BASA-BASI VS BLAK-BLAKAN

9 Mar


Tak perlu berbasa-basi. Kejujuran justru akan mempererat kedekatan psikis suami-istri untuk jangka panjang.

Banyak suami mengaku merasa kelabakan ketika istrinya bertanya, “Pa, aku masih cantik, enggak,sih?” atau “Cantik mana aku sama si Ny.X?” Menurut para suami, “Gimana enggak kelabakan? Soalnya, kalau saya jawab jujur apa adanya dia sudah enggak cantik lagi, pasti bakal marah besar. Sementara kalau saya jawab sekadar basa-basi, dia pun tersinggung. Jadi, saya mesti jawab apa, dong?”

Menurut konsultan perkawinan Dr. Joanes Riberu, “Sebaiknya suami tetap berkata jujur.” Toh, lanjutnya, tak ada tolok ukur yang pasti tentang cantik atau tidaknya seorang wanita. Bagi setiap orang, nilainya relatif dan sifatnya amat subjektif. Hingga ketika istri mengajukan pertanyaan semacam itu, suami yang bijak akan mengatakan, “Apa pun kata orang, buat Papa, Mama tetaplah wanita tercantik.” Meski bila dirasa perlu barangkali bisa ditambahkan, “Tapi ada baiknya Mama dandan, deh”, jika selama ini istri dinilai kurang memperhatikan penampilannya alias ogah dandan.

Pertanyaan semacam itu, kata Riberu, bisa jadi merupakan bentuk ketidakpercayaan si istri. Kendati, tegasnya, pada keluarga baik-baik tidak akan muncul pertanyaan semacam itu. Artinya, bila relasi antara suami dan istri oke, sejelek apa pun penampilan istri atau minimal tidak secantik dulu lagi, suami tak merasa perlu menyampaikan pengamatannya dengan berbasa-basi. “Buat mereka, tidak akan ada persoalan apakah si istri masih cantik atau tidak. Toh, ukuran mereka saat menikah bisa dipastikan juga bukan karena berdasarkan cantik-tidaknya si istri.”

WASPADAI BENIH KERETAKAN

Kalaupun pertanyaan tersebut muncul ke permukaan, sambung Administrator Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen, biasanya cuma sebatas guyon dan tidak menuntut jawaban serius. Dengan begitu, bila pertanyaan seperti itu muncul, suami maupun istri mesti mewaspadai jangan-jangan sudah ada benih-benih keretakan di antara mereka. Pasalnya, kata Riberu, semakin tua usia perkawinan yang seharusnya dominan adalah hal-hal psikis di antara suami-istri. Artinya, buat si suami ketertarikan badaniah bukan lagi menjadi hal utama. Kendati secara tidak tertulis, istri yang baik sebetulnya “dituntut” untuk tetap memperhatikan penampilannya sama seperti ketika ia belum punya anak atau malah saat belum menikah. Sayangnya, tak sedikit istri ataupun suami yang berpenampilan seenaknya mengenakan daster lusuh atau celana kolor dan sarung butut saja selagi di rumah!

Alhasil, kala si istri tetap mencecar suaminya dengan pertanyaan semacam itu, suami bisa balas bertanya, “Ada apa, sih, kok, pakai tanya-tanya begitu? Sudah enggak percaya sama saya atau bagaimana?” Mendapat jawaban ini, kata Riberu, istri yang hanya berniat guyon saat mengajukan pertanyaan tadi tentu akan segera menangkap isyarat bahwa suaminya tidak suka dengan pertanyaan tersebut. Hingga paling tidak ia akan mengerem untuk tidak bertanya lebih jauh.

SIKAP MENCECAR

Lain hal bila si istri sudah benar-benar meragukan ketertarikan suami pada dirinya. Atau boleh jadi malah curiga suaminya telah berpaling ke wanita lain. “Yang bersangkutan biasanya haus ketegasan dan ia merasa perlu untuk mengamati betul bagaimana reaksi suaminya. Nah, saat mendapat jawaban yang dirasa tidak menyenangkan hatinya, ia justru kian tertantang untuk terus mencecar dengan pertanyaan serupa.

Buat si jujur sungguhan, kata Riberu, mencecar dengan mengkorek-korek informasi semacam ini jelas sangat mendongkolkan. Bisa-bisa yang bersangkutan akan marah. Sebaliknya, pasangan yang tidak jujur, meski bisa sama-sama marah, namun pasangannya biasanya bisa melihat/menangkap perbedaannya. “Sebabnya, ia marah bukan karena dongkol dicurigai, tapi marah karena takut ketahuan.”

Membedakannya, lanjut Riberu, sebetulnya tidak sulit, kok. Soalnya, emosi si jujur biasanya tidak akan begitu meledak-ledak. Selain itu ia pun umumnya akan memberi argumentasi. Semisal, “Lo, Mama, kok, curiga begitu, sih? Memangnya pernah melihat Papa jalan bareng sama si Anu?” Sementara pasangan yang berbohong biasanya karena takut ketahuan akan berusaha memojokkan pasangannya. Semisal malah dengan balik bertanya bahkan menuduh/mempersalahkan pasangannya guna menutupi kesalahan yang dilakukannya. “Dalam psikologi dikenal dengan istilah proyeksi.”

Dalam hal ini, sambung Riberu, yang bersangkutan bukan lagi mengedepankan argumentasi, melainkan menuduh pasangan melakukan hal-hal yang justru dicurigakan kepadanya. Dia akan menyusun strategi sedemikian rupa agar meriam tuduhan atau kecurigaan tersebut tidak tertuju pada dirinya. Antara lain dengan berkelit supaya jangan dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke inti persoalan. Semisal dengan tidak menjawab pertanyaan dari pasangannya, tapi malah membelok-belokkan pokok permasalahan ke hal lain agar kesalahan/kecurigaannya terlupakan.

Tanda lain, katanya, membedakan kebohongan bisa diamati dari mimik wajah yang bersangkutan. “Semisal bibir yang mendadak jadi gemetaran saat menyampaikan hal tersebut. Atau tidak berani bersitatap mata karena ada sesuatu yang hendak disembunyikannya, termasuk gejolak perasaannya.” Paling tidak ia jadi bertanya dalam hati, “Lo, kok, istriku tahu?”

Di lain pihak, cecaran pertanyaan bisa saja justru membuat suami jadi bertanya-tanya. “Ada apa, sih, dengan istriku? Kenapa dia harus bertanya-tanya seperti itu? Apa selama ini sebagai suami aku dianggap tidak memperhatikannya? Atau jangan-jangan aku memang kelewat sibuk dengan urusan sendiri, hingga ia merasa terabaikan lantas butuh penegasan akan kecantikannya?” Bukankah lewat kesempatan semacam ini seharusnya suami dan istri bisa saling memanfaatkannya untuk mengevaluasi kembali perkawinan mereka?

JANGAN CEPLAS-CEPLOS

Yang jelas, tegas Riberu, “Jujur tetap merupakan yang terbaik. Apa pun reaksi pasangan, mengungkapkan apa adanya dari lubuk hati biasanya jauh lebih memuaskan untuk jangka panjang kendati saat itu mungkin yang bersangkutan sangat tersinggung. Ketimbang hanya sebatas basa-basi.” Taruhlah tubuh si istri sekarang memang lebih berisi, contohnya. Dengan mengatakan, “Iya, setelah melahirkan Mama memang enggak selangsing dulu, tapi Mama tetap menarik, kok.”, toh suami tak harus berbohong atau memutar balik kenyataan sementara istri pun bisa menerimanya. Hanya saja, sarannya, ada baiknya kalau suami-istri pun pandai mengantisipasi keadaan. Dalam arti, jika kejujuran dirasa bakal sangat menyakitkan pasangan, janganlah kebenaran tadi disampaikan seluruhnya secara ceplas-ceplos. Selain singkirkan pula keinginan untuk mencela pasangan seenaknya dengan mengatasnamakan kejujuran. Semisal, “Iya bodi Mama sekarang memang enggak beraturan! Persis kayak bantal! Makanya, jaga penampilan, dong!”

Saran Riberu, jangan memposisikan diri terbiasa berpikir untuk jangka pendek. Dalam arti, pilihan untuk mengutamakan kejujuran hendaknya tetap dengan mempertimbangkan berbagai situasi dan kondisi rentang waktu jauh ke depan. Terutama implikasinya terhadap perasaan pasangan. “Kalau dia jadi sedih berkepanjangan karena kejujuran kita, sebaiknya tak diungkap seluruhnya. Cukup ungkapkan sebagian saja dari kebenaran tadi yang membuat pasangan merasa terpenuhi kebutuhannya untuk dijawab. Tapi jangan sesekali berbohong, lo! Karena dengan berbohong berarti yang bersangkutan menyangkal apa yang sudah terjadi.”

BINA KEDEKATAN PSIKIS

Sedangkan untuk menyelesaikan masalah, tandas Riberu, tentu saja dituntut kesadaran yang bersangkutan. Dalam arti, ia harus berani mencari akar permasalahannya. Bukan malah dengan mencoba mengarahkan perhatian pada hal lain guna mengalihkan perhatian pasangan. Dalam analisis psikologis selalu ada hal-hal yang kelihatan langsung di depan fenomena, namun di balik fenomena pun selalu ada masalah. “Ironisnya, apa yang ada di balik fenomena itulah yang seringkali tidak mau dicari tahu. Padahal, kalau tidak mau cari tahu apa masalahnya, manalah bisa masalah tersebut diselesaikan?”

Biasanya, lanjut Riberu, persoalan pokok yang muncul di antara suami-istri adalah hal-hal yang semasa perkenalan/pacaran justru tidak pernah dibicarakan. Semisal visi tentang perkawinan pada mereka yang beda agama. Bagaimana mereka masing-masing akan menjalankan ibadahnya dan bagaimana pula kehidupan agama anak-anak mereka kelak.

Hanya saja, tegas Riberu, “Masalah seperti ini justru tidak pernah dibicarakan secara serius. Mereka justru berusaha menutup-nutupi masalah dan perbedaan yang ada dengan alasan takut pasangannya tersinggung. Padahal, justru dari sinilah akan tercipta kedekatan psikis, bahkan kedekatan spiritual!” Sebab, kalau hanya hubungan badan yang diutamakan dalam relasi suami-istri, “Paling-paling perkawinan mereka hanya bertahan 3 tahun. Setelah itu, bila ada yang lebih cantik atau ganteng di luaran, masing-masing jadi sedemikian mudah tergoda.”

Begitu juga kalau menyiapkan perkawinan hanya dari segi materi seperti tempat tinggal yang mewah lengkap dengan perabotnya, sementara persiapan psikis justru terabaikan. Terutama membicarakan sekaligus menyelaraskan paham-paham dasar mereka mengenai perkawinan. Keberanian membuka diri secara psikologis satu sama lain. Inilah yang utama dan sangat berat. Mereka yang lebih mengutamakan hubungan psikis, sambung Riberu, makin hari relasinya akan semakin akrab. Sedangkan hubungan badani bagi mereka sudah menempati posisi kedua atau malah jadi prioritas kesekian.

Merasa Ditelanjangi

Lantas apa, sih, sebabnya individu enggan menggali akar masalah? “Umumnya karena yang bersangkutan merasa bakal kerepotan sendiri jika ketahuan tidak jujur. Meski ada pula yang betul-betul karena bodoh, hingga tidak tahu harus berbuat apa. Tapi yang seperti ini jumlahnya sedikit sekali, kok. Yang lebih banyak justru adalah mereka yang bersikap masa bodoh atau pura-pura tidak tahu.”

Penyebabnya, tegas Riberu, semata-mata agar dirinya tidak merasa ditelanjangi di hadapan pasangannya. “Padahal, sebagai suami-istri, kan, mereka sudah saling menelanjangi secara fisik saat berhubungan intim? Kenapa tidak dibuat hal yang sama secara psikis?” Dengan begitu, lanjutnya,

tidak akan ada lagi batas atau topeng-topeng kepalsuan di antara mereka. Toh, itu tidak berarti harus saling meleburkan diri sedemikian rupa sehingga masing-masing kehilangan identitas diri.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 167/15 Juni 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: