SIKAP: Perangi Kekerasan Terhadap Perempuan & Anak

28 Feb


Lembaga ini memang didirikan khusus untuk membela perempuan dan anak yang mengalami tindak kekerasan dalam keluarga.

Soalnya, tutur sosiolog Magdalena Sitorus, sang pendiri SIKAP (Solidaritas Aksi Korban Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan), umumnya kaum perempuan dan anaklah yang kerap menjadi korban tindak kekerasan dalam keluarga. “Bukankah selama ini kaum perempuan dan anak dianggap sebagai pihak yang lemah, hingga dengan mudah dijadikan sasaran kekerasan domestik?” ujarnya.

Menurut Magda, kekerasan yang dialami perempuan dan anak dalam keluarga bukan hanya berupa tindak pemukulan atau bentuk kekerasan secara fisik, melainkan juga perampasan kebebasan semisal tak boleh pergi ke mana-mana, termasuk berkunjung ke rumah orang tua pun dilarang, kecuali di bawah “pengawalan” suami. Tak hanya itu, “para istri pun banyak yang mengalami kekerasan ekonomi semisal uang belanja yang dijatah.” Bahkan, tambahnya, ada pula istri yang dilarang menjalankan ibadah sesuai agamanya. “Ini, kan, juga termasuk tindak kekerasan, yaitu kekerasan spiritual.”

ASPEK BUDAYA

Dari banyak kasus yang ditangani SIKAP, tutur Magda, pelaku tindak kekerasan bukan hanya para suami tak berpendidikan, berpenghasilan rendah atau berasal dari suku yang dikenal keras. “Ada juga, lo, suami-suami berpendidikan S2 dan lulusan luar negeri pula yang melakukannya.”

Itu sebab, ibu 3 anak ini, lebih suka menyebut tindak kekerasan terhadap perempuan merupakan fenomena lintas stratifikasi. Artinya, tak membedakan latar belakang pendidikan, ras/suku, maupun agama seseorang. Melainkan cenderung dipicu oleh nilai-nilai budaya yang sudah sedemikian terinternalisasi ke dalam diri si pelaku. “Budaya patrialistik, kan, masih cukup subur di negeri kita. Perempuan dianggap sebagai subordinasi atau warga masyarakat kelas dua, hingga tak ada hubungan yang seimbang di antara suami-istri.”

Bahkan, tambah Magda, di banyak suku, wanita malah dianggap “barang murah” yang bisa dibeli secara harafiah, lalu dijadikan milik pribadi yang boleh diperlakukan semaunya. Nah, jika budaya tersebut yang ditumbuhsuburkan di dalam keluarga, tentunya si Buyung akan “mempelajari” secara langsung dari modelling terhadap perilaku orang tua bahwa hal itu sah-sah saja dilakukan. Tak heran, setelah menjadi suami, ia sama sekali tak melihat istrinya sebagai mitra.

Sama halnya dengan “nasib” anak yang sering dianggap “milik pribadi” orang tua, hingga mesti patuh 100 persen tanpa boleh membantah sepatah kata pun pada apa yang dikatakan orang tua. Padahal, bilang Magda, “anak, kan, bukan miniatur orang dewasa. Ia juga berhak, kok, menentukan sikap dan pilihan sendiri.” Orang tua, lanjutnya, seyogyanya hanya sebatas memberi masukan dan pengarahan atau pertimbangan, bukan ultimatum yang tak bisa ditawar. Soalnya, dari kebebasan memilih yang disertai pengarahan ini, anak belajar menilai bahwa pilihan yang diambilnya selalu mengandung risiko. “Dari sinilah individu belajar menjalani hidupnya dan tak serta merta menyalahkan orang tua bila ia merasa salah pilih.”

Itu sebab, bilang Magda, untuk meminimalisir bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, minimal harus ditumbuhsuburkan atau di-back up anggapan bahwa pekerjaan-pekerjaan domestik bukanlah kewajiban istri belaka, melainkan tugas bersama. Dengan begitu, diharapkan pria bisa bersikap fleksibel, bukan malah dengan enteng berkelit, “Itu bukan pekerjaanku,” tiap kali dihadapkan pada persoalan bersama.

TANPA BIAYA

Awalnya, SIKAP hanya sebatas menerbitkan newsletter sebagai sarana sosialisasi dan membuka hotline bagi siapa pun yang mengalami tindak kekerasan. Dalam menjalankan misinya, SIKAP yang resmi didirikan Oktober 1996, menjalin kerja sama dengan berbagai instansi dan LSM yang sama-sama menaruh peduli terhadap perempuan dan anak semisal LBH APIK, terutama dalam menangani hal-hal yang berkaitan dengan masalah hukum semisal perceraian, perwalian anak dan pembagian harta gono-gini. Soalnya, SIKAP hanya sebatas memberikan konseling psikologis dan sosiologis.

Tak jarang, tutur Magda, SIKAP ikut menjadi pelampiasan kemarahan suami yang menuduh lembaga yang dipimpinnya kelewat ikut campur urusan rumah tangga orang. “Ya, kami terima dengan sabar karena itulah salah satu risiko yang harus dihadapi.” Belum lagi teror-teror lewat telepon maupun surat yang bernada mengancam. “Untungnya, selama ini cuma sebatas teror.” Kendati begitu, SIKAP berupaya menjamin keselamatan kliennya. Di antaranya dengan menempatkan klien di shelter atau rumah aman sebagai tempat persinggahan yang tak dipublikasikan.

Jadi, bila kita ataupun ada di lingkungan sekitar kita yang mengalami tindak kekerasan dalam bentuk apa saja, jangan ragu untuk menghubungi SIKAP. Selanjutnya, oleh petugas akan dijadwalkan waktu khusus untuk konseling dengan pakar terkait atau sekadar “curhat”. Jangan pula berat melangkahkan kaki untuk minta bantuan hanya lantaran khawatir dikenai biaya cukup mahal. “Kepada klien, kami berlakukan free of charge alias tak dibebani biaya.” Toh, untuk menghidupi diri, SIKAP sudah terpenuhi oleh sumbangan sukarela atau donatur tetap dari para simpatisan dan mereka yang pernah merasa dibantu menyelesaikan masalahnya.

Alamat SIKAP:
Jl. Salemba Raya No. 39
Jakarta Pusat
Telp. 3190 6933

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Teropong/edisi 109/16 April 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: