PEGANG AMPLOP GAJI SENDIRI-SENDIRI

28 Feb


Meski rawan konflik, pengaturan cara ini bisa efektif asal didasari komitmen dan niat baik. Jadi, tak perlu sakit hati bila pasangan tak menyerahkan amplop gajinya.

Gila, sekian tahun berumah tangga, kamu enggak tahu persis berapa gaji suamimu? Enggak curiga, tuh? Gimana, sih, cara kalian mengelola keuangan keluarga?” Itu pertanyaan yang biasanya dilontarkan jika suami-istri pegang amplop gaji masing-masing.

Padahal, kata psikolog Dra. Chaterine D.M. Limansubroto, MSc., sistem keuangan apa pun yang jadi pilihan suami-istri, sepenuhnya hak mereka. Intinya, sah-sah saja suami dan istri pegang uang gaji masing-masing. Sementara orang lain, sekalipun orang tua dan sahabat, tak berhak nimbrung atau mengomentari. “Kalau memang gaya itu yang dianggap terbaik dan dirasa cocok buat mereka, kenapa harus dipermasalahkan?”

Apa pun yang jadi pilihan, lanjut pengajar di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta ini, sebetulnya tergantung kesepakatan bersama. “Sebab, menentukan patokan atau bentuk ideal dalam hubungan antarmanusia, kan, amat sulit.” Soal uang, contohnya. Bila dimulai dengan patokan-patokan tertentu, akhirnya orang akan cenderung mencari-cari kesalahan diri sendiri maupun orang lain, hingga merasa terpojok. Misalnya, “Suamiku, kok, ‘ajaib’, ya,” hanya karena yang bersangkutan tidak mengikuti patokan tadi.

Patokan bahagia-tidaknya perkawinan, tandas Chaterine, bukanlah pendapat orang lain dan bukan pula ukuran universal. Melainkan justru patokan nilai dari dua individu yang terlibat dalam perkawinan itu sendiri. Karena itu, sebuah perkawinan tak harus seragam. Setiap pasangan adalah unik, hingga boleh-boleh saja mereka mengelola uang secara berbeda. “Asal keduanya memang sepakat demikian, mengapa harus merasa terusik?”

TAK PERLU KAKU

Yang penting, dalam gaya pengaturan seperti itu, “Pemasukan dan pengeluaran keluarga diketahui bersama. Artinya, istri perlu tahu penghasilan suami, begitu juga sebaliknya. Nah, apakah pengetahuan tersebut harus detail atau tidak, lagi-lagi tergantung pada kesepakatan bersama.”

Ada yang menuntut sampai detail, tapi tak sedikit pula yang justru mengutamakan taksiran pengeluaran. Sebab dari angka pengeluaran tersebut pasangan bisa mengukur sejauh mana dan bagaimana mereka bisa memenuhinya. Ini penting karena banyak jenis pekerjaan yang memberi jumlah penghasilan tak menentu lewat sistem bonus atau komisi. Sedangkan bekal pengetahuan itu pun minimal akan memudahkan suami istri merencanakan anggaran di tahun-tahun berikutnya.

Kesanggupan untuk menutup kebutuhan/pengeluaran tersebut pun tidak harus berdasarkan pembagian yang kaku, semisal fifty-fifty antara suami dan istri. Artinya, kendati rumah tangga dan segala permasalahannya mesti dianggap sebagai milik sekaligus tanggung jawab bersama, porsi beban yang dipikul tak harus sama persis. “Kalau gaji si istri memang lebih besar, mengapa tidak. Apalagi jika ia memang bersedia mengeluarkan uang lebih banyak karena beranggapan Tuhan membukakan pintu rejeki buat keluarganya lewat dirinya. Belum lagi bila ia pun merasa amat terbantu dengan peran serta suaminya menangani pekerjaan rumah tangga dan mengurusi anak, hingga bisa leluasa berkarier.”

TRADISIONAL & EGALITARIAN

Tidak sedikit pula suami yang masih berpola pikir tradisional dan menganggap dirinya sebagai pencari nafkah. Tipe seperti ini biasanya akan mengatakan, “Seluruh pengeluaran rumah tangga,sayalah yang menanggung. Itu sepenuhnya tanggung jawab saya, kok.” Ia sama sekali tak mengharapkan apalagi mengandalkan bantuan istrinya. Hingga kalaupun si istri juga bekerja, penghasilannya hanya digunakan sebagai uang saku, tabungan atau menambah keperluan ini-itu yang tak termasuk pengeluaran pokok.

Tentu saja istri yang bijaksana tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan/kebebasan yang diberikan padanya dengan menghambur-hamburkan uang gajinya maupun kepercayaan yang diberikan padanya. Biasanya si istri akan memanfaatkan uang tersebut sebagai tabungan. Sebab, bisa jadi untuk pengeluaran tak terduga pun sang suami juga sudah menganggarkan sejumlah dana.

Sebaliknya, suami tipe egalitarian akan terang-terangan meminta istrinya memberi kontribusi dan ikut bertanggung jawab atas kelangsungan ekonomi rumah tangga. Terutama bila dirasa kariernya mentok dan tak memungkinkan cari-cari tambahan, sementara biaya hidup kian tinggi.

BUKAN TABU, KOK

Chaterine tak menyangkal bahwa soal uang memang hal sensitif. Ironisnya, membicarakan uang dalam budaya kita masih kerap dianggap tabu. “Padahal saya yakin, kalau masalah ini dibicarakan pasti akan ada jalan keluar yang paling baik dan sesuai untuk mereka.”

Itulah mengapa, sarannya, jangan memendam amarah atau berpikir negatif kalau pasangan mengingatkan kita agar berhemat. Semisal saat kita membeli terlalu banyak pakaian untuk diri sendiri atau perhiasan yang harganya amat tinggi.

Dengan kata lain, intinya adalah komunikasi dan keterbukaan. Bukankah saat berikrar menjadi suami istri pun mereka membuat komitmen ingin menghadapi segalanya bersama? Bila demikian, kenapa soal keuangan pun tak dihadapi bersama-sama juga?

Itulah mengapa, saran Chaterine, bila dalam pengelolaan uang dirasa ada hal-hal yang mengganjal, utarakan pada pasangan. Caranya, bicarakan baik-baik dan bukan malah sengaja menyulut api. Artinya, jika istri/suami merasa diperlakukan tidak adil atau terbebani soal uang hendaknya bermodalkan niat baik mengajak pasangan bicara. Bukan malah memojokkan keterbatasan pasangan atau membombardirnya dengan segala macam tuntutan di luar kemampuannya.

Meski tentu saja keadaan sebenarnya tidak sesederhana itu. Semisal dalam keluarga yang sachlich soal uang. Tak perlu merasa terhina saat harus meminjam sekaligus mengembalikan uang tersebut pada pasangan, contohnya. Begitu pula kala istri kebablasan membelanjakan uang gajinya seenak hati. Sementara tak sedikit pula yang justru merasa rikuh saat ingin membeli keperluan pribadinya, semisal baju, hingga harus meminta ijin suaminya.

MENGENALI PENYEBAB

Kendati tak bisa digeneralisir, Chaterine menduga ada beberapa faktor yang memunculkan pengaturan keuangan secara terpisah di antara suami istri. Di antaranya adalah ketidakpercayaan pada pasangan hingga yang bersangkutan merasa harus pegang uangnya sendiri. Boleh jadi selama perjalanan perkawinan mereka, suami/istri menilai pasangannya boros. Atau minimal teramat mudah mengeluarkan uang tanpa pertimbangan matang untuk hal-hal yang sebetulnya tidak terlalu urgent alias mendesak. Hingga, ia yang merasa bersusah payah mengumpulkan rupiah demi rupiah mesti ambil sikap tegas semacam itu. Artinya, dari pengalaman masing-masing akhirnya tahu mana yang paling sesuai dan efektif untuk rumah tangganya.

Sikap mempertahankan uang hasil jerih payahnya sedemikian rupa memang merupakan ungkapan kekhawatiran atau rasa tidak aman yang bersangkutan. Bukan tidak mungkin berawal dari pengalaman-pengalaman pahit selama hidup berumah tangga. Semisal suami/istri yang “curang” atau kelewat pelit, sementara yang bersangkutan merasa sudah memberi dan berkorban habis-habisan untuk pasangannya. Penyebab lain, bisa pula karena memiliki reserve tertentu. Dalam arti, mereka begitu khawatir terhadap hal-hal tertentu hingga merasa harus punya cadangan tertentu pula. Dengan pemikiran, “Kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan, aku masih punya sesuatu yang bisa diandalkan.”

Bisa juga penerapan seperti itu diperolehnya dari proses belajar lewat kehidupan orang tuanya dulu dan cara itulah yang dianggapnya terbaik. Atau lantaran pengalaman pribadi bahwa menghambur-hamburkan uang sama sekali tak memberi makna. Atau karena pengaruh teman yang mengolok-oloknya sebagai barisan suami takut istri atau “istri pingitan” dan sebagainya. Karena olok-olok semacam itu jelas sangat meruntuhkan harga diri yang bersangkutan. Sebab lain adalah budaya yang memang menempatkan pria sebagai pemegang uang dan pengambil keputusan. Hingga ketika berumah tangga pun ia terbiasa untuk tidak memberikan uang kepada istrinya, baik sebagian maupun keseluruhan.

Jadi, bilang Chaterine, terhadap suami/istri yang ketat menutup dompetnya, jangan melulu memandangnya dari sisi negatif. “Siapa tahu dia punya itikad baik untuk memberi kejutan pada istri di hari ulang tahunnya, membeli barang-barang elektronik atau barang mewah yang sudah lama diidam-idamkannya. Atau bahkan melanjutkan pendidikan dan persiapan masa depan anak.”

PERLUNYA EVALUASI

Itulah mengapa, Chaterine memandang amat perlu suami istri untuk secara berkala mengadakan semacam evaluasi terhadap situasi keuangan keluarga. Karena apa pun, kondisi rumah tangga tak pernah bisa tetap sama setiap bulan. Artinya, ada saat pengeluaran terasa mencekik dan ada saat lain yang biasa-biasa saja atau malah longgar. Belum lagi akan selalu ada saja pengeluaran tak terduga. Semisal anggota keluarga yang sakit, ipar, pembantu, dan kenalan mengalami musibah yang perlu dibantu. Untuk hal-hal semacam itu memang amat diperlukan toleransi dari pasangan.

Evaluasi semacam itu pun amat diperlukan untuk menilai apakah kesepakatan yang dibuat saat menikah dulu masih sesuai untuk kondisi saat ini atau 5 dan 10 tahun kemudian. Apa pun, kita toh tetap harus bersikap fleksibel terhadap setiap perubahan pada suami maupun istri. Jadi, bukan malah menutup mata atau malah cuci tangan dengan terbiasa mengatakan, “Lo itu, kan, tanggung jawabmu!”

Anggarkan Dana Untuk Tabungan

Chaterine mengingatkan agar kita jangan pernah berkilah tak punya uang sisa untuk ditabung. “Meski tak ada patokan berapa banyak yang harus dialokasikan, tabungan haruslah dianggarkan.” Sebaiknya setiap keluarga, bahkan tiap individu, mendisiplinkan diri untuk menabung untuk berjaga-jaga maupun investasi. Jangan lupa, sisihkan uang untuk tabungan sebelum kita membelanjakannya. Artinya, betul-betul dengan niat menabung dan bukan malah uang receh sisa-sisa belanja yang dimasukkan ke dalam tabungan. Nah, baru anggaran sisa tabungan itulah yang kemudian dibelanjakan dengan saksama mengingat fleksibilitas justru bisa diatur dari pengeluaran. Tentu saja tetap harus dipikirkan masalah keseimbangan. Jangan sampai berat sebelah: menabung sedemikian banyak namun kebutuhan utama harus dicukupi dengan susah payah.

Kalaupun karena berbagai sebab (semisal pasangan kelewat boros) boleh-boleh saja kita memiliki tabungan yang dirahasiakan. Hanya saja bila pasangan mengungkit hal ini, kita wajib berterus terang. Meski mungkin harus disertai persyaratan tertentu, semisal “Mas boleh tahu soal yang satu ini, tapi tidak berarti saya akan mengijinkan Mas menghabiskannya. Karena tabungan ini saya maksudkan untuk keperluan sekolah anak,” misalnya.

Tak Perlu Nimbrung Urusan Orang Lain

Kalau kita tahu ada salah seorang teman yang main curang soal uang terhadap pasangannya, sebagai teman baik, saran Chaterine, boleh-boleh saja kita mengingatkannya agar tidak bersikap seperti itu. Hanya saja, jangan sampai upaya kita mengingatkan malah membuat mereka perang. Apa pun, kita memang patut kasihan pada suami/istri yang diperlakukan seperti itu oleh pasangannya. Paling tidak ia harus berpusing-pusing sendirian memikirkan semua urusan rumah tangga yang terkait dengan uang. Termasuk mengupayakan bagaimana “menyulap” tempe supaya jadi terasa selezat ayam, sementara pasangannya bersikap enak-enakan seolah tak peduli.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 129/2 September 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: