BELUM SAMPAI “SEKOLAH”, SUDAH KEBURU LELAH

9 Mar


Persiapannya mesti lebih saksama, termasuk kondisi fisik anak. Bila tidak, malah hanya mengundang masalah baru. Berapa jarak ideal antara rumah dan sekolah?

“Aduh, Ma, aku masih ngantuk, nih. Enggak usah sekolah aja, deh!”, rengek Anto setiap kali si ibu membangunkannya. Bukan cuma itu. Dengan langkah ogah-ogahan ia masih harus mandi, berpakaian, dan sarapan dengan mata separuh terpejam. Maklum, baru jam 05.00. Tapi apa boleh buat, sekolah Anto yang jauh, mengharuskannya bangun dan bersiap-siap lebih awal. Anto tak sendirian. Belakangan ini, banyak orang tua yang terkesan seakan berlomba menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah favorit. Alasannya, “Kami, kan, ingin anak-anak mendapat pendidikan yang terbaik.”

Sekolah-sekolah favorit memang biasanya diasosiasikan dengan segala sesuatu yang serba “ter”. Padahal, letaknya biasanya jauh, di kawasan eksklusif.

Tak heran kalau tuntutan terhadap balita yang sebenarnya belum diwajibkan bersekolah, jadi sedemikian tinggi. Di antaranya mesti bangun pagi sekali seperti Anto. Bahwa orang tua ingin menyekolahkan anak di sekolah “idaman”, kata Rahmitha P. Soendjojo,“Boleh-boleh saja. Cuma, orang tua harus memperhitungkan berbagai aspek demi kepentingan anak.” Psikolog dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) ini juga mengajak orang tua merenungkan kembali, “Apakah itu yang terbaik buat anakku menurut ukuranku atau memang benar-benar demi kepentingan anakku agar bisa berkembang optimal dengan memprioritaskan minat atau aspirasinya?” Sebab itu, Mitha amat menyarankan orang tua agar benar-benar mengamati, benarkah si anak senang dengan suasana dan materi yang diajarkan di sekolah tersebut.

JARAK IDEAL

Lantas sejauh mana jarak ideal antara rumah dan sekolah? “Jangan lebih dari 15-30 menit perjalanan dengan menggunakan kendaraan,” tandas Mitha. Lebih dari itu, anak hanya akan merasa lelah. “Jangankan anak seumur itu, kita yang dewasa pun capek kalau harus menempuh perjalanan yang makan waktu 1 jam, misalnya.” Apalagi, ingat Mitha, anak usia 4-5 tahun, fisiknya belum sekuat orang dewasa atau minimal seperti kakaknya yang sudah duduk di bangku SD. “Mereka masih lebih cepat lelah dan gampang jatuh sakit.” Belum lagi kondisi kemacetan lalu lintas yang gampang memicu anak jadi rewel. Ditambah lagi jika mobil tak mendukung. Tak ber-AC, misalnya. Kendati dibujuk dan dihibur pun, “Seberapa lama anak bakal tahan untuk tak rewel?”

Jadi, pesan Mitha, buang jauh-jauh sikap kelewat menggampangkan. Semisal, “Enggak apa-apalah, nanti dia juga terbiasa dengan rutinitas semacam itu.” Bagaimana dampaknya saat anak tiba di sekolah dan proses belajarnya, tandas Mitha, itulah yang tak boleh luput dari pertimbangan orang tua. Soalnya, kondisi fisik yang tidak menunjang akan besar efeknya pada kemampuan anak menyerap informasi yang didapat di sekolah. Termasuk kesiapan si anak untuk bermain dengan teman-temannya.

MALAS SEKOLAH

Jangan salah! kondisi fisik yang tak siap lantaran mengantuk, capek, dan lapar, bisa berbuntut panjang, lo. Dengan kondisi semacam itu, mana mungkin anak bisa menyimak dengan baik dan alhasil ia tak bisa menunjukkan kinerja yang baik. Lalu, karena tak bisa mengikuti instruksi guru dengan benar, ia tak bisa menyelesaikan tugas secara maksimal.

Celakanya, kalau anak berulang kali melakukan kesalahan sementara guru dan orang tua memanfaatkan “cacat” tersebut, pembentukan rasa percaya dirinya jelas terhambat. “Kok, kamu gitu aja enggak ngerti, sih?” Anak akan merekam komentar-komentar semacam itu dan mungkin saja ia akan sampai pada kesimpulan, “Ternyata aku memang bodoh, ya.”

Selain itu, “Kalau dari rumah sudah ngantuk dan ogah-ogahan, jangan harap ia bisa menikmati pergaulan dengan teman-teman maupun saat berada di kelas.” Ia pun akan gampang marah dan rewel. “Kalau sudah begitu, kan, sekolahnya, makin enggak efektif.” Bahkan yang lebih buruk lagi, mungkin bisa muncul schoolphobia (takut pada sekolah). Jadi, tegas Mitha, “Kalau orang tua cermat, sebetulnya sekolah yang jaraknya terentang jauh sekali, lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.”

SALING BERTEGANGAN TINGGI

Jika orang tua tetap memutuskan hal itu sebagai yang terbaik, ya, tak masalah. Dengan catatan, orang tua dituntut untuk konsisten membantu dan mendampingi anak. Caranya, dengan betul-betul menyiapkan segalanya secara sistematis. “Contohnya, kalau anak harus bangun pagi-pagi sekali, ya, tak boleh tidur kelewat larut.” Tentu saja orang tua yang harus “mengatur” jadwal tersebut. Sebab, namanya anak kecil, ia tak tahu bahwa tidur larut bisa membuatnya mengantuk keesokan harinya. Selain itu, perhatikan dan penuhi kebutuhan gizi anak yang secara tak langsung nantinya akan membantunya lebih bertahan menghadapi kondisi melelahkan. Persiapkan pula perlengkapan dan kebutuhan anak, semisal baju, buku dan, sepatunya pada malam hari.

Sikap sabar juga pegang peranan penting untuk menghadapi perilaku anak usia prasekolah yang umumnya memang memancing kehebohan si ibu. Semisal jadi rajin berteriak-teriak yang terdengar tak enak di telinga anak. “Adek, ayo mandi!” atau, “Buruan, dong, Kak, makannya!” Jangan salah, “kehebohan” dan sikap terburu-buru, hanya akan membuat anak seusia itu merasa tak nyaman.

Entah dipaksa bangun, ditarik-tarik keluar dari selimut, diseret ke kamar mandi, dan seterusnya. Jadi, jangan salahkan anak kalau kemudian ia jadi ogah-ogahan sekolah, bahkan bersikap antipati alias tak mau sekolah. Yang juga perlu diingat, pesan Mitha, kebiasaan terburu-buru ini bakal menjadi biang keladi munculnya omelan, kemarahan, dan ketinggalan tetek bengek alias tidak well organized. “Kasihan anak, kan, jika waktu sekolahnya sama sekali jadi tak efektif karena lebih banyak menyerap hal-hal negatif.” Sebab, dengan terburu-buru, masing-masing jadi “bertegangan tinggi”. Entah membuat topi si anak ketinggalan, salah mengenakan seragam, dan sebagainya.

Nah, agar acara teriaknya tidak berpanjang lebar, saran Mitha, lingkungan harus dibuat sedemikian kondusif. Caranya? Minimalisir kondisi-kondisi yang menyebabkan ibu harus banyak bicara dengan suara keras. Evaluasi pula masa sebelumnya saat kedisiplinan mulai dibangun dan diarahkan. Paling tidak, siapkan anak untuk terpola dalam rutinitas serupa saat kelak ber”sekolah”. Terutama soal bangun pagi, mandi, dan sarapan. Kalau rutinitas ini bisa konsisten dilakukan, baik anak maupun orang tua akan lebih mudah beradaptasi.

PERSIAPAN MENTAL

Selain berbagai persiapan fisik, orang tua tetap berkewajiban membukakan wawasan anaknya. Persiapkan mental mereka jauh-jauh hari. Semisal, “Ini, lo, Kak. Kakak nanti sekolahnya di sini. Gimana, Kakak suka enggak?” Ajak anak melihat-lihat sekolah tersebut dan perkuat hal-hal positif mengenai sekolah itu. Yang tak kalah penting, pendamping anak selama perjalanan hendaknya kreatif menemukan hal-hal baru yang bisa dinikmati anak guna mengatasi ketidaknyamanannya. Jadi, saran Mitha, “Kalau bisa, pilih sekolah yang relatif dekat dengan rumah. Enggak usah jor-joran mengutamakan gengsi semata-mata agar dibilang hebat bisa memasukkan anak ke sana lalu merasa malu dan sedih kalau anak harus sekolah di sekolah ‘biasa’.” Kalau cuma memikirkan gengsi, berarti yang jadi fokus bukan lagi kepentingan anak.”

Toh, lanjut Mitha, pada dasarnya anak usia ini belum wajib sekolah. “Lagi pula, tak bisa dijadikan jaminan, kok, mereka yang bersekolah di tempat-tempat seperti itu bakal jadi calon pimpinan di masa datang, misalnya. Sebab, tanggung jawab ‘mencetak’ anak menjadi individu berkualitas unggul tetap berada di tangan orang tua. Sementara sekolah sebetulnya cuma membantu memfasilitasinya.” Dengan kata lain, bisa saja orang tua menyiapkan anaknya memasuki pendidikan formal tanpa harus melalui TK.

Jangan Lupa Sarapan

Menurut Mitha, sarapan hendaknya masuk dalam daftar hal-hal yang tidak bisa ditawar bila anak “terpaksa” bersekolah jauh. Kendati banyak anak yang justru tidak suka sarapan, mau tidak mau orang tua mesti ekstra membujuknya. Yang jelas, kalau sudah sejak awal anak dilatih pada kebiasaan makan yang baik, biasanya soal sarapan tidak terlalu jadi masalah. Kalaupun anak tetap menolak, “Sarapan tetap harus disiapkan. Jika perlu beri anak kelonggaran untuk menghabiskannya selama perjalanan.” Masalahnya, dengan perut kosong, “Mana mungkin, sih, anak bisa beraktivitas maksimal? Orang dewasa pun jika perutnya kosong bawaannya jadi gampang marah.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Dunia Prasekolah/edisi 167/15 Juni 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: