YAYASAN GIZI KULINER JAKARTA

28 Feb


Bukan hanya sekadar memberikan kursus, tapi juga mendorong para pesertanya untuk berani merintis karier di bidang makanan.

Banyak orang mengidentikkan Yayasan Gizi Kuliner Jakarta (YGKJ) dengan Tuti Soenardi,ahli gizi kenamaan yang banyak menulis buku masak untuk bayi dan balita maupun orang sakit tertentu. Boleh jadi lantaran Tuti yang menggeluti dunia kuliner sejak 1962 paling intens membesarkan YGKJ tanpa putus, selain YGKJ sendiri “bermarkas” di rumahnya.

Cukup banyak jasa yang ditawarkan YGKJ, dari pengadaan aneka kursus masak sampai konsultasi dan katering untuk penderita penyakit tertentu yang membutuhkan diet khusus, semisal penderita sakit jantung, diabetes, lever dan kolesterol tinggi. Selain penyuluhan dan pendidikan mengenai gizi dan seni kuliner lewat berbagai seminar yang umumnya terselenggara berkat kerjasama dengan instansi terkait di kota-kota yang didatangi.

MERINTIS KARIR

Untuk kursus masak, YGKJ hanya menyelenggarakan di Jakarta, meski tak menutup diri bagi peserta dari luar Jabotabek. Tapi itu pun tak ada jadwal khusus, melainkan atas permintaan dengan minimal 8 peserta. Biasanya kursus berlangsung dari pagi hingga sore selama 2-3 hari.

Kepada para peserta kursus, Tuti menekankan untuk memanfaatkan ilmu yang diperoleh selama kursus dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, bukan hanya sekadar ingin tahu bagaimana cara memasak dan apa saja resep masakan tertentu. Melainkan lebih mengarahkan peserta kursus untuk berani mencari peluang emas lewat keahliannya memasak dengan buka usaha di bidang makanan. Hingga mereka pun ditekankan untuk serius memikirkan strategi menjual kue-kue/masakan buatannya.

Itu sebab, Tuti juga menempa peserta agar siap mental jadi profesional. Pada peminat yang menggebu langsung ingin ikut kursus katering pesta, contoh, Tuti tak segan-segan “meluruskan”nya. “Siapa pun enggak mungkin ada yang langsung bisa jadi ahli masak terkenal. Semua harus melalui tahap demi tahap, apalagi mereka yang belum pernah mengelola usaha seperti ini,” tutur pengasuh rubrik Ruang Gizi di harian Kompas, tabloid Senior dan beberapa media kenamaan lainnya,

Konkretnya, Tuti menawarkan paket/program yang sederhana dan mudah diikuti siapa saja, seperti paket kue-kue tradisional, kue-kue modern, pastry maupun pancake yang biasanya rata-rata berisi 20 resep. Bukan cuma itu. Tuti pun memberikan motivasi mengenai ketekunan berusaha agar jangan mudah putus asa. “Selalu ada jalan bila memang mau berusaha keras,” pesan Tuti yang rajin berguru soal kuliner ke Paris, Bangkok dan Hongkong ini. Dengan begitu, alumni YGKJ tergugah untuk mendalami paket per paket secara intensif. Bila usaha mereka memperlihatkan kemajuan, mereka pun terpancing untuk mengikuti kursus paket lainnya yang lebih sulit.

Kursus lain untuk pemula yang terbilang paling laris manis adalah paket masakan katering rumahan. Paket dengan sekitar 50 resep ini dimaksudkan untuk mereka yang ingin merintis bisnis di bidang katering. Selain wawasan luas dan jeli membaca peluang, Tuti juga mensyaratkan banyaknya resep pilihan yang bisa disodorkan pada calon “pembeli”. “Kalau variasi menunya terbatas atau malah itu-itu aja, orang pasti bosan dan tak tertarik untuk memberi order,” tukas ibu empat anak ini. Bila sudah terbiasa melayani katering rumahan, ia menganjurkan muridnya untuk berani menerima order katering pesta yang menuntut tanggung jawab lebih besar.

DORONGAN SEMANGAT

Akan halnya pelatihan Manajemen Jasa Boga, berlangsung selama 3 bulan, seminggu 3 kali ini. Pelatihan yang terselenggara atas kerja sama dengan Depkes dan Depnaker ini bisa diikuti siapa saja, termasuk orang yang tak bisa masak sekalipun, pria atau wanita tanpa batasan umur. Di akhir pelatihan peserta akan mendapat 3 sertifikat sekaligus dan diakui sebagai manajer boga.

Meski baru selesai pelatihan, bilang Tuti, banyak di antara peserta yang sudah memenangkan tender berbagai perusahaan untuk pengadaan makan siang karyawan perusahaan tersebut. Tak jarang Tuti harus membesarkan semangat mereka hanya karena minder merasa belum punya pengalaman. Dorongan semangat pun lantas diberikannya dalam bentuk nyata dengan mengerahkan murid lainnya untuk bahu-membahu membantu teman yang mendapat order ini.

Dengan begitu, selain menjalin kekompakan di antara sesama lulusan YGKJ, Tuti pun mengajarkan bagaimana mengantisipasi/menyelesaikan masalah yang biasa ditemui di bisnis boga.

Untuk jasa katering khusus bagi penderita penyakit tertentu bisa dilayani setiap waktu. Asalkan yang bersangkutan menyertakan hasil pemeriksaan laboratorium, hingga bisa terlihat bahan makanan apa saja yang dipantang maupun dibolehkan. Dari situlah Tuti akan “berhitung” membuatkan menu yang diputar per paket selama 10 hari. Tentu saja katering ini bersifat eksklusif karena tiap jenis penyakit beda pula kebutuhannya. Bahkan untuk penyakit yang sama dengan menu yang sama pun, bila beda usia akan beda pula komposisi dan pengolahan bahan makanannya yang harus disesuaikan dengan kebutuhan kalori masing-masing individu. Rumusan itulah yang kemudian didelegasikan ke dapur yang dikomandani 2 ahli gizi. Khusus untuk jasa ini, Tuti mematok Rp 15.000,- sekali makan untuk penyakit apa pun.

Bila keluarga penderita ingin menangani sendiri konsumsi makanan bagi anak/suaminya, YGKJ juga membuka jam bicara. Tinggal menghubungi YGKJ untuk dibuatkan appointment oleh sekretaris. “Sepanjang saya ada waktu di rumah, pintu selalu terbuka, kok,” tutur peraih penghargaan Parama Boga Nugraha dari Menteri Negara Pangan dan Horikultura RI pada Hari Pangan Sedunia 1998 untuk prestasinya membuat Pepes Ikan Raksasa sepanjang 4,5 meter dengan selera 27 propinsi.

DISARANKAN BACA BUKU

Tuti pun memberi konsultasi gizi bagi yang membutuhkan. Yang satu ini, akunya, atas dasar keinginan untuk membantu. Itu sebab, tak perlu sungkan datang hanya karena takut mahal. “Tak ada patokan harga, kok, kecuali administration fee saja. Kadang tanpa biaya sama sekali atau malah saya kasih buku menu.”

Namun, khusus untuk balita, ia membatasi diri pada bentuk konsultasi saja. Pertimbangannya, pola makan balita masih harus dilatih dan itu tanggung jawab orang tua sepenuhnya. Selain faktor mood, semisal hari-hari tertentu suka makanan ini-itu, tapi hari-hari lain suka makanan yang lain pula. “Saya justru khawatir disaat anak susah atau enggak mau makan sama sekali, si ibu tak berinisiatif apa-apa kecuali menggantungkan ransum Bu Tuti. Wah, kan, celaka.”

Itu sebab, Tuti merasa lebih pas untuk menumbuhkan motivasi dalam diri si ibu, semisal dengan menyuruhnya beli buku-buku menu khusus balita, 15 di antaranya terbitan Gramedia yang sudah berulang kali cetak ulang. Disamping banyak membaca buku/majalah, tak pernah bosan berkreasi dan selalu rajin mencari alternatif makanan maupun tampilan yang bisa menggugah selera makan anak.

Alamat Yayasan Gizi Kuliner Jakarta 
Jalan Langsat I/2, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telp. (021) 726 2833

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Teropong/edisi 112/7 Mei 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: