LAMA PACARAN? BUKAN JAMINAN KOK!

9 Mar


Tak perlu menyesali diri kala perkawinan kita hanya bertahan seumur jagung. Cobalah kaji kembali, apa saja kesalahan yang kita lakukan sebelum memutuskan untuk menikah.

Belakangan kian sering terdengar kisah-kisah rumah tangga yang hanya bertahan seumur jagung. Padahal, tak sedikit di antara mereka yang sudah menjalani masa pacaran sekian lama. Tapi seperti diutarakan psikolog Zainoel Biran alias Bang Noel, lama-sebentarnya masa pacaran, sama sekali tak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan atau kegagalan perkawinan. “Yang lebih penting, justru seberapa efektif kedua belah pihak menghayati pacaran sebagai masa untuk mencoba saling mengenal lebih baik secara person to person.”

Dengan kata lain, kita tak cuma kenal pasangan sebagai pribadi secara lahiriah, tapi juga peran-peran yang bisa dimainkan oleh kedua belah pihak. “Jadi, ada semacam pengharapan. Sementara bagaimana pengharapan itu bisa tersampaikan dan menjadi kesepakatan bersama, merupakan proses panjang yang harus dipelajari terus menerus,” ungkapnya.

Harapan-harapan tersebut mungkin saja tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Toh, dalam hubungan suami-istri, “Pasti akan ada perbedaan-perbedaan yang bakal muncul. Itulah yang mesti senantiasa dijembatani. Bisakah perbedaan-perbedaan tadi dipertautkan bahkan diterima, hingga tidak menjadi batu sandungan bagi mereka. Sementara untuk menghilangkannya jelas mustahil, dong.” Dengan begitu, harus dipilah-pilah, apakah perbedaan tersebut esensial atau tidak.

CUMA BERUBAH SESAAT

Soal selera dan kebiasaan makan, contohnya. Yang satu terlihat lahap menggunakan tangan sementara lainnya justru jijik namun hanya memendamnya karena tak ingin menyinggung perasaan pasangan. Padahal, apa pun bentuk penilaian tersebut, kata Bang Noel, tetap harus dikemukakan. Tentu saja bukan dengan sikap atau kalimat kasar. “Sampaikan bahwa kita tidak suka dengan cara makannya dan bukan pribadinya. Toh, kalau cuma cara makan barangkali bisa diperbaiki. Sementara pihak yang dikritik pun sah-sah saja mempertanyakan, ‘Kenapa, sih, diributin, dari dulu aku, kan, makannya begini.'”

Namun kalau ingin membangun relasi, tetap dibutuhkan kesediaan untuk saling menyesuaikan diri. Termasuk kesediaan belajar makan secara santun dengan tidak berbunyi atau menghilangkan hal-hal lain yang dirasa menjijikkan pasangan tadi. “Bisa jadi juga, berubah cuma sesaat demi menyenangkan pacar. Begitu sudah kawin, kembali ke aslinya.”

Seharusnya, lanjut Bang Noel, penyesuaian diri kedua belah pihak bukan sesuatu yang bersifat sesaat untuk memikat atau mendapatkan cinta pasangan. “Justru harus dipertanyakan niat yang bersangkutan. Mau sekadar dapat perhatian cinta atau mempertahankan sekaligus melanjutkan hubungan lebih jauh?”

TANGGALKAN TOPENG

Banyak, memang, pasangan yang gagal menjaga keutuhan rumah tangga meski sudah pacaran lama. Sehingga timbul pertanyaan, “Jadi, selama itu mereka ngapain aja?” Jawabannya, mungkin mereka hanya sibuk bicara yang “manis-manis” saja alias yang ada di permukaan. Sementara untuk hal-hal yang bersifat mendalam, justru enggan digali lebih jauh.

Alasannya, kalau bicara masalah yang tak enak, jangan-jangan malah ditolak. Jadilah mereka terbiasa mengenakan topeng-topeng untuk membangun impresi. Lantas kapan seseorang boleh pakai topeng dan kapan harus melepaskannya? Lagi-lagi,tegas Bang Noel, tergantung pada orientasi dan makna yang diberikan individu yang terlibat. Apakah sebatas jalan dan omong-omong kosong belaka atau mengharapkan ikatan lebih mendalam di antara mereka. Bukan tidak mungkin pula sebatas menuruti desakan dari lingkungan karena takut dianggap bujang lapuk atau orang tua yang ingin segera menimang cucu, misalnya.

Selama seseorang mengenakan topeng, berarti selama itu pula ia belum memiliki kepercayaan pada pasangan. Di hati kecilnya pasti terselip kekhawatiran, suatu saat bakal dikecewakan atau tak diterima sepenuhnya. Padahal, kebiasaan mengenakan topeng membuat kita jadi tidak cukup sensitif untuk mengenal pasangan. Bisa juga karena niatnya memang tidak tulus untuk membangun suatu relasi. Semisal niat untukmorotin, ajang balas dendam, mencari popularitas yang bisa memberinya kebanggaan tersendiri atau motivasi lainnya.

Kendati harus diakui jika tiap orang memiliki kecenderungan untuk menutupi kelemahannya dengan selalu menjaga impresi yang serba baik dan positif lewat penggunaan topeng-topeng tadi. Bukankah dengan membangun kesan positif, yang bersangkutan akan lebih mudah dipercaya orang lain?

Karena itulah, saran Bang Noel, amat penting bagi siapa pun untuk menguji seberapa jauh ia benar-benar mengenal pasangan sebelum mengambil keputusan untuk menikah. “Dia benar-benar seperti dia sekarang ini atau tidak?” Caranya bisa berupa feedback dari orang-orang yang mengenalnya ataupun melalui kejadian sehari-hari. “Suatu saat pasti ada, kok, momen-momen khusus ia lepas dari topengnya.”

KUALITAS PENGENALAN

Selain itu, boleh jadi selama tenggang waktu pacaran yang lama tadi memang tidak terpikirkan niat untuk berumah tangga. Kalaupun mereka akhirnya menikah, misalnya, itu lebih karena suatu saat terbetik pikiran, “Kayaknya kita sudah lama pacaran, nih.” Hingga motivasi mereka berumah tangga tak lain keterpaksaan akibat terbebani oleh lamanya hubungan tadi atau alasan lain. Yang jelas, bukan lantaran ingin membangun hubungan yang langgeng.

Menurut Bang Noel, bagi banyak orang pembicaraan tentang perkawinan kerap dianggap cukup menakutkan, hingga sedapat mungkin dihindari. Padahal, seharusnya tetap dipikirkan bahwa pacaran merupakan tahapan yang berkesinambungan. Artinya, tahap yang satu harus diikuti oleh tahap lain yang lebih intens.

Sementara di tahap ini masing-masing pihak dituntut untuk berpikir berdua bagi kepentingan mereka sebagai tim yang terikat. Termasuk evaluasi sampai sejauh mana hubungan mereka, apa tujuan mereka dan bisakah tujuan tersebut dicapai dengan kondisi masing-masing.

Dari pembicaraan semacam ini akan semakin terkumpul masukan-masukan yang senantiasa baru guna menambah kualitas pengenalan masing-masing pihak terhadap pasangan. Tentu saja untuk bisa masuk ke tahap demi tahap secara intens, keterbukaan/kejujuran jelas amat dituntut. Bukan cuma hal-hal yang menyenangkan, tapi juga hal-hal menyedihkan/menakutkan mesti sudah harus berani diungkap sekaligus dibicarakan sebelum perkawinan.

Selama pacaran inilah, tegas Bang Noel, pentingnya mulai menumbuhkam kesediaan berbagi. Hingga ketika kita tahu pasangan bersedih saat membicarakan hal-hal tertentu, paling tidak kita akan berusaha menjaga tindakan dan pembicaraan agar tidak membuatnya sedih. Bukankah orang yang mencintai pasangan akan selalu mengutamakan kebahagiaan pasangannya dan kebahagiaan bersama?

MODAL KEPERCAYAAN

Dengan demikian, tandas Bang Noel, mereka yang telah sekian lama pacaran namun perkawinannya bubar hanya dalam waktu singkat, boleh dibilang tidak melalui proses belajar yang semestinya. Semisal hanya sebatas aktivitas dari sisi-sisi yang menyenangkan. Gaul di kafe atau menikmati bentuk kehidupan tertentu yang dirasa serba pas/sejalan, contohnya. “Padahal, itu, kan, baru sebagian kecil dari lapis demi lapis lain yang mesti dilalui.”

Untuk bisa ber-sharing hal-hal yang menyedihkan, misalnya, dibutuhkan kepercayaan dan kedekatan emosional tertentu. Konkretnya, orang, kan, enggak mungkin beranicurhat pada orang lain yang tidak dipercayainya. Nah, selama masa pacaran itulah kedua belah pihak diharapkan bisa mengembangkan rasa percaya kepada pasangannya.

Rasa percaya baru akan tumbuh kalau ada konsistensi dan kesediaan untuk mendengar. Dengan begitu, bila seseorang sudah membuka diri namun pasangannya ternyata tidak bisa dipercaya, yang bersangkutan akan merasa dimanipulasi.

Sayangnya, tutur Bang Noel,tiap individu cenderung mengalami cinta buta akibat terkena halo efect. Artinya, saat tengah jatuh cinta, semua jadi terlihat indah yang membuatnya kerap berpikir pendek dan emosional. Sementara masukan dari orang lain mengenai keburukan pasangan selalu ditanggapi secara negatif. Semisal, “Ah, sirik aja, lu!”

Tak heran kalau objektivitas dan sisi-sisi penting yang perlu diketahui mengenai pasangan jadi terlewatkan. Hal-hal semacam inilah yang kemudian membuat orang tidak mencoba mengenali pasangannya lebih jauh alias cukup puas dengan hal-hal bersifat lahiriah/di permukaan saja.

Jalani & Nikmati Kebersamaan

Pada dasarnya, kata Bang Noel, tidak ada patokan baku mengenai berapa lama sebaiknya tiap pasangan melalui masa pacaran. Yang pasti, selama masa pacaran dan juga sepanjang perkawinan, kedua belah pihak harus menemukan dan menjalani hal-hal baru secara bersama-sama. Konkretnya, bersama-sama menikmati proses yang membuat mereka jadi kaya secara emosional karena bersama-sama membangun suatu dunia yang membuat mereka fit in.

Bukan yang satu memaksa yang lain masuk ke dalam dunianya. Serta bukan pula menenggelamkan diri ke dalam dunia pasangannya sedemikian rupa secara total sampai kehilangan keakuannya. Bila ini yang terjadi, dunia perkawinan menjadi dunia yang serba membingungkan bagi kedua belah pihak dan membuat mereka merasa tidak mampu bertahan.

Hargai Privacy Pasangan

Kalau kita bisa mengenal masa lalunya, ungkap Bang Noel, berarti kita lebih mengenalnya secara utuh. “Kendati jika pasangan tak mau membuka diri, ya, kita sama sekali tak boleh memaksanya. Sebagian orang justru ingin melupakan dan memendam masa lalunya. Soalnya, kalau hal-hal di masa lalu tadi diangkat lagi ke permukaan, baginya akan kembali terasa menyakitkan.”

Dengan begitu, sambungnya, kita harus menghargai privacy dan keputusan pasangan untuk menyimpan rahasia pribadinya. “Biarkan semuanya berjalan secara alamiah alias jangan pernah berusaha mengorek keterbukaan pasangan dengan segala macam cara. Toh, kalau hubungan sudah diwarnai oleh kepercayaan, kesediaan untuk membuka diri akan muncul dengan sendirinya.”

Waspadai Yang Terbiasa Berkelit

Terhadap pasangan yang selalu bersikap defensif dan terbiasa berkelit, tegas Bang Noel, kita harus berani mempertanyakan kelanjutan hubungan. Jangan sampai dibebani rasa malu hanya karena setelah sekian lama bersama.

Soalnya, sentra orang seperti ini tak lain adalah dirinya sendiri dan bukan pasangannya. Biasanya mereka tidak mau menghadapi kenyataan. “Jadi, alih-alih mau mengakui kesalahan diri, mereka malah lebih suka mencari-cari kesalahan orang lain. Dalam hal ini kesalahan pasangannya.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 160/27 April  2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: