WASPADAI SINDROM PRAMENSTRUASI

28 Feb


Tak jarang sindroma ini berupa pertandakelainan pada rahim. Jadi, segera periksakan diri.

Sering, kan, kita mendapat pertanyaan, “Kamu pasti mau mens, ya?” setiap kali kita terkesan lebih galak dan emosional ketimbang biasanya. Gambaran semacam itu, ungkap dr. F.B. Sutikno, SpOG, ada benarnya. Soalnya, setiap wanita dalam usia reproduksi (mereka yang sudah mendapat haid sampai yang belum memasuki menopause) mengalami apa yang disebut dengan PMS (Pre-Menstrual Syndrom) atau sindrom pramenstruasi.

Disebut sindrom atau kumpulan gejala, karena tak sedikit keluhan yang diderita kaum hawa menjelang haid.Mulai dari perut yang terasa melilit dibarengi keluarnya keringat dingin di sekujur tubuh, kepala terasa pusing gara-gara Hb langsung drop, tubuh jadi lemah, letih, dan lesu, sampai berbagai keluhan semisal pilek, mencret atau mendadak demam. Tak jarang pula semua itudisertai keluhan yang berkaitan dengan aspek emosional. Semisal jadi labil, murung, gampang tersinggung, mudah meledak marah, dan uring-uringan.

Semua keluhan itu, lanjut dokter kebidanan dari RSAB Harapan Kita, Jakarta ini, bisa muncul tanpa sebab yang pasti. Artinya, bukan tidak mungkin kita tiba-tiba terserang batuk-pilek padahal sebelumnya tak kehujanan atau minum es. Hanya, tegas Tikno, begitu ia akrab disapa, kumpulan gejala PMS tadi amat individual sifatnya. Dalam arti, bisa saja wanita yang satu begitu tersiksa oleh derita bulanan tadi, hingga sama sekali tak bisa beraktivitas, sementara wanita lain tenang-tenang saja alias tak mengalami keluhan berarti.

Perbedaan tersebut, lanjutnya, ditentukan oleh banyak hal. Di antaranya taraf kedewasaan dan latar belakang pendidikan serta persepsi yang bersangkutan mengenai rasa nyeri/sakit itu sendiri. Mereka yang termasuk pribadi manja, tentu akan lebih merasa tersiksa dibanding yang berkepribadian tahan banting.

PERUBAHAN HORMONAL

Persepsi mengenai rasa sakit kala “tamu” bulanan ini mau datang pun,amat individual sifatnya. “Ada yang menjabarkan rasa nyeri dengan rasa mual, ada yang nyeri perut bagian bawah, tapi pinggangnya serasa mau patah,” lanjut Tikno. Mengapa hal ini terjadi? Menurut lulusan Fakultas Kedokteran UI ini, sampai saat ini belum ada penelitian khusus tentang hal itu. Perubahan hormonal diduga menjadi pemicu munculnya berbagai keluhan tadi. Yakni, adanya gangguan keseimbangan hormon-hormon yang mengatur siklus haid itu sendiri, semisal hormon progesteron, estrogen, FSH (follicle stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone).

Setiap wanita usia reproduksi, tegas Tikno, akan “menangkap” perubahan hormonal ini sesuai kemampuan sinyal tubuhnya. Itu sebab, keluhan yang muncul pun berbeda antara wanita yang satu dengan lainnya. Ada yang cuma pegal-pegal akibat kontraksi alat-alat genitalia bagian dalam, tapi ada juga yang harus jungkir balik menahan rasa nyeri yang muncul. Bukan cuma itu. “Goncangan” hormon yang terjadi pun bisa mengakibatkan seseorang mendadak demam, misalnya. Sementara mungkin saja rangsang pada saraf-saraf di perut itu akan naik ke saluran cerna bagian atas, hingga rasa melilit tadi berubah jadi rasa mual. Atau bisa juga diteruskan ke otak yang kemudian menimbulkan keluhan migrain. “Akibat perubahan hormonal tadi, wanita pun umumnya mengalami keluhan berupa rasa tegang dan ‘penuh’ pada payudaranya.”

Keluhan PMS pun sering dikaitkan dengan hormon bernama prostaglandin yang pada waktu tertentu diproduksi oleh rahim. Padahal, di mulut rahim terdapat reseptor yang bertugas “menangkap” prostaglandin. Produksi prostaglandin yang berlebih dan aktivitas tinggi dari reseptor itulah yang kemudian menimbulkan rasa nyeri. Itu sebabnya, dalam beberapa pengobatan untuk mengatasi nyeri haid antara lain digunakan antiprostaglandin. Tentu saja pemberian obat ini sudah dipikirkan matang agar tak memberi dampak buruk pada tubuh wanita yang bersangkutan.

PETUNJUK ADANYA KELAINAN

Sementara dari aspek fisik, jelas Tikno, munculnya perasaan kembung, tak nyaman, bahkan rasa nyeri juga dipicu oleh adanya pemekaran dari indung telur. Bukankah indung telur wanita usia reproduksi mengandung puluhan ribu sel telur? Nah, menjelang haid ada beberapa sel telur yang serempak matang, makin lama ukurannya makin besar, sehingga memberi perasaan tak nyaman pada wanita bersangkutan. Mekanisme ini pula yang diduga memunculkan keluhan sakit perut, yang penjabarannya sangat luas pada tiap individu. Mulai dari rasa nyeri yang kadarnya biasa-biasa saja, yang masih bisa ditahan, sampai yang tak tertahankan lagi atau harus ditanggulangi dengan obat-obatan tertentu atau malah dirawat untuk mendapat penanganan khusus.

Secara fisik, imbuhnya, keluhan PMS sebetulnya wajar, kok. Asalkan muncul hanya 1-2 hari menjelang jadwal menstruasi dan berhenti dengan sendirinya saat tamu bulanan datang. Kalaupun bertahan, tak lama, hanya 2-3 hari sesudah itu. Nah, bila muncul di luar tenggang waktu tadi atau malah berlanjut sepanjang waktu, pesan Tikno, ada baiknya memeriksakan diri ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Sebab, keluhan PMS yang tergolong hebat dan dirasakan terus-menerus perlu diwaspadai sebagai adanya tumor rahim. “Keluhan PMS biasanya merupakan petunjuk adanya tumor di rahim, baik tumor yang terdapat di lapisan luar rahim maupun di lapisan otot atau di dalam rongga rahim. Ditilik dari tempat tumbuhnya tumor tadi, yang menimbulkan rangsang paling nyeri adalah tumor yang berada di lapisan otot rahim.”

Memang,tak semua keluhan PMS identik dengan tumor rahim. Karena ada juga kelainan/penyakit lain di rahim yang menimbulkan gejala seperti keluhan PMS. Di antaranya perlengketan genetalia interna/alat-alat kelamin bagian dalam, entah pada rahim itu sendiri, saluran telur kanan dan kiri, indung telur kanan dan kiri maupun pada otot-otot penunjang rahim atau juga adanya endometriosis. Penyakit lain yang juga terkait dengan keluhan PMS yang berlebih adalah kemungkinan adanya sisa-sisa infeksi genitalia yang tidak tertangani. Artinya, infeksi yang tak dirasakan atau dianggap sepele oleh wanita bersangkutan, sehingga tak tertangani dengan baik. Yang termasuk dalam kategori ini adalah keguguran yang tak dikuret atau tak bersih meski sudah dikuret, bisa juga infeksi yang tak tuntas pengobatannya karena si wanita tak datang kontrol kembali, hingga sisainfeksi tak terdeteksi. Padahal infeksi yang dibiarkan bakal mengarah pada kasus perlengketan alat-alat kelamin bagian dalam atau penyakit serius lainnya.

RAJIN KONTROL

Untuk saat darurat, ujarTikno, boleh-boleh saja yang bersangkutan minum obat antinyeri yang banyak dijual di pasaran. “Itu kalau keluhan utamanya memang nyeri, lo. Toh, obat-obatan antinyeri tadi relatif aman bila dikonsumsi untuk saat darurat saja atau hanya dimaksudkan untuk meringankan gejalanya.” Kendati begitu, tetap harus dicari dan ditangani faktor penyebabnya dan itu hanya bisa dilakukan oleh dokter. Jadi, tak ada pilihan lain kecuali datangke dokter.

Tentu saja untuk mereka yang belum menikah, para dokter di bagian kebidanan pun akan bertindak ekstra hati-hati. Kalaupun harus dilakukan intervensi berupa pemeriksaan ginekologi untuk mengetahui ada tidaknya kelainan di rahim, alat-alat yang digunakanakan dimasukkan melalui rektum/anus dan bukan melalui vagina. Bila pencetusnya hanya masalah hormonal, biasanya tidak diperlukan pengobatan lebih lanjut karena dengan bertambahnya usia dan wawasan, individu bersangkutan diharapkan akan lebih mampu membangun keseimbangan diri.

Sebaliknya, bila penyebabnya memang karena perlengketan alat-alat kelamin bagian dalam ataupun penyakit lain seperti endometriosis, tentu butuh penanganan khusus yang mesti dibedakan lagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. Salah satunya adalah penggunaan laparoskopi untuk melihat langsung kondisi rahim, saluran rahim, maupun indung telur pasien. Dari pengamatan langsung tersebut dokter bisa, misalnya, memutuskan apakah endometriosis ringan, sedang atau tergolong berat. Selain untuk mendiagnosa, laparoskopi sekaligus bisa dimanfaatkan untuk melakukan terapi dalam kasus-kasus perlengketan. Begitu pula bila terdapat endometriosis ringan berupa bercak-bercak cokelat di sekitar rahim atau di sekitar otot-otot penggantung rahim. Bercak-bercak tersebut dengan alat yang sama akan langsung di-cauter atau disunduti. Demikian juga penanganan endometriosis kelas berat yang sudah sampai menimbulkan kantong kista atau endometrioma.

Melalui laparoskopi juga bisa dilakukan pengambilan kista yang dikenal dengan sebutan kistektomi. Tentu saja dalam melakukan penanganan laparoskopi, harus disertai pembiusan total, sehingga tubuh dalam keadaan relaks. Kepala pun akan diposisikan lebih rendah dari tubuh, hingga rahim bisa terlihat lebih lapang dan jelas serta tidak terhalang oleh tumpukan usus.

Tindakan tersebut biasanya dibarengi dengan menghentikan proses haid menggunakan obat-obatan tertentu selama sekitar 3 bulan. Selain untuk memperkecil angka kekambuhan, juga untuk menjaga hasil operasi agar aman. Bila diperlukan akan ada second look dengan laparoskopi untuk melihat hasil kerja pertama. Tentu saja yang bersangkutan tetap diminta datang kontrol 3 bulan lalu 6 bulan kemudian sampai keadaannya dinyatakan oke. Setelah serangkaian penanganan tersebut, diharapkan yang bersangkutan tak lagi mengalami keluhan seputar PMS. Kalaupun memang terasa sakit, mesti dicari lagi apakah ada kekambuhan kembali atau sebab lainnya.

Yang pasti, tegas Tikno, keluhan nyeri pada PMS, tak selalu identik dengan kemandulan. “Harus ditelusuri apa yang menjadi penyebab munculnya keluhan nyeri tersebut. Bila dalam penelusuran tadi benar ditemukan endometriosis, yang bersangkutan memang berpeluang besar mengalami infertilitas.” Sebaliknya, jika endometriosis sudah berhasil diangkat biasanya keluhan PMS akan berkurang atau malah sembuh total.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 123/22 Juli 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: