BOSAN PADA PASANGAN? CERMATI PENYEBABNYA!

9 Mar


Bosan pada pasangan bisa muncul kapan saja dalam kehidupan berumah tangga. Tapi tidak berarti biduk perkawinan mesti kandas karenanya.

Tak perlu kelewat menyalahkan diri maupun pasangan bila suatu saat kebosanan pada suami/istri terasa mencekik. Yang lebih penting, tegas konsultan perkawinan Dr. Joanes Riberu, justru bagaimana mengupayakan agar kebosanan tersebut tak berakibat fatal. Semisal, membuat perkawinan kandas atau menjadikan keluarga sebagai ajang perang dingin suami istri yang saling mengenakan topeng.

Menurut Administrator Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen ini, seperti halnya tiap gejala sosial, pasti ada masalah di balik kebosanan tadi. Hingga langkah awal untuk mengatasinya tak lain dengan menelusuri apa yang menjadi penyebab munculnya kebosanan tersebut. Yang paling kerap dituding sebagai penyebab kebosanan adalah menurunnya atau malah hilangnya daya tarik secara fisik. Memang, sih, bilangnya, tak bisa dipungkiri hubungan dua insan berlainan jenis amat ditentukan oleh ketertarikan satu sama lain secara fisik.

Padahal, “Enggak sedikit, kan, mereka yang begitu memasuki perkawinan atau setelah punya anak, tak lagi merawat dan menjaga penampilan tubuhnya. Atau hanya berdandan rapi saat ke luar rumah, sementara di rumah justru tampil apa adanya. Jangan heran kalau daya tariknya di mata pasangan pun jadi menurun.” Itulah mengapa, untuk kasus-kasus semacam ini, saran Riberu, kedua belah pihak harus menjaga hal-hal fisik yang menjadi daya tarik bagi pasangannya. Secara lebih khusus, zona erogen pada bagian-bagian tubuh tertentu yang dapat menimbulkan gairah seksual pasangannya. Hingga kalau kebosanan betul-betul sudah dirasa mencekik, ketertarikan secara fisik perlu diangkat sedemikian rupa. Dengan berdandan, misalnya, asalkan jangan berlebihan.

PENDANGKALAN MAKNA PERKAWINAN

Padahal, tandas Riberu, dari berbagai penelitian terbukti bahwa yang mempersatukan dua individu sebagai suami-istri bukan ketertarikan fisik belaka. Melainkan kesamaan paham, terutama paham tentang perkawinan itu sendiri. Buat mereka yang semata-mata menikah dengan kepentingan seksual belaka, contohnya, akan lebih mudah menyerah kala kebosanan melanda. Ribut sedikit saja langsung menggugat cerai karena beranggapan, “Ngapain mesti repot-repot?”

Pendangkalan makna perkawinan yang terkait dengan nilai-nilai spiritual/keagamaan juga bisa menjadi penyebab munculnya kebosanan. Seorang istri yang sangat taat beragama, contohnya, tentu akan jengkel, kecewa dan akhirnya bosan pada suaminya yang bersikap masa bodoh terhadap kehidupan beragama. Dengan begitu, bila ikatan perkawinan diyakini sebagai sesuatu yang suci, apa pun biasanya akan dicarikan jalan agar perkawinan bisa dipelihara kelangsungannya.

Melonggarnya ikatan/komitmen di antara suami-istri pun membuat nilai-nilai keagamaan tentang perkawinan mulai diabaikan banyak pasangan. Hingga ketika berada di luar rumah/jauh dari keluarga, mereka menganggap dirinya tidak lagi terikat pada suami/istrinya. Padahal, begitu melangkahkan kaki ke luar rumah, begitu banyak pria/wanita yang bisa jauh lebih menarik ketimbang penampilan fisik istri/suaminya di rumah. Lemahnya komitmen ini, tandas Riberu, membuat kadar kebosanan individu yang bersangkutan pada pasangannya jadi meningkat.

Tak heran kalau belakangan seolah muncul semacam trend perkawinan yang terpaksa bubar meski baru seumur jagung. Kecenderungan mencari jalan pintas pun jadi meningkat. Saat bosan pada pasangan lantas segera cari selingkuhan sebagai “hiburan”, bukan mengupayakan bagaimana mengatasi kebosanan yang mengancam keutuhan perkawinannya. Buat mereka, jalan keluar yang tampak paling mudah adalah bercerai, padahal belum tentu demikian. Kalaupun tidak bercerai, mereka akan jalan sendiri-sendiri mencari “kebahagiaan” menurut standar masing-masing. Hingga kendati ada istri/suami di rumah, ada pula “istri” atau “suami” di tempat lain. Larangan-larangan yang semula memagari hubungan mereka, kini justru dilanggar.

Sebaliknya, mereka yang meyakini perkawinan sebagai sarana untuk membahagiakan pasangan, hingga ingin sehidup semati bersama suami/istri, umumnya juga lebih mampu bertahan kala kebosanan melanda. Sekalipun muncul hal-hal yang menggoyahkan, mereka akan mengupayakannya untuk tetap terus bersama demi kebaikan bersama pula.

TANGGALKAN TOPENG KEPALSUAN

Menurut Riberu, yang jauh lebih potensial menyebabkan munculnya kebosanan di antara suami-istri sebetulnya justru sebab-sebab psikologis. Yakni saat orang mulai merasa tidak puas pada ciri-ciri pribadi pasangannya. Yang semula dianggap ramah, contohnya, ternyata dalam kehidupan sehari-hari tidak seramah dulu. Sementara yang sewaktu pacaran dinilai komunikatif, kini ternyata sangat tertutup atau malah terkesan “cerewet”.

Ketidaksesuaian-ketidaksesuaian dengan harapan itulah yang memunculkan kekecewaan, hingga tercetus, “Ternyata aku salah pilih.” Padahal secara psikologis, kekecewaan pastilah menyesakkan. Tak heran bila orang yang merasa dikecewakan akan menunjukkan sikap dingin terhadap orang yang mengecewakannya. Di lain pihak, kekecewaan ini akan bertumpuk kalau ditambah masalah lain. Seorang istri yang merasa tidak puas/tidak cocok dengan sifat suaminya, misalnya, punya alasan untuk semakin tidak tertarik alias merasa bosan.

Belum lagi kecenderungan menggunakan topeng selagi masa pacaran agar tidak terlihat kekurangan/keburukannya. Seharusnya, anjur Riberu, topeng-topeng kepalsuan tadi mulai ditanggalkan sesudah mulai akrab. Tentu saja tak perlu langsung berterus terang mengatakan si dia adalah pacar ke-10 yang hanya akan membuatnya mundur. Menurut Riberu, salah satu unsur pengikat yang menentukan langgeng atau tidaknya perkawinan bukanlah usia perkawinan itu sendiri atau lamanya proses pacaran, melainkan kesediaan masing-masing pihak untuk membuka diri sejujur-jujurnya terhadap pasangan.

Jadi, sarannya, carilah selalu kesempatan untuk berbincang dari hati ke hati dengan pasangan. Jangan cuma terpaku pada obrolan seputar politik atau soal banjir yang melanda Jakarta. Melainkan berani mengungkapkan hal-hal yang justru paling tidak mengenakkan. Semisal, “Dulu waktu SD, aku murid paling bodoh, lo.” Keberanian membeberkan pengalaman pahit yang tidak ingin diketahui umum itu justru menandakan bahwa Anda mempercayakan diri pada pasangan. Nah, pasangan yang merasa diistimewakan lantaran beroleh kepercayaan tadi tentu akan menghormati dan menjaga kepercayaan tersebut.

TERJEBAK CINTA BUTA

Hanya saja, tegas Riberu, tak ada yang pernah bisa menduga kapan kebosanan melanda pasangan suami-istri. Artinya, bisa saja pasangan yang telah menikah sekian puluh tahun didera kebosanan. Sementara pasangan yang baru menikah pun bukan tidak mungkin menghadapi hal serupa. Jika, kebosanan memang tak bisa terhindarkan, sarannya, jangan lupa untuk mawas diri. Dalam arti, jangan cepat-cepat menyalahkan pasangan karena bisa jadi penyebabnya justru bersumber pada diri kita sendiri.

Semisal peningkatan karier yang melesat tajam, sementara pasangan diam di tempat alias ketinggalan kereta. Padahal peningkatan karier tentu menuntut waktu dan tanggung jawab yang lebih besar. Hingga bisa saja pasangan merasa kecil dan terabaikan. Di mata istri/suami yang kariernya melesat tadi, nilai si istri/suami pun jadi jatuh karena dianggap tidak begitu berpengetahuan dan gengsi sosialnya tidak sama tinggi lagi dengan dirinya. Meski awalnya hal-hal tadi tak menimbulkan masalah, kini justru dirasa bakal menghambat laju kariernya.

Itulah mengapa, bilang Riberu, bibit perbedaan-perbedaan semacam itu sering dikhawatirkan banyak pihak sebagai bentuk dari cinta buta. Sewaktu cinta masih membara, persoalan semacam itu biasanya tak mau dibicarakan secara terbuka. Bahkan kerap dianggap sebelah mata atau malah sengaja ditutup-tutupi. Seharusnya, tegas Riberu, hal-hal yang dirasa bakal menjadi ganjalan sejak awal sudah harus dibicarakan Semisal perbedaan agama, latar belakang sosial ekonomi maupun pendidikan. “Bukan karena diskriminasi, lo, tapi meminimalkan peluang terjadinya jurang perbedaan tadi.”

BINA KEAKRABAN PSIKOLOGIS

Kendati begitu Riberu yakin, andaikan keakraban psikologis antara suami-istri tetap terjaga, segencar apa pun godaan di luar, kebosanan bisa diminimalisir. Kalaupun kebosanan dipicu oleh aspek psikologis, semisal kejengkelan/kemarahan, hendaknya jangan ditekan ke bawah sadar. Bukankah kemarahan yang dipendam tetap tidak menghilangkan kemarahan tersebut? Kita justru harus membiasakan diri untuk mengendalikan emosi. “Tapi bukan lantas meledak-ledak yang hanya membuat suasana jadi lebih buruk.”

Sayangnya, saat istri/suami bosan pada pasangannya, yang sering terjadi si pasangan justru salah memberi reaksi yang membuat suami/istrinya jadi lebih bosan. Entah sekadar menyalahkan diri dan menganggap kebosanan pasangan sebagai suratan nasib. Padahal tanggapan tak menyenangkan dari pasangan akan membuat kekecewaan makin bertumpuk yang berujung pada terakumulasinya kebosanan itu sendiri. Hingga salah satu kata kunci dalam perkawinan yang baik adalah komunikasi timbal balik dan bukan satu arah, lo.

Sedangkan untuk mengantisipasinya, kata Riberu, antara lain variatio dilectat atau “variasi itu menyenangkan”. Artinya, supaya jangan bosan, kedua belah pihak harus mengupayakan hidup perkawinan mereka bervariasi. Semisal dengan menyempatkan piknik atau makan di luar bersama pasangan sekali waktu. Jangan ragu untuk “ambil risiko” mengubah rutinitas aktivitas sehari-hari ataupun mencari variasi posisi dalam berhubungan intim. Selain tentu saja, singkirkan pula kekhawatiran bakal terbebani oleh rasa bosan itu sendiri.

Waspadai Usia Rawan

Benarkah ada usia-usia rawan dalam perkawinan yang berpeluang mengundang kebosanan? “Diduga, ya, karena di usia-usia rawan itulah, suami istri tengah saling belajar menyesuaikan diri,” jelas Riberu. Yang termasuk usia rawan adalah 3 atau 5 tahun. Selewat itu mereka diharapkan sudah saling bisa menyesuaikan diri dan bisa mengatasi ketegangan yang mulai banyak bermunculan. Kendati begitu bukan berarti segalanya lantas beres karena persoalan demi persoalan akan datang silih berganti. Semisal masalah anak, peningkatan karier, dan sebagainya.

Jangan Sebatas Cinta Platonis

Untuk menghindari kejenuhan, tegas Riberu, suami istri harus belajar “membaca” kebutuhan pasangan. Hingga sebelum pasangan memintanya, suami/istri sudah mendahului memberikannya. “Ingat, lo, meminta itu berarti menurunkan harga diri.” Itulah mengapa banyak orang enggan meminta meski sebetulnya dia membutuhkan sesuatu dari pasangannya. Tak cuma itu, porsi perhatian yang kurang pun kerap dijadikan pertanda munculnya kebosanan. Padahal minimnya ungkapan perhatian bukan lantaran kita bosan. Karena tidak sedikit pasangan yang enggan berbasa-basi semacam itu semata-mata karena mereka sudah menjadi suami-istri.

Itu sebab, sarannya, jangan hanya sebatas platonis. Melainkan nyatakan perhatian dan kasih sayang kita dari hal-hal kecil. Semisal, “Masakan Mama enak.” Bukankah itu merupakan penghargaan sekaligus ucapan terima kasih atas usahanya? Begitu juga istri terhadap suami. Dengan mengambilkan segelas air minum, contohnya, tak perlu merasa diri menjadi pelayan suami. Sebab, “Ikatan perkawinan semestinya saling membahagiakan. Kalau dengan memberikan segelas kopi susu kesukaannya bisa membahagiakan, pasangan juga merasa bahagia.” Jadi, meski ngantuk, tapi kalau suami/istri minta ditemani nonton serial kesayangannya, mengapa tidak? Apalagi cinta justru akan teruji dalam pengorbanan.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 154/16 Maret 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: