7 KESALAHAN YANG KERAP DILAKUKAN ORANGTUA

9 Mar


Justru karena ingin yang serba ideal buat anaknya, orang tua kerap terjebak melakukan kesalahan fatal. Apa saja bentuk kesalahan dan bagaimana seharusnya, berikut penjelasan psikolog anak dari Pusat Pengembangan Potensi Anak Yayasan Suryakanti, Bandung, Dra. Farah Taufiqiah Suryawan, dalam sebuah seminar yang diadakan Jami’iyah Al Zahra beberapa waktu lalu di German Centre, BSD, Serpong, Tangerang.

1.KELEWAT MEMANJAKAN

Mayoritas anak ternyata meninggalkan rumah orang tua mereka tanpa bisa menggunakan mesin cuci, menyeterika pakaian, bahkan menggoreng telur. Mereka pun tak bisa mengelola uangnya dengan baik. Siapa yang bisa disalahkan kalau bukan orang tua yang melimpahkan anak dengan kemanjaan dan perlindungan berlebih!

Kebiasaan ini umumnya terjadi pada keluarga yang kelewat permisif alias serba membolehkan dan selalu memenuhi keinginan anak tanpa penundaan. Padahal, semua itu cuma menghilangkan kesempatan anak mengatasi tantangan/masalahnya. Hasratnya terlumpuhkan, hingga anak tak bisa merasakan nikmatnya berjuang dan berprestasi. Anak justru akan berkembang menjadi sosok yang rajin merengek, mengeluh, dan menuntut.

KIAT TEPAT:

– Ajarkan anak bersikap realistis.
– Biarkan anak memecahkan masalahnya sendiri, termasuk belajar menunda keinginannya. Tahan diri untuk tidak segera mengintervensi dengan selalu meluluskan keinginan anak maupun mengulurkan bantuan setiap kali anak menghadapi masalah.
– Latih anak menunda keinginannya dan bertekun menyelesaikan tugasnya justru menumbuhkan antusiasme.

2.”MENGGADAIKAN” PERKAWINAN

Orang tua seperti ini akan selalu menghadirkan anak-anak dalam setiap situasi. Tak heran kalau mereka tak lagi memiliki privacy tanpa kehadiran anak-anak. Padahalprivacy semacam itu sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup suami-istri. Mereka hanya berfungsi sebagai pengasuh anak-anaknya. Tanpa sadar mereka telah “menggadaikan” perkawinan karena seluruh energi dan waktunya tercurah hanya untuk urusan anak-anak.

KIAT TEPAT:

– Sadari, perkawinan merupakan aspek khusus di mana suami-istri saling menyatukan diri tanpa harus kehilangan identitas dirinya.
– Sebagai orang tua memang wajib membesarkan anak, tapi perannya hanya sebagai mediator yang mengenalkan anak pada berbagai nilai kehidupan sebagai bekalnya kelak.

3.MENJEJALI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

Akibat tuntutan hidup, orang tua umumnya memutuskan bekerja mati-matian, hingga tak ada waktu lagi untuk hal lain di luar kerja. Tanpa disadari mereka terpuruk dalam kondisi mati rasa dan tak tahu harus berbuat apa selain kerja dan kerja. Lalu, untuk mengantisipasi persaingan dan kehidupan yang serbakeras di masa datang, para orang tua lantas memaksakan anaknya “bekerja” mati-matian. Caranya dengan mengikutsertakan anak pada berbagai kegiatan ekstrakurikuler dengan harapan mereka jadi manusia serba bisa yang mampu menembus persaingan ketat.

Padahal, tanpa disadari mereka hanya mencetak manusia yang sengsara dan kesepian karena dihadapkan pada hari-hari sibuk tanpa punya waktu lagi maupun sarana untuk mengekspresikan kehidupan emosinya. Kalau masing-masing anggota keluarga sama-sama sibuk dengan urusannya masing-masing, jadilah mereka keluarga yang tak tersatukan secara emosional.

KIAT TEPAT:

– Anak akan bisa mencerna segala sesuatu yang dipelajarinya dengan baik kalau ia punya waktu selingan untuk beristirahat. Saat-saat seperti itulah anak bisa mengendapkan/menghayati apa yang sudah didapatnya hingga aktivitas yang dilaluinya jadi bermakna.
– Jika keseharian anak dilalui dengan berbagai aktivitas yang kelewat padat, yang tersisa hanyalah penumpulan perasaan yang berlanjut pada terhambatnya pengembangan kehidupan emosionalnya.

4.ABAIKAN KEHIDUPAN SPIRITUAL

Orang tua seperti ini biasanya merasa malu mengakui keterbatasan mereka sebagai manusia. Termasuk takut dianggap sok suci saat ingin rajin beribadah. Kesibukan yang mendera juga membuat mereka tak lagi punya waktu luang untuk mengembangkan kehidupan spiritual, termasuk berdoa, beribadah, dan bermeditasi. Tak heran kalau individu jadi sulit bersikap ikhlas, rendah hati, dan kesediaan membina interaksi secara mendalam.

KIAT TEPAT:

Kekuatan aspek spiritual justru akan mengantar setiap individu jadi manusia arif. Ia akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya karena semua orang dianggapnya sebagai sesama, mudah berempati pada penderitaan orang lain. Ia tahu kapan harus berjuang keras dan kapan berpasrah pada kuasa Sang Pencipta.

5.KELEWAT LENGKET

Dorongan ingin diterima anak membuat orang tua bersikap kebablasan. Tanpa disadari, mereka membuat hubungan yang sangat dekat, hingga batas pribadi antara keduanya jadi sangat lemah dan cenderung setara alias tak berstruktur. Akibatnya, tugas orang tua untuk mendidik dan memimpin anak pun jadi tidak jelas.

Bukan cuma itu. Ayah yang hubungannya kelewat dekat dengan anak perempuannya bukan tidak mungkin memunculkan konflik kebencian di hati si ibu. Ia merasa posisinya sebagai istri/kekasih suami terampas. Konflik serupa juga dialami anak-anak lain yang tidak memiliki hubungan istimewa. Sementara anak yang jadi sahabat orang tua pun kurang memiliki kesempatan menjadi dewasa. Bukan tidak mungkin kelak ia cenderung menuntut suaminya berperilaku sama seperti ayahnya yang memperlakukan dia bak seorang putri.

Begitu juga hubungan kelewat lengket antara ibu dengan anak laki-lakinya, kelak hanya akan memasung kebahagiaan si menantu perempuan yang kalah karena selalu dibanding-bandingkan dengan mertua perempuannya.

KIAT TEPAT:

– Idealnya, hubungan orang tua-anak tetaplah memiliki batas.
– Apa pun alasannya, masing-masing merupakan individu dari 2 generasi yang berbeda.
– Orang tua hendaknya jangan pernah berdalih “mendampingi” anak ke mana pun dan di mana pun si anak berada.

6.SERBA SANTAI

Dalam keluarga seperti ini, orang tua gagal memberi pemahaman mengenai kontrol diri. Akibatnya, kehidupan berkeluarga jadi serba santai kalau dibilang tak punya tujuan yang ingin dicapai. Semuanya berjalan seperti alir mengalir tanpa perencanaan matang. Tiap anggota keluarga jadi tak mengerti apa yang seharusnya dilakukan.

Orang tua tak mampu menjalankan perannya sebagai kapten kapal yang bernama rumah tangga dan cuma bisa mencanangkan berbagai aturan, namun realisasinya nihil. Akibatnya, anak tumbuh jadi pribadi yang tak mengenal pengendalian diri.

KIAT TEPAT:

Seharusnya, secara konkret ada sosok modeling sekaligus demonstrasi. Seperti, “Begini, lo, caranya, Dek.” Jadi, bukan sebatas komando, “Kamu harusnya begini dan begitu!”

7.”MEMPERALAT” ANAK

Dewasa ini begitu banyak tersedia pilihan karir di masyarakat yang justru menimbulkan kecemasan yang lebih besar di hati para orang tua dibanding masa sebelumnya. Buat para orang tua anak tetaplah anak, sebagai “makhluk” kecil yang tak berdaya.

Anggapan salah itulah yang kemudian membuat orang tua terlena menyetir anak. Mereka seenaknya menentukan apa yang harus dilakukan si anak tanpa mempertimbangkan aspirasinya. Alhasil, anak jadi terbiasa bergantung pada orang tuanya.

Yang lebih memprihatinkan orang tua merasa “memiliki” anak-anak dibarengi arogansi untuk menguasai anak sepenuhnya. “Lo, apa salahnya? Kan, saya yang melahirkan. Saya juga yang selama ini membiayai hidupnya.” Padahal, orang tua bukanlah pemilik. Ia hanya mediator karena anak punya kemampuan, harapan, dan daya hidup sendiri.

KIAT TEPAT:

– Jangan tancapkan superioritas orangtua yang justru membuat anak tak memiliki harga diri yang sehat. Ingat, anak bukanlah miniatur orang dewasa.
– Biarkan anak memiliki identitasnya sendiri yang dicapainya melalui cara dan gaya hidupnya sendiri pula.
– Ingat, anak memang perlu memiliki tanggung jawab, tapi tidak untuk menjadi budak atau orang dewasa kecil. Mereka terlahir bukan untuk mengasuh dan memenuhi kebutuhan orang tua, lo!

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 194/21 Desember 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: