PASANGAN GEMAR MELECEHKAN

28 Feb


Jika perkawinan kerap diwarnai lontaran kata-kata menyakitkan, bisa-bisa perceraian jadi solusinya.

Sering, kan, Bu-Pak, kita begitu enteng melontarkan caci maki yang melecehkan pasangan secara emosional, “Ayah payah, enggak becus cari duit!” atau “Mama, kok, norak banget, sih!”, misal.

Penyebabnya, jelas Dra. Adriana S. Ginanjar, MS, tak lain karena secara emosional hubungan suami-istri sangat dekat. Dalam arti, ketemu tiap hari, hingga harus berbagi mengenai berbagai masalah yang kerap memunculkan konflik: dari urusan kebersihan rumah, belanja, pembantu, urusan ranjang, sampai anak. Beda sekali dengan hubungan teman di luaran yang bersua sesekali atau teman kantor yang sebatas urusan kerja. Begitu pekerjaan selesai, tiap individu pun kembali ke kondisi masing-masing.

Selain itu, hubungan suami-istri juga bersifat terbuka dan apa adanya. Keterbukaan semacam ini justru membuat hubungan di antara mereka seolah tanpa batas. Kalau kesal pun cenderung diungkapkan blak-blakan apa adanya, hingga memang lebih “tergoda” untuk saling nyela dan nyakitin. Bukankah penghinaan yang sama oleh pasangan dirasa tak kelewat menyakitkan bila diucapkan orang lain?

MODELLING ATAU PUNYA KELAINAN

Namun, jangan buru-buru menuduh pasangan memang bermaksud melecehkan atau menghina kita, lo. Pasalnya, bisa jadi ia melakukan itu hanya sebatas modelling. Menurut Ina, sapaan akrab psikolog dari Bagian Klinis Fakultas Psikologi UI ini, mereka yang melakukan pelecehan sebatas modelling umumnya berasal dari keluarga yang sudah terbiasa berkomunikasi dengan gaya seperti itu. “Mereka cuma senang bikin heboh atau membuat suasana jadi rame. Sama sekali enggak punya niat menyakiti atau mengecilkan harga diri pasangan, kok.” Itu sebab, pelecehan yang muncul pun dilakukan secara tak sadar. Hingga, bila ditegur, biasanya ia langsung menyadari kesalahannya, lalu minta maaf, dan memperbaiki diri.

Lain hal dengan si peleceh sejati. Ia justru sengaja memanfaatkan ungkapan-ungkapan yang sangat menyakitkan untuk mengecilkan eksistensi pasangannya, karena dengan cara-cara itulah ia merasa dirinya punya power. Yang ini merupakan suatu kelainan, yaitu emotional abuser. “Umumnya, tipe abuser memiliki nilai-nilai yang memandang rendah pasangan, bahwa pasangannya harus nurut, pantas dimarahi, dan sejenisnya. Sementara dirinya lebih tinggi, serba benar, dan powerfull, entah karena berasal dari keluarga kaya raya, punya kedudukan dan penghasilan lebih baik, ataupun merasa kemampuan seksualnya lebih oke,” papar Ina.

Jadi, tindakan pelecehannya untuk mengontrol pasangannya, tak ubahnya indoktrinasi yang secara pasti dan terus-menerus, hingga korbannya kehilangan harga diri. Kalau sudah begitu, si abuser akan merasa “aman” karena ia begitu yakin pasangannya akan bergantung sepenuhnya hingga takkan pernah meninggalkannya.

Tak hanya itu, si abuser juga ingin mendominasi rumah tangga, termasuk mengatur segala macam urusan, hingga pasangan tak punya peran apa-apa. Terlebih biasanya ia punya harapan terlalu tinggi, hingga nyaris standar penilaiannya tak bisa dipenuhi pasangannya. Kondisi inilah yang lantas dimanfaatkan untuk makin merendahkan pasangan lewat rangkaian kalimat menyakitkan, “Goblok amat, sih! Gitu aja enggak becus!”, misal. Padahal bukan tak mungkin di mata orang lain yang normal, pasangannya tak menghadapi masalah apa pun alias mampu berprestasi.

“Melakukan emotional blackmail seperti ini merupakan salah satu keahlian yang sangat menonjol dari seorang abuser,” ujar Ina. Ia sengaja melancarkan kritik untuk membuat pasangan takut padanya. Ia begitu lihai menciptakan suasana seperti itu karena dengan cara seperti itulah, selain punya power, ia pun sekaligus menumbuhkan suasana bersalah dalam diri korbannya hingga tumbuh perasaan, “Iya, deh, ini semua memang salahku, kok.” Tak heran bila makin hari pasangan akan terkungkung dalam rasa rendah diri yang kian buruk akibat gempuran kritik dan pelecehan tadi.

Dampaknya, tentulah bisa merusak perkawinan itu sendiri, selain membuat pasangan makin merasa tak berarti karena selalu saja ada yang salah di mata si abuser. Lebih parah lagi si abuser sendiri, selain kepribadiannya kurang matang karena tak punya kontrol diri dan tak bisa menghargai pasangan, bukan tak mungkin punya kepribadian patologis pula. Hingga, dengan berbekal skenario gila, ia akan menjatuhkan atau menghancurkan pasangannya.

UBAH SUDUT PANDANG

Menurut Ina, sulit melepaskan diri dari kekangan si abuser. Walau begitu, ada beberapa hal yang dilakukan si korban atau pasangan. Pertama, konsep dirinya harus diperbaiki dengan cara “banting setir”, yaitu mengubah pola pikirnya bahwa semua itu bukan mutlak salahnya. Paling tidak, ia harus mau membuka diri terhadap dunia luar dan tak melulu mengabdi pada pasangannya. Minimal harus ada kegiatan yang disukai atau pekerjaan yang memberinya kebanggaan tersendiri dan income lumayan. Dengan begitu, ia punya social network yang kuat dan mendukung, hingga bisa membuatnya memandang dirinya secara berbeda.

“Jadi, lihat segi positif dirinya dan tingkatkan self esteem, jangan telan bulat-bulat anggapan, misal, istri harus tunduk 100 persen pada suami, karena harusnya, kan, lihat kualitas suaminya juga. Kalau suami hobi melecehkan, jelas bukan suami yang patut ditiru, dong.” Selain itu, nilai-nilai yang sudah tertanam yang membuatnya merasa bersalah juga harus diubah hingga lebih mampu tampil sebagai sosok yang tough/kuat, mengingat mengubah perangai abuser tentu jauh lebih sulit ketimbang mengubah cara pandang terhadap diri sendiri, bukan?

Jikapun korban sudah tak tahan dengan perangai pasangannya, “bisa saja perceraian dijadikan alternatif, tapi ini bukan solusi yang disarankan, lo.” Soalnya, abuserakan lebih pas bila dihadapkan pada realitas, semisal, “O, ternyata istriku berani curhat ke psikolog. Malah dia ngajakin ke pengadilan menggugatku.”

Jadi, tegas Ina, si korbanlah yang harus memperbaiki nasibnya, termasuk memikirkan mau dikemanakan biduk perkawinannya. Jikapun perceraian dijadikan alternatif, mesti dipertimbangkan kesiapan yang bersangkutan, bukan hanya ekonomi, tapi juga kesiapan mental. Jangan malah perceraian jadi beban tambahan yang membuatnya makin terpuruk dalam kehancuran.

Namun bila si korban ingin tetap mempertahankan perkawinan, dengan alasan apa pun, Ina menyarankan untuk mengubah bentuk interaksi dirinya dan pasangan. Hingga, jika pasangannya melecehkan, ia sudah berani angkat bicara, tak hanya diam menerima nasib. Apalagi, tipis kemungkinan mengharapkan pasangan berubah dengan sendirinya. Jadi, kala ribut dan pasangan ngomong macam-macam yang menyakitkan, katakan saja terus terang, “Saya enggak suka kamu menghina saya seperti itu.” Termasuk berani berkata “tidak” terhadap dominasi yang sudah kelewat batas. Tentu saja bukan keberanian dalam arti kurang ajar, tapi keberanian mempertahankan hak-hak asasinya. Dengan keberanian semacam itu, biasanya si abuser akan menunjukkan perubahan yang signifikan.

Sayangnya, bilang Ina, yang kerap terjadi, komunikasi di antara mereka justru mandek. Si korban tak berani angkat bicara atau sengaja pilih diam karena merasa sia-sia, “Males, ah, nyoba diskusi, akhirnya malah jadi debat kusir. Dikasih feedback malah dibalas kata-kata yang lebih menyakitkan. Sebel, kan?”

Si Kecil Pun Berkembang Jadi Peleceh

Bila anak sedari kecil terbiasa melihat salah satu orang tuanya dominan melakukan berbagai pelecahan terhadap pasangannya, menurut Ina, dampaknya tak bisa diramalkan secara pasti. “Bisa saja si anak akan tumbuh menjadi suami atau istri yang memiliki sifat-sifat tak terpuji, tapi bisa juga sebaliknya.” Hal ini terpulang pada kepribadian si anak sendiri. Biasanya, anak yang serba tertutup dan memendam masalah sendirian akan berpeluang menjadi pribadi depresif yang cenderung merasa tak berguna lantaran merasa tak memiliki pegangan hidup. Sebaliknya, mereka yang berjiwa keras, umumnya akan tumbuh jadi pribadi yang bertolak belakang dengan sosokmodelling-nya.

Jangan Terkecoh Penampilan

Kata Ina, banyak orang kerap terkecoh dengan penampilan si abuser. Pasalnya, selain tak ada tanda-tanda khusus, di luar keluarganya ia justru termasuk tipe yang disukai semua orang dari semua golongan lantaran sifatnya yang dermawan, penuh perhatian, sangat menyenangkan, supel, sekaligus pekerja keras. “Jadi, tak ada jaminan bahwa mereka yang alim, pandai, punya kedudukan terhormat, dari kalangan berpendidikan bukan abuser.” Tak heran jika banyak orang tak menyangka yang bersangkutan seperti itu. Padahal, boleh jadi lantaran dunia menuntutnya bersikap manis, pasanganlah yang lantas dijadikan pelampiasan dorongan negatif dalam dirinya.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 115/27 Mei 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: