TAKUT JALANI KEHAMILAN & PERSALINAN

28 Feb


Wajar, kok, Bu, asalkan tak berlebihan karena bisa berdampak pada janin dan proses melahirkan.

Buat mereka yang mengandung anak pertama, tak jarang diliputi ketakutan menghadapi kehamilannya maupun saat persalinan nanti. Menurut psikolog Yati Utoyo Lubis, hal ini wajar saja. “Jangankan yang baru pertama kali hamil, yang sudah pernah melahirkan pun masih ada yang takut, kok.” Pasalnya, tak ada seorang pun yang bisa memprediksi apa yang bakal terjadi sepanjang kehamilan dan bagaimana rasanya melahirkan.

Celakanya, tak sedikit ibu hamil yang lantas dihantui ketakutan berlebihan karena memikirkan hal-hal buruk yang tak pasti. Kalau sudah begini, berarti sudah tak wajar lagi. Sebabnya, yang bersangkutan jadi stres sendiri hingga tak bisa tidur maupun menjalankan aktivitasnya sehari-hari, atau malah jatuh sakit.

ANEKA PENYEBAB

Biasanya, bila rasa takut itu muncul di awal atau di akhir kehamilan, menurut Yati, bisa jadi cuma imbas dari perubahan hormonal. Namun bila kejadiannya di luar kurun waktu tersebut, bisa jadi penyebab-penyebab berikut merupakan akar permasalahannya.

1. Kepribadian kurang matang.

Mereka yang kepribadiannya kurang matang, umumnya kurang tough dalam menghadapi hal-hal yang dirasa berat, termasuk kehamilan dan persalinan. Mereka cenderung menunjukkan sikap manja secara berlebih dan tak terlatih berpikir panjang. Tak heran bila hal/masalah yang oleh orang lain dirasa biasa-biasa saja, ia justru takut luar biasa. Berbeda dengan mereka yang berkepribadian matang/kuat, umumnya mampu bersikap lebih tegar dan “tahan banting” menghadapi masalah apa pun.

2. Kecemasan berlebih

Biasanya ditandai kecemasan yang tak jelas objeknya, hingga sering mucul keluhan bahwa pikiran atau perasaannya tak karuan. Namun bila ditanya apa yang membuat perasaan/pikirannya tak enak, ia tak bisa menjawab. “Ada penelitian yang membuktikan, bila dalam keluarganya ada sejarah kecemasan, maka yang bersangkutan lebih berpeluang mengalami kecemasan atau ketakutan berlebih saat mengalami perubahan besar dalam hidupnya, di antaranya kehamilan,” tutur Yati. Begitu juga mereka yang pesimis dan depresif akan lebih rentan mengalami kecemasan/ketakutan berlebih saat mengalami hal-hal baru.

3. Ketidaknyamanan akibat jauh dari keluarga.

Semisal tak ditunggui suami yang tugas di lain kota atau hidup terpisah dari rumah orang tua dan kerabatnya. Dalam kondisi begini, mudah sekali terlontar keluhan-keluhan bernada pesimis dari ibu hamil, “Ih, enak ya, suaminya pengertian banget. Ke mana-mana selalu diantar dan ada apa-apa juga bisa tanya atau cerita, sementara aku sendirian.Gimana enggak sedih?” Kendati tak tertutup kemungkinan ketidaknyamanan itu tetap mengganggu meski si ibu ditunggui lengkap oleh suami plus orang tua dan mertua, lantaran suami maupun orang-orang di sekitarnya bukan tipe orang yang mau mendengarkan.

4. Pengalaman tak langsung.

Bisa jadi si ibu hamil mengetahui anggota keluarga/teman dekatnya mengalami hal mengerikan berkaitan dengan kehamilan dan persalinan, semisal si bayi atau ibunya meninggal, meski sudah diupayakan berbagai pertolongan. Atau, ia mendengar cerita pengalaman ibu-ibu yang pernah melahirkan tentang betapa seramnya hamil dan melahirkan.

KONSULTASI

Tentu saja, apa pun penyebabnya, keluhan/gangguan ini mesti dicarikan jalan keluarnya. Langkah pertama, saran Yati, ungkapkan pada orang lain, “Kenapa, ya, aku jadi takut begini?”, misal. “Bagi banyak orang, keberanian mengungkapkan masalah dan kesediaan orang lain menjadi pendengar setia, acapkali sudah jadi obat cesplengtersendiri.” Langkah ini, dinilai Yati, lebih bagus ketimbang yang bersangkutan bersikap pasif/diam saja, tak bertanya apa pun pada siapa pun. Atau, malah menekan rasa takutnya sedemikian rupa, tapi suatu saat meledak dalam bentuk lebih merugikan semisal menggugurkan kandungan. Celaka, kan?

Akan lebih baik bila dikonsultasikan pada ahlinya semisal bidan atau dokter yang menangani kehamilannya. Misal, si ibu takut karena mendengar cerita seram seputar kehamilan dan melahirkan. Nah, dokter/bidan bisa meluruskannya dengan memberikan penjelasan medis, bahwa kehamilan yang berakhir dengan kematian ibu disebabkan banyak faktor seperti gizi buruk dan kehamilan yang tak terkontrol. Bila perlu, bidan/dokter akan melengkapi penjelasannya dengan statistik yang mendukung.

Bila perlu, tambah Yati, si ibu bisa berkonsultasi ke psikolog atau psikiater. “Ada baiknya pihak rumah bersalin menyediakan kesempatan bagi para ibu hamil untuk bicara dari hati ke hati dengan psikolog mengenai kehamilannya.” Namun, pembicaraannya bukan sebatas soal perubahan-perubahan yang terjadi selama kehamilan ataupun persiapan menjelang persalinan, melainkan lebih merupakan upaya untuk menggali perasaan si calon ibu, termasuk perasaannya terhadap janin.

Tak hanya itu, dari sudut psikologis pun, si ibu bisa dilibatkan untuk membahas kepribadian seperti apa yang diharapkan mampu menerima kehamilan dan menjalani persalinan dengan baik. Di antaranya, pribadi yang memiliki pandangan positif, hingga mampu mengatasi masalah yang mungkin muncul. Berbekal pandangan positif ini, si ibu diharapkan mampu berkaca pada pengalaman orang lain sekaligus menghalau ketakutannya tadi, “Perempuan lain juga mengalami hal sama, toh. mereka bisa mengatasinya,” misal, atau, “Orang lain bisa melewati masa-masa sulit dengan baik, kenapa aku enggak bisa? Bukankah di tempat lain begitu banyak perempuan yang melahirkan secara normal tanpa mendapat fasilitas kesehatan memadai?”

Di sisi lain, Yati mengimbau ibu-ibu yang pernah melahirkan untuk bersikap menahan diri kala menceritakan pengalamannya. “Orang sering lupa bahwa masing-masing individu berbeda, hingga pada orang yang satu tak jadi masalah, sementara pada orang lain cerita yang sama bisa membuatnya pucat pasi lantaran ketakutan.” Bahkan, saking takutnya, ada, lo, ibu hamil yang sampai ingin mengakhiri kehamilannya. Jadi, “tolong lihat-lihat situasi dulu, deh. Terlebih jika saat bercerita ada yang belum pernah hamil atau berkeluarga atau berkecenderungan lemah tadi,” pesan Yati. Jikapun ingin ngomongin yang seram-seram, lebih baik pada sesama ibu yang pernah melahirkan aja, deh.

Dampak Pada Bayi

Menurut Yati, ketakutan berlebih semasa kehamilan jelas memberi dampak terhadap bayi, meski tak mengikuti hukum sebab akibat secara langsung. Dalam arti kalau ibunya susah selama hamil, anaknya pun lantas jadi tipe sedih. Bukan tak mungkin, lo, ibu yang bersedih sepanjang kehamilannya akan melahirkan anak yang sumringah/ceria. Kendati ditemukan ada korelasi antara ibu yang mengalami masalah emosional di awal atau selama kehamilannya dengan bayi cengeng atau “susah diurus”. Yang jelas, bila ibu hamil mengalami stres bisa berpengaruh terhadap pola makannya semisal si ibu jadi ogah makan, hingga berdampak BBLR pada bayi karena tak ada kecukupan gizi yang masuk.

Dukungan Penuh Suami

Tak tertutup kemungkinan si ibu jadi begitu besar kadar ketakutannya lantaran sikap suami yang tak mendukung kehamilannya Padahal, bilang Yati, apa pun permasalahan yang ada di antara mereka, harusnya suami men-support kehamilan istri. “Kamu pasti bisa,” misal, saat istri menyampaikan keluhan/ganjalan perasaannya. Sekalipun si suami juga “buta” soal kehamilan, toh, banyak cara bisa ditempuh, semisal membeli buku/bacaan seputar kehamilan. Hanya saja akan lebih berkenan buat istri bila buku tersebut dibaca bersama ketimbang sikap lepas tangan, “Nih, baca!” Dengan begitu, kondisi emosional istri jadi lebih terkuatkan, hingga tak sampai berpikir, “Kok, aku aja, sih, yang tersiksa dengan kehamilan ini? Sementara suamiku enak-enakan!” Jadi, Pak, “cobalah pahami kebutuhan emosional istri yang besar saat hamil. Biarkan istri bersikap sedikit manja kala berbadan dua,” anjur Yati.

Tim Medis Harus Memberikan Rasa Nyaman

Hati-hati, ketakutan berlebih bisa berdampak pada proses persalinan. “Misal, saat harus mengejan, si ibu malah tak bisa melakukannya lantaran capek secara fisik karena terlalu banyak menangis atau capek pikirannya akibat diteror ketakutan yang berlebihan,” tutur Yati.

Dalam hal ini, dibutuhkan kerja sama yang baik antara tim medis dengan si ibu. Apalagi, kata Yati, bidan/dokter dan perawat kamar bersalin tak hanya bertugas secara teknis menangani kehamilan dan persalinan, melainkan juga harus mampu berfungsi sebagai pendukung sosial. Artinya, sikap/perlakuan tim medis ini harus bisa memberi rasa nyaman dan dorongan semangat bagi ibu hamil. “Jangan malah dimarahi hanya karena si ibu lupa bagaimana mengejan maupun mengatur napas dengan benar, misal.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 115/27 Mei 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: