MITOS PERBEDAAN SEKS PRIA & WANITA

29 Feb


Agar kehidupan seksual bisa dinikmati sebagai wujud kebersamaan, suami-istri harus mau meluruskan pandangan keliru mengenai urusan yang satu ini.

Tak bisa dipungkiri, ada begitu banyak mitos menyesatkan yang menempatkan wanita sebagai “warga kelas dua” dibanding pria. Yuk, kita simak apa saja perbedaan dan bagaimana kondisi idealnya yang dipaparkan seksolog Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., FAACS

1. Dorongan Seksual Pria Lebih Kuat Dibanding Wanita

Tidak benar. Pada dasarnya, dorongan seksual pria maupun wanita relatif sama. Secara umum kondisi tersebut dipengaruhi oleh hormon seksual, faktor psikis, rangsangan seksual yang diterima, kondisi kesehatan tubuh yang bersangkutan, serta pengalaman seksual sebelumnya.

Kalaupun benar berbeda, itu lebih diakibatkan oleh nilai sosial dan moral yang berlaku dalam masyarakat. Bukankah wanita dikatakan “baik-baik” bila ia tidak terlihat agresif dan mampu menekan keinginannya mengekspresikan dorongan seksual? Persepsi itulah yang agaknya memunculkan kesan keliru bahwa dorongan seksual wanita lebih rendah dibanding pria.

Celakanya, berdasarkan gender dan mitos-mitos yang menempatkan kaum Adam sebagai makhluk unggul, membuat pria secara moral merasa dituntut harus lebih dalam urusan ini. Tak heran kalau banyak pria yang kecewa jika kehidupan seksualnya tidak seperti mitos-mitos tadi. Mereka berlomba memenuhi kriteria “ideal” tersebut semisal dengan mengkonsumsi obat kuat bahkan operasi memperbesar alat kelamin yang justru bisa berakibat fatal.

2. Bagi Pria Seks Menempati Urutan Pertama

Boleh jadi anggapan ini muncul karena pengkotak-kotakan peran dan gender serta suburnya mitos yang menempatkan pria sebagai makhluk unggul tadi. Sebaliknya, wanita tak jarang dianggap sebagai objek seksual atau malah makhluk aseksual yang hanya berfungsi sebagai alat pemuas pria. Dorongan mendapat kepuasan dan keinginan dilayani semacam itulah yang lantas memunculkan gambaran bahwa pria mengutamakan urusan seks. Seolah tanpa seks, kehidupannya bakal berakhir.

3. Bagi Wanita Seks Identik dengan Cinta, Pria Sebaliknya

Artinya, untuk sampai terlibat pada aktivitas seksual, bukan melulu unsur fisik yang menjadi pertimbangan. Wanita membutuhkan ekspresi emosional, semisal pelukan yang membuatnya merasa terlindungi dan disayangi. Selain sikap gentlemenlike atau penuh perhatian untuk hal-hal kecil. Sebaliknya, pria mengutamakan penampilan fisik, semisal harus cantik/menarik, memiliki bentuk tubuh yang aduhai sekaligus bisa nyambungsebagai partner. Kendati banyak contoh yang mendukung bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Semisal pekerja seksual yang berorientasi pada uang ketimbang pemenuhan kebutuhan/kedekatan emosional.

4. Wanita Berperan Pasif, Pria Selalu Ambil Inisiatif

Dalam berhubungan seksual, posisi wanita memang pasif, dalam arti hanya menerima penis hingga bisa melakukannya kapan saja. Berbeda dengan pria yang harus aktif dan wajib ereksi. Karena tanpa ereksi, hubungan seksual tak mungkin berlangsung. Tentu akan sangat membosankan bila pola seperti itu yang selalu mewarnai hubungan suami-istri. Terlebih bila si istri sungkan untuk bersikap aktif hanya karena persepsi salah mengenai seks.

Padahal untuk mempertahankan kehidupan seksual yang harmonis, peran serta wanita secara aktif justru lebih memungkinkan kedua belah pihak memperoleh kenikmatan seksual. Sebab pria pun justru tertantang egonya sekaligus tergugah nafsu seksualnya bila istrinya yang ambil inisiatif. Sebaliknya, pria merasa sebatas menjalankan “tugas” jika dirinyalah yang selalu ambil inisiatif setiap kali berhubungan intim. Terbukti pula bahwa masalah seksual lebih mudah teratasi bila wanita memiliki dorongan seksual lebih tinggi atau setidaknya setara dengan dorongan seksual suaminya.

5. Pria Selalu Menerima Rangsangan Efektif, Sementara Wanita Tidak

Boleh jadi karena organ seksual pria berada di luar tubuh, hingga amat mudah menerima rangsangan seksual. Sementara rangsangan yang sama mungkin diterima wanita secara biasa-biasa saja. Selain karena klitorisnya terbilang kecil sekali dibanding penis pria, organ-organ kelamin wanita berada tersembunyi dalam tubuh. Kendati reaksi seksual secara fisik tidak hanya terjadi pada kelamin, melainkan juga pada bagian tubuh yang lain. Reaksi seksual tersebut menimbulkan akibat psikis berupa sensasi erotik yang kurang lebih sama pada pria maupun wanita dan mencapai puncaknya dalam bentuk orgasme.

6. Pria Pasti Terganggu Bila Dorongan Seksual Tak Terpenuhi, Sedangkan Wanita No Problem

Sebetulnya tidak terpenuhinya dorongan seksual menimbulkan dampak yang kurang lebih sama pada pria maupun wanita. Di antaranya rasa kecewa dan gejala-gejala psikosomatis seperti pusing, cepat marah/uring-uringan, susah tidur, dan pegal-pegal di sekujur tubuh. Masih ditambah lagi dengan munculnya protes atau malah percekcokan yang bisa menimbulkan ketegangan dalam perkawinan. Bukan tidak mungkin pula pihak yang dorongan seksualnya tak terpenuhi kemudian mencari pemuasannya pada PIL/WIL.

Kalaupun pada wanita kelihatan tak menimbulkan masalah, itu lebih karena nilai-nilai sosial yang berlaku mengharuskan wanita nrimo alias bersikap pasrah, “Ya, mau bilang apa? Sudah nasibku, kok.”

7. Pria Mampu Melakukan Aktivitas Seksual Sampai Tua

Tak benar anggapan yang mengatakan bahwa kehidupan seksual wanita akan berakhir begitu memasuki menopause. Jangan salah, wanita tetap memiliki dorongan seksual sekalipun sudah menopause. Bukan tidak mungkin wanita malah kian menikmati kehidupan seksualnya karena tak lagi dibayangi ketakutan hamil atau repot kedatangan tamu bulanan. Kendati biasanya kemampuan lubrikasi/”pembasahan” agak terganggu yang bisa menimbulkan dispareunia. Kalaupun muncul gangguan/keluhan semisal vagina terasa kering dan panas, diperlukan rangsangan lebih intens untuk membangkitkan gairah wanita. Jika perlu dibarengi pemberian hormon tertentu atau jelly untuk mengatasi kekeringan tadi.

Kendati tentu saja seiring dengan bertambahnya usia, semua proses tubuh, termasuk dorongan seksual, secara berangsur akan menurun, baik pada wanita dan pria. Kehidupan seksual pria akan mencapai puncaknya pada usia 20-an, kemudian turun secara mendatar sampai menjelang akhir 40-an yang diikuti dengan penurunan drastis hingga usia lanjut. Sementara wanita mencapai puncaknya sekitar umur 30 tahun, kemudian menurun secara mendatar sampai usia 40 tahun, namun selanjutnya tak memperlihatkan penurunan tajam.

Kecuali terserang penyakit tertentu semisal diabetes melitus, sebenarnya dorongan seksual terus berlangsung sampai usia lanjut, baik pada pria maupun wanita.

8. Wanita Tak Selalu Bisa Orgasme, Sedangkan Pria Dipastikan Selalu Orgasme

Perbedaan anatomi alat kelamin memang bisa “dituding” sebagai penyebab mengapa pria hampir selalu mencapai orgasme setiap kali melakukan hubungan seksual, sementara banyak perempuan tidak mengalaminya. Artinya, mekanisme organ kelamin pria memang dikondisikan untuk bermuara pada ejakulasi yang membuatnya terpuaskan secara seksual.

Dalam keadaan normal, dengan posisi apa pun pria bisa dengan mudah mencapai orgasme. Sementara organ kelamin wanita agaknya “didesain” sedemikian rupa hingga untuk sampai puncak kenikmatan butuh “jalan berliku” dan waktu lebih lama. Hanya saja, kondisi semacam itu bisa disiasati dengan latihan dan pengertian kedua belah pihak.

9. Ejakulasi Hanya Milik Pria

Dulu memang diyakini bahwa terjadinya ejakulasi merupakan perbedaan mendasar antara seksualitas wanita dan pria. Akan tetapi belakangan makin banyak disebut istilah female ejaculation karena ternyata tidak sedikit wanita yang dapat mengalami “ejakulasi”. Kendati yang disemprotkannya saat itu bukan cairan sperma seperti halnya pada pria. Melainkan cairan putih bening dan terbukti bukan air seni.

10. Wanita Bisa Mencapai Orgasme Berulang

Beruntunglah wanita yang memiliki kemampuan untuk mencapai orgasme berulang kali(multiple orgasm) setiap kali berhubungan intim. Tentu saja asalkan tetap menerima rangsangan seksual yang efektif dari pasangannya. Terlebih bila pria bisa mengendalikan diri dan menahan ereksinya guna mempersilakan si istri mencapai puncak kenikmatan lebih dulu.

Sebaliknya, meski mendapat rangsangan efektif secara terus-menerus pria hanya bisa orgasme sekali saja yang ditandai dengan ejakulasi. Kalaupun pria memaksa diri untuk mendapat orgasme berulang, tetap harus dilakukan dari awal setelah istirahat beberapa waktu. Artinya, tak bisa dilakukan dalam satu ronde. Kalaupun mampu, konon sensasinya tidak sama dengan orgasme yang pertama didapat.

Mitos-Mitos Lain Seputar Hubungan Intim

Wimpie Pangkahila menambahkan ada sejumlah mitos lain seputar hubungan intim yang juga menyesatkan. Di antaranya:

* Ukuran Penis

Mitos ini beredar luas dan diyakini sangat menentukan kualitas hubungan intim itu sendiri, terutama pencapaian kepuasan wanita. Artinya, makin besar dan panjang penis, makin baik. Hingga banyak pria yang merasa penisnya kecil lantas dibayangi rendah diri dan rasa takut yang berlebih bakal tak bisa memuaskan pasangannya. Akibatnya, yang bersangkutan takut melakukan hubungan seksual atau akhirnya betul-betul tak mampu melakukannya alias mengalami impotensi.

Untuk menutupi “kekurangan” tersebut tak sedikit yang menggunakan “aksesoris” pada penisnya. Entah dengan “menanam” mutiara atau bahan bundar di bawah permukaan kulit penisnya, memasang bahan sejenis rambut yang dikaitkan pada bagian frenulum penis, maupun menyuntikkan silikon di bawah kulit sekeliling bagian kepala penisnya hingga terdapat benjolan-benjolan. Semua upaya tersebut konon semata-mata ditujukan untuk memuaskan pasangannya.

Padahal boleh jadi penisnya terbilang kecil hanya dalam keadaan tak ereksi. Lagipula, bukankah kualitas kenikmatan hubungan suami istri lebih ditentukan oleh kedekatan emosi antara suami istri itu sendiri? Kepuasan seksual istri tidak ditentukan oleh besar kecilnya penis suami, melainkan oleh fungsi ereksi dan kemampuannya mengontrol ejakulasi.

* Vagina Kering

Mitos ini juga begitu mengakar karena vagina kering konon diyakini lebih memberi kepuasan seksual ketimbang yang basah. Tak heran kalau perempuan, baik atas inisiatif pribadi maupun dorongan pasangan, lantas gencar mengupayakan agar vaginanya kering. Padahal langkah ini bertentangan dengan reaksi seksual yang terjadi secara normal dan alamiah pada wanita saat terangsang.

Bukankah dalam kondisi terangsang terjadi pelendiran pada dinding vagina hingga menjadi basah dan licin yang justru menjadi pertanda bahwa ia siap menerima penis sang suami? Sebaliknya, bila vagina masih kering karena tak ada lubrikasi tadi berarti wanita yang bersangkutan tidak cukup mengalami reaksi seksual, hingga belum siap melakukan hubungan seksual. Kalaupun penetrasi dilakukan saat vagina masih kering, akan menimbulkan rasa sakit pada kedua belah pihak. Bahkan lebih jauh bisa menyebabkan perlukaan, perubahan suasana biologik maupun peradangan dan infeksi vagina.

* Darah Perawan

Mitos yang satu ini boleh jadi paling populer dalam masyarakat. Masyarakat luas masih beranggapan bahwa keperawanan seorang wanita harus ditandai dengan keluarnya darah ketika pertama kali melakukan hubungan seksual. Padahal boleh jadi di saat awal mitos ini tumbuh subur, wanita hanya dianggap sebagai objek seksual belaka oleh pria. Maka ketika melakukan hubungan seksual wanita dalam keadaan tidak siap dan tidak terangsang, hingga hubungan berlangsung dalam suasana paksaan. Akibatnya, terjadilah robekan yang menimbulkan perdarahan.

Padahal kalau perempuan berada dalam keadaan siap dan terangsang, yang bersangkutan dapat melakukan hubungan seksual dengan baik tanpa hambatan. Bahkan tanpa harus ada “pertumpahan darah” meski ia masih perawan. Dengan begitu berbagai iklan yang mengaku bisa membuat perempuan seperti “perawan” lagi tak lain cuma kesia-siaan belaka. Begitu juga operasi selaput dara yang bisa dikategorikan sebagai tindakan pembodohan masyarakat.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Seksologi/edisi 147

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: