EJAKULASI GAGAL GARA-GARA GANGGUAN PROSTAT

29 Feb

Gangguan yang satu ini bukan cuma monopoli pria paruh baya. Jangan pula buru-buru dioperasi bila tak ada indikasi kuat. Bisa “celaka”, lo.Gangguan kelenjar prostat, apa pun jenisnya, jelas Rainy Umbas, MD, Ph.D., mau tak mau terkait dengan harga diri pria. Sebab, bagian dari saluran kencing ini hanya ditemui pada kaum Adam dan istimewanya, sudah ada sejak yang bersangkutan lahir tanpa perlu menunggu datangnya masa akil-balik serta akan terus bertahan sepanjang hayat.

Berdasarkan fungsinya, kata urolog ini, kelenjar prostat diperlukan untuk mengeluarkan cairan khusus yang berguna melindungi sperma agar tetap hidup di dalam cairan tersebut. Juga agar sperma bisa berbentuk cairan supaya bisa dikeluarkan dari tubuh.

TIGA JENIS GANGGUAN

Nah, untuk menunjang pertumbuhan kelenjar prostat, diperlukan hormon-hormon androgen, terutama hormon testosteron. Alhasil, jika buah zakar rusak entah karena kecelakaan atau sebab lain, bisa-bisa tamat pula “riwayat” sebagai laki-laki. “Berarti hormon-hormon androgen tak lagi bisa diproduksi. Imbasnya, fungsi kelenjar prostat secara keseluruhan pun jadi terganggu. Dengan kata lain kehidupan seksualnya juga pasti bakal terpengaruh,” jelas Umbas.

Pada kasus-kasus infeksi, contohnya, “Munculnya ketidaknyamanan saat BAK, secara psikologis, kan, akan membuat orang risih dan akhirnya malas berhubungan intim. Setidaknya, merasa tak enak hati atau malah malu pada istri bila harus mondar-mandir ke kamar mandi, hingga sama sekali tak bisa menikmati hubungan.” Belum lagi hambatan fisik berupa munculnya perasaan ngilu saat ejakulasi. “Secara tak langsung, gangguan prostat memang potensial menurunkan libido.”

Gangguan kelenjar prostat dibedakan menjadi tiga. Yakni infeksi prostat yang biasanya terjadi pada usia dewasa muda antara 20 hingga 40 tahunan, pembesaran prostat jinak yang terjadi di usia 50 tahun atau lebih, serta kanker prostat yang biasanya muncul di usia 60 tahun ke atas.

Jadi, semakin bertambah usia seseorang, makin beragam dan kian tinggi pula peluangnya mengalami gangguan prostat. Kendati bisa saja gangguan ini muncul di usia muda.

Menurut ahli kanker urologi dari Bagian Urologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta ini, masing-masing gangguan tadi ternyata berdiri sendiri alias tidak saling berhubungan satu sama lain. Dalam arti, seseorang yang mengalami infeksi prostat belum tentu akan berlanjut menjadi pembesaran prostat, bahkan keganasan/kanker.

POLA HIDUP TAK SEHAT

Gangguan prostat, lanjut Umbas, umumnya muncul akibat ulah kuman dari tubuh. Entah kuman yang berasal dari saluran kencing, saluran pencernaan, atau kulit. “Di beberapa bagian tubuh memang ada kuman-kuman tertentu yang hidup tanpa menimbulkan gejala maupun gangguan alias apatogen. Selain karena jumlahnya senantiasa ‘seimbang’, sementara tubuh memiliki sistem kekebalan tersendiri yang bisa mengalahkan kuman bila suatu saat dianggap perlu.”

Akan tetapi, lanjutnya, ada beberapa hal yang dikategorikan sebagai faktor risiko. Di antaranya, menurunnya kondisi tubuh akibat gangguan diare yang berat, stres berkepanjangan, dan kebiasaan hidup tak sehat seperti kebiasaan begadang yang menyebabkan kurang tidur, minum minuman beralkohol tinggi, terlalu banyak mengkonsumsi lemak atau makanan kelewat pedas. Dalam kondisi-kondisi seperti itulah kekebalan tubuh menurun karena berubahnya kuman apatogen tadi menjadi patogen.

Sedangkan faktor risiko terjadinya pembesaran maupun keganasan prostat sangat terkait dengan usia dan kondisi hormonal. “Kalau kondisi hormonalnya normal, peluang munculnya gangguan pembesaran maupun keganasan, relatif kecil.” Sayangnya, keseimbangan hormonal ini kerap dikacaukan dengan kebiasaan mengkonsumsi obat-obat hormonal yang diyakini bisa membuat tubuh tetap fit dan bikin awet muda secara tak terkontrol.

Karena itulah, tegas Umbas,”Jangan sembarangan mengkonsumsi obat-obatan yang mengandung hormon androgen karena dikhawatirkan bisa mempercepat pembesaran prostat jinak maupun ganas.”

MESTI KENYAL

Kata Umbas, ketiga jenis gangguan prostat tadi biasanya menunjukkan gejala yang nyaris sama, yakni kencing terganggu. Seperti pancaran kencing yang melemah, padahal biasanya muncrat jauh, tak lancar, dan tak bisa terlampiaskan habis karena sebentar-sebentar terhenti dan serasa masih bersisa. Penderita pun merasa terganggu karena bolak-balik ingin BAK.

Untuk memastikan apakah keluhan-keluhan tadi merupakan gejala infeksi prostat, biasanya dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan. Di antaranya perabaan prostat melalui colok dubur, di samping pemeriksaan laboratorium untuk menguji kandungan kuman dalam air kencing.”Pada mereka yang mengalami infeksi prostat, biasanya prostatnya teraba lembek, selain keluhan nyeri. Padahal normalnya, harusnya terasa kenyal dan tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali.”

Selain itu, saran Umbas, jangan pernah sepelekan infeksi ataupun peradangan yang terjadi. Sebab, infeksi atau peradangan semisal radang tenggorokan yang tidak tertangani secara tuntas, bisa berakibat fatal. Terutama bila kuman penyebab infeksi/peradangan tersebut ikut menyebar melalui aliran darah.

Meski infeksi-infeksi lain biasanya termanifestasi lewat demam tinggi, infeksi prostat jarang menimbulkan keluhan demam. Tak heran kalau pasien umumnya baru datang 3 bulan kemudian. Itu pun lebih karena dorongan ketidaknyamanan yang amat mengganggu.

LEWAT DUBUR & BIOPSI

Gangguan berikut adalah pembesaran jinak dan kanker ganas yang gejala awalnya relatif sama dengan infeksi prostat. Pemeriksaan awal yang paling bisa diandalkan untuk memastikan adalah perabaan. “Kalau teraba keras, perlu dicurigai adanya keganasan.”

Tentu saja untuk memastikannya, diperlukan pemeriksaan darah. Dari situ bisa terbaca adanya pertanda tumor berupa PSA/Prostat Specifik Antigen yang bisa membantu ahli mengarahkan diagnosa. Atau dengan pemeriksaan patologi yang sampelnya dapat diambil melalui dubur. Caranya, dengan bantuan USG yang dimasukkan lewat dubur bisa terlihat gambaran prostatnya.

Sementara biopsi, kata Umbas, baru dilakukan kalau hasil yang didapat mencurigakan. Dikatakan normal jika dari perabaan tak menunjukkan keganasan sementara angka dari pemeriksaan PSA pun memperlihatkan kisaran normal, hingga biopsi tidak diperlukan. Sebaliknya, bila nilainya melebihi kisaran batas normal, sementara dari perabaan diduga jinak, biopsi tetap harus dilakukan karena amat dicurigai adanya keganasan. Sedangkan yang nilainya berada di antara batas minimal dan maksimal, akan ada semacam tes untuk melihat kesesuaian ukuran prostat.

AMATI PANCARAN

Berbeda dengan kondisi sekitar 30 tahun lalu yang hanya memungkinkan operasi, terang Umbas, kini tersedia beragam pilihan pengobatan. “Memang, saran-saran yang diberikan biasanya terpulang pada keluhan/gejala yang muncul dan hasil pemeriksaan yang didapat.” Di antaranya pemeriksaan untuk mengukur seberapa cepat aliran BAK-nya. Dalam arti, apakah masih bisa memancar, sudah betul-betul tersendat, atau malah mampat sama sekali. Semakin lemah pancaran BAK-nya, tentu makin parah gangguannya. Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan dengan menghitung berapa banyak sisa kencing yang tertahan.

Untuk yang gangguannya ringan, cukup dengan pemberian obat-obatan untuk mengurangi keluhannya. Hanya saja berbeda dengan obat-obat anti peradangan/infeksi yang umumnya diberikan untuk 3 atau 5-7 hari pemakaian, obat-obatan untuk mengatasi gangguan prostat diberikan minimal 4-8 minggu yang akan terus dipantau untuk termin waktu berikutnya. Bila dinilai masih diperlukan, obat-obatan antibiotika tersebut masih terus digunakan. Pasien tak perlu khawatir obat-obatan ini bakal memperburuk kemampuan seksualnya.

Sedangkan operasi, baik terbuka maupun TUR-P (Trans-Urethral Resection of Prostat)dijadikan pilihan jika gejalanya sudah berat, semisal retensi alias tidak bisa kencing sama sekali. Atau bila ada batu di dalam kandung kencing maupun kelainan pada buli-bulinya. Sayangnya, ukuran prostat agak sulit dijadikan patokan karena belum tentu yang prostatnya besar, keluhannya lebih berat.

Pikir Matang Sebelum Operasi

Jika memangoperasi dijadikan pilihan terakhir, jelas Umbas,tak lain karena dampak kurang menguntungkan yang ditimbulkannya. “Soalnya, tindakan operasi jelas berpengaruh pada kehidupan seksual seseorang. Di atas kertas, sekitar 20 persen di antaranya akan mengalami impotensi.” Karena itulah penderita sebaiknya betul-betul berpikirsecara matang. Terlebih bila usianya masih relatif muda dan kehidupan seksualnya masih aktif. “Lain soal kalau sudah ada indikasi mutlak dan tak ada pilihan lain, ya, apa boleh buat.”

Risiko lain yang juga mungkin terjadi adalah retrograted ejaculation. Yakni ejakulasi yang air maninya tak memancar keluar, melainkan berbalik masuk ke kandung kemih dan bercampur dengan BAK, serta dikeluarkan bersamaan dengan air kencing. Mengingat ejakulasitak bisa berlangsung secara alamiah, maka bila yang bersangkutan membutuhkan spermanya untuk pembuahan, sperma tersebut harus diambil langsung dari testis lewat suntikan atau sejenisnya. “Kehidupan seksual yang bersangkutan jelas terganggu, ” ujar Umbas

Di sisi lain,pada kasus-kasus semacam ini bisa saja penderita tidak mengalami gangguan ereksi. Artinya,spermanya masih tetap mengandung spermatozoa, namun tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk membuahi karena di lingkungan yang berbeda kemungkinan besar sel-sel spermanya sudah mati/rusak. Alhasil, fungsi fertilitasnya terganggu.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Seksologi/edisi 159

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: