GAGAL BERINTIM-INTIM AKIBAT TRAUMA MASA KECIL

29 Feb


Hati-hati, trauma seksual semasa kecil bisa menjadi biang keladi terjadinya vaginismus. Perlu penanganan simultan secara intensif, baik fisik maupun psikis.

“Apa, sih, vaginismus?” begitu tanya banyak orang penasaran. Vaginismus, terang konsultan seks DR. Ferryal Loetan, SpRM, MMR, merupakan gangguan seksual pada wanita. Tepatnya, bagian dari frigiditas yang membuat si wanita tak mampu mendapat rangsangan seksual. Jangan salah, ia sebetulnya mau, tapi sama sekali tak bisa menerima rangsangan seksual dalam dirinya. Repot, kan?

Wanita penderita vaginismus, lanjut Ferryal, “Jangankan merasakan apa yang disebut orgasme, penetrasi atau masuknya penis ke dalam vagina pun tidak terjadi lantaran timbul spasme atau kontraksi otot-otot vagina secara berlebihan. Akibatnya, vagina sama sekali tidak bisa membuka dan menerima apa pun, termasuk penis.” Padahal kontraksi otot vaginasendiri sebetulnya diperlukan untuk “mencengkeram” penis. Cengkeraman inilah yang justru memberikan kenikmatan pada pasangan suami-istri.

Pada kasus-kasus vaginismus, kontraksi vagina justru terjadi berlebihan di samping sebetulnya terjadi di luar kontrol alias tidak diinginkan oleh yang bersangkutan. “Dia ingin hubungan seksual yang ditandai dengan penetrasi, namun vaginanya sama sekali tak mau membuka akibat kontraksi yang tak terkontrol tadi.”

Untunglah kasus vaginismus amat sedikit. “Mungkin hanya 1 di antara 10 kasus-kasus frigiditas yang juga hanya berkisar 10 persen dari seluruh gangguan seksual.”

DIANGGAP MENJIJIKKAN

Lalu mengapa bisa terjadi demikian? “Yang paling sering,akibat trauma psikis yang terkait dengan kehidupan seksual.” Misalnya, ketika kecil ia “menangkap basah” orang tuanya yang tengah bersetubuh. “Dalam pemahaman anak, si ibu yang menjerit-jerit atau mengaduh tak ubahnya seperti orang kesakitan, padahal sebetulnya si ibu tengah merasakan nikmat. Sementara dalam hati dan pola pikir si anak, yang terpatri justru hal sebaliknya. Tak heran kalau persetubuhan lantas dianggap sesuatu yang menyakitkan atau menjijikkan. Bahkan ajang penyiksaan terhadap kaum perempuan.”

Sebab lain, muncul perasaan jijik saat melihat hubungan seks yang saat itu sama sekali belum dipahaminya. Semisal, “Kok, mereka jorok banget, sih! Seperti anjing tetangga depan!” Bukan tidak mungkin, lo, kejadian-kejadian yang terlihat tadi membuat si anak sedemikian jijik. Anggapan salah dan perasaan jijik itulah yang kemudian telanjur tertanam begitu kuat dalam diri anak.

Celakanya, pola pikir yang telanjur salah kaprah ini akan sulit sekali diluruskan. Soalnya, bila dianalogikan dengan perangkat komputer, kesalahan tadi merupakan error yang masuk ke “CD-Room” seseorang. Nah, kalau error ini sudah mengenai bagian ingatan di otak sekaligus perasaan/lubuk hati seseorang, pasti tidak akan hilang begitu saja. “Kalaupun bisa, pasti sangat sulit dan perlu waktu khusus yang amat panjang, selain diperlukan perjuangan yang ekstra keras dari banyak pihak. Terutama suaminya.”

Akan lain ceritanya kalau si anak mengalami hal sama saat dia sudah mendekati atau bahkan mencapai masa puber. Setidaknya, ia sudah mulai mengenal/memahami hal-hal yang terkait dengan kehidupan seks. Semisal mulai tertarik pada jenis kelamin lain dan tahu pula bahwa sebagai perempuan dirinya berbeda secara seksual dengan kakak/adiknya yang laki-laki. Pemahaman/pengetahuan seperti itulah yang membantunya relatif lebih mudah mengikis trauma psikis seputar seks yang mungkin terjadi.

PENIS TERJEPIT

Menurut ragamnya, kata Ferryal, gangguan vaginismus sendiri dibedakan atas yang ringan dan berat. Ringan, jika yang bersangkutan masih bisa menerima penetrasi. Sayangnya, begitu penetrasi terjadi, vaginanya berkontraksi hebat. Akibatnya, penis terjepit (kerap disebut gancet). Sedangkan yang berat,”Boro-boro suaminya bisa penetrasi. Baru melihat suaminya telanjang saja, si wanita sudah begitu ketakutan luar biasa.”

Dalam kondisi seperti itu, vaginanya jelas sudah kaku dan mengalami kekejangan. “Jadi, bagaimana mungkin si suami mau memberikan rangsangan seksual yang kemudian berlanjut pada penetrasi?” Padahal, sambung Ferryal, ketakutan si istri tersebut bukan melulu harus ditimpakan pada sang suami. Bisa saja suaminya bukan termasuk tipe yang kasar atau main tanpa pemanasan. “Masalahnya lebih pada trauma psikis.”

Selain trauma seksual semasa kecil, lanjut Ferryal, ketakutan sesaat yang bersifat intensif juga bisa menyebabkan munculnya vaginismus. Soalnya, kasus-kasus gancet umumnya terjadi di tempat-tempat yang dianggap angker/menyeramkan, seperti rumah kosong atau pemakaman umum. Tak heran kalau kejadian tadi lantas dihubung-hubungkan dengan hal-hal magis, semisal kesambet setan.

Padahal, usut punya usut ternyata bukan tempatnya yang menyebabkan kejadian gancet, melainkan karena situasi berintim-intim itu sendiri yang dirasakan begitu menegangkan. Semisal takut ketahuan karena dilakukan bukan dengan suaminya, tetapi dengan pria selingkuhannya.

PEMBULUH DARAH PECAH

Sejauh ini, lanjut Ferryal, kasus vaginismus memang tidak menyebabkan kematian tapi hanya sebatas kepanikan dan kesakitan luar biasa pada pihak suami. Penyebabnya, otot-otot vagina yang mengalami kontraksi berlebih tadi, banyak terdapat di bagian permukaan saja. Sedangkan di bagian dalamnya nyaris tidak ada.

Alhasil, begitu terjepit, darah yang sudah telanjur masuk ke dalam penis yang mengalami ereksi, tak bisa kembali dipompa ke luar. Akibatnya, makin lama penis makin bengkak dan kian sakit. “Kalau didiamkan terus-menerus, jelas berbahaya, dong. Setidaknya pembuluh-pembulu darah halus di penis akan pecah. Bukan tidak mungkin kondisi ini di kelak kemudian hari menimbulkan gangguan ereksi.” Namun biasanya, kata Ferryal, jarang terjadi karena begitu memiliki pengalaman seperti ini, yang bersangkutan pasti akan mencari pertolongan medis.

Untuk kasus-kasus gancet, yang secara medis tergolong ringan, penderita bisa langsung datang ke rumah sakit. Dokter biasanya akan memberi suntikan atau obat yang membuat otot-otot vagina yang kaku/mengejang tadi kembali relaks. Nah, begitu terjadi relaksasi, vagina diharapkan akan membuka dengan sendirinya, hingga penis yang semula terjepit bisa terlepas. “Jadi, tak perlu sampai harus ‘dibor’ atau menggunakan teknik operasi apa pun untuk mengeluarkan penis yang terjepit tadi.”

Relaksasi memang sangat membantu. Tapi tak berarti cukup dengan nasihat, “Coba, deh, Pak-Bu, tenang.” Belum lagi kedua belah pihak panik, stres, dan malu jadi tontonan.”Mau tak mau,penanganannya memang mesti diserahkan ke pakarnya, yaitu konsultan seks dan psikiater.”

Selain itu, keberhasilan penanganan pun amat tergantung pada keterbukaan kedua belah pihak. Bukan sekadar pasrah dalam arti keliru semisal,”Ya, sudahlah, ini memang sudah nasibku,” lantas tak mau berobat sama sekali. “Kalau sudah begini, jangan harap bakal ada perbaikan, deh!” Soalnya, tegas Ferryal, gangguan vaginismus tak mungkin terselesaikan hanya dengan mengandalkan berjalannya waktu.

PERLU DUKUNGAN SUAMI

Terapi penanganan vaginismus, jelas Ferryal, umumnya dilakukan secara bertahap. Salah satunya dengan lebih banyak melakukan cumbuan-cumbuan seksual, namun tidak sampai melakukan penetrasi. Cara ini terus dilakukan sampai beberapa waktu. Sedangkan upaya penetrasi pun dilakukan secara bertahap. Misalnya, di tahap awal menggunakan alat bantu semisal teknik jari, kemudian dalam jangka panjang intensitas kedalamannya ditingkatkan sedikit demi sedikit.

Untuk menjalani terapi, jangan pernah berharap bisa selesai dalam waktu singkat. Kalau selama menjalani terapi, contohnya, suami tidak tahan kemudian melakukan penetrasi secara buru-buru, justru bisa berakibat fatal. Bukan tidak mungkin malah memperparah trauma yang ada.

Itu sebabnya,tegas Ferryal, seorang suami yang kebetulan beristrikan wanita dengan gangguan vaginismus, amat dituntut kesabarannya untuk memahami kondisi si istri. Artinya, “Jangan malah menuduh ‘kelemahan’ tersebut sebagai akal-akalan si istri untuk menolak berhubungan dengan suami.”

Dengan begitu si suami pun sangat diharapkan untuk tidak pernah memaksakan kehendaknya. Semisal, “Pokoknya, malam ini kamu harus melayani saya!” Kalau bentuk kekerasan dan pemaksaan kehendak semacam itu yang digunakan, bukan tidak mungkin keluhan vaginismus si istri justru semakin parah sehingga penanganannya juga jadi kian sulit dan membutuhkan waktu lebih lama.

Dari pihak suami pun diharapkan kesediaannya mendampingi sang istri menjalani pengobatan. “Untuk gangguan vaginismus yang tergolong paling ringan pun, perlu waktu lama untuk “membongkar” trauma yang sudah sekian lama bercokol di benak si penderita. Nah, apalagi yang berat?”

Bersikap Bijak Di Malam Pertama

Buat banyak pasangan, malam pertama sering jadi masalah atau malah membawa petaka. Terlebih bila pengetahuan seksual masing-masing masih nol alias buta soal seks. Kalau masa kecil si pengantin wanita “bersih” dari trauma, bukan tidak mungkin petaka di malam pertama tadi justru menjadi trauma awal yang membuatnya mengalami gangguan vaginismus. Terlebih bila trauma tadi tidak disikapi secara bijak.

Dengan pertimbangan itulah, Ferryal menganggap pentingnya pendidikan seks yang berkelanjutan sejak dini. Yakni sejak anak mulai menaruh perhatian khusus pada hal-hal yang berbau seksual. Misalnya saat mandi bersama orang tua yang berjenis kelamin sama, si anak bertanya. “Pak, ‘burung’ saya kecil. Kok, punya Bapak besar dan ada bulunya?” Kalau pertanyaan semacam itu sampai terucap oleh balita,tandanya ia perlu mendapat penjelasan dari orang tuanya.

Toh, penjelasannya tak perlu kelewat detail yang hanya akan membuat anak bingung. Cukup jawab sesuai kebutuhan anak saat itu dan tingkat kecerdasan si anak. Umpamanya,”Nanti kalau kamu sudah besar juga seperti ini.”

Sebagai orang tua kita pun mesti mampu bersikap terbuka jika suatu saat anak akan mempertanyakan hal yang sama, namun membutuhkan penjelasan lebih detail sesuai dengan perkembangan daya pikirnya. Yang pantang dilakukan adalah meng-cutpertanyaan anak, semisal, “Hus, enggak boleh tanya-tanya begitu! Enggak sopan!” Sikap langsung memotong ini justru akan membuat anak penasaran yang akhirnya mendorongnya mencari tahu ke sumber-sumber lain. Padahal, sumber tadi justru kemungkinan besar tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kita juga yang repot, kan?

Siapa Saja Bisa Kena

Gangguan vaginismus, kata Ferryal, bisa mengena siapa saja. Dia takmengenal etnis/ras tertentu, latar belakang pendidikan maupun lapisan ekonomi. Begitu juga latar belakang keluarga, semisal keluarga kaku yang menabukan soal seks atau sebaliknya.

Hanya saja mereka yang mengalami vaginismus kebanyakan berkepribadian introvert/tertutup. “Tapi jangan salah, meski yang bersangkutan introvert, kalau tidak punya trauma masa kecil yang berkaitan dengan urusan seks, ya, tidak berpeluang menjadi penderita gangguan vaginismus.”

Vaginismus VS Sikap Dingin Usai Melahirkan

Bersikap dingin usai melahirkan, kata Ferryal, tak bisa dikategorikan sebagai gangguan vaginismus. Sebab, meski sama-sama menunjukkan penolakan terhadap aktivitas seksual, sikap dingin ini hanya bersifat temporer.

Traumanya pun lebih bersifat fisik semisal tak tahan menanggung nyeri sewaktu hamil atau saat persalinan. Hingga praktis lebih mudah “ditangani” karena begitu rasa sakitnya hilang, si ibu pun mau dan bisa kembali berhubungan seksual dengan suaminya. Sementara vaginismus, traumanya lebih berakar ke masalah psikis.

Tanpa Tanda Khusus

Menurut Ferryal, umumnya wanita yang bersangkutan tidak menyadari dirinya mengalami gangguan vaginismus. “Soalnya, memang tidak ada tanda-tanda khusus atau gejala spesifik sebelumnya. Ia baru tahu menderita gangguan tersebut kalau sudah ada kejadian.”

Sedangkan sikap dingin pada laki-laki, tegasnya, tak identik dengan vaginismus. Mereka yang dingin bisa saja mampu mengadakan hubungan seks. Artinya, vaginanya bisa terbuka, kendati dirinya mungkin tidak bisa menikmatinya dan sama sekali tak mungkin merasakan orgasme.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Seksologi/edisi 152

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: