BIJAK HADAPI MAT KELUH

9 Mar


Memang capek kalau suami/istri kerjanya ngeluh melulu alias si Mat Keluh. Tapi bila tak bijak, bisa jadi lingkaran setan sekaligus bom waktu yang mengancam keluarga.

Psikolog Dra. Suhati Kurniawati membedakan mereka yang suka mengeluh ini menjadi 2 tipe utama. Pertama, mereka yang besar kemungkinan berkepribadian pengeluh. Dalam arti, “Keluhan menjadi bagian dari hidupnya karena dilakukan terus-menerus, meski suami atau istri yang dikeluhi sudah membuat langkah-langkah perbaikan. Hal yang dikeluhkan pun, sudah dibicarakan dan dicarikan solusinya.”

Bisa jadi, lanjut psikolog di LPT-UI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia), semasa kecil, si tukang mengeluh ini terlalu dimanjakan dan selalu dipenuhi kebutuhannya oleh lingkungannya. Terutama oleh orang tuanya yang termasuk kategori tidak tegaan alias selalu mengabulkan segala keluhan/rengekan dan permintaan anak. Akhirnya,kebiasaan mengeluh itu menjadi semacam cara ampuh untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Alhasil,kebiasaan yang dilakukan terus-menerus ini kemudian diintegrasikan sebagai kepribadiannya. Hingga saat sudah menikah pun, selalu ada saja yang dikeluhkan meski secara umum kondisi keluarganya oke-oke saja. Sementara yang dikeluhkan pun bisa jadi hal-hal sepele yang sama sekali tak bermakna baginya maupun orang lain, semata-mata hanya karena sudah terbiasa mengeluh. Repot, kan?

CARI PERHATIAN

Tipe kedua adalah mereka yang lewat kebiasaannya mengeluh memang berniat untuk cari perhatian. Secara garis besar, mekanisme pembentukannya kira-kira sama dengan yang pertama tadi. Bedanya, buat tipe ini keluhan bukan dijadikan alat untuk memperoleh sesuatu berupa materi, melainkan sebatas keinginan agar kebutuhannya untuk diperhatikan bisa dipenuhi. Tak heran kalau cara inilah yang kemudian terus dilakukannya sebagai cara tunggal untuk mendapat perhatian dari pasangan dan orang lain. Terutama jika pada tahun-tahun pertama perkawinan ia tidak mendapatkan perhatian yang sesuai dengan kebutuhannya. Mengapa hanya tahun pertama yang dominan? “Karena itulah masa yang boleh dibilang terbentuknya dasar/pola hubungan suami-istri.”

Penyebabnya, terang psikolog yang akrab disapa Iin, bisa saja lantaran dulunya si ibu tidak memberi perhatian semestinya. Terutama bila si ibu tipe pencemas. Ketika si anak menangis, contohnya, setiap kali itu pula si ibu langsung tergopoh-gopoh menenangkannya atau ia begitu cemas yang bisa terbaca lewat perubahan suaranya. Meski belum bisa mengerti secara keseluruhan, kekhawatiran berlebih ini akan tertangkap oleh anak, hingga figur ibu yang melindunginya sama sekali tidak memberi rasa aman. Dengan kata lain, basic trust si anak tidak terbentuk dengan baik. Tak heran kalau di masa-masa selanjutnya ia pun sulit menaruh kepercayaan pada apa saja dan siapa saja.

Mereka yang tidak merasa diterima biasanya akan terus mencari polanya sendiri, sekaligus menikmatinya. Hingga kalaupun suatu saat ia menyadari perilakunya tersebut tidak baik di mata umum, ia tidak akan keluar dari pola lama. Bukan tidak mungkin pula ia justru jengkel/marah pada pasangannya dan cara itulah yang dipakainya untuk membalaskan kemarahannya pada pasangan. Tipe seperti ini, tukas Iin, biasanya lebih sulit untuk “ditarik” alias membenahi diri.

BUKAN AIB

Sebetulnya, tukas Iin, mengeluh amat manusiawi karena merupakan salah satu cara untuk memanjakan diri. Dalam arti, manusia adalah makhluk sosial yang akan merasa aman antara lain kalau diterima oleh orang lain. Bukankah dengan mengeluh ia merasa didengarkan dan diterima oleh orang lain? Paling tidak, dengan mengeluh ia memperoleh rasa aman dan di kali lain bisa “membaca” sekaligus menerima diri sendiri, hingga tak perlu mengeluh dan mengeluh. Apalagi, kata Iin, “Mengeluh bukanlah aib. Hanya saja, keluhan tidak boleh berhenti sebatas keluhan. Yang paling penting justru upaya untuk mencari solusi terhadap masalah yang dikeluhkan. ”

Tentu saja teramat sulit untuk “meramalkan” apakah suatu saat yang bersangkutan akan berhenti mengeluh. Kondisi ini hanya mungkin bila ia suatu saat menyadari kekurangannya. Dari pengalamannya sebagai psikolog, kata Iin, tak sedikit yang cukup reflektif mengadakan instrospeksi diri, “Kok, aku jadi suami/istri yang hobi ngeluh begini, sih?” Terlebih bila pasangannya pun pernah menegur kebiasaan buruknya. Masalah akan jadi rumit bila si tukang ngeluh ini tak mampu bersikap reflektif. Artinya, wawasannya begitu sempit lantaran ia hanya melihat segalanya dari sudut pandangannya sendiri.

Boleh jadi, bila ditelusuri ke masa kecil, orang tuanya memberi perhatian secara tidak tepat/proporsional. Sementara ia sebagai anak akan meniru pola yang dipakai orang tuanya, hingga mekanisme ini kemudian membentuk lingkaran setan yang tak kunjung selesai. Untuk meng-cut-nya? “Harus dilakukan lewat proses penyadaran secara aktif yang dilakukan oleh lingkungan, terutama pasangannya. Sedangkan bila masalahnya sudah sedemikian parah dan dirasa amat mengganggu, sangat dianjurkan menemui psikolog atau konselor perkawinan.

SIKAP PASANGAN

Lalu sebagai pasangan, bagaimana sebaiknya kita bersikap? Bersikap konfrontatif, terang Iin, biasanya hanya akan menimbulkan konflik berkepanjangan dengan suami/istri yang rajin mengeluh tadi. Paling tidak, ia justru merasa tidak dimengerti, apalagi bila disudutkan karena pasangan terus menyalahkan sikapnya/dirinya. “Kendati begitu, sikap konfrontatif kadang diperlukan. Tapi mesti benar-benar taktis dengan memperhitungkan emosi pasangan saat itu.”

Dalam hal ini, terang Iin, si konselor biasanya menggunakan teknik mendengar aktif yang sebetulnya bisa dipelajari oleh siapa pun, termasuk kaum awam. Hanya saja, untuk bisa mendengar aktif, orang harus bersedia mendengar pasif lebih dulu. Artinya, ia hanya perlu mendengar sekadar mengiyakan semua yang disampaikan si pengeluh. Setelah yang bersangkutan merasa diterima, pendengar aktif mesti bisa menangkap perasaan di balik yang diungkapkan pengeluh tadi. Dengan begitu yang bersangkutan merasa terbantu untuk menenangkan perasaan yang bergolak dalam dirinya.

Konkretnya, si pendengar aktif dituntut untuk mampu “membaca”, namun tidak berarti lantas mendiagnosa maupun menuding, “Kamu kecewa, kan?” Melainkan menggunakan kalimat tanya yang membutuhkan afirmasi/pengakuan. “Sepertinya kamu kecewa, ya, dengan kejadian itu?” Dengan mengajukan kalimat-kalimat tanya semacam itu diharapkan akan meluncur hal-hal yang dirasa menjadi ganjalan sekaligus ajakan untuk refleksi.

Dengan begitu sama sekali tidak ada unsur sok tahu dari si pendengar aktif dengan membuat kesimpulan sendiri. Melainkan membingkai kembali/reframing atau memberi makna baru pada hal sama yang dikeluhkan. Dengan kata lain, harus selalu diberi makna positif karena bukan tidak mungkin yang bersangkutan menemukan solusinya saat ia melihat hal yang sama dengan sudut pandang berbeda.

RIBUT MELULU

Yang juga perlu dihindari adalah kecenderungan untuk menyalahkan/menyudutkan sekalipun kita tahu perilaku suami/istri kita yang tukang mengeluh itu jelas-jelas salah. “Papa/Mama ini gimana, sih? Kerjaannya, kok, ngeluh terus!”, contohnya. Dengan hanya saling menyalahkan, jangan pernah berharap pasangan merasa diterima dan dimengerti dan keluar dari kebiasan buruknya. Sementara untuk sampai pada tahap netral ini, emosi kita sebagai pendengar yang berniat membantu harus betul-betul stabil. Soalnya, “Kalau tak cukup matang, bukan solusi yang didapat, tapi malah ribut melulu.”

Untuk sampai pada pencarian solusi, diperlukan negosiasi yang menuntut kesetaraan antara pengeluh dan pasangannya. Artinya, kedua belah pihak saling mengajukan kebutuhannya sekaligus diakomodasikan dan dicarikan jalan keluarnya untuk kepentingan bersama. Langkah-langkahnya pun harus jelas, termasuk soal batas waktu pelaksanaannya dan bagaimana evaluasinya. Kalau lewat cek balik ternyata dinilai tidak berhasil, harus kembali dipikirkan bentuk solusinya. Kendati pemenuhan kebutuhan tersebut tak harus persis sama dengan benda/hal yang diinginkan.

Mereka yang bukan tipe pengeluh, tegas Iin, jelas bisa dibedakan dari si tukang ngeluh. Bukan hanya dari topik keluhan yang itu-itu saja, melainkan juga dari tenggang waktunya untuk tidak tinggal diam dalam keluh-kesah. Artinya, bisa saja mereka secara bersama mengeluhkan soal kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok. Hanya saja yang bukan tipe pengeluh akan segera masuk ke dalam proses negosiasi dengan mengemukakan apa saja kebutuhannya maupun keluarganya sekaligus langsung memilah-milah bentuk keborosan apa saja yang bisa dibuang untuk menyiasati kenaikan harga-harga tersebut. Dengan demikian keluhan akan segera diikuti dengan solusi-solusi yang paling memungkinkan.

Sebaliknya, buat si Mat Keluh, solusi tak akan pernah muncul karena selalu tertutup oleh rentetan keluhan berikutnya. Semisal, “Iya, tapi aku harus gimana, dong?”, hingga polanya selalu menjadi “yes, but” alias tidak pernah berkesudahan. Nah, bila mengeluh memang sudah jadi bagian dari kepribadiannya, cobalah telusuri masa kecilnya. Terutama kedekatan hubungannya dengan si ibu karena dengan ibulah secara natural ikatan awal anak akan terbentuk.

KIAT JITU

Seandainya kita termasuk si pengeluh, lantas adakah kiat jitu agar keluhan kita langsung didengar pasangan tanpa harus mengulang-ulang yang justru akan membuat pasangan atau orang lain sebal mendengarnya? “Kalau tanggapan pasangan saat kita mengeluh tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, cobalah evaluasi. Artinya, bagaimana kondisinya saat itu karena bukan tidak mungkin momennya tak tepat. Semisal kita mengeluh justru dia tengah sumpek,” kata Iin mencontohkan.

Sedangkan bila pasangan selalu bersikap cuek atau malah marah-marah terus, coba kaji apakah isi keluhan kita itu-itu saja. Atau boleh jadi sangat bervariasi, namun nyaris dikeluhkan setiap saat. Akan lebih baik, anjur Iin, cobalah data secara tertulis. Terlebih bila ada segudang keluhan yang membuat kita merasa perlu untuk selalu mengeluh setiap saat. Hanya saja jangan lantas berhenti sampai di situ, melainkan secara aktif terus mencari kaitan antara aksi dan reaksi. Lakukan sendiri tanpa bantuan pasangan yang mendengar aktif tadi, tapi jadikan diri sendiri sebagai pendengar aktif tadi. Dengan begitu kita bisa mengambil jarak dengan diri sendiri.

Bukankah di saat mengeluh, emosi kita biasanya belum tertata/tertampung. Hingga kita sekadar mengeluh dan mengeluarkan emosi. Sadarkah bila keluhan kita acap kali tak ada relevansinya dengan masalah sebenarnya hanya karena ada perasaan takenak setiap kali tak mengeluh. Meski menurut Iin, diperlukan kebesaran jiwa untuk mengakui diri gemar mengeluh dan mencoba untuk berhenti mengeluh. Yang tak kalah berat, keinginan untuk berubah itu harus dimulai dari diri sendiri. “Jangan pernah berniat untuk mengubah pasangan karena akan lebih sering mengecewakan alias menemui jalan buntu.”

Bila Tak Pernah Mengeluh

Tak pernah mengeluh juga bukan perilaku terpuji, lo. Soalnya, tegas Iin, ini pun perlu diwaspadai ada sesuatu yang tidak beres dengan mekanisme pertahanan dirinya sekaligus bisa mengundang bahaya. Di satu titik kulminasi tertentu, kesehatannya bisa ambruk karena digerogoti dari dalam.

Pasalnya, bila yang bersangkutan terbiasa menekan segala keluh kesahnya, bukan tidak mungkin akan termanifestasi lewat aneka penyakit yang terkait dengan saraf-saraf tepi. Artinya, organ-organ tubuh yang dikendalikan oleh saraf tak sadar, seperti jantung, sistem pencernaan, sistem pernapasan atau sistem kekebalan tubuh akan terganggu.

Boleh jadi mereka yang tidak pernah mengeluh ini belajar dari pengalamannya, ia tidak pernah mendapat tanggapan yang berarti. Entah itu dengan orang tuanya semasa kecil, dalam pergaulannya maupun dalam relasinya dengan suami/istri. Kemungkinan lain, ia tumbuh dalam kultur tertentu yang mengkondisikan “warga”nya untuk selalu mengontrol emosinya.

Celakanya, orang kerap menyalah artikan mengontrol dengan menekan emosi. Sementara berkeluh kesah apalagi sampai meluapkan emosi dianggap sebagai aib. Akibatnya, yang bersangkutan jadi sulit mengenali emosi dan masalahnya masing-masing.

Yang perlu kita ingat juga, bilang Iin, kita ini bukan manusia supersakti. Untuk menata emosi yang bergolak, beragam sarana bisa dijadikan pilihan. Semisal dengan menulis puisi, melukis, berkebun, atau melakukan aktivitas apa pun yang disukai. “Jadi, bukan sekadar mengalihkan atau malah mendiamkan masalah, lo. Soalnya, tidak semua masalah bisa selesai dengan berjalannya waktu. Malah ada yang berpeluang menjadi bom waktu yang mengancam keutuhan keluarga bila didiamkan, hingga tetap harus dicarikan solusinya.”

Hati-Hati Ditiru AnakKalau mengeluh sudah jadi kebiasaan, “Buruk sekali, lo, dampaknya karena anak adalah peniru ulung,” tegas Iin. Perilaku ini pun seolah akan turun-temurun dari orang tua ke anak karena dalam proses tumbuh kembangnya ada yang dinamakan denganobservation learning atau belajar melalui pengamatan.

Besar kemungkinan si kecil tidak mengeluh saat itu karena situasinya memang tidak memungkinkannya untuk mengeluh. Tapi ketika menikah pola itulah yang sudah tertanam begitu kuat dalam benaknya hingga ada kecenderungan berulang.

Jadi, sarannya, ketimbang keluarga terjebak dalam kebiasaan buruk tersebut, mengapa kita tidak berusaha keras menghentikannya. “Sulit, sih. Tapi bukan tidak mungkin mengerem atau malah menghentikan kebiasannya mengeluh. Meski mengeluh pada batas tertentu punya manfaat, akan baik sekali bila kita tidak berkembang jadi tukang mengeluh.”

Lagi pula, dengan mengeluh sebetulnya kita telah menjatuhkan/menurunkan harga diri di mata sosok yang kita jadikan tempat berkeluh kesah. Paling tidak, boleh dibilang yang bersangkutan tidak matang. Dalam arti tidak stabil emosinya

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 148/2 Februari 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: