PILIH-PILIH POSISI MELAHIRKAN, MUNGKINKAH?

28 Feb


Mau miring, jongkok, telentang, boleh-boleh saja. Yang lebih menentukan justru persiapan mentalnya.

Posisi melahirkan dalam persalinan spontan, ungkap dr. Nasdaldy, SpOG, boleh dibilang tak kelewat berpengaruh. Artinya, posisi apa pun boleh-boleh saja. “Kalau pasien memang merasa lebih nyaman dengan posisi jongkok, mengapa tidak? Mau miring pun, silakan,” tutur dokter ahli kebidanan dan kandungan dari Divisi Kanker Ginekologi RS Kanker Dharmais, Jakarta ini.

Hanya saja, lanjut Nasdaldy, posisi yang selama ini dianggap paling nyaman dan lazim untuk melahirkan adalah posisi telentang atau yang disebut litotomi. “Bisa dibayangin, kan, wong lagi menahan rasa sakit yang luar biasa, kok, malah disuruh jongkok. Selain harus menahan rasa mulas, si ibu pun mesti menahan berat badan,” imbuhnya.

Kendati di beberapa daerah tertentu, semisal di Irian, posisi jongkok ini malah sudah begitu membudaya. Kalau posisi tersebut jadi favorit bagi para ibu melahirkan di sana, lanjut Nasdaldy, “Amat bisa dimaklumi. Mereka, kan, umumnya melahirkan bayinya sendiri tanpa dibantu siapa pun!”

Masalahnya, tandas Nasdaldy, bila ingin melahirkan di rumah sakit dengan posisi jongkok seperti itu, “Cukup repot. Bagaimana dokter ataupun bidan selaku pimpinan persalinan bisa melihat dan mengikuti proses persalinan itu dari detik ke detik?” Padahal, dengan melihat langsung, ada banyak hal yang bisa diketahui dokter. Semisal sudah seberapa jauh pembukaan mulut rahim dan kapan si ibu harus diberi aba-aba untuk mengejan. Belum lagi upaya ekstra untuk menahan perineum agar tak terjadi perobekan yang meluas akibat besarnya dorongan tenaga si ibu.

SEBATAS TEORI

Posisi lain yang memiliki kemiripan dengan posisi jongkok adalah posisi duduk (squading position). Tentu saja agar si ibu bersalin nyaman dengan posisi ini, perlu dibuat meja bersalin khusus. Dengan begitu ibu dapat melahirkan sembari duduk.

Sedangkan posisi miring biasanya dianjurkan pada ibu-ibu yang bayinya belum turun atau pembukaannya belum lengkap karena ada sebagian mulut rahim yang belum terbuka sepenuhnya. Posisi ini, kata Nasdaldy, dipercaya bisa mempercepat proses pembukaan mulut rahim.

Jadi, tak benar sama sekali bila posisi miring dikatakan bisa dimanfaatkan untuk menahan jabang bayi yang siap mbrojol sementara pimpinan persalinan belum tiba di tempat. “Lo, buat apa, sih, ditahan-tahan? Kalau memang sudah saatnya lahir, ya, biarkan janin lahir. Lagi pula, tak mungkin, kok, janin ditahan-tahan agar tidak keluar bila memang sudah saatnya dilahirkan. Kalaupun dokter atau bidan belum datang, bisa didelegasikan atau diambil alih oleh dokter atau bidan lain.”

Melahirkan dalam air dengan posisi berdiri pun, jelas Nasdaldy, secara teoritis bisa saja dilakukan. Sayangnya, melahirkan seperti ini masih sebatas eksperimen dan belum bisa dibuktikan apakah lebih nyaman dan memberi kemudahan dibanding posisi melahirkan lainnya. Dalam arti, masih agak diragukan apakah dorongan dari air membantu memudahkan si ibu melahirkan anaknya. “Kalau benar lebih mudah dan nyaman, tentu sebagian besar klinik bersalin dan rumah-rumah sakit bersalin akan menyediakan fasilitas itu.”

SALAH MENGEJAN

Kendati begitu, Nasdaldy tak menampik kenyataan bahwa semua posisi melahirkan berpeluang sama dalam menekan pembuluh-pembuluh darah. Terutama di mata dan daerah seputar wajah. Walaupun sebenarnya “kesalahan” ini lebih akibat kesalahan mengejan dan bukan lantaran posisi melahirkan.

Untuk meminimalkan risiko semacam itu, Nasdaldy mengingatkan agar para ibu hamil rajin mengikuti senam hamil atau kursus-kursus sejenis seperti parenting education. Pertimbangannya, kursus-kursus semacam itu biasanya mengajarkan banyak hal yang diperlukan ibu hamil. Dari berlajar mengejan dengan benar, mengatur sistem pernafasan, sampai menguatkan sekaligus menjaga kelenturan otot-otot tubuh yang bakal digunakan saat persalinan kelak. Terutama otot-otot kaki karena kedua kaki akan ditarik mendekat ke tubuh sedemikian rupa agar jalan lahir terbuka.

Memang, seringkali saat masuk kamar bersalin segala macam teori yang telah dipelajari selama mengikuti senam hamil tadi bisa saja terlupakan. Macam-macam penyebabnya. Entah karena si ibu salah mengejan, posisi tubuhnya begitu kaku/tak lentur, atau tenaga paramedis yang berada di ruang persalinan terkesan galak hingga membuat si ibu makin grogi.

BUTUH SUPPORT

Sebetulnya, lanjut Nasdaldy, yang paling menentukan keberhasilan si ibu dalam berjuang melahirkan anaknya ke dunia adalah sikap mental dirinya sendiri. Artinya, mereka yang kondisi psikologisnya cukup tegar, tentu akan menghadapi semua derita persalinan tanpa keluhan sedikit pun.

Sedangkan mereka yang tergolong manja, boleh jadi tidak begitu sakit pun akan dibilang sakit luar biasa. Hingga sering dicap sebagai cara untuk mencari-cari perhatian tenaga paramedis di situ.

Di lain pihak, tenaga paramedis/penolong persalinan hendaknya bisa mengerti “kepanikan” si ibu. “Sebabnya, saat-saat seperti itu memang merupakan saat yang paling menegangkan dalam kehidupan si ibu. Sekalipun ia mungkin sebelumnya sudah pernah melahirkan, tetap saja persalinan anak kedua merupakan pengalaman yang luar biasa menegangkan. Hingga support dari siapa pun jelas diperlukan.”

Sudah pasti dokter pun amat diharapkan ikut membantu si ibu membangun persiapan mental yang baik. Termasuk support dengan mengatakan bahwa kehamilannya oke-oke saja hingga tak perlu kelewat dikhawatirkan bila memang demikian adanya.

Sikap dokter, lanjut Nasdaldy, sedikit banyak ikut mempengaruhi kelancaran proses persalinan. Kalau dokter cenderung menakut-nakuti, si pasien jelas akan takut. Bisa juga si dokter ramah dan bersifat memberi dukungan, tapi paramedis lain menunjukkan sikap yang tidak ramah. Mungkin saja mereka kelewat letih atau memang terbiasa hidup dalam budaya serba keras dalam bertutur kata.

Nah, kalau ada kejadian-kejadian seperti itu, pasien bisa meneruskan komplain tersebut pada dokter. “Selama pasien tidak komplain, manalah dokter tahu apa yang dirasakan pasien? Setidaknya, hal-hal semacam itu menjadi masukan bagi si dokter yang bisa diteruskan ke manajemen rumah sakit supaya diperhatikan, meski kelihatannya sepele.”

PERIKSA TERATUR

Yang pasti, saran Nasdaldy, perlu diperhatikan pentingnya manfaat senam hamil atau kursus-kursus serupa. Paling tidak, kondisi mental si ibu akan bisa dipersiapkan secara lebih baik. Selain ikut senam hamil, ibu hamil pun disarankan melakukan pemeriksaan rutin.

Menurut Nasdaldy, pemeriksaan ini sangat penting untuk mengetahui adanya kelainan-kelainan yang mungkin bisa menyulitkan persalinan. Kalau kelainan diketahui lebih awal, dokter bisa segera mengatasinya. Semisal diketahui si ibu berpostur kecil dan pendek, maka kemungkinan besar panggulnya sempit hingga tak bisa melahirkan normal. Dengan begitu, jauh-jauh hari kesulitan-kesulitan yang mungkin muncul bisa diantisipasi. Salah satunya dengan menjaga agar bayi tidak terlalu besar atau kalau tak memungkinkan, harus lewat sesar.

Begitu juga jika ditemui kelainan lain, semisal posisi bayi melintang atau sungsang. Dari pemeriksaan yang teratur akan bisa dicari penyebabnya dan jika ternyata bisa diperbaiki, tentu akan diupayakan langkah perbaikan.

Nah, rajin-rajinlah senam hamil dan memeriksakan diri ke doker/bidan.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 131/16 September 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: