KENALI EJAKULASI TERHAMBAT

29 Feb


Jangan kelewat bangga dan menganggap diri superhebat bila mampu ereksi lama. Justru bahaya jika tak segera disikapi.

“Payah, dari tadi hasilnya cuma keringetan, doang! Kapan nyampenya sih? Aku keburu pegel, nih!” Begitu keluhan yang sering dilontarkan istri lantaran merasa jengkel karena suaminya tak kunjung ejakulasi. Keluhan semacam itu, kata konsultan seks Dr. Ferryal Loetan, Sp.RM, MMR, wajar terucap karena si istri boleh jadi sudah bolak-balik mencapai puncak kenikmatan. Sementara tenaganya pun sudah terkuras habis, hingga sama sekali tak lagi bergairah.

Buat banyak pasangan, lanjut Ferryal, kemampuan suami menahan ejakulasi semata-mata agar istrinya memperoleh kepuasan seksual, memang patut diacungi jempol. Untuk bisa sampai ke taraf itu pun diperlukan latihan khusus dan jam terbang tersendiri. Hanya saja, pesannya, jangan mencampuradukkan kemampuan tersebut dengan salah satu bentuk gangguan impotensi yang disebut retarded ejaculation atau ejakulasi terhambat.

BISA IMPOTEN

Meski kasusnya relatif jarang terjadi, yakni sekitar 1 di antara 1.000, terang Ferryal, ejakulasi terhambat tak bisa dianggap enteng. Sebab, kondisi ini merupakan gangguan serius bagi para pria dalam urusan seksual. Memang, kaum Adam yang mengalaminya bisa mengadakan kontak seksual dengan pasangannya, kemampuan ereksinya bagus, namun ia mengalami hambatan untuk memancarkan air maninya. Misalnya perlu waktu berjam-jam atau bahkan sama sekali tak bisa ejakulasi. “Njengkelin banget, kan, kalau diajak ke puncak gunung, tapi enggak pernah sampe-sampe dan enggak tahu pula berapa lama waktu yang diperlukan?”

Sebab itu,imbuh Ferryal, ejakulasi terhambat bisa dikategorikan sebagai hipotensi. “Hanya saja gradasinya tak separah impotensi, yang tak bisa ereksi sama sekali.”

Ironisnya, mereka yang mengalami ejakulasi terhambat ini, awalnya merasa dirinya tak bermasalah. “Mereka malah merasa dirinya hebat.” Kalaupun akhirnya menyadari ada keganjilan dalam dirinya, umumnya tak berani mengutarakannya langsung dengan kata-kata. Melainkan dengan uji coba menjalin hubungan dengan sekian banyak wanita yang juga tak bisa membuatnya mencapai kepuasan. Tak heran bila kadar stresnya bertambah berat lalu ia pun jadi impoten.

ISTRI MENDERITA

Soal dampak pada istri, tandas Ferryal, “Jangan ditanya lagi, deh! Istri mana, sih, yang enggak merasa terganggu saat gairah seksualnya sudah kembali normal lalu ingin istirahat dan tidur pulas, penis suaminya justru masih berada dalam vaginanya.” Pendek kata, kondisi fisik dan emosinya sudah tak memungkinkan lagi untuk meneruskan hubungan intim, sementara suaminya masih menggapai-gapai mencapai puncak kepuasan. “Kondisi semacam itu jelas jadi beban psikis buat mereka berdua. Terlebih karena tak ada standar waktu berapa lama harus bertoleransi untuk menunggu suami ejakulasi.” Celakanya, sikap istri yang jadi gampang tersulut oleh kejengkelan akan memperburuk kondisi suami. Bukankah bila salah satu bermasalah, kondisi/kemampuan seksual pasangannya pun ikut-ikutan bermasalah? Tak heran kalau seorang suami yang mengalami gejala awal impotensi akan semakin bertambah parah keluhannya bila “disemprot” oleh istrinya, “Payah! Dasar impoten!” Hingga di lain waktu bukan tidak mungkin suami betul-betul kehilangan potensinya, lo!

Pelecehan semacam itu bisa berdampak besar pada faktor kejiwaan dan kelelakiannya karena amat memukul harga dirinya. “Pada laki-laki, yang disebut kejantanan, kan, nyaris identik dengan penisnya. Orang sekekar apa pun, contohnya, kalau penisnya enggak bisa ‘bangun’ manalah bisa disebut jantan.”

SALAH PERSEPSI

Sayangnya, orang kerap terjebak pada mitos yang menganggap pria hebat jika bisa ereksi sekaligus mempu bertahan sekian lama. Padahal, tidak selalu demikian. Sebab, terang Ferryal, “Normalnya hubungan intim bisa disudahi dengan ejakulasi hanya dalam waktu 5-7 menit. Kendati dengan berbekal pengalaman, konsentrasi, dan latihan-latihan khusus untuk menguatkan otot-otot dasar panggul, bisa saja yang bersangkutan mencapai ejakulasinya 20-30 menit atau lebih sejak ereksi. Hanya saja, mereka memang sengaja menundanya dengan tujuan agar si istri orgasme dulu atau agar bisa sama-sama mencapai puncak kenikmatan. Jadi, bukan lantaran enggak bisa ejakulasi!”

Menilik penyebabnya, jelas Ferryal, retarded ejaculation bisa karena faktor fisik maupun psikis. Penyebab gangguan fisik antara lain gangguan di uretra/saluran kemih. Semisal, penyempitan akibat infeksi atau kerusakan jaringan ikat karena trauma benturan atau pukulan/tendangan di sekitar daerah pubis/panggul.

Bisa juga karena mekanisme klep yang mengatur masing-masing aliran darah, air mani, dan alir seni di penis terganggu. Entah karena penyakit tertentu ataupun gangguan di otot-otot pengatur klep tersebut. Padahal, kerja klep itulah yang memungkinkan sperma tak bercampur dengan air seni meski salurannya sama. “Kalau klepnya tak berfungsi, bukan tidak mungkin spermanya akan muncrat kembali ke kandung kemih atau malah masuk ke ginjal. Ini jelas berbahaya dan menimbulkan sakit atau nyeri yang luar biasa. Padahal, kan, seharusnya persetubuhan mendatangkan kenikmatan.”

Pria dengan penyakit tertentu semisal diabetes, jantung, hipertensi dan stroke, lanjut Ferryal, ternyata lebih rentan terkena gangguan hipotensi yang satu ini. “Yang jelas, bukan karena penyakit-penyakit itu sendiri, melainkan penggunaan obat-obatan untuk mengatasi penyakit-penyakit tersebut. Terlebih bila obat-obatan tadi digunakan secara sembarangan tanpa pengawasan dokter.” Diduga karena obat-obatan tadi banyak berhubungan dengan pembuluh darah dan sistem saraf. Kendati sebaliknya, pada sebagian penderita stroke tak sedikit pula yang justru mengalami gangguan hiperseks.

PENGALAMAN TRAUMATIS

Menurut Ferryal, penyebab utamanya adalah psikis. Tepatnya, trauma terhadap kehidupan seks itu sendiri yang dialaminya semasa kanak-kanak. Bisa saja saat itu ia dipaksa melihat dan atau melakukan hal-hal tak senonoh yang sama sekali belum dimengertinya. Karena itulah,para korban pelecehan seksual, terutama yang terjadi di masa kanak-kanak, sebaiknya segera mendapat penanganan bijak agar pengalaman traumatisnya tak berkepanjangan. “Jangan malah dianggap enteng dengan mengatakan, ‘Ah, enggak apa-apa, masih kecil ini. Entar juga lupa sendiri.’ Justruharus segera digali perasaan mereka, sekaligus dibenahi faktor kejiwaannya karena pengalaman-pengalaman traumatis seperti itu tak akan terselesaikan begitu saja.”

Bisa juga karena tanpa sengaja si anak melihat adegan berintim-intim orang tuanya atau orang dewasa lainnya. “Terlebih bila si wanita berteriak-teriak karena rasa nikmat. Tapi di benak anak telanjur tertangkap kesan bahwa aktivitas seks itu sesuatu yang sangat menyakitkan. Runyam, kan?” Karena itu, lanjutnya,orang tua diharapkanlebih berhati-hati saat berhubungan intim. “Minimal, jangan sampai terlihat oleh anak. Jangan pula menganggap situasi sudah ‘aman’ hanya karena si kecil sudah tidur pulas. Bukan tidak mungkin ia terbangun oleh suara berisik orang tuanya yang tengah berasyik masyuk. Di sinilah pentingnya mengupayakan hubungan suami istri betul-betul terjaga privacy-nya.”

CARI SOLUSI

Soal solusi,harus diupayakan bersama oleh suami-istri bersangkutan. Dalam arti, istri pun diminta pengertian untuk mengerem keinginannya memuntahkan kejengkelannya yang hanya akan memperburuk situasi. Pihak istri, sambungnya, disarankan pula mendorong suaminya untuk berkonsultasi ke konsultan seks yang akan merekomendasikannya untuk berobat lebih lanjut ke dokter ahli lain yang terkait. “Kalau memang berhubungan dengan gangguan uretra, tentu mesti dikirim ke bagian bedah urologi. Atau jika bersumber dari keluhan diabetes, harus dikonsultasikan ke ahli penyakit dalam. Sementara yang diakibatkan oleh pengalaman-pengalaman traumatis akan diarahkan penanganannya ke psikiater.”

Menganjurkan suami “jajan” atau cari perempuan lain di luaran hanya karena merasa dirinya kewalahan, tandas Ferryal, jelas bukan solusi tepat. “Jangan salah, buat si pria, gangguan semacam itu merupakan pukulan berat, lo!” Bagaimana tidak? Selain capek karena harus melakukan hubungan intim selama berjam-jam, penisnya akan spanningterus karena ereksi. Sementara dengan masturbasi pun sama sulitnya. “Kalau sudah demikian, lanjut Ferryal, tak ada cara lain kecuali memberi obat tertentu guna menurunkan ketegangan penis.

Penis yang mengeras terus-menerus tentu bisa membahayakan. Apalagi bila kelainan/gangguan tersebut disebabkan oleh kerusakan klep pengatur di penis tadi. Bisa saja terjadi, akibat kerja klep yang “kacau”, darah yang sudah masuk ke penis tak bisa balik terpompa ke luar lagi. Akibatnya, penis makin lama kian mengeras yang disebut priapism alias ereksi terus-menerus dan menimbulkan sakit yang luar biasa. “Tak ada jalan lain kecuali harus dioperasi untuk membereskan pembuluh darah di situ.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Seksologi/edisi 144

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: