YAYASAN SINAR PELANGI: SEBERKAS ASA BAGI PARA PENYANDANG CACAT

28 Feb


Selain membantu mengupayakan pengobatan hingga tuntas bagi mereka yang tak mampu, yayasan ini juga menjadi “gudang informasi” bagi kalangan berpunya yang butuh tenaga ahli/rumah sakit untuk mengobati penyakitnya.

Tentu kita tak ingin buah hati tercinta mengalami kecacatan apa pun. Namun bila hal itu terjadi, mau tak mau kita harus menerimanya dengan lapang dada. Bukankah anak adalah karunia Tuhan yang dipercayakan kepada kita sebagai orang tuanya? Jadi, sekalipun cacat, tetap harus kita syukuri. Selanjutnya, yang perlu kita lakukan adalah berkonsultasi pada ahlinya agar bisa dilakukan tindakan terhadap kecacatan itu, hingga tak menjadi penghalang bagi tumbuh kembang anak.

Bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar, mungkin tak terlalu sulit untuk mencari ahlinya mengingat cukup banyak rumah sakit besar berikut para dokter ahlinya. Namun bagaimana dengan mereka yang tinggal jauh di pedalaman dan tak terjangkau oleh kecanggihan dunia kedokteran serta tenaga ahli? Apalagi jika kondisi ekonomi relatif pas-pasan. Nah, bagi mereka inilah, Yayasan Sinar Pelangi (YSP) yang berdiri sejak 1989 hadir.

PUSAT REHABILITASI ANAK CACAT

Awalnya, terang pimpinan YSP, Zr. Andre Lemmers, YSP hanyalah poliklinik di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Seiring waktu berjalan, jumlah pasien terus bertambah sementara lokasinya sangat sempit dan perawatan secara poliklinis saja dirasa tak lagi memadai, maka dicarilah lokasi yang luasnya memungkinkan untuk mendirikan semacam panti perawatan swakelola yang mengarah sebagai pusat rehabilitasi anak-anak cacat fisik. “Jadi, bukan cacat mental, lo. Karena setelah penanganan di sini selesai dengan beberapa kali operasi, kami mengharapkan mereka bisa pulang ke rumah, kembali ke tengah keluarganya.”

Menempati area sekitar 1 hektar, YSP yang berlokasi di Jatikramat, Bekasi, memiliki 3 bangsal perawatan, masing- masing berkapasitas 10-20 orang. Dilengkapi fasilitas pasca operasi berupa ruang fisioterapi, poliklinik yang juga terbuka untuk masyarakat umum di sekitar yayasan, bangsal bermain, poli gigi, optik, dapur umum, bengkel pembuatan mainan kayu dan ruang “kursus” menjahit.

Meski agak sulit dicari karena lokasinya yang “mojok”, toh, orang tak segan-segan datang ke sini. “Misi kami semata-mata bersifat kemanusiaan, hingga sama sekali tak memandang agama maupun suku atau daerah asal.” Apalagi, prosesnya tak berbelit, bahkan tanpa mensyaratkan rujukan apa pun. Ribuan orang dari seluruh pelosok Indonesia dengan berbagai keluhan pernah ditolong di YSP. Hanya saja, YSP terpaksa membatasi diri dalam memberi pertolongan, yaitu dari usia 3 bulan hingga 25 tahun. Alasannya, “mereka masih memiliki masa depan dan jalan hidup yang panjang.” Selain lantaran keterbatasan dana.

DIBERIKAN PENDIDIKAN DAN KETRAMPILAN

Sebagai yayasan sosial yang hidup dari para donatur, tentulah masalah dana kerap jadi persoalan. Kita tahu, betapa besar biaya yang harus dikeluarkan. Untuk penderita hidrosefalus saja, misal, perlu 2-3 kali operasi dengan biaya sekitar Rp 5-6 juta sekali operasi. Bayangkan jika ada banyak penderita hidrosefalus yang perlu dioperasi. Belum lagi untuk kecacatan yang lebih parah, tentu biayanya jauh lebih besar. Selain itu, setelah operasi pun, pasien masih harus menjalani rawat-inap hingga pengobatan tuntas. Jika operasinya lebih dari sekali, tentunya selama menunggu operasi berikut, pasien tetap harus menjalani perawatan, hingga biayanya pasti makin tinggi.

Itu sebab YSP mendirikan panti perawatan sendiri hingga pasien tak perlu “bertahan” di RS sebegitu lama menunggu pengobatan tuntas atau operasi berikutnya. Jadi, setelah beberapa hari di RS, pasien melanjutkan pengobatannya di panti perawatan YSP. Dengan demikian, biayanya bisa ditekan. Begitu pula jika pasien perlu diterapi setelah operasi, YSP menyediakan fasilitasnya. Antara lain, program fisioterapi semisal terapi wicara dan pendengaran maupun gigi-geligi untuk mereka yang menjalani operasi sekitar mulut, semisal sumbing.

Selain itu, YSP pun memperhatikan aspek psikis para pasiennya. “Kami berusaha membangun harga diri mereka.” Antara lain dengan memberikan pendidikan dan keterampilan sesuai bakat/kemampuan masing-masing, semisal membuat mainan edukatif yang 100 persen merupakan pekerjaan tangan (tanpa menggunakan mesin apa pun), meronce, dan menjahit. Dengan cara ini, selain sekaligus sebagai terapi untuk tangan yang kaku dan perlu gerakan, juga agar pikiran mereka semakin terbuka dan diharapkan akhirnya mereka mampu menerima diri sendiri serta penuh percaya diri.

Para pendamping pasien pun diberi kesempatan mengikuti pendidikan dan keterampilan tersebut. Setidaknya untuk mengisi waktu selagi istirahat setelah merawat anggota keluarganya yang tengah menjalani perawatan di situ. Selain itu, mereka juga diberikan pelajaran gratis merawat kesehatan anak dan keluarga semisal cara memandikan yang benar, merawat luka secara higienis, dan hidup secara sehat, termasuk menjaga kebersihan ruang tidur, ruang makan, dan tempat bermain, serta menyajikan makanan yang sehat.

SEBAGAI FASILITATOR

Mengingat begitu mudahnya mendapatkan bantuan dari YSP, tak jarang YSP “kecolongan”. Tak sedikit orang yang mampu secara finansial tapi berlagak kere datang ke yayasan ini. Bukan berarti YSP tak pernah mensurvai lebih dulu siapa saja yang datang meminta bantuan. “Kami, kan, tak mungkin mensurvai seluruh keluarga yang membutuhkan pertolongan, terutama mereka yang tinggal di luar Pulau Jawa.” Namun biasanya, lanjut Andre, setelah 3-6 bulan tinggal di panti, kedok mereka akan terbuka sendiri.

Bukan berarti mereka yang berasal dari kalangan mampu tak boleh meminta bantuan ke YSP, lo. Tentunya bukan bantuan dana operasi/pengobatan, melainkan sebagai fasilitator yang membantu mencarikan tenaga ahli atau rumah sakit yang bisa menangani keluhan yang diderita si pasien dari kalangan berpunya ini, termasuk perkiraan biaya yang diperlukan agar tak “kejeblos”. Apalagi, YSP memiliki akses ke berbagai RS, hingga dengan bantuan YSP, mereka tak dipersulit atau harus melalui prosedur berbelit.

Alamat Yayasan Sinar Pelangi:
Jl. Kemangsari II No.39 Rt 001/07 Jatikramat
Kotak Pos 134, Bekasi 17401
Telp. 848 2279

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Teropong/edisi 107/2 April 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: