Alissa Qotrunada Munawaroh: SEMPAT BINGUNG SAAT SI KECIL “HOBI” MEMUKUL

9 Mar


Meski tergolong bertubuh subur, ibu satu anak ini enjoy saja menjalani hidup.

Sebagai anak sulung sekaligus ibu dari cucu pertama Gus Dur, mantan presiden RI, Alissa Qotrunada Munawaroh(30) mengaku merasa terbebani. “Ekspektasi atau pengharapan banyak orang, kan, pasti berbeda bila saya bukan anak Gus Dur. Apalagi kami berempat, kan, perempuan semua. Diakui atau tidak, pasti ada saja yang berprespektif jender dan berharap bakal ada keturunan laki-laki yang tampil sebagai penerus, meski Bapak sendiri enggak suka diterus-teruskan,” sambung Lisa, panggilan akrab ibunda Parikesit Nuril Azmi (15 bulan) ini.

Untungnya, aku psikolog lulusan UGM yang bersuamikanR. Erman Royadi (31) ini, sang ayah sangat demokratis. “Ini yang paling mengesankan dan memotivasi saya untuk mencoba menerapkannya ke anak.” Maka, perempuan yang semasa kecil bercita-cita jadi astronot selain psikolog ini, kini mengkondisikan anaknya, yang akrab dipanggil Aza dan saat ini beratnya mencapai 14,5 kg, untuk belajar menentukan pilihan sendiri. Dalam bermain, misal, “Ritme bermainnya dia sendiri yang mengatur. Saya enggak pernah, tuh, jejel-jejelin dia untuk main mainan yang ini atau yang itu yang menurut kami bagus, tapi dia sendiri kurang suka.”

“STERILKAN” PENGARUH

Kendati tak memberi banyak larangan, bukan berarti ia lantas mengiyakan saja apa yang dilakukan anaknya, lo. “Saya cukup tegas, kok. Waktu pertama kali ketahuan hobimukul-mukul, kami sempat bingung meniru siapa? TV? Rasanya enggak juga, tuh! Wongkami mengkondisikannya untuk tidak kecanduan TV. Setiap kali TV menyala dan kebetulan dia ada di dekatnya, kita akan merangsangnya dengan hal lain yang tak kalah menarik, semisal main cilukba atau apa saja, hingga perhatiannya tidak terfokus pada TV semata,” bilang Lisa.

Lantaran tak menemukan akar permasalahan anaknya, ia pun mencoba “mensterilkan” pengaruh orang-orang di sekitar Aza. “Maklum, mirip seperti rumah Bapak, rumah kami pun selalu terbuka untuk siapa saja. Usut punya usut ternyata ada yang masih berpikir bahwa sebagai laki-laki, Aza harus bisa berkelahi. Wah, saya langsung tegur. Buat kami, yang namanya violence enggak ada tempat sama sekali, deh.”

Untuk sementara, hobi memukul-mukul tadi memang sempat hilang, tapi ketika beberapa waktu kemudian perilaku serupa muncul, Lisa pun sibuk membolak-balik buku referensi, di antaranya karya Margareth Stoppard. Dari situ ia semakin bisa memahami tahap perkembangan anaknya, “O, ternyata perilaku tersebut merupakan bagian dari proses belajar. Berarti, kecemasan saya enggak boleh berlebihan. Tugas saya justru memastikan respon yang diberikan lingkungan terhadap perilakunya harus konsisten.”

Ia kemudian memberi wanti-wanti pada siapa pun, terutama orang yang kerap berada di dekat Aza untuk bersikap “seragam” seperti yang diinginkannya. Antara lain, untuk langsung memegangi tangan si kecil setiap kali dia mau memukul. “Jangan mentang-mentang cucu lelaki pertama Gus Dur lantas diberi kelonggaran untuk mukul-mukul siapa saja. Ya, enggak benar, dong.”

GUILTY FEELING

Kendati tertarik berkecimpung dalam berbagai aktivitas, sebagai ibu, ia tak pernah didera guilty feeling karena tak punya waktu buat anak. “Dari awal saya memang memutuskan untuk tidak memilih pekerjaan yang menuntut komitmen waktu yang tinggi. Sebab kondisi Bapak yang sakit dan Ibu yang pernah mengalami kecelakaan serius membuat kami terkondisi untuk saling memberikan support satu sama lain. Saat Bapak atau Ibu harus masuk rumah sakit atau butuh dukungan penuh, tanpa terpaksa kami tinggalkan semua pekerjaan. Bukannya tak menghargai, tapi bagi kami hal-hal duniawi seperti itu mungkin merupakan prioritas ke sekian dibanding keluarga. Boleh jadi karena kami dididik untuk tidak terlalu nggondeli hal tertentu saja. Buat kami, pride atau kebanggaan menjadi orang baik bukan didapat karena punya uang banyak, jabatan bergengsi atau karier cemerlang.”

Itulah mengapa, sejauh ini tak ada masalah soal pembagian waktu buat si kecil. “Saya tinggal menyetel waktu saja, kok. Kalau di hari-hari sebelumnya load saya tinggi, maka di hari-hari berikut saya sediakan waktu full buat Aza.” Ia bahkan masih memberikan ASI sebagai pendamping susu formula dan makanan padat yang disiapkannya sendiri. Bahkan sampai sekarang, Aza masih tidur bersama ibu-bapaknya. “Awalnya, sih, niatnya menghindari suddent death infant syndrome, tapi jadi keterusan,” celotehnya.

SEBATAS KEINGINAN

Terhadap bobot tubuhnya yang bertambah sekitar 10 kg dibanding semasa gadis, Lisa mengaku masih sebatas keinginan untuk tampil angsing. “Mungkin karena motivasi ke arah sana juga minim, sih. Dalam arti, buat suami dan saya sendiri, soal penampilan lahiriah tidak menempati prioritas utama. Jadi, enjoy saja. Repotnya hanya kalau beli baju, enggak pernah ada yang bisa pas di badan,” selorohnya.

Beratnya justru sempat drop 7 kg di awal-awal kehamilan dari berat semula 63 kg. Pasalnya, ia mengalami dehidrasi karena muntah-muntah terus yang membuat tim dokter kepresiden yang menanganinya saat itu sempat panik. Terlebih ketika di bulan ke-8 janinnya tak memberi sinyal detak jantung sama sekali. Meski cuma nambah 2 kg di akhir kehamilan, toh, Lisa bisa melahirkan bayi seberat 3,3 kg dan tinggi 49 cm lewat vakum.

Th.Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Tokoh & Buah Hati/edisi 183/5 Oktober 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: