YANG WAJIB DILAKUKAN USAI KEGUGURAN

28 Feb


Kontrol tetap diperlukan kendati calon janin sudah keluar. Siapa tahu ada sisa-sisa di rahim yang bisa membuat infeksi.

Kondisi apa pun yang terjadi usai keguguran memang harus dicermati. Termasuk penilaian apakah keguguran tersebut spontan atau tidak. Artinya, tutur dr. Chairulsjah Sjahruddin, SpOG, MARS., pada keguguran spontan mudigah (calon janin) dan calon ari-ari langsung keluar seluruhnya. Hingga tanpa tindakan kuretase pun diharapkan rahim bisa bersih kembali.

Nah, untuk memastikan apakah rahim sudah bersih atau belum, pasien harus kontrol ke dokter kandungan yang menanganinya. Dari kontrol itu antara lain akan dilakukan penilaian: apakah ada perdarahan atau tidak, mulut rahim sudah tertutup atau belum, dan apakah rahim sudah relatif mengecil atau tidak.

Itulah mengapa, anjur Chairulsjah, kalaupun keguguran terjadi di rumah, mudigah yang keluar hendaknya jangan dibuang. Melainkan dibawa serta untuk diperlihatkan pada dokter yang memeriksa. Dari situlah dokter akan bisa menilai, apakah keguguran yang dialami si ibu bisa dikategorikan spontan lengkap atau tidak. Sementara buat orang awam, mungkin saja yang keluar tadi dianggap sebagai gumpalan darah.

Sebaliknya, tak sedikit pula yang menganggap itu sebagai janin, padahal sebenarnya cuma gumpalan darah. Padahal yang sebetulnya terjadi itu adalah abortus yang belum komplet atau sedang berlangsung. “Yang bisa memastikan apakah itu abortus komplet atau bukan, ya, memang cuma dokter ahli kebidanan.”

RISIKO KEMATIAN

Kondisi pasca keguguran yang bermasalah biasanya adalah abortus tak komplet yang tak ditangani dengan tuntas atau ditangani pihak yang tidak kompeten. Artinya, kejadian keguguran tidak mendapat perhatian semestinya. Entah karena ketidaktahuan pasien atau sebab lain. Bisa juga pasien tahu, tapi salah alamat, pergi ke institusi ilegal yang banyak menjamur belakangan. Motivasinya pun, kata Chairulsjah, bisa karena memang cari murah atau kasus-kasus unmarried yang mencari tempat “aman”.

Sedangkan pada pasien yang sama sekali tidak tahu, biasanya akan mengira vlek-vlek yang dialaminya sebagai perdarahan biasa tapi ternyata abortus tak komplet. “Di sinilah persoalannya. Si ibu tak bisa membedakan kelainan yang dialaminya lantas mendiamkannya begitu saja.”

Padahal, calon ari-ari yang kelak akan berkembang menjadi plasenta pada kehamilan usia 4-5 bulan, bila tidak keluar akan menimbulkan komplikasi macam-macam karena sudah menjadi korpus alienem atau benda asing dalam rahim.

Sebab lain, lanjut Chairulsjah yang berpraktek di RSIA Hermina ini, sewaktu terjadi keguguran mulut rahim terbuka dengan gumpalan darah di dalamnya. Gumpalan darah merupakan media empuk terjadinya infeksi. Sementara kita tahu dalam kondisi normal vagina dipenuhi kuman yang hidup normal di situ, dalam arti tak membahayakan. Namun begitu pindah ke rahim, kuman-kuman tadi berubah jadi abnormal. Nah, agar kuman tak naik ke rahim yang bisa memicu infeksi, harus secepatnya ditangani oleh dokter ahli.

Lagi pula, tandas Chairulsjah, setiap benda, termasuk sisa jaringan rahim, harus segera dikeluarkan. Bila tidak, bisa saja berdampak buruk semisal memancing terjadinya perdarahan terus-menerus yang akan berlanjut menjadi infeksi.

Infeksi dini pasca keguguran biasanya ditandai dengan panas tinggi 2-3 hari setelah kejadian yang disertai rasa sakit/tak enak pada bagian bawah perut. Yang kerap mengecoh, bisa saja kondisi begini tak disertai demam. Sedangkan dampak lebih jauh adalah infeksi yang tak segera ditangani dengan baik akan “naik” ke saluran telur.

Tak heran banyak pasien yang datang ke dokter/RS dengan keluhan septic abortionsebagai akibat lanjut dari pasca keguguran yang tidak ditangani dengan baik. Padahal, komplikasi tingkat lanjut ini sudah memposisikan kuman masuk ke seluruh pembuluh darah di tubuh. “Kalau sudah begini, risikonya fatal. Yakni kematian si ibu.”

KELAINAN RAHIM

Dalam kondisi paling buruk seperti itu biasanya pasien datang dengan panas tinggi, bau busuk yang menyengat karena sudah terjadi infeksi di mana-mana, dan nyeri tekan pada rahim, perut bagian bawah atau bahkan seluruh bagian perutnya. Bila disertai pemeriksaan laboratorium, jumlah leukositnya akan lebih dari 20.000 padahal normalnya hanya 5.000-10.000.

Kalau gejala-gejala tersebut yang ditunjukkan, berarti pasien sudah masuk kategoriseptic abortion yang penanganannya menjadi lebih sulit dan butuh waktu lama, sementara hasilnya belum bisa dipastikan. Artinya, kondisi tersebut masih bisa ditangani kalau belum terjadi syok. Jika syok sudah terjadi,tekanan darah pasien akan anjlok sebegitu rendah dan sulit dikembalikan ke titik semula.Akhirnya terjadi kelainan multiorgan, terutama kelainan sistem di ginjal, hati, dan organ penting lainnya.

Nah, agar tak berakibat lanjut yang sangat parah seperti itu, saran Chairulsjah, pasien hendaknya jangan menunda-nunda untuk segera datang ke institusi yang bisa menangani keluhannya secara paripurna. “Jangan sekali-sekali menganggap, karena mudigah sudah keluar lantas segalanya beres.”

Sebaiknya pun pilih dokter kandungan mengingat cukup banyak kasus yang oleh bidan dikatakan sudah oke, tapi ternyata belum bersih. Terutama bila kehamilan yang gugur sudah berumur 3-4 bulan, di mana calon ari-ari sudah besar dan perlekatannya ke dinding rahim sudah sedemikian kuat. Lain halnya jika kehamilan masih berusia 1-2 bulan yang bisa keluar spontan tanpa tindakan kuretase karena perlekatannya ke dinding rahim belum sekuat kehamilan usia lanjut.

Tentu saja tidak berarti setiap tindakan kuretase tak memiliki risiko. Apalagi, imbuh Chairulsjah, dalam ilmu kedokteran semua tindakan punya risk of treatment, dari yang paling ringan sampai paling berat. Ada pun risiko dari tindakan aborsi yang paling sering terjadi adalah perdarahan, infeksi atau perforasi (lubang) pada rahim.

Perforasi pada rahim ini umumnya dipicu oleh bentuk rahim yang hiper-retrofleksi (melekuk ke belakang) atau hiper-antefleksi (melekuk ke depan). Kasus-kasus seperti itu acapkali menyulitkan dokter mengambil jaringan dalam rahim. Akibatnya, dinding rahim di bagian tertentu jebol dan mengakibatkan perdarahan. Kendati bisa saja perdarahan tersebut disebabkan adanya infeksi terdahulu atau pelebaran pembuluh darah di sekitar rahim. Kalaupun terjadi perforasi, tidak berarti dokter telah melakukan tindakan malpraktek, lo.

Selain kelainan pada posisi rahim, bisa juga sisa jaringan tadi sudah terlalu lama menempel di dinding rahim hingga sudah mengeras/membatu yang jelas akan menimbulkan luka bila diambil.

HARUS MENSTRUASI

Akibat yang tak kalah riskan dari penanganan yang terlambat pada kasus-kasus pasca keguguran adalah synechia. Yakni perlengketan endometrium akibat terambilnya jaringan paling dalam di rahim dalam jumlah cukup tebal saat terjadi tindakan kuretase. Kalau hal ini terjadi berarti si ibu tak bakal menstruasi dan tak lagi bisa hamil meski hormonnya masih bekerja karena berarti tak ada lagi tempat buat menempel bagi sel telur.

Karena itulah 2 minggu sesudah keguguran, pasien harus kontrol dan diharapkan bulan berikutnya si ibu sudah kembali menstruasi. Bila tak menghendaki kehamilan, saat kontrol biasanya dibarengi dengan pemasangan IUD. Sedangkan jika tak ber-KB dan bulan berikutnya tak juga haid, harus dicurigai apakah si ibu sudah hamil kembali atau memang terjadi kasus perlengketan.

Soal hubungan suami-istri, ungkap Chairulsjah, boleh-boleh saja dilakukan setelah lewat seminggu, mengingat perdarahan biasanya terjadi selama seminggu pasca keguguran. Kalau seminggu perdarahan berhenti danmuncul lagi, perlu dicurigai adanya infeksi. Sedangkan waktu ideal untuk hamil kembali, “Tak ada patokan baku. Yang penting setelah pasien mens karena itu berarti endometriumnya sudah bagus dan pola kesuburannya sudah kembali.”

Meski relatif aman, hamil di bulan-bulan pertama pasca keguguran bukan tidak mungkin mengundang terjadinya keguguran lagi. Sebab, “Kondisi endometriumnya belum begitu baik, hingga penempelan mudigah pun belum sempurna. Tentu saja penyebab dari keguguran itu sendiri harus diusut tuntas. Bila akibat penyakit infeksi atau sebab lain tentu mesti dituntaskan dulu penyembuhannya.”

Peluang terjadinya kehamilan sama saja, asalkan tidak terjadi hal-hal yang membahayakan tadi. Karena salah satu akibat dari infeksi-infeksi tadi adalah tersumbatnya saluran telur atau akibat-akibat lain yang lebih sulit penanganannya.

Jadi, Bu, jangan pernah menganggap remeh tindakan abortus. Semisal dengan mudah mengatakan, “Digugurin aja, deh.”, terutama pada kehamilan yang tak dikehendaki karena kegagalan ber-KB. Sebab, meski bagi dokter kebidanan merupakan tindakan “kecil”, komplikasi medis yang ditimbulkannya terbilang berat/complicated. Belum lagi dampak psikologis maupun beban moral si ibu.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 127/19 Agustus 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: