, wanita akan mengeluarkan lendir serviks yang amat kental. Struktur lendir berwarna putih telur yang berkualitas prima ini menyerupai tali yang tak terputus. Sekresinya pun relatif lebih banyak dibanding saat tidak berhubungan intim. Nah, begitu sel-sel sperma tersentuh lendir ini, biasanya akan langsung tersedot ke dalam. Alhasil, kendati persetubuhan terjadi di luar vagina, bukan tidak mungkin sel-sel sperma tadi langsung tersedot masuk sehingga memperbesar peluang terjadinya pertemuan sel telur dan sel sperma yang berakhir dengan kehamilan.

Banyak juga pasangan yang masih terbiasa minum morning after pill esok paginya setelah malam harinya bersetubuh, ataupun membilas vagina dengan cairan tertentu untuk mencegah kehamilan. Cairan pembilas itu diharapkan mampu membuat suasana lendir rahim/endometrium menjadi tidak baik. Jadi, meski sel telur dan sel sperma sudah bertemu, proses implantasi atau penempelannya tidak sempurna. Akibatnya, “bibit” yang sudah tersemai tadi akan mati dengan sendirinya.

KEMAMPUAN OKSIGENASI

Yang juga kerap dilupakan suami-istri yang tidak atau belum menghendaki kehamilan, sel-sel sperma bukan hanya ada dalam cairan yang menyemprot saat terjadi ejakulasi. “Sperma juga bisa terdapat di dalam cairan praejakulasi. Memang mungkin jumlahnya tak sebanyak saat ejakulasi yang sesungguhnya.”Itu sebabnya, kata Chairulsjah, mereka yang menggunakan kondom sebagai alat ber-KB, amat dianjurkan untuk mengenakan-nya sejak awal melakukan aktivitas seksual. “Bukannya baru dipasang saat mau ejakulasi! Soalnya, sebelum ejakulasi pun, pasangan yang bersangkutan sudah melakukan intercourse.”

Demikian pula mitos yang mengharuskan seseorang meloncat-loncat sehabis bersebadan agar tak hamil. Atau rajin olahraga dan sering-sering berhubungan intim agar kehamilan tak terjadi alias berakhir dengan keguguran. “Memang, sih, bisa terjadi demikian. Tapi, kan, mekanismenya tak semudah itu. Apalagi jika si wanita memiliki kemampuan oksigenasi (tubuh mengikat oksigen dalam sirkulasi darah).”

Jika oksigen yang masuk ke dalam rahim cukup jumlahnya, kehamilan bisa tetap bertahan. Makanya, terang Chairulsjah, “Meski melompat-lompat dan jungkir balik seperti apa pun, kalau sirkulasi darah dan oksigenasinya baik, rahimnya pasti akan kuat mempertahankan kehamilan.” Selain itu, kekuatan sekaligus kelenturan otot-otot tubuh juga ikut menentukan. Meski orang umumnya menuding kondisi rahim yang lemah yang menjadi penyebab utama keguguran.

Karena itu, lanjutnya, “Jangan berpikir bodoh bahwa hanya dengan melompat-lompat, kehamilan begitu gampang bisa ditunda atau diakhiri.” Sama halnya dengan upaya minum obat pencahar agar muncul diare berkepanjangan, sehingga rahim yang memiliki sistem persarafan mirip dengan sistem pencernaan, diharapkan bakal mengalami kontraksi. “Padahal, kan, enggak begitu. Setidaknya, tak semudah itulah mekanisme berakhirnya kehamilan.”

DIGANJAL BANTAL

Sebaliknya, tak sedikit pula mitos yang ditujukan buat mereka yang ingin segera hamil. Salah satunya adalah mengganjal bagian pantat dengan bantal saat bersetubuh. Tujuannya, agar sperma bisa tertampung seluruhnya dan tak langsung tertumpah jika “wadah”nya diposisikan mendatar. “Ah, anggapan itu sama sekali tak benar. Tak ada kaitannya sama sekali.”

Artinya, tidak secara otomatis mereka yang pantatnya diganjal bantal lantas jadi cepat hamil karena spermanya lebih gampang masuk. Pasalnya, ada atau tidak adanya tumpahan sperma, sangat tergantung pada letak rahim wanita yang bersangkutan. “Ideal”nya wanita memiliki rahim yang antefleksi atau mengarah ke depan karena sperma yang masuk saat berhubungan intim akan mencapai fornix posterior atau ruangan antara dinding liang vagina dan leher rahim bagian belakang.

Sebaliknya, rahim yang hiper-antefleksi atau sangat menekuk ke depan biasanya serviknya agak turun ke belakang, membuat masuknya sperma agak tertahan dan tidak dapat masuk ke mulut rahim. Nah, “terapi” mengganjal bantal baru bisa diharapkan hasilnya bila si wanita memang memiliki rahim seperti itu karena posisi rahim didorong sedemikian rupa hingga maju ke depan.

Sedangkan mereka yang memiliki rahim hiper-retrofleksi (kelewat melekuk ke belakang) justru lebih sulit diakali. Karena tanpa diganjal pun, sperma yang masuk kemungkinan besar akan selalu “tumpah”. Jadi, tandas Chairulsjah, hamil-tidaknya seseorang sama sekali tidak ditentukan oleh mitos-mitos menyesatkan semacam itu.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 138/4 November 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: