MAU BAYI LAKI? “AKIHITO” BISA MEMBANTU!

9 Mar


Kendati tergolong cara kuno, namun teori ini relatif gampang diterapkan pada siapa saja, selain tak perlu biaya mahal.

Buat banyak pasangan, kehadiran anak laki-laki kerap dianggap “syarat mutlak” atau paling tidak salah satu hal terpenting yang harus ada. Hingga ketika anak-anak yang dilahirkan kebetulan berjenis kelamin perempuan, mereka tetap ngotot mengupayakan ada penerus keturunan. Padahal, jelas Dr. M. Yusuf, SpOG, apakah bayi yang dikandung berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, amat ditentukan oleh kualitas sperma si ayah, pola makan dan kapan saat terjadi pembuahan.

Salah satu upaya yang bisa ditempuh, lanjut Dirut RSIA Evasari, Jakarta ini, adalah teori Akihito. Teori yang pernah menjadi topik hangat di tahun 50-an ini, katanya, memang berasal dari Negeri Matahari Terbit. Meski kabarnya ditemukan oleh Hirohito, kaisar saat itu yang juga seorang ahli biologi, namun kaisar Akihito, sang anaklah yang menerapkan teori tersebut dalam keluarganya. Yang pasti, ujar alumnus FKUI, Akihito yang kawin dengan Putri Michiko berhasil mendapatkan 2 anak laki-laki dan satu anak perempuan sebagai penerusnya.

ANDALKAN SIFAT BIOLOGIS

Teori Akihito, kata Yusuf, memang secara sederhana bisa dijelaskan berdasarkan teori biologi. “Kan, setiap sperma memiliki dua unsur, yakni X dan Y. Nah, kalau sperma X yang berhasil membuahi sel telur si istri, maka akan dikandunglah seorang janin berkelamin wanita. Sementara bila sperma Y yang membuahi, akan lahirlah anak laki-laki.”

Menurut Yusuf, cara ini relatif amat mudah diterapkan pada siapa saja. Bahkan, tambahnya, teori ini pula yang kemudian mendasari inseminasi buatan maupun program bayi tabung. Yakni dengan memisahkan X dan Y melalui penggunaan alat-alat canggih sebelum disuntikkan ke dalam rahim si istri sesuai dengan kebutuhan/jenis kelamin yang diinginkan.

Sementara berdasarkan teori biologi pula, sperma memiliki sifat-sifat tertentu. Sperma X, contohnya, ternyata gerakannya lebih lamban meski umurnya lebih panjang dibanding sperma Y. Sebaliknya, gerak sperma Y lebih gesit namun umurnya lebih singkat.

Nah, memperhatikan cepat dan lambatnya gerakan sperma X dan Y inilah yang mesti mendapat prioritas jika ingin mendapatkan anak dengan jenis kelamin tertentu. Dengan memposisikan sel telur sebagai target, pastilah sel sperma Y yang akan lebih cepat sampai. Hingga kalau ingin anak laki-laki, tegas Yusuf, hubungan suami istri harus dilakukan sesudah terjadi ovulasi (pelepasan sel telur). Jadi, saat sel telur sudah ada. “Itu berarti sesudah terjadi ovulasi, yakni 2-3 hari kemudian dan jangan pas ovulasi.” Perkiraannya, ovulasi terjadi pada hari ke 14 sampai 16 dihitung dari hari pertama menstruasi.

MESTI “PUASA”

Hanya saja, terang Yusuf, sebelum ovulasi suami mesti “puasa”. Soalnya, “Kalau sudah berhubungan intim sebelum atau malah tepat saat ovulasi, bisa saja ada sperma X yang tertinggal mengingat usia sperma X ini lebih panjang dibanding sperma Y.” Sperma X bisa bertahan sampai 4 hari di rahim. Sedangkan sperma Y hanya satu-dua hari saja. “Dengan begitu sperma X yang tertinggal ini sama-sama berpeluang membuahi sel telur dengan sel sperma Y yang dipancarkan saat sanggama terakhir. Hingga agak sulit memastikan kemungkinan jenis kelamin si anak.”

Itulah mengapa pengertian dan kemampuan suami menahan diri amat dituntut. Setidaknya ia harus bisa berpuasa sekitar 7-8 hari setiap bulan, yakni 5 hari menjelang ovulasi ditambah 2-3 hari sesudahnya. Dengan berpuasa diharapkan kualitas sperma semakin prima dan jumlahnya pun kian banyak. Hingga peluang membuahi sel telur semakin besar. Padahal buat sebagian laki-laki, katanya, puasa selama itu bukan soal enteng, lo. “Coba bayangin, baru di hari ke-10 setelah si istri haid, suami sudah tidak boleh berhubungan dengan asumsi ovulasi bakal terjadi di hari ke-15 atau ke-16. Bagi suami yang libidonya termasuk tinggi ini dirasa amat berat.”

Sebaliknya, jika menginginkan bayi perempuan, saran Yusuf, lakukan hubungan suami istri 3-4 hari sebelum ovulasi atau kapan pun suami istri menginginkannya mengingat bayi perempuan hanya terdiri dari unsur XX dan bukan XY. Selain karena di luar masa puasa tersebut, hubungan intim tak lagi berpengaruh pada hasil pembuahan. “Karena jika sel telur dan sperma sudah ketemu, kan, sperma-sperma berikutnya tak lagi berperan menentukan jenis kelamin anak.”

BERPANTANG DAGING

Selain itu, terangnya, jenis makanan yang dikonsumsi suami istri ternyata ikut berpengaruh pula pada peluang si istri memperoleh bayi yang diinginkan. Karena bukan tak mungkin jenis makanan tertentu ini akan ikut mempengaruhi kondisi asam dan basa vagina yang lebih jauh menentukan ketahanan sperma X dan Y tadi. Dalam teori Akihito, bilang Yusuf, daging merupakan jenis makanan yang justru harus dipantang bila menginginkan bayi laki-laki. Sebagai pengganti daging, lanjutnya, ikan bisa dijadikan pilihan kala harus berpantang.

Ginekolog yang dikaruniai 3 pasang putra-putri ini mengakui kebenaran teori Akihito yang dibacanya semasa SMA dulu kemudian tanpa sengaja diterapkan dalam kehidupan pribadinya. Kala istrinya mengandung anak pertama dan kedua yang kebetulan laki-laki, Yusuf masih berstatus dokter umum yang ditempatkan di daerah miskin. “Belum tentu bisa nemu daging seminggu sekali, namun kondisi ini justru membawa berkah.” Sementara pada kehamilan tiga anak perempuan berikutnya, ia ditempatkan di daerah yang justru terkenal dengan kelezatan aneka sate.

Berdasarkan pengalaman itulah, Yusuf mengaku berani menerapkan pada pasien-pasiennya yang amat mengharapkan kehadiran anak laki-laki. “Mayoritas berhasil, tuh. Kalaupun gagal bisa jadi karena kekurangmampuan si suami menahan diri untuk tidak berhubungan intim pada masa seharusnya yang bersangkutan “puasa”. Selain tentunya terpulang kembali pada kebesaran Yang Maha Kuasa.”

Mengukur Suhu Basal

Menurut Yusuf, teori Akihito paling sesuai diterapkan pada pasangan yang istrinya memiliki siklus haid teratur. Bukan berarti mereka yang memiliki siklus haid tak teratur lantas harus berkecil hati, lo. Sebabnya, tetap bisa ditentukan kapan ovulasi yang bersangkutan datang. Salah satunya, dengan cermat membuatkan/mencatatkan grafik suhu basalnya. Saat grafik suhu tersebut menunjukkan peningkatan tajam, itu berarti suami mesti sudah ambil ancang-ancang.

Meski bisa saja 2-3 hari setelah ovulasi si istri, kondisi fisik dan libido suami justru tengah melorot alias sedang tidak in the mood. Alhasil, peluang untuk memperoleh anak laki-laki harus betul-betul diupayakan secara lebih terencana di bulan-bulan berikutnya. “Kehamilan semacam ini, kan, memang harus betul-betul diniatin. Enggak bisa sambil lalu,” bilang Yusuf.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 165/1 Juni 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: