TERPAKSA “TAMASYA” SETIAP HARI

28 Feb


Usai cuti melahirkan, biasanya masih berat meninggalkan bayi. Alhasil, si kecil ikut “keliling kota”.

Idealnya, bayi memang berada di rumah. Tapi ketika harus kembali bekerja dan di rumah tidak atau belum punya pengasuh yang terampil merawatnya, ibu merasa berat hati meninggalkannya. Di kantor pun pikiran tak tenang.

“Memang sebaiknya pembantu atau pengasuh sudah disiapkan jauh hari. Saat ibu masih cuti dan berada di rumah, pengasuh dilatih agar terampil dan tahu persis apa kebutuhan bayi. Jadi, selama di kantor, ibu merasa tenang,” kata dr. Yamin S.M.

FAKTOR KENYAMANAN

Yang repot, ya, kalau tak ada pengasuh yang oke. Mau tak mau, tiap berangkat kerja, si kecil ikut “diboyong” untuk kemudian dititipkan di rumah kerabat yang letaknya dianggap paling dekat dengan lokasi kantor. “Memang repot. Tapi, mau gimana lagi, dong?” Begitu ungkapan hati para ibu karena sore atau malam hari sepulang kerja, ia harus menjemput bayinya lagi.

Capek? “Jelas saja,” kata dokter dari Bagian NICU (Neonatal Intensive Care Unit) RS Pluit-Jakarta ini. Untungnya, lanjutnya, “Recovery bayi lebih cepat dibanding orang dewasa. Coba saja kalau orang dewasa bepergian seharian. Meski sudah ‘dibayar’ dengan istirahat seharian, belum tentu pulih seperti sedia kala. Sedangkan pada bayi, kalau bisa istirahat beberapa jam saja, sudah bisa segar kembali.”

Sebab itulah, “Menjaga kenyamanan bayi selama dalam perjalanan merupakan upaya yang perlu diprioritaskan orang tua.” Dengan kata lain, tak usah kelewat cemas jika harus setiap hari mengajak anak “tamasya” ke tempat penitipannya. “Syaratnya, faktor kenyamanan tadi harus diperhatikan.”

Misalnya saja, sedapat mungkin gunakan kendaraan pribadi yang ber-AC. “AC tak apa-apa, kok, untuk bayi. Toh, bayi-bayi yang berada dalam ruangan ber-AC seharian atau bahkan berhari-hari pun, tidak secara otomatis lantas jadi batuk dan pilek.” Gangguan pernapasan, kata Yamin, bukan disebabkan oleh AC atau udara dingin. “Kecuali pada anak yang memang menderita alergi dingin.” Justru yang perlu diperhatikan adalah kebersihan AC dan atur agar suhu udara tak kelewat dingin. Misalnya, sekitar 26-27 derajat Celcius.

Pemilihan kendaraan pribadi sebetulnya untuk alasan kenyamanan. Sebab, kendaraan yang penuh sesak, membuat bayi rewel. “Pertukaran udara pun jadi agak terganggu.” Belum lagi asap rokok, polusi suara, dan kemungkinan bayi tertular penyakit karena bercampur dengan orang banyak.

Sedapat mungkin, lanjut Yamin, selama dalam perjalanan, bayi berada dalam dekapan ayah/bunda atau pengasuhnya. “Ini jauh lebih baik dan jelas mampu memberi rasa nyaman ketimbang bayi cuma digeletakkan begitu saja dalam keranjang khusus ataucarrier-nya.”

BISA BERI ASI

Sepanjang kondisi nyaman menempati prioritas utama, tutur Yamin, mengikutsertakan anak dalam perjalanan pulang pergi kantor-rumah, masih lebih baik ketimbang berpisah semi permanen maupun permanen. Artinya, dititipkan sepanjang hari-hari kerja dan baru dijemput pulang hanya di hari-hari libur. Alternatif tersebut dianggap kurang tepat untuk bayi-bayi berusia di bawah 6 bulan yang masih mendapat ASI eksklusif.

“Katakanlah seorang ibu rata-rata bekerja 8 jam per hari, ditambah 2-3 jam waktu perjalanan pulang pergi. Nah, selama 10 jam itu, si ibu tetap bisa memberi ASI di perjalanan. Sedangkan selama di kantor, ASI-nya bisa diperas untuk diberikan siang atau sore hari, sementara sepanjang malam ASI diberikan lagi sambil dikeloni. Dengan begitu ASI bisa tetap diberikan setiap 3-3,5 jam, hingga dalam sehari rata-rata bayi mendapat ASI 7 kali untuk memenuhi kebutuhannya.”

Dampak buruk dari terlambat menyusu (baik ASI untuk 6 bulan ke bawah dan pengganti ASI untuk 6 bulan ke atas) adalah rasa lapar. Kalau kondisi semacam itu dibiarkan terus, bayi bisa mengalami hipoglikemia atau kekurangan glukosa dalam darahnya. “Kondisi ini tak bagus buat bayi. Pada orang dewasa saja, bisa bikin yang bersangkutan langsung pingsan.” Nah, bisa dibayangkan bila hal sama terjadi pada bayi!

Perhitungkan Risiko Secara Cermat

Menitipkan si kecil merupakan salah satu “risiko” ibu bekerja.Terpaksa membawa-bawa anak selama harus bekerja, memang merupakan salah satu risiko yang harus ditanggung orang tua. “Makanya, orang tua harus berhitung cermat tentang segala kemungkinan jika ingin punya anak sekaligus mau tetap bekerja,” tutur Yamin.

Kerugiannya, antara lain, bayi kurang cukup mendapat ASI dan kedekatan hubungan ibu-anak pasti akan sedikit berkurang dibanding bila dirawat sepenuhnya sendirian. Tapi keuntungannya, dengan bekerja kita pasti mendapat penghasilan. Taruhlah memperoleh Rp 2 juta per bulan. Dari jumlah itu, bisa menggaji babysitter atau membayar tempat penitipan anak.

Yang ideal, perusahaan tempat si ibu bekerja memiliki semacam tempat penitipan bayi, seperti yang diimbau pemerintah. Terutama perusahaan yang memiliki banyak karyawan perempuan. Dengan begitu, si ibu amat terbantu. Minimal, ia merasa tenteram karena buah hati berada di dekatnya. Akibatnya, produktivitas kerja ibu pun lebih baik.

Memilih Tempat Penitipan Bayi

Menurut Yamin, ada sejumlah hal penting yang harus kita perhatikan saat memilih tempat penitipan bayi. Di antaranya:
 Ruangannya cukup lapang dan memiliki ventilasi yang baik. Perhatikan pula penataan dan kapasitasnya apakah cukup memadai. Begitu juga kebersihan ruangan dan semua peralatan yang digunakan.
 Pilih tempat penitipan yang dikelola secara profesional. Dalam arti, tenaga pengasuhnya betul-betul disiapkan untuk tugas tersebut. Rasio pengasuh dan bayi yang dititipkan pun idealnya 1:1, dengan batas maksimal 1:3 karena usia bayi masih betul-betul membutuhkan perhatian penuh.
 Tempat penitipan bayi tersebut diawasi oleh dokter anak. Dengan begitu, kalau ada hal-hal urgent yang menyangkut kesehatan anak bisa sesegera mungkin tertangani.
 Cari pula kejelasan informasi apakah makanan dan susu bayi disediakan pihak pengelola atau memang harus dibawa dari rumah. Jika memang disediakan di situ, pastikan bahwa segalanya memenuhi kecukupan gizi yang dibutuhkan, selain tersaji bersih hingga malah tidak menimbulkan masalah baru. Kalaupun harus dibawa dari rumah pastikan pula wadah penyimpanannya memungkinkan makanan tetap layak dikonsumsi sampai anak dijemput.
 Tak kalah penting adalah komunikasi yang dijamin lancar antara penanggung jawab dan pihak orang tua. Apa pun yang terjadi harus disampaikan dua arah. Penting untuk diingat pula bahwa yang kita titipkan adalah seorang bayi yang amat kita kasihi dan bukan benda mati. Itu sebab, jangan sampai Ibu dan Bapak lepas tangan begitu saja pada pihak pengelola hanya karena merasa sudah membayar mahal.

Tak Bikin Keterlambatan

Benarkah anak yang lebih sering “mengembara” besar kemungkinannya mengalami keterlambatan perkembangan dibanding yang pola hidupnya tenang-tenang di rumah? “Tidak juga. Keterlambatan itu lebih karena pengaruh gizi buruk ibunya selama hamil yang biasanya diperparah oleh segala bentuk keterbatasan, terutama kemiskinan saat bayi dibesarkan,” tegas Yamin.

Yamin memberi contoh bayi yang sama-sama berusia 5 bulan. Bayi-bayi yang dibesarkan dalam segala kecukupan, umumnya akan lebih lincah dan kuat dibanding bayi-bayi yang dibesarkan dalam segala keterbatasan. Bahkan saat lahir pun sudah bisa terlihat. Bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang mengutamakan kecukupan gizi, lehernya lebih kuat, hingga ketika diangkat pun akan mendongak-dongakkan kepalanya. Sementara yang makan seadanya, biasanya akan langsung terkulai. “Paling tidak, bayi yang mendapat kecukupan gizi yang baik selama dalam kandungan maupun setelah dilahirkan, akan lebih mampu bertahan terhadap dunia luar yang kurang ramah sekalipun.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Dunia Bayi/edisi 41/25 November 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: