GEMAR IKUT CAMPUR URUSAN ORANG

9 Mar


Pasangan atau kita gemar ikut campur urusan orang? Hati-hati, ah. Besar kemungkinan, sebetulnya kitalah yang bermasalah dan perlu bantuan.

Siapa pun pasti sebal menghadapi orang yang maunya“icam” alias ikut campur urusan kita. Bahkan tanpa diminta, biasanya ia pun akan memberi “nasihat gratis” atas masalah yang tengah kita hadapi. Boleh jadi kita akan berkata ketus atau malah menghardiknya, “Ngapain, sih, ikut campur urusan orang lain?” Tapi tak ada salahnya kita introspeksi diri, siapa tahu kita pun setali tiga uang.

Pasalnya, menurut konsultan perkawinan Dr. Joanes Riberu, setiap individu pada dasarnya berpeluang memiliki kecenderungan untuk icam. Meski, lanjutnya, kecenderungan ini bukan bersifat bawaan dari lahir, melainkan lebih karena faktor lingkungan. “Masyarakat kita, kan, sangat sosial. Bahkan boleh dibilang kelewat sosial. Dalam arti,selalu ingin segala sesuatu yang menjadi urusan orang lain sekaligus menjadi urusan kita juga. “Itu sebabnya, kata administrator Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen, bila dirasa ada hal-hal yang dianggap kurang benar dalam diri orang lain, akan segera muncul dorongan untuk “meluruskan”nya. Semisal, dengan membicarakannya langsung bersama yang bersangkutan. Atau kalaupun dirasa tak bisa, maka ia akan asyik membicarakan kekurangan tadi dengan orang lain.

Sayangnya, baik saat membicarakannya dengan yang bersangkutan maupun dengan orang lain, si icam ini bukan berniat mencarikan solusi melainkan malah membesar-besarkan masalah dengan mencari-cari kesalahan orang lain. Buntut-buntutnya, apalagi kalau bukan malah menciptakan masalah baru atau setidaknya membuat orang lain sebal.

PROYEKSI DIRI

Ikut campur, terang Riberu, bisa terjadi karena beberapa hal. Di antaranya proyeksi. Dalam arti, si individu berbuat kesalahan serupa, hingga ketika orang lain melakukan kesalahan yang kurang lebih sama, ia akan melihatnya dengan jelas sekali. Dengan kata lain, ia memproyeksikan kelemahannya pada orang lain. “Manusiawi sekali, toh? Seperti apa kata pepatah ‘Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.’ Konkretnya, kita begitu asyik membicarakan tentang hal dan orang lain hanya karena kita ingin menyembunyikan keburukan serupa dalam diri kita.”

Kedua, yang bersangkutan menjadikan ikut campur ini hanya sekadar mengisi waktu atau lantaran tak ada aktivitas lain yang dianggapnya bisa memberi keasyikan. Baginya, “sosialisasi” semacam ini dianggap amat berharga. Itu sebabnya, lanjut Riberu, individu yang aktif dan banyak bekerja umumnya merasa tak sempat untuk membicarakan orang lain, “Apalagi ikut campur urusan mereka. “Penyebab lain adalah kecenderungan dalam diri tiap individu untuk mengatur sesuatu ataupun orang lain. Artinya, setiap orang menganggap eksistensi dirinya begitu penting, hingga dunia tak akan bisa berputar tanpa dirinya. Kesempatan dan anggapan mampu mengatur orang lain inilah yang kemudian memberinya kepuasan yang membuatnya tak sekadar jadi angin lalu. Begitu juga dengan membicarakan atau ikut campur urusan orang lain yang memberi si individu kebanggaan tersendiri bahwa dirinya berarti.

CEKCOK BERKEPANJANGAN

Celakanya, bila dibiarkan, kebiasaan ikut campur urusan orang lain ini bisa menimbulkan konflik di antara suami-istri, lo. Contohnya bila istri hobi icam, sementara suami justru sebaliknya. Bukan tidak mungkin, kan, suami bolak-balik bakal memarahi pasangannya, “Mama, kok, norak banget! Lagian ngapain , sih, ikut campur urusan orang?” Kendati sebetulnya, tutur Riberu, kondisi ini lebih bagus ketimbang pasangan sama-sama hobiicam. Maksudnya, kehadiran pasangan yang lebih realistik diharapkan bisa mengarahkan si icam tadi. Minimal, ia bisa bilang, “Enggak usahlah ikut campur urusan orang lain, Ma.Urusin keluarga kita dulu, deh.” Meski tidak berarti bukan tanpa risiko, lo, karena si istri pasti akan merasa tersingkir dengan teguran semacam itu. Setidaknya, ia merasa tidak didengarkan, dimasabodohkan, bahkan tidak dipercaya oleh pasangannya. Akhirnya, terjadi cekcok berkepanjangan. Hingga memang akan lebih bijaksana bila masing- masing pihak mampu saling menyesuaikan diri. Secara halus dan perlahan, saran Riberu, cobalah mengarahkan pembicaraan si icam ke hal lain, yang tak kalah mengasyikkan baginya. Bukankah mereka yang gemar membicarakan/ikut campur urusan orang lain adalah mereka yang gemar jual omong?

Dengan begitu, imbuhnya, saat suami/istri ikut campur atau setidaknya mencap orang lain kelewat boros, contohnya, pasangan bisa mengajaknya mengevaluasi, untuk apa saja uang mereka dibelanjakan. Semisal, “Ngomong-ngomong kemarin belanja apa aja, sih?” Buang jauh kesan menuduh istri/suami sebagai pemboros, meski mungkin begitu kenyataannya. Ini jauh lebih baik ketimbang langsung meng-cut kebiasaan istri/suami yang gemar icam. Sebab, tindakan keras meng-cut hanya akan membuat yang bersangkutan memberi reaksi secara keras pula. Entah dengan semakin defensif atau justru ngotot mempertahankan diri dan mencari pembenaran atas apa yang diperbuatnya.

Sebaliknya, justru dengan melibatkannya dalam pembuatan evaluasi, secara tak langsung si icam diajak menilai seperti apa dirinya sendiri yang notabene sama borosnya dengan orang yang dibicarakan tadi. Dengan kata lain, pasangan harus mampu membidik sasaran yang sama dengan cara lain tanpa harus menyakiti hati maupun harga diri suami/istrinya yang icam tadi.

SALING PERCAYA

Kendati begitu, tambah Riberu, bukan berarti kita lantas ditabukan untuk ikut campur urusan orang lain. “Bila memang diperlukan, mengapa tidak?” Tapi, seberapa jauh kita boleh/perlu ikut campur urusan orang lain, mesti dilihat dulu dari beberapa aspek. Di antaranya aspek keterbukaan, yaitu seberapa jauh orang tersebut membuka diri terhadap kita. Pada seorang adik atau sahabat yang membuka masalahnya dan minta nasihat, tentu kita mesti ikut campur. Dengan kata lain, gunakan kesempatan dan keterbukaannya untuk memberinya masukan yang berarti.

Sebaliknya, jika yang bersangkutan tak membuka diri terhadap kehadiran kita, niat baik dan nasihat sebagus apa pun akan sia-sia atau malah menimbulkan masalah baru. Orang akan merasa tersinggung jika mendapat nasihat gratis karena antara si pemberi dan penerima nasihat sama sekali tidak ada hubungan batin maupun saling percaya. Dengan begitu, ikut campur baru akan efektif bila yang bersangkutan mempercayakan diri dan persoalannya pada orang lain. Sementara orang lain yang diberi kepercayaan pun bukan sekadar jual omong, melainkan dengan sungguh-sungguh mencari solusi atas masalah yang dihadapi si pemberi kepercayaan tadi. Itu sebabnya, tegas Riberu, bila tidak terbangun sikap saling percaya, “Sebaiknya jangan pernah ikut campur, deh.”

Aspek berikut yang juga perlu dipertimbangkan adalah benarkah keterlibatan kita bukan semata merupakan proyeksi kekurangan diri. Pasalnya, keterlibatan semacam ini umumnya tidak akan pernah digubris, hingga amat disarankan mereka yang memiliki kesalahan/kekurangan tertentu jangan pernah menegur orang lain tentang kesalahan/kekurangan tersebut. Jika tidak, bisa-bisa orang malah akan dengan sinis mentertawakan kita, “Ngaca dulu, deh!”

Pertimbangan lain adalah azas manfaat. Artinya, harus dilihat apakah nasihat yang diberikan akan berguna atau tidak bagi yang bersangkutan. Nah, kalau ikut campurnya kita sama sekali tidak memberi manfaat atau malah memperkeruh suasana, sebaiknya jangan pernah ikut campur. Terlebih bila memang sejak awal tidak terjalin hubungan batin atau tidak terbangun sikap saling percaya tadi.

MESTI TAHU DIRI

Lalu bagaimana sebaiknya menghadapi si icam? Menurut Riberu, “Tak perlu rikuh menutupi ketidaksukaan kita. Bisa dimaklumi, kok, bila kita umumnya menunjukkan sikap defensif karena sok ikut campur memang bakal memukul harga diri. Bukankah setiap bentuk intervensi semisal nasihat akan menunjukkan bahwa dirinya memiliki kekurangan? Padahal, siapa, sih, yang mau dirinya dianggap kurang? Bahkan orang yang hidungnya pesek sekalipun, enggak mau dibilang berhidung pesek! Lain halnya jika yang bersangkutan sudah mencapai tahap kematangan kepribadian yang memungkinkannya menerima, menikmati sekaligus ‘mentertawakan’ kekurangan dirinya. “Hingga, sambungnya, tak berlebihan kalau kita tegas-tegas melarang orang lain yang tak berkenan “masuk” ke dalam wilayah pribadi kita. “Tak perlu banyak basa-basi bila kita memang tak suka urusan kita dicampuri.” Dengan begitu, tanpa sikap keras/ketus dari individu yang bersangkutan pun, si orang luar yang sok ikut campur tadi seharusnya bisa tahu diri.

Apa pun, pesan Riberu, hargai privacy orang lain. Setiap orang pasti tidak ingin masalah apalagi rahasia pribadinya diketahui orang lain karena itu merupakan bagian dari dirinya yang paling mendalam. “Jelas, dong, siapa pun tak mau menelanjangi dirinya.”

Yang juga perlu diingat, kebiasaan ikut campur urusan orang lain bisa memperburuk hubungan yang sudah terjalin. Tak heran jika mereka yang gemar ikut campur ini biasanya secara perlahan namun pasti akan dijauhi oleh lingkungannya. Kalau sudah begitu, dia sendiri, kan, yang rugi? Itu sebabnya sebelum ikut campur, “Lihat sikon dulu, deh.” Kalau yang bersangkutan percaya dan mempercayakan permasalahannya pada kita, ya lakukan. Kalau tidak? Sebaiknya lupakan saja!

Kendati begitu tak perlu menutup diri atau bersikap apriori. Artinya, kita tetap mesti mengamati seberapa jauh yang bersangkutan menaruh kepercayaan dan seberapa darurat masalah yang dihadapinya. Toh, kita bisa mengetahui, seberapa jauh seseorang mempercayakan masalahnya sekaligus membuka diri untuk menerima masukan nasihat dari caranya bertutur. Kalau yang dijadikan topik pembicaraan hanya masalah-masalah umum, berarti belum ada saling percaya.

Sebaliknya, bila dalam pembicaraan tersebut dimunculkan secara jujur hal-hal seputar diri, bahkan pengalaman pribadi yang paling pahit sekalipun, itu pertanda di antara mereka ada keterbukaan dan sikap saling percaya. Jadi, bukan sekadar teman biasa yang cuma tahu hal-hal yang bersifat umum. Kalau memang yang bersangkutan jelas-jelas tak membuka diri, “Enggak perlulah berusaha mengorek-ngorek apa lagi memvonis dirinya begini-begitu atas masalah yang tengah dihadapinya.”

Hati-Hati Ditiru Si Kecil

Kalau orang tua “hobi” ikut campur urusan orang lain, tak perlu bingung jika kelakuannya itu ditiru anak. Seperti diingatkan Riberu, orang tua adalah sosok modeling buat anak. Kemungkinan pertama, proses identifikasi akan mengarahkan anak pada proses imitasi. Alhasil, anak yang amat mendewakan orang tuanya, besar kemungkinan akan tumbuh sama persis dengan ayah-ibunya yang gemar icam.

Di sisi lain, ada pula batita yang karena pengalaman tertentu menjadi sangat tidak senang pada kebiasaan orang tuanya yang gemar nimbrung urusan orang. Mereka inilah yang biasanya kelak memperlihatkan sikap sebaliknya.

Jadi, jika merasa tak bisa atau belum mampu menghilangkan kebiasaan ikut campur, sebaiknya lakukan tidak di depan si kecil. Terlebih karena anak kecil umumnya memiliki kepolosan dan spontanitas tinggi hingga tak jarang orang tua justru kerap merasa dipermalukan oleh kejujuran/kepolosan si kecil.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/rubrik Problema/edisi 146/19 Januari 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: