TRADISI NGELUNGSUR? BOLEH ASAL….

28 Feb

Asalkan orang tua tahu menempatkan diri dan menjaga sikap, kebiasaan yang satu ini tak bakal mengebiri harga diri anak.

“Bajunya masih bagus, kok. Biar dipakai adikmu saja.” Pernah dengar, kan,kalimat seperti itu? Melungsurkan atau “mewariskan” sesuatu memang sering kita lakukan. Entah itu sepatu, baju, buku, dan lainnya. Biasanya dilakukan dalam sebuah keluarga yang memiliki beberapa anak. Jadi, kalau baju kakak sudah mulai kekecilan tapi masih bagus, misalnya, diwariskan ke adiknya. Tapi benarkah kebiasaan ini bisa membuat pihak yang mendapat “warisan” tumbuh menjadi rendah diri dan mematikan pembentukan konsep harga diri anak seperti yang sering dikhawatirkan?

“Belum tentu selalu demikian, kok,” tegas psikolog Sritje Hikmat. Sebab, pembentukan konsep harga diri anak, lebih dipengaruhi oleh sikap orang-orang di sekitarnya. Terutama orang tua,karena balita umumnya masih berada dalam lingkungan keluarga. Artinya, bagaimana orang tua memperlakukan anak itulah yang akan lebih menentukan ketimbang kualitas benda itu sendiri. Kalau orang tua bersikap buruk, semisal tidak menghargai dan memperlihatkan kasih sayangnya, cuek atau tak peduli yang membuat anak selalu merasa dinomorsekiankan, tentu saja konsep dirinya cenderung negatif.

“Jangan salah,anak bisa langsung merasakan, lo, sikap-sikap yang tak berkenan di hatinya tadi. Terlebih kalau sikap atau perlakuan tersebut berlangsung terus-menerus.” Begitu juga dengan penempelan-penempelan stigma negatif pada anak. Semisal, “Dasar anak bodoh!”, “Lamban banget, sih, kamu!”, ataupun segala sesuatu yang berbau serba negatif. Lambat laun anak akan “menyesuaikan diri” dengan cap-cap semacam itu, hingga merasa dirinya memang demikian. Semisal, “Iya, ya, aku memang bodoh.” Padahal, kalaupun benar sifat-sifat tadi merupakan kekurangan si anak, bila dibantu bukan tidak mungkin ia akan berkembang lebih baik ke arah yang positif.

MERASA DIANAKTIRIKAN

Apakah tradisi ngelungsur tak masuk kategori tindakan menomorduakan anak? “Tergantung dari pemaknaan yang diberikan si orang tua,” terang psikolog dari Taman Latihan dan Pendidikan Anak dengan Kebutuhan Khusus Pelita Hati. “Kalau orang tua memang mengartikannya seperti itu,anak pasti akan merasakannya. Artinya, orang tua jelas menomorsekiankan si anak jikalewat tradisi ngelungsurtadi, ia selalu mendapat barang-barang bekas kakaknya atau bekas siapa pun.”

Nah, jangan pernah salahkan anak jika ia merasa tidak diperhatikan atau malah sama sekali tak disayang bila selalu memperoleh benda-benda bekas pakai. Lebih celaka lagi, lanjutnya, bukan tidak mungkin si anak merasa dibeda-bedakan dan kemudian ia akan berpikir, “Jangan-jangan aku anak tiri atau anak angkat, ya? Kok, Bunda atau Ayah selalu memberikan barang-barang bekas padaku. Buktinya, Kakak,selalu dibelikan yang baru?”

Kondisi seperti itu, lanjut Itje, tentunya mempersulit anak untuk bisa tumbuh kembang secara wajar serta sehat. Ironisnya, konsep diri yang serba negatif tadi akan terus terbawa sampai dewasa nanti. Semisal, senantiasa bersikap ciut setiap kali menemukan lingkungan yang baru. Atau selalu ragu-ragu karena rasa percaya dirinya tipis sekali. “Aku bisa apa enggak, ya?”

Padahal, tambah Itje, boleh jadi saat menghidupkan tradisi ngelungsur dalam keluarga, orang tua hanya berpatokan pada pemikiran praktis. “Sayang, ah, dibuang. Masih bagus dan bisa dipakai, kok.”

Jadi, sambung Itje, “Sepanjang si ibu atau bapak tetap memberi perhatian sebagaimana mestinya kepada si anak yang mendapat benda-benda lungsuran tadi, sebetulnya enggak masalah, kok.” Artinya, terhambatnya pembentukan konsep diri akibat tradisi ngelungsur seperti yang dikhawatirkan banyak orang tak perlu terjadi.

HADIAH EKSTRA

Tentu saja untuk meminimalkan dampak buruk ngelungsur, orang tua harus menunjukkan sikap nyata. Semisal dengan tetap sama-sama mengajak si kakak dan adik ke toko untuk memilih baju, sepatu, dan mainan masing-masing. Hingga benda-benda lungsuran tadi hanya menjadi semacam hadiah ekstra buat si adik. Bukan lantaran si kakak tak suka, lalu dipaksakan buat si adik. Bisa juga baju bekas tadi hanya untuk dikenakan sehari-hari di rumah, sementara di saat-saat istimewa seperti ulang tahun atau naik kelas, anak tetap mendapat benda serupa yang baru.

Dengan begitu, meski mendapat barang lungsuran, anak tetap merasa diperlakukan manusiawi. “Kalau cara-cara itu yang diberlakukan, bisa dipastikan anak tak merasa dibedakan, dinomorsekiankan, atau dikecilkan keberadaannya dibanding sang kakak.” Yang tak kalah penting diperhatikan adalah sikap dan pernyataan si kakak. Jangan sampai si kakak malah mengatakan, “Ih Adek pakai baju bekas aku.”

Bila dilontarkan dengan nada melecehkan, namun didiamkan saja oleh orang tua, boleh jadi harga diri si adik akan terhempas. Sebab, komentar si kakak dirasa menyakitkan, sementara ibu/bapaknya ternyata tak berbuat apa-apa untuk menolongnya. Akibatnya, bisa jadi lain kali ia akan tegas-tegas menolak pemberian benda-benda bekas si kakak yang sebetulnya masih bisa dimanfaatkan. “Aku enggak mau pakai baju atau buku bekas Kakak. Pokoknya, aku mau yang baru!” Nah, bukankah orang tua juga yang jadi repot? Padahal, kalau penerima maupun pemberi benda lungsuran diberi pengarahan, budaya ngelungsur diharapkan justru bisa menjembatani persaingan yang sudah ada di antara kakak dan adik.

Seharusnya, terang Itje, saat melihat kakak berkomentar seperti itu, orang tua segera meluruskan dengan melakukan intervensi yang bersifat menentramkan. Semisal dengan mengatakan, “Dek, tahu, enggak? Baju itu, kan, sebetulnya baju kesukaan Kakak, lo. Tapi karena Kakak sayang sama Adek, makanya baju itu dikasihkan ke Adek.” Dari banyak pengalaman, si adik biasanya suka mengenakan baju bekas kakaknya karena terasa adem/nyaman dipakai.

TAK SEBATAS KERABAT

Kalaupun si kakak tetap ngotot tak mau memberi, sementara di lain waktu orang tua tetap menginginkan benda tersebut dilungsurkan, aturannya tetap sama. Menghadapi kejadian seperti itu pun, saran alumnus Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (UNISBA) ini, orang tua harus mampu bersikap bijak. Dalam arti, tetap menghargai privacy si anak. Semisal dengan tidak memaksa anak untuk tetap memberikan benda tadi.

Terhadap mereka yang rasa kepemilikannya kuat seperti itu, kita tetap harus memberi pengertian. Akan tetapi harus tetap menghargai keputusannya untuk tidak memberikan benda-benda miliknya ke orang lain. Termasuk kepada adiknya. Secara perlahan namun pasti anak tetap harus diarahkan. Misalnya, “Kakak sekarang sudah besar, ya. Tuh, lihat, deh, baju ini sudah enggak cukup di badan Kakak. Gimanakalau kita berikan saja ke Adik.”

Jika dengan bujukan semacam itu, ia tetap ngotot tak mau memberikannya pada si adik, ya, jangan pernah memaksa. Hanya saja, kalau hal itu yang terjadi, sebagai orang tua kita perlu mencermati, jangan-jangan di balik kekakuan sikapnya tadi tersimpan persaingan tajam di antara mereka sebagai kakak dan adik. Mencairkannya bisa diupayakan dengan cara lain. Semisal pengalihan, “Kalau sama Kakak baju dan sepatu itu sudah sempit, tapi enggak boleh dikasihkan ke Adik, gimana kalau Kakak berikan ke orang lain saja?” Semisal anak-anak jalanan atau mereka yang kurang beruntung harus tinggal di panti-panti asuhan. “Kasihan, lo, teman itu enggak punya baju. Mungkin dia akan senang sekali kalau Kakak kasihkan baju-baju yang sudah kekecilan.” Lewat cara seperti itu, tutur Itje, setidaknya kita bisa mulai menanamkan sikap sosial pada diri anak.

Akan lebih bagus lagi kalau orang tua memberi contoh nyata. Ingat, modellingdari keluarga merupakan sarana belajar yang paling pas buat balita. Kalau contoh-contoh yang sering dilihat anak seperti itu, tanpa diminta atau disuruh, anak akan dengan sukarela melakukan hal yang sama. Hingga keinginan memberi juga tumbuh subur dalam diri anak.

Soalnya, lanjut Itje, budaya lungsuran sebetulnya tak sebatas antara kakak dan adik saja. Melainkan bisa diterapkan dalam lingkungan yang lebih luas, seperti antar saudara sepupu atau bahkan orang lain yang tak terikat hubungan persaudaraan. Dalam hal ini orang tua pun tetap harus mengarahkan perilaku si anak. Jangan sampai pemberian tadi malah merusak hubungan kekeluargaan yang sudah terjalin gara-gara komentar anak yang terdengar nyelekit, misalnya.

Padahal, ungkapan seperti, “Ma, itu mainanku!” bisa jadi cuma spontanitas anak yang pastinya tanpa maksud negatif. Kemungkinan lain, dalam kepolosan semacam itu justru terbersit rasa bangga bahwa ia bisa memberi sesuatu pada orang lain. Tentu saja orang tua tetap harus mendampingi dan menanamkan pada anak untuk tidak bersikap sombong. Semisal jangan sampai karena kebanggaan tadi lantas si anak berceloteh ke semua orang bahwa benda tersebut merupakan pemberiannya.

Mana Yang Boleh dan Tidak

Menurut Itje, baju, sepatu, dan buku boleh-boleh saja dilungsurkan. Yang sebaiknya jangan dijadikan barang lungsuran adalah benda-benda yang sungguh berarti atau berkesan mendalam bagi si anak. Entah hadiah dari orang-orang yang paling dikasihinya ataupun pernak-pernik benda koleksi kesayangan si anak. Seperti perangko, boneka, bungkus permen, kertas kado atau apa pun yang sering kita anggap sebagai “sampah”. Sekalipun benda-benda tersebut tak lagi cocok dengan usianya atau si anak tak lagi memerlukannya.

Kalaupun si adik menginginkan benda yang sama, akan lebih baik bila dibelikan benda serupa. Atau setidaknya arahkan si adik untuk membina kebiasaan mengoleksi benda-benda kesenangan tadi, seperti yang dilakukan kakaknya.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 134/7 Oktober 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: