PENDERITA LUPUS TETAP BISA HAMIL

28 Feb


Tak perlu kelewat pesimis jika divonis menderita penyakit ini. Asalkan terkontrol, janin dalam kandungan tak bakal “tercemar”.

Penyakit ini sama sekali tak ada kaitannya dengan tokoh sinetron yang gemar mengunyah permen karet. Lupus, jelas Dr. Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM., merupakan penyakit menahun yang diderita pasien untuk jangka panjang. Bahkan mungkin seumur hidupnya. Sementara yang menjadi sasarannya pun bukan hanya bagian tertentu dari tubuh, melainkan multiorgan karena bisa mengenai bagian tubuh yang mana saja. Mulai kulit, persendian dan otot, rambut, darah, sampai ginjal dan sistem syaraf.

Toh, lanjut Ketua Program Studi Program Pendidikan Dokter Spesialis Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSUPN Ciptomangunkusumo, sampai saat ini penyebab munculnya Lupus tidak diketahui pasti. Kendati ada beberapa faktor yang memicu, di antaranya infeksi, antibiotika tertentu, sinar ultra violet, stres yang berlebihan, dan kondisi hormonal.

Itu sebabnya, saran Zubairi, kalau sudah ketahuan menderita Lupus, “Sebaiknya faktor-faktor pemicu tadi dihindari atau diminimalkan.” Kendati begitu, tidak berarti penderita Lupus sama sekali tak boleh terpapar sinar matahari, misalnya. Yang dilarang adalah sengaja berjemur berjam-jam di pinggir pantai.

Begitu juga dengan paparan infeksi. “Soalnya, kalau sudah terkena infeksi, walau ringan sekalipun akan memperberat kondisi penyakit Lupus yang diderita.” Bukan cuma itu yang jadi masalah, karena saat terkena infeksi, dokter harus memberikan antobiotika, sementara antibiotika merupakan salah satu pemicu. “Nah, di sinilah perlunya kerja sama antar bidang ilmu kedokteran.”

ANGGAPAN TAK BENAR

Menurut Zubairi yang Ketua Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia, Lupus dikategorikan sebagai penyakit autoimun. Artinya, sistem kekebalan tubuh seseorang seharusnya bisa mengenali benda asing berupa virus, kuman atau antigen apa pun, sekaligus membentuk antibodi untuk memeranginya.

Nah, pada penyakit autoimun seperti Lupus, sistem kekebalan tubuh pasien kehilangan kemampuan membedakan antigen tersebut. “Tak ubahnya seperti tentara yang enggak tahu mana si musuh, lantas rakyat sendiri yang ditembaki hanya karena sama-sama berkulit sawo matang,” ujar Zubairi mencontohkan.

Padahal, upaya meningkatkan kekebalan tubuh secara keseluruhan pun tak akan berdampak langsung pada kemampuan mengenali antigen tadi. Pada penderita Lupus akan ditemukan bermacam-macam antibodi. Masing-masing antibodi itulah yang kemudian memerangi dan merusak sel-sel tubuh sendiri.

Sebetulnya, kata Zubairi, meski belum ada data pasti, kasus Lupus cukup banyak di Indonesia. Bahkan selama 10 tahun terakhir, jumlah penderita di Jakarta saja mencapai ratusan. Sementara di AS dilaporkan ada sekitar 16 ribu per tahun. Ditilik dari usia, Lupus bisa mengenai siapa saja. Meski untuk usia anak dan usia lanjut amat jarang, namun wanita di usia reproduksi antara 12-30 tahun paling banyak terjangkiti. Tapi jangan salah, lo, laki-laki pun bisa terkena, meski peluangnya cuma 1:9 dibanding wanita. Besar kemungkinan, imbuh Zubairi, “Prosentase tersebut berkaitan dengan kondisi hormon kewanitaan. Tapi bagaimana mekanismenya, belum banyak terungkap.”

DIKELOLA BERSAMA

Lantas yang jadi pertanyaan, bisakah wanita penderita Lupus hamil dan melahirkan seperti layaknya wanita lainnya? “Kenapa tidak?” tandas Zubairi. Ia pun mematahkan anggapan salah yang selama ini beredar, “Enggak benar pasien penderita Lupus jadi perempuan mandul. Ada sekitar 15 pasien yang saya tangani dan semuanya ternyata bisa hamil dan melahirkan bayi yang sehat. Bahkan beberapa di antaranya malah punya anak banyak, lo.”

Menurutnya, tidak benar juga anggapan yang mengatakan kehamilan para penderita Lupus ini termasuk berisiko tinggi. Kehamilan pada penderita Lupus, kata Zubairi, tidak akan bermasalah kalau dikelola dengan baik bersama-sama. Dalam arti, ada kerja sama antara pasien, keluarga, dokter kandungan dan kebidanan, serta dokter yang terkait untuk mengawasi penyakit Lupusnya. Artinya tergantung di daerah mana Lupus itu menyerang.

Kalau ginjal yang terkena, contohnya, berarti dokter ahli ginjal yang dilibatkan karena pengobatannya akan mengikuti prosedur pengobatan ginjal, termasuk penambahan albumin. Begitu juga bila memang bagian-bagian darahnya yang terganggu, ia diharuskan berada di bawah pengawasan hematolog. Seperti trombositnya diserang, maka jumlah sel pembekuan darahnya jadi rendah, hingga pasien akan rentan mengalami perdarahan.

BERHENTI MENDADAK

Ironisnya, ujar Zubairi, yang sering terjadi para penderita Lupus yang hamil justru menghentikan konsumsi obat-obatannya hanya lantaran khawatir anaknya cacat gara-gara obat tadi. Padahal, lanjut Zubairi, obat-obatan yang diberikan pasti relatif aman buat si ibu hamil maupun janinnya.

“Tindakan main stop sendiri justru bisa memperparah penyakitnya. Sebab, sejumlah obat yang diberikan, semisal prednison, harus secara bertahap dikurangi sedikit demi sedikit sebelum dihentikan. Penghentian yang mendadak malah akan memunculkan antibodi berlebihan.” Kondisi semacam itu jelas akan merepotkan dokter yang menangani sekaligus pasiennya sendiri karena bisa terjadi abortus atau lahir prematur.

Jadi, abortus terjadi bukan karena kekurangan nutrisi, melainkan karena timbulnya antibodi yang “menyerang” janin yang dianggap sebagai benda asing.Nah, kalau sudah telanjur keguguran biasanya kepada pasien disarankan untuk istirahat beberapa bulan. “Pada pasien tanpa Lupus saja harus istirahat dulu sebelum hamil lagi. Apalagi penderita Lupus.” Tenggang waktu itu setidaknya digunakan untuk mencari penyebab keguguran tadi sekaligus memberi kesempatan rahim untuk pulih kembali serta meredakan penyakit Lupusnya.

Kemungkinan terburuk lainnya dari penghentian obat yang sembarangan adalah penyakit Lupus si ibu yang bakal aktif kembali. Atau malah terjadi preeklampsia disertai kejang-kejang yang bisa membuat si ibu meninggal. Sebaliknya, bila tetap terkontrol, bayi yang dilahirkan akan oke-oke saja karena tidak “tercemar” atau tertular Lupus.

Kendati bisa saja si ibu berkemungkinan melahirkan BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) akibat pengaruh pemakaian obat jangka panjang tadi, akan tetapi ketertinggalan tersebut bisa dikejar asalkan bayi mendapat ASI dan perawatan kesehatan yang semestinya. Patut diingat juga, Lupus pada dasarnya tidak menimbulkan kecacatan dan tidak pula seperti kanker yang mengenal derajat keganasan. Jadi, tak ada masalah saat melahirkan. Artinya, ibu bisa melahirkan spontan bila memang tak diindikasikan untuk sesar.

SALAH DIAGNOSIS

Memang, aku Zubairi, tak sedikit dokter yang salah menegakkan diagnosa. “Ini bisa dimaklumi karena Lupus kerap menampilkan gejala yang sangat mirip dengan penyakit lain. Tak heran bila penderita Lupus awalnya dikira terkena demam berdarah, tipus, TBC, gangguan lambung, atau rematik. Di sinilah pentingnya menegakkan diagnosa secara benar, hingga tidak perlu makan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menemukan penyakit Lupus.”

Apalagi bila diketahui sejak awal, 80-90 persen pasien Lupus bisa ditangani. Sementara sekitar 10 persen sisanya yang tak bisa tertangani, biasanya karena kondisi penyakitnya sudah berat akibat terlambat terdeteksi. “Untuk semua penyakit, jelas perlu kejelian dokter untuk mengenali gejala penyakit.” Sebenarnya, ujar Zubairi, mengenali penyakit ini tidaklah sesulit yang dibayangkan. Karena minimal 4 dari 11 gejala yang seharusnya ada akan muncul. Meski pada beberapa kasus malah tidak menampakkan gejala sama sekali.

Kalau sudah ditemukan 4 gejala, Zubairi menyarankan untuk segera berobat ke dokter ahli penyakit dalam. Toh, para dokter kini semakin terampil mendiagnosis Lupus. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar Hb, leukosit, dan trombosit juga bisa dilengkapi dengan pemeriksaan khusus untuk mendeteksi ada-tidaknya antibodi ACA (Anticardioliphin) dan Lupus Antikuagulan. Bahkan bila ginjalnya dicurigai terkena, akan diperiksakan kadar protein dalam air seninya.

Adapun ke-11 gejala tersebut adalah demam terus menerus di atas 38 derajat, nyeri sendi, rambut rontok, anemia, ginjal, sariawan yang hilang-timbul, oversensitif terhadap sinar matahari, rasa sakit di dada saat bernapas, masalah penggumpalan darah, kelainan kulit membentuk gambar kupu-kupu (butterfly rash di antara hidung dan pipi, kelainan syaraf, serta rasa lelah yang luar biasa dan berkepanjangan.

Berdasarkan gejalanya, Lupus dibedakan menjadi Lupus Diskoid atau setempat dan Lupus Sistemik. Lupus Diskoid adalah bentuk yang paling ringan dengan gejala berupabutterfly rash yang biasanya akan hilang begitu Lupusnya tertangani. Artinya, ginjal dan organ lainnya tidak terkena. Sementara Lupus Sistemik umumnya terbilang membahayakan karena serangannya bisa pada organ mana saja.

Tak Ada Pantangan Khusus

Kendati tak ada pantangan khusus, terang Zubairi, penderita Lupus disarankan untuk tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang jelas-jelas berpengaruh buruk pada kesehatan. Semisal junk food atau sejenisnya yang bisa menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Sebaliknya, penderita amat dianjurkan mengkonsumsi ikan.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 135/14 Oktober 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: