PASANGAN MAU YANG “ANEH-ANEH”

28 Feb


Daripada merasa terpaksa, lebih baik lihat dengan kacamata positif bila pasangan minta yang “aneh-aneh” saat berintim-intim. Toh, manfaatnya bisa dirasakan bersama.

“Bayangin, gimana nggak sebel? Masak, sih, setiap kali kami hendak berintim- intim, aku mesti dandan lengkap. Pakai baju seksi, sepatu hak tinggi!Jangan-jangan suamiku punya kelainan, ya?” begitu keluhan seorang ibu saat berkonsultasi ke pakarnya. Bagi sebagian perempuan, terutama yang malas berdandan, rutinitas semacam itu boleh jadi dianggap sebagai siksaan. Apalagi bila ajakan tersebut datang kala si istri sudah mengantuk atau tengah bergegas menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga.

Banyak memang, kebiasaan atau “ritual” yang menurut orang awam “aneh” yang dilakukan suami/istri saat berintim-intim. “Bahkan, ada, lo, suami yang mengharuskan istrinya selalu mengenakan wig(rambut palsu) setiap kali mereka berhubungan intim,” ujar Dr. Sukiat memberi contoh. Dan hitung punya hitung, lanjut doktor psikologi dari Fakultas Psikologi UI, konon selama 5 tahun usia perkawinan pasiennya itu, tak kurang dari 275 wig telah digunakan si istri! Sementara bila tak mau mengenakan wigpilihannya, si suami kabarnya akan ngambek tak mau bertegur sapa selama berminggu-minggu dengan sang istri. Repot, kan?

BUKAN KELAINAN SEKS

Menurut Sukiat, permintaan “aneh” semacam itu sebetulnya wajar-wajar saja, kok. Sama sekali tak bisa dikategorikan sebagai keanehan. Apalagi disebut kelainan seksual. “Harus ada patokan bakunya, dong, kalau mau mengklasifikasikannya sebagai keanehan/kelainan. Kalau memang enggak normal, lalu bagaimana yang normal?” tandas Sukiat.

Normal-tidaknya perilaku seks seseorang, lanjut Sukiat, bisa dinilai berdasar perhitungan statistik, budaya/pandangan masyarakat yang berlaku, semisal homoseksual yang di Barat sudah bisa diterima, sementara di masyarakat Timur masih ditabukan. Atau kepercayaan masyarakat tertentu yang buat kita mungkin terasa begitu “ajaib”.

Lebih lanjut Sukiat memberi contoh suami/istri yang suka menciumi jempol pasangan. “Itu, kan, bagian dari foreplay? Apa mau dibilang aneh atau tak normal kalau memang itu dilakukan untuk merangsang pasangan?” Soalnya, mayoritas wanita merasa rikuh, malu, alias enggan berterus terang pada suaminya tentang daerah mana saja yang memberinya kepuasan tertinggi. Alhasil, suami mesti rajin bereksplorasi menjelajahi tubuh istrinya untuk mencari daerah erogen. Nah, boleh jadi saat coba-coba lewat trial and error muncul hal-hal baru di antara suami istri yang akhirnya dijadikan rutinitas lantaran dirasa memberi kesenangan.

Daerah erogen atau yang peka terhadap rangsangan, memang sangat individual sifatnya. Dalam arti, belum tentu semua wanita terbangkitkan gairahnya saat diraba puting dadanya, misalnya. Tak heran kalau ada istri/suami yang tergila-gila menciumi ketiak suami/istrinya setiap kali ingin bermesraan. Tentu saja suami/istri yang jadi sasaran kerap merasa risih atau khawatir menyebarkan bau tak sedap.

Bercermin saat berhubungan intim, kata Sukiat, sebetulnya juga lebih merupakan kebiasaan. Besar kemungkinan kebiasaan tersebut muncul dari dorongan rasa ingin tahu. “Gimana, sih, kelihatannya kalau kita sedang berhubungan?” Apakah memperlihatkan penyerahan istri ataupun keperkasaan suami yang memunculkan sensasi baru. Hingga yang bersangkutan tak ingin kehilangan momen-momen seperti itu dan akhirnya sulit meninggalkan kebiasaan tersebut.

JUSTRU TERSANJUNG

Jadi, tandas Sukiat, tak perlu memandang negatif apalagi sampai bersikap antipati kalau pasangan menginginkan ini-itu saat berhubungan intim. Daripada menganggap pasangan kelewat ingin mengatur/mendikte harus begini-begitu, “Demi kebaikan/kenikmatan bersama, lihat segi positifnya saja, deh!” Untuk pasangan yang istri/suaminya gemar menciumi ketiak, contohnya, “Bukankah agar tak mengecewakan istri/suami tercinta, ia pun lantas rajin bercukur dan bersih-bersih setiap kali berangkat tidur atau ingin berintim-intim.”

Begitu juga suami yang mengharuskan istrinya mengenakan stocking, gaun seksi yang tembus pandang, atau busana tertentu kesukaannya, mengapa tidak dituruti? Meski secara rasional bisa saja muncul anggapan bahwa rutinitas/keharusan semacam itu sebagai ulah neko-neko atau sesuatu yang merepotkan. Bukankah permintaan tersebut justru merupakan apresiasi suami terhadap kecantikan sang istri? Sebab, dalam pandangansuami, istrinya tampil luar biasa cantik dalam busana seperti itu.

Istri, ujar Sukiat, seharusnya malah tersanjung oleh permintaan tersebut. Sementara suami pun tentu ingin menikmati kebersamaan dengan istrinya dalam kondisi prima. Soalnya, kapan lagi, sih, suami melihat istri tampil istimewa begitu? Terlebih bila ke kantor pun tak pernah bersepatu tinggi atau gaun pesta nan seksi pun belum tentu digunakan sebulan sekali.

EKSPRESI KASIH SAYANG

Pendek kata, lanjut Sukiat, nikmati hubungan suami istri sebagai sarana untuk memperintim hubungan. Apalagi salah satu tujuan aktivitas berintim-intim memang untuk meningkatkan kedekatan emosi di antara suami-istri. Tepatnya, lanjut Sukiat, sarana untuk saling mengekspresikan kasih sayang.

Dengan begitu, seorang istri yang ingin mengekspresikan kasih sayang pada suaminya tentu bersedia berintim-intim, apa pun kondisi sang suami. Hingga kalaupun pasangannya tergolong “kuat”, ia akan berusaha mengimbanginya dan bukan malah merasa terpaksa, apalagi tersiksa.

Toh, imbuh Sukiat, wanita pun umumnya sudah merasakan kepuasan jika mampu memberi kepuasan pada pasangannya. Karena yang namanya cinta pada dasarnya lebih mengutamakan kesenangan/kepuasan pasangan. Sebaliknya, kalau memang hanya memikirkan diri sendiri, yang bersangkutan tentu memiliki segudang alasan untuk menolak pasangannya. Entah timing-nya yang tidak tepat, sedang tidak in the mooddan sebagainya. Semisal, “Jangan sekarang, deh, Mas, aku lagi capek, nih.” Atau, “Besok sajalah, Papa lagi enggak pingin.”

Kalau kalimat-kalimat semacam itu kerap muncul dalam ikatan perkawinan, tutur Sukiat, amat mudah ditebak bagaimana tingkat keakraban yang mewarnai hubungan mereka. Fungsi lain dari hubungan suami-istri adalah rekreasi. “Jadi, kenapa aktivitas berintim-intim ini tak dinikmati sebagai kesenangan bersama pasangan?” Apalagi fungsi berikut yang tak kalah penting adalah relaksasi dan prokreasi untuk memperoleh keturunan.

Selain itu, pesan Sukiat, penolakan, apa pun dalihnya, merupakan sesuatu yang amat menyakitkan buat individu yang ditolak. Padahal, hubungan intim seharusnya menciptakan hubungan yang paling intim dan sangat pribadi di antara suami-istri. Hingga, kalau salah satu menolak bukan tidak mungkin hubungan di antara mereka jadi tak intim. Karena penolakan tak lain merupakan manifestasi dari menipisnya kadar cinta. Bukankah bila tengah bermasalah, maka yang ada adalah kecenderungan untuk menolak?

Itu sebab, sekali ditolak apalagi dengan frekuensi cukup sering, rasa kesal/benci di antara mereka pasti kian bertumpuk, yang membuat mereka semakin terasing satu sama lain. Hingga ketika di luaran ada perempuan/laki-laki lain yang tidak menolak ajakannya atau malah mengajak, keutuhan perkawinan mereka pun semakin terancam.

JANGAN TERPAKSA

Karena itu,menurut Sukiat, “Hubungan intim suami-istri tak bisa dijadwalkan. Kalau harus pakai jadwal berarti bukan hubungan intim lagi, dong. Melainkan hubungan formal semisal harus berangkat kerja atau masuk sekolah jam sekian.” Idealnya, hubungan intim bersifat spontan. Semisal dari bercanda lantas berlanjut jadi hubungan intim Jangan sampai salah satu merasa terpaksa, hingga hubungan hanya memberi kenikmatan pada salah satu pihak saja. Padahal, seharusnya dinikmati bersama.

Dengan begitu perlu ada keterbukaan. Jangan sampai istri yang terbiasa bersikap pasif dan tak pernah meminta lantas ditanggapi suami sebagai bentuk ke-cuek-an yang membuatnya merasa tak diperlukan. Sayangnya, kebanyakan para istri tak mau bersikap terbuka, hingga sang suami harus pandai-pandai mengorek isi hati istrinya. Meski yang ideal adalah membicarakan bersama, tentang apa keinginan masing-masing. Harus ada semacam kesepakatan tidak tertulis. Ada suami yang saat letih justru sangat menginginkan kenikmatan bersama istrinya. Bila kondisi keduanya tak siap tempur, mengapa tidak disepakati untuk tidur lebih dulu, misalnya, hingga saat terbangun keduanya sudah siap lahir-batin. Apalagi para pria pun dalam keadaan bangun tidur umumnya tengah ereksi, hingga tak perlu buang waktu berlama-lama. “Hal-hal semacam itu, kan, bisa diomongkan. Bila tidak dibicarakan, dikhawatirkan akan menjadi beban atau semacam keterpaksaan.”

Memang, tegas Sukiat, seksualitas bukan merupakan sesuatu yang paling menentukan kebahagiaan perkawinan. Akan tetapi kebahagiaan perkawinan ditentukan juga oleh keharmonisan hubungan seksual di antara suami istri itu sendiri.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Sesksologi/edisi 128/26 Agustus 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: