SIAPKAN MENTAL HADAPI OPERASI

28 Feb


Mendengar kata “operasi” saja, sudah ngeri. Itu sebabnya dokter dituntut memiliki empati.

Siapa, sih, yang tak takut menghadapi operasi? Makanya, seperti dituturkan psikolog Dra. M. Louise M.M., Psi., “Reaksi seperti itu amat wajar dan manusiawi. Apalagi, operasi bisa dibilang selalu terkait dengan urusan hidup dan mati.” Takut gagal, takut hasilnya tak maksimal, dan lainnya. Lebih-lebih, lanjut Louise, jika tindakan operasi menyangkut organ-organ kewanitaan semisal tumor di rahim atau payudara. “Maknanya bisa lebih dari sekadar aspek fisik.” Sebab, ada bagian penting di tubuhnya yang harus dihilangkan. Alhasil, ia merasa tak sempurna lagi. Misalnya, yang tadinya masih menstruasi, kini putus haid karena memang dibikin menopause sebelum waktunya. “Padahal, untuk wanita normal, memasuki menopause saja, sudah menjadi beban. Cemas kalau-kalau tak bisa berfungsi sebagai wanita, takut tak disayang lagi oleh suami, dan sebagainya.

MEMAHAMI RASA TAKUT

Takut menghadapi operasi, sambung Louise, muncul antara lain karena pasien tak tahu-menahu, ia bakal “diapakan” oleh dokter. Apalagi, kalaupun dijelaskan, bahasa dokter kadang sulit dimengerti. Misalnya dokter hanya berkata, “Miomanya harus diangkat, nih, Bu.” Nah, bingung, kan, apa, sih, mioma?

Memang sepatutnyalah dokter memberi informasi yang jelas dengan bahasa awam. Baik tentang penyakit, prosedur operasi, risiko, tingkat kesulitan, dan sebagainya. Penjelasan itu pun, tambah Louise, sebaiknya juga melingkupi kondisi psikologis pasien. Contohnya, setelah menerangkan atau menjawab pertanyaan pasien, si dokter menambahkan, “Tapi Ibu enggak perlu takut, kok.”

Bagi orang awam, seringan apa pun, yang namanya operasi tetap saja menimbulkan ketakutan luar biasa. Contohnya, untuk para dokter, sterilisasi termasuk operasi sangat ringan berupa sayatan kecil. “Tapi buat pasien, beda. Dia menganggapnya sebagai sesuatu yang besar dan mengerikan.”

MEMBINA SALING PERCAYA

Kepribadian pasien, juga seharusnya tak luput dari perhatian dokter. Ada pasien yang bersikap, “Sudahlah, terserah Pak Dokter saja. Yang penting, saya sembuh.” Tapi ada pula yang dengan njlimet bertanya ini-itu dan akhirnya terkesan sok tahu dan sok pintar. Akhirnya, si dokter malah merasa kesal.

“Padahal, alangkah baiknya bila pasien dan dokter jadi mitra. Dengan begitu, rasa aman dalam diri pasien akan terbentuk.” Di lain pihak, pasien wajib memberi kepercayaan pada tim medis yang menanganinya. “Dengan begitu, pasien akan masuk ruang operasi dengan percaya diri karena ia yakin ditangani oleh ahlinya.”

Yang ideal, tutur Louise, pasien disiapkan lebih dulu kondisi psikologisnya dengan melibatkan psikolog untuk menjembatani pasien dengan tim medis. Sayangnya, tidak semua rumah sakit punya fasilitas itu. Bahkan tak sedikit para dokter spesialis yang masih berpikir untuk menangani segalanya sendirian, termasuk tugas psikolog untuk mendampingi pasien.

EMPATI & AFEKSI

Karena itulah paramedis dituntut memiliki kemampuan berempati menghadapi pasien yang tengah panik dan ketakutan. Juga tak menganggap enteng kecemasan pasien dengan komentar yang buat pasien terdengar melecehkan, “Ah, mengangkat mioma, kan, pekerjaan enteng, Bu. Kenapa, sih, Ibu mesti ketakutan begitu?”

Akan lebih baik, saran Louise, jika dokter mau menempatkan diri, pikiran, dan perasaannya di diri pasien. “Kalau aku yang jadi pasien, bagaimana, ya, rasanya? “Akan lebih menyenangkan dan menenangkan pasien jika dokter berujar, “Takut, ya, Bu? Saya kalau jadi Ibu juga pasti takut. Tapi ini, kan, penting daripada penyakit Ibu tak kunjung sembuh. Jangan khawatir, kami akan bekerja sebaik mungkin. Selebihnya, kita serahkan pada Tuhan saja.”

Cara lain, tutur Louise, dengan menunjukkan afeksi lewat sentuhan. Kala pasien tegang, contohnya, tenaga medis bisa membelai lengan pasien. “Kenapa, Bu? Takut, ya?” Perhatian berupa sentuhan kecil semacam itu sudah amat berarti buat pasien.

Pasrah Bukan Berarti Pesimis

Salah satu faktor yang ikut menentukan berhasil tidaknya kesiapan mental adalah kepribadian individu yang bersangkutan. Apakah cukup matang atau tidak dan bagaimana hubungan yang bersangkutan dengan Sang Pencipta. Sebabnya, jelasLouise, kedekatannya dengan Sang Khalik akan menentukan pula sikap pasrahnya menghadapi momen berat semacam itu. “Pasrah bukan berarti pesimis. Melainkan rasa yakin, bahwa hidup dan matinya diatur oleh Tuhan.”

Ditilik dari tipe kepribadiannya, mereka yang sulit mencapai kesiapan mental umumnya adalah orang yang gampang panik, terbiasa sangat dilindungi dalam keluarganya, rendah self esteem-nya hingga selalu perlu dukungan dari lingkungan.

Sebaliknya, mereka yang terbiasa mampu bersikap tegar setiap kali menghadapi masalah atau yang hubungannya “akrab” dengan Yang Maha Kuasa, biasanya menghadapi “vonis” operasi dengan sikap yang wajar atau malah sering terkesan cuek. “Hidup dan mati, Tuhan yang mengatur, kok,” begitu pikir mereka.

Sedangkan kadar ketakutan, tak sama pada tiap orang. Bahkan pada individu yang sama kadarnya akan berbeda pada masing-masing tahapan usia atau jenis operasi yang berlainan.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 137/28 oktober 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: