“BUNDA, AYAH KOK DIBAWA PAK POLISI?”

9 Mar


Apa pun masalahnya, bila memungkinkan ungsikan anak saat ayah atau ibunya “dijemput” polisi. Meski belum terbukti bersalah, bisa berdampak buruk buat anak.

Siapa pun pasti tak pernah mengharapkan suatu saat salah satu dari kedua orang tua kita harus berurusan dengan polisi. Meski cuma sebatas “dijemput” untuk dimintai keterangan, misalnya. Seperti dijelaskan psikolog Dra. Rostiana, kesan yang tertangkap dalam diri anak balita sungguh tak menyenangkan bila ayah/ibunya mengalami hal seperti itu. Terlebih bila peristiwa tadi dilengkapi dengan penggerebekan rumah mereka lalu si ayah/ibu dibawa secara paksa atau malah diborgol.

Paling tidak, tegas Pudek III Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta ini, peristiwa semacam itu akan membuat anak syok/terguncang dan merasa takut berkepanjangan. Terlebih bila ia hanya mendapat jawaban tak bersahabat atas pertanyaan yang diajukannya. Semisal, “Ini urusan orang tua!”, hingga lantas ia memilih bersikap diam alias tak berani bertanya atau komentar apa pun. Boleh jadi karena di mata orang tua, anak usia ini belum bisa menangkap atau memahami kejadian yang dialami atau dilihatnya. Padahal, lanjut Rostiana, “terbaca” atau tidak, semua peristiwa itu terekam dalam benak anak.

PROTES KERAS

Saat ayah ditangkap polisi, contohnya, dalam bingkai pemikiran anak langsung tertangkap bahwa bapaknya jahat. Reaksinya pun bisa macam-macam. Bukan tidak mungkin ia akan spontan bertanya, “Memangnya ayahku penjahat?” seperti yang disaksikannya di film-film. Kendati image anak terhadap sosok polisi juga amat dipengaruhi oleh masukan dari orang tua atau lingkungannya. Mereka yang sering ditakut-takuti, “Hayo, jangan menangis, tuh, ada Pak Polisi,” tentu akan mendapat gambaran yang berbeda dengan anak lain yang memperoleh sosialisasi mengenai polisi secara proporsional. Semisal, “Kalau Adek kesasar di jalan atau di pasar, Adek bisa tanya atau minta tolong pada Pak Polisi.”

Reaksi lain yang muncul adalah protes keras, “Kenapa Pak Polisi ambil Papaku?”, “Kenapa tangan Ayah harus diikat?” atau “Pokoknya Papa enggak boleh pergi!” Reaksi yang juga berkemungkinan muncul adalah si anak begitu takut tapi cuma bisa bersikap diam, tak bisa bicara atau berkomentar apa pun atas segala sesuatu yang dilihatnya.

Di sinilah, tegas Rostiana, peran orang tuanya yang tinggal di rumah amat diperlukan. Sebab, “Kita, kan, tidak pernah tahu, sejauh mana peristiwa tersebut berpengaruh pada anak, baik pada saat itu maupun di saat-saat berikut. Tak ada yang bisa meramalkan apa dampaknya pada kehidupan anak. Apakah seumur-umur si anak akan menganggap bapaknya sebagai penjahat atau justru berprasangka buruk dan menaruh dendam kesumat pada sosok polisi yang telah ‘merampas’ kebahagiaannya dengan ayah atau ibunya.”

PENJELASAN NJLIMET

Mengingat hal itu, saran Rostiana, sedapat mungkin anak tak usah melihat ayah/ibunya diborgol dan di”jemput” polisi. Entah dengan diajak atau diungsikan ke tempat lain lebih dulu. Lain soal bila hal semacam itu memang tak bisa terelakkan karena kejadiannya berlangsung begitu cepat. Pertimbangannya, jelas Rostiana, meski belum atau tidak memahami peristiwa tersebut, yang jelas akan sangat membekas atau terinternalisasi terus-menerus.

Akankah rekaman peristiwa tersebut terus bertahan atau tidak, lagi-lagi terpulang pada ibu/ayah yang tidak berurusan dengan polisi, bila memang tak terelakkan anak menyaksikan peristiwa itu.

Karena itu, tegasnya, “Pihak yang tidak berurusan dengan polisi harus segera menjelaskan situasi yang sebenarnya. Jangan bohongi anak, tapi juga tak harus menyampaikan penjelasan secara detil dengan bahasa njlimet yang hanya akan menambah bingung si kecil.” Cukup katakan, “Bapak harus ikut Pak Polisi karena masalahnya enggak bisa diselesaikan di sini. Di kantor polisi, Bapak nanti akan ditanya macam-macam dan yang nanya Bapak bukan cuma satu polisi, tapi banyak, hingga mungkin bisa berjam-jam.”

Sampaikan bahwa berurusan dengan polisi merupakan sesuatu yang tidak mengenakkan. Akan tetapi jelaskan juga kepada anak bahwa setiap orang bisa saja mengalami hal serupa dengan apa yang dialami ayah atau ibunya. “Semua orang bisa terkena masalah hukum, tapi bukan berarti dia penjahat, lo. Bisa saja seseorang dipanggil sebagai saksi dan harus bolak-balik kasih keterangan dan mengindentifikasi tersangka.”

Yang tak kalah penting, sampaikan semua penjelasan tadi tanpa ekspresi berlebih. Sebab, tuturRostiana, apa yang ditangkap anak biasanya bukan omongan semata. Melainkan juga ekspresi emosional/nonverbal semisal nada suara, sorot mata, dan mimik wajah. Jika disampaikan sedemikian ekspresif, bukan tidak mungkin masalah yang semula “sederhana” jadi begitu meresahkan si anak. Jadi, saran Rostiana, pandai-pandailah ibu/ayah atau siapa pun yang berada di rumah, berupaya menetralisir suasana. Ibu/bapak atau siapa pun orang dewasa harus bisa mendampingi sekaligus bisa memberi rasa aman pada anak.

GUNJINGAN TETANGGA

Sulitnya, pasangan pun sedang bergejolak perasaannya kala suami/istrinya harus berurusan dengan polisi. Alhasil, bebannya memang lebih berat karena di saat yang sama dia harus menenangkan anaknya. Dibutuhkan kondisi mental yang supertangguh dan kemampuan untuk melihat masalah seobjektif mungkin. Bila tahu pasangannya bersalah, misalnya, ia pun harus bisa menjelaskan pada anak bahwa memang proses itulah yang harus dilalui ayah/ibunya. Bukan malah mengindoktrinasi dengan hal-hal yang mengarah sebagai ledakan emosional. “Polisi aja yang ngaco! Papa/Mamamu enggak salah kok!” atau menjejali anak dengan berbagai informasi negatif.

Yang juga perlu dicermati adalah dampak buruk dari lingkungan yang cenderung “menghukum”. Dengan menghujamkan cibiran/cemooh yang tak mengenakkan hati, semisal, “Ih bapak kamu penjahat, ya.” Hingga memang diperlukan “keajaiban” berupa ketegaran mental dan kesabaran ekstra untuk memberi pendampingan pada anak. Termasuk menghadapi situasi tak mengenakkan berupa sikap ataupun omongan yang bernada menyudutkan. Yang terpenting, tandas Rostiana, “Sedapat mungkin tingkatkan kualitas hubungan orang tua-anak guna membendung gunjingan tetangga.”

“Gempuran” dari lingkungan sekitar, aku Rostiana, memang begitu deras, hingga tak jarang membuat anak jadi enggan “sekolah”. Kalau memang diperkirakan akan berlangsung lama, harus bisa cepat diantisipasi kondisinya. Paling tidak, minta bantuan pada kerabat terdekat untuk berbagi tugas menjelaskannya pada anak.

BINA SILATURAHMI

Selain itu, segera minta bantuan tetangga dan para guru untuk tetap menjaga privacysi anak agar tidak diperlakukan berbeda setelah adanya peristiwa itu. Jangan sampai membuat suasana mendadak jadi tidak nyaman buat si anak untuk bergaul. Jangan pula memperalat anak dengan bertanya macam-macam hanya lantaran tak berani bertanya ke orang tuanya. Menurut Rostiana, akan sangat menguntungkan jika sebelum kejadian keluarga yang bersangkutan sudah saling kenal dan menjaga silaturahmi dengan tetangganya.

Dengan demikian bisa diharapkan pengertian dari para tetangga untuk ikut melindungi si kecil dengan tidak mengajukan pertanyaan ataupun tudingan yang membuat anak merasa terpojok. Akan sama destruktifnya atau bahkan lebih buruk pengaruhnya jika satu pihak yang seharusnya mendampingi anak justru menutup diri atau lari dari kenyataan. Dengan menunjukkan sikap tertutup atau malah bersikap agresif, misalnya. “Setiap kali ada orang nanya, kita langsung marah-marah tak keruan yang akan semakin membuat orang ‘bersorak’.”

Ketimbang menunjukkan reaksi negatif semacam itu, anjur Rostiana, bukankah lebih baik mengajak mereka berempati? Semisal, “Coba, deh, gimana kalau Ibu atau Bapak mengalami hal yang sama?” Sebaliknya, “Kalau kita malah menutup semua informasi, orang sekitar malah ‘terundang’ untuk memberi reaksi negatif. Dengan kata lain cenderung menjatuhkan vonis tanpa tahu apa permasalahannya.”

Itulah perlunya membina silaturahmi dengan tetangga agar di saat-saat sulit seperti itu keluarga yang tengah diterpa masalah masih bisa berharap mendapat dukungan moril. “Kita akan lebih mudah mendapat dukungan sosial dan emosional kalau kita memang bukan tipe keluarga yang tertutup atau malah terkesan sok eksklusif.”

MENGASIHANI DIRI

Mesti diakui juga bahwa masyarakat memang cenderung menarik diri ketika keluarga tertentu menghadapi masalah. “Lingkungan cenderung ‘cuci tangan’ dan seolah tak mau ambil risiko. Hingga jangan sakit hati dibuatnya. Toh, kalaupun masyarakat sekitar akhirnya menjauh atau setidaknya menjaga jarak, meski keluarga yang tengah ‘bermasalah’ sudah bersikap sewajar mungkin, anggap saja sebagai risiko yang akan ‘terselesaikan’ dengan berjalannya waktu.”

Apa pun yang terjadi, pesan Rostiana, kita mesti menjaga kondisi emosional dan sosial agar tak ambruk ke batas minimum. Sebab, jika sudah telanjur ambruk/hancur, membangunkannya kembali akan susah sekali. Kalaupun di saat ambruk dan merasa tak ada yang bisa dipercaya, mengapa tidak berharap pada hubungan vertikal dengan Yang Maha Kuasa? Biasanya, bilang Rostiana, justru hal-hal berat semacam itu yang menyadarkan insan akan nilai-nilai kemanusiaannya. Hingga jangan lantas berpikir dunia sudah berakhir. Melainkan selalu bangun kepercayaan dan belajar mengambil hikmah bahwa setiap masalah sudah didampingi oleh penyelesaiannya.

Hanya saja, pesan Rostiana,dalam kondisi demikian usahakan jangan bersikap self pittyatau mengasihani diri sendiri secara berlebihan sampai mengiba-iba. Semisal, “Aduh nasib saya, kok, apes banget, ya? Kenapa sampai tertimpa masalah seperti ini, hingga harus berurusan dengan polisi? Aduh, gimana, dong?” “Bolehlah mengeluh, tapi buat apa, sih? Toh, masalah tak akan pernah selesai hanya dengan berurai air mata terus-menerus. Lagi pula apa gunanya minta dikasihani kalau cuma sebatas rasa kasihan tanpa ada bantuan konkret?”

Selain itu, tak perlu pula menyalahkan diri maupun menyudutkan pasangan atau malah menyeret-nyeret masa lalu. “Buat apa? Toh, enggak ada gunanya sama sekali. Kecuali kalau kita tahu apa yang kita ucapkan berguna atau membantu memperbaiki keadaan, semisal membuat pasangan insyaf akan kesalahannya. Jadi, kalau malah memperburuk masalah, sekadar mengungkapkan penyesalan tanpa tujuan atau pelampiasan perasaan negatif belaka, sebaiknya, ya, ditahan saja.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 143/29 Desember 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: