SINGKIRKAN KEBIASAAN SALING MENYINDIR

28 Feb


Jangan salah, nyindir merupakan manifestasi dari ketidakberdayaan seseorang. Bila dijadikan pola berkomunikasi pun jelas sama sekali tak efektif.

“Bagus, sudah malam begini baru pulang! Kenapa enggak pulang pagi aja sekalian?” Begitu sindiran yang kerap ditelan suami saat pulang kantor lewat dari jam semestinya. Atau, “Enggak apa-apa, kok, Ma, uang gaji Papa dihabisin buat shopping,” sindir sang suami pada istrinya yang gila belanja. Boleh jadi sindir menyindir di antara suami istri sudah dijadikan pola komunikasi mereka, hingga lantas jadi kebiasaan rutin. Padahal, tegas psikolog Zainoel B. Biran cara semacam itu jelas sama sekali tak efektif.

Soalnya, bilang psikolog yang akrab disapa Bang Noel ini, menyindir muncul lantaran kita tidak cukup terbiasa untuk bicara asertif. Artinya, kalau seseorang tidak setuju terhadap apa yang dilakukan pasangan, ia tak bisa mengatakan sebagaimana adanya. Apa yang dia ingin kemukakan jadi tak tersampaikan karena cenderung bersikap agresif sambil menggunakan bahasa yang menyakitkan atau setidaknya menyudutkan. Dengan kata lain, individu yang bersangkutan tidak terbiasa menggunakan bahasa yang netral dan objektif. Kenapa bisa begitu? “Tak lain lantaran bila bicara langsung khawatir akan dianggap memojokkan pasangan atau disebut agresif yang dinilai sebagai bentuk ketidakpantasan di antara suami-istri. Bukankah di saat marah sekalipun kita selalu diajarkan untuk selalu berusaha mengendalikan diri dan bicara baik-baik?”

Sebetulnya, imbuh Bang Noel, sindir menyindir di antara suami istri sudah tak lagi terlalu banyak digunakan. Kalaupun masih ada, umumnya sebagai guyonan semata dan bukan lantas dijadikan pola komunikasi suami istri. Untuk bisa memanfaatkan budaya menyindir secara positif, keduanya dituntut memiliki selera humor yang tinggi. Semisal dengan memplesetkan sesuatu tanpa bermaksud menyakiti. Jadi, pandai-pandainyalah kita menilai seperti apa pasangan kita. “Kalau pasangan tipe serius, contohnya, manalah bisa dilibatkan dalam sindir menyindir begini.” Hingga jika kita memang bersikeras ingin menyindir pasangan, kita harus tahu bagaimana pasangan kita. Dari situ kita pun bisa tahu apakah ia bisa menerimanya atau tidak.

MANIFESTASI KETIDAKPERCAYAAN

Kendati bukan merupakan cara berkomunikasi yang efektif, bilang Bang Noel, sebagai variasi cara komunikasi bisa-bisa saja sindir menyindir digunakan. Artinya, kalau memang mau menggunakan sindiran, carilah momen yang pas, kapan sebaiknya digunakan dan kapan sebaiknya tidak digunakan. Perhatikan juga mood masing-masing. Kalau pasangan sedang capek sepulang kantor dan kesal atau pusing lantaran jalanan macet, sebaiknya tahan dulu, deh, keinginan menyindir. Kalaupun memaksa, jangan salahkan situasi bila yang didapat hanya sikap meradang pasangan. Selain itu, fokuskan diri pada inti permasalahannya dan usahakan jangan merembet ke mana-mana.

Sayangnya, tak sedikit yang memanfaatkan sindir menyindir ini sebagai sarana berkomunikasi yang dianggapnya paling efektif. Malah boleh jadi cara tersebut digunakannya sebagai cara terakhir untuk menegur pasangan. Artinya, lewat sindiran, ia bermaksud menyampaikan semacam kritikan yang tidak frontal. Karena untuk bersikap frontal ia tak memiliki keberanian, sementara untuk bersikap agresif pun dia tidak mampu.

Padahal bila ditilik lebih jauh, bilang psikolog dari Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, sebenarnya menyindir merupakan manifestasi kekesalan yang memuncak sekaligus rasa tidak percaya. Semisal, “Macet apa macet?” atau “Rapat atau rapat?” karena tidak ada alasan jelas kenapa si suami harus pulang malam. Atau si istri yang juga tak kunjung berubah meski sudah dinasihati berkali-kali agar jangan terlalu boros, contohnya. Kekesalan dan ketidakpercayaan itu lantas jadi bertumpuk karena adanya lacking of information alias informasi yang tidak tersampaikan.

Itulah mengapa, tandas Bang Noel, baik istri maupun suami seharusnya tidak bermodalkan rasa curiga saat berkomunikasi. Artinya, jika suami sesekali terlambat pulang kantor, istri sebaiknya jangan langsung berburuk sangka. Sementara kalaupun istri di rumah langsung menyambut suami dengan sindiran semacam itu, suami juga tak boleh langsung meradang. Karena bukan tidak mungkin, lo, istri memang tulus mengkhawatirkan keadaan suaminya. Ia hanya ingin memperoleh kejelasan informasi suaminya di mana dan bagaimana keadaannya. Ketidaktahuan akibat keterbatasan informasi itulah yang akan membuat si istri cemas sedemikian rupa, “Kok pulang larut malam enggak telepon kabarin ke rumah dulu?”

SOSOK KERDIL

Pada dasarnya, terang Bang Noel, sindiran muncul lantaran yang bersangkutan tidak tahu dan tidak berani untuk bertanya secara langsung. Dalam arti, dengan melontarkan sindiran si istri ingin suaminya menjelaskan kenapa ia sampai telat pulang. “Hingga bisa dibilang mereka yang terjebak dalam kebiasaan sindir menyindir ini adalah sosok kerdil yang tak memiliki rasa percaya diri untuk berdiri sejajar dengan pasangannya.”

Idealnya, lanjut Bang Noel, komunikasi di antara suami istri disampaikan secara langsung dan tak ada yang perlu disembunyikan. “Jadi, harus transparanlah. Kalau memang harus pulang lebih malam dari biasanya, toh suami bisa menginformasikan pada istrinya apa yang diperlukan. Semisal, ‘Aku ke sini sama si Anu. Kalau ada apa-apa, telepon aja ke sini.'” Suami bersikap terbuka semata-mata karena tak ingin membuat istrinya cemas memikirkannya karena ia tahu persis di mana dan bagaimana suaminya. Apalagi situasi kini serba tidak menentu dengan aneka demo dan tawuran.

Bukankah komunikasi dan kepastian mengenai pasangannya akan memberi rasa aman dan nyaman. Sayangnya, keingintahuan yang dilandasi kepedulian semacam ini justru kerap disalahartikan sebagai kegiatan menyelidik. Hingga kala suami menjawab dengan nada ketus, “Ngapain, sih, mau tahu segala?” justru akan menggiring istri untuk terus berusaha memancing kebohongan suaminya lebih lanjut.

Padahal keterbukaan semacam itu di antara suami istri setidaknya menunjukkan kepedulian suami/istri pada keluarganya sekaligus mengikis kecurigaan-kecurigaan yang mungkin muncul. Sebaliknya, tanpa keterbukaan semacam itu, jangan salahkan bila istri yang khawatir dan mencemaskan suaminya lalu menaruh curiga. Terlebih kala ditelepon ke kantor, suami dikabarkan sudah pulang sejak tadi sore, sementara suaminya kini entah di mana karena HP-nya tak bisa dihubungi.

KOMUNIKASI TERPUTUS

Sayangnya, tak sedikit suami yang terjebak pada stereotipe yang mengatakan bahwa dunia laki-laki ada di luar rumah. Sedangkan buat istri yang penting urusan rumah beres, hingga enggak usahlah tahu apa yang dikerjakan suami di luaran. Tak heran kalau suami-suami yang dibesarkan dalam keluarga dengan stereotipe semacam itu umumnya merasa risih justru saat sang istri mencemaskan dirinya. Terlebih kalau pertanyaan serupa bolak-balik diajukan ke dirinya, ia malah akan merasa direndahkan nilai kelaki-lakiannya.

Suami istri yang sudah terbiasa hidup dalam budaya saling sindir menyindir besar kemungkinan komunikasi di antara mereka pun sudah terputus. Hingga, baik suami maupun istri mesti waspada bila merasa setiap kali ngomong selalu enggak nyambung. Pasalnya, sindiran bisa dilakukan secara indirect tidak dalam posisi duduk berdua saling berhadapan. “Kan, sama sekali enggak efektif kalau komunikasi sudah muter-muter begitu.” Meski lagi-lagi sangat tergantung pada yang menerima sindiran tersebut. Dalam arti, bila disampaikan secara frontal, terasa lebih menyakitkan. Sementara dengan cara berputar-putar seperti itu dianggap lebih “santun” dan bisa terima.

Itulah mengapa, bila sindiran sampai muncul ke permukaan, tandas Bang Noel, seharusnya menjadi semacam sign atau pertanda ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka sebagai suami istri. Hingga ketika pasangan menangkap ada sesuatu yang tidak beres dalam relasi mereka dan perlu diperbaiki, ya segera tangani agar bisa efektif. “Ada apa, sih, Ma/Pa? Kok, pakai sindir-sindir begitu? Coba, deh, ngomonginaja.”

Tentu saja saat mengutarakannya tidak dengan nada keras atau terkesan ketus agar pasangan pun bersedia mengutarakan apa yang dirasakannya sebagai ganjalan. Sebaliknya, jika tak tumbuh kesadaran dari kedua belah pihak untuk saling bersikap terbuka, masalah akan berkembang semakin runyam. Saat yang satu nyindir, yang satunya lagi justru menanggapi dengan sindiran pula yang tak kalah tajam.

DAMPAK BUAT ANAK

Suami istri pun, saran Bang Noel, mesti mengingat dampak buruk kebiasaan saling nyindir ini bagi si kecil. Bila dilakukan di ajang terbuka, tak mustahil anak jadi bingung. “Lo, kok, Papa ngomongnya gitu, sih?” Atau, “Ada apa, ya, Ayah dan Bunda, kok, pakai sindir-sindiran begitu?” Bukan cuma itu dampak buruknya. Soalnya, bukan tidak mungkin, lo, lantaran enggak ngerti apa yang terjadi, anak lantas ikut-ikutan nyindir. Repot, kan?

Buat seorang ayah, kata Bang Noel mencontohkan, sindiran anak semisal, “Enggak pulang besok pagi aja, Pak?” dirasa lebih menghujam ketimbang sindiran serupa yang dilontarkan istrinya. Celakanya, ia pun lantas merasa berada dalam situasi atau posisi yang tak hanya berhadapan dengan istri, melainkan gang anak dan istri. Lebih celaka, bila istri ataupun suami memang sengaja memperalat atau memanfaatkan anak untuk melawan pasangannya.

Kendati demikian, kata Bang Noel, kita mesti bisa membedakan antara sindiran murni dengan sindiran yang niatnya memang hanya sebatas gurauan. “Dari cara-cara mengekspresikannya bisa terbaca, kok, mana yang sindiran dan mana yang gurauan.” Hingga tak pada tempatnya kita kelewat sensitif menanggapi sindiran yang bersifat guyonan. Sikap kita menanggapi sindiran pun sebetulnya mencerminkan kondisi emosional kita.

SERANGAN TELAK

Itulah mengapa, seseorang yang memiliki guilty feeling, tertentu umumnya menjadi sedemikian “tersentuh” mendengar sindiran yang nyerempet ke masalahnya. Mengapa? Karena sindiran tersebut menjadi semacam serangan telak buat dirinya. Hingga yang muncul kemudian adalah korsleting dibarengi sikap menantang, “Ngapain kamu ngomong begitu?” Sementara ia pun sudah bersiap-siap dengan segala bentuk defense untuk mencari pembenaran diri. Padahal, “Kalau memang tak terjadi apa-apa, enggak perlu, dong, menunjukkan reaksi ketersinggungan semacam itu.”

Menghadapi pasangan demikian, saran Bang Noel, pandai-pandailah kita membawakan diri. Dalam arti, kita pun mesti bisa mencoba memahami bagaimana pengalaman emosionalnya. “Apakah saat itu dia sedang bad mood saja atau memang tergolong individu berkepribadian labil yang memiliki ketidakmatangan emosional.” Mereka yang berkepribadian matang dan stabil, imbuhnya, besar kemungkinan akan bersikap easy going menanggapi berbagai sindiran. Dalam arti mampu menanggapinya secara netral dan bukan langsung menganggapnya sebagai satu serangan atau ancaman serius bagi eksistensi dirinya.

Menunjukkan reaksi emosional secara berlebihan justru akan mengundang tanda tanya lebih besar pada diri pasangan. Bukan tidak mungkin, kan, pasangan malah balik “menyerang”, “Lo, emang kenapa, sih, kalau aku tanya begitu? Kok, Ayah jadi sewot begitu?” Jangan-jangan Papa memang begini-begitu.” Runyam, kan? Nah, kalau memang tidak ada apa-apa di balik keterlambatan tadi, misalnya, jelaskan saja tanpa harus terkesan mencari pembenaran diri.

JANGAN BERPRASANGKA BURUK

Dengan begitu, bilang Bang Noel, bila muncul ganjalan di antara suami istri, jalan terbaik adalah dengan membicarakan dan mencari penyelesaiannya bersama. Disarankan pula untuk tidak menggunakan kata-kata keras dengan nada kasar yang bernada menyerang. Melainkan tanyakan baik-baik, “Kok, enggak ngabarin, sih, kalau mau pulang telat, Pa?” Kendati menguasai emosi agar tak meledak-ledak perlu latihan yang tentunya tak mudah. Karena apa yang kita rasakan biasanya tanpa sadar akan terungkap pula lewat bahasa dan sikap tubuh.

Nah, agar senyuman tetap merekah dan tak terkesan kaku, kondisikan pikiran agar tidak menaruh curiga lebih dulu. Hingga kala pasangan mengajukan alasan, kita pun tak lantas berasumsi atau punya prasangka buruk. Dituntut kesiapan kita menerima informasi tanpa harus berburuk sangka terlebih dulu. Hingga saat bertanya, “Sibuk banget, ya, tadi?”, kita tetap bersikap positif. Atau saat mengajukan pertanyaan sebatas ingin tahu pun, “Macet total, ya, Pa?” sama sekali tidak terkesan menaruh curiga. Sebaliknya, suami pun tak perlu menanggapi pertanyaan semacam itu dengan sikap ketus, “Ngapain, sih, pakai tanya-tanya macet segala? Kayak enggak tahu situasi Jakarta aja!”

Kendati semua akhirnya terpulang pada pasangan itu sendiri. Tepatnya, tergantung dari bagaimana relasi di mereka dan bagaimana pula bentuk komunikasinya. Mereka yang terbiasa berkomunikasi jujur dan terbuka tentu tidak membutuhkan sindir menyindir ini sebagai salah satu alat berkomunikasi. Toh, pada setiap perkawinan komunikasi suami istri memang perlu dibina terus-menerus. Jangan sampai menganggap segalanya akan berjalan dengan sendirinya, namun saat terjadi gap, masing-masing cuma sibuk bertanya-tanya, “Lo, kok, suami/istriku jadi begitu, sih?”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 139/1 November 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: