MENGANTISIPASI GAWAT JANIN

9 Mar


Tak perlu langsung panik apalagi putus asa. Yang penting,jalani perawatan kehamilan secara teratur sekaligus berserah pada kuasa Sang Pencipta.

Gawat janin, jelas dr.Chairulsjah Sjahruddin, SpOG ,MARS, adalah istilah yang dipakai pada janin yang mengalami kegawatan akibat gangguan transportasi oksigen dari ibunya. Hanya saja, lanjut ginekolog dari RSIA Hermina, Jatinegara, Jakarta, “Istilah ini cuma berlaku pada bayi yang aterm atau sudah cukup bulan untuk dilahirkan.”

Kendati harus diberi intervensi sesegera mungkin, tandasnya, “Jangan diartikan sebagai kegawatan antara hidup dan mati yang selalu harus berakhir dengan kematian.” Syaratnya, ibu harus cermat mengenali beberapa perubahan pada kehamilannya yang boleh jadi merupakan indikator ada gawat janin tadi.

Menurut Chairulsjah, ada beberapa perubahan yang mesti dicermati. Antara lain:

1. DENYUT JANTUNG

Boleh dibilang merupakan indikator utama ada gawat janin, yakni bila denyut jantung janin kurang dari ukuran normal, 120-160 kali per menit (dpm), yang bersifat teratur. Atau justru terlalu cepat hingga mencapai kisaran 180-200 dpm bahkan lebih. Sementara detak jantung dewasa 70-80 dpm. Pengukurannya dilakukan dengan CTG/kardiotokografi. Angka-angka tersebut patut dicurigai bila usia kehamilan mencapai 36 atau 37 minggu.

Sedangkan pada kehamilan usia 24 atau 25 minggu, contohnya, angka yang sama tak bisa disebut sebagai indikator ada gawat janin mengingat ada perbedaan tolak ukur. Bisa saja di saat yang sama angka menjadi tinggi karena si ibu deg-degan lantaran takut/mengkhawatirkan keadaan tertentu. Atau karena si ibu tengah demam tinggi yang berpengaruh langsung pada janinnya. Untuk kasus seperti ini, solusi cukup dengan menenangkan si ibu atau mencari tahu sekaligus menangani gangguan demamnya.

Selain denyut jantung, gangguan irama jantung bayi juga bisa dijadikan indikator. Bila dengan alat doppler terdengar bunyi aneh yang tak sesuai pola irama semestinya, bisa dipastikan ada gangguan transportasi oksigen dari ibu ke janin.

2. AIR KETUBAN

Idealnya, tak berbeda dengan warna air biasa, yakni jernih. Hingga kalau ada perubahan warna yang bisa dilihat dengan pemeriksaan amnioskopi, semisal hijau pekat atau malah merah kecokelatan, patut dicurigai sebagai petunjuk ada gangguan pada kesejahteraan janin. Sementara tingkat keparahannya bisa “terbaca” dari gradasi warna yang terbentuk. Semakin pekat dan keruh warnanya, tentu kian besar pula ancamannya. Bila berwarna hijau, bisa jadi janin mengalami stres karena suplai oksigen berkurang.

Kemungkinan lain, lemahnya otot-otot pencernaan (traktus digestivus) bayi, termasuk otot anusnya, hingga bayi BAB dalam rahim. Padahal, bila mekonium/kotoran tertelan, bisa masuk ke paru-paru dan mengakibatkan bayi keracunan serta berujung pada kematian. Begitu juga bila air ketuban berwarna merah atau malah cokelat kehitaman. “Itu pertanda ada perdarahan, semisal karena ari-ari lepas atau sebab lain.”

Jumlah air ketuban pun harus ideal, tak boleh kelewat sedikit (oligohidramnion) maupun berlebihan. Normal-tidaknya volume cairan ketuban biasanya ditentukan oleh kencing janin, aliran darah dari plasenta ke janin, keadaan tali pusat, serta selaput ketuban. Juga ada-tidaknya cacat pada janin,semisal kelainan ginjal dan saluran kemih. Untuk mengetahui secara persis volumenya, bisa dilakukan dengan menghitung indeks cairan amnion lewatpemeriksaan USG.

Air ketuban yang sedikit, misal, bisa membuat tali pusar makin tertekan oleh badan bayi yang kian membesar. Akibatnya, transportasi oksigen pasti terganggu. Bisa juga terjadi karena kelainan pada tali pusat sendiri. Saat bayi bergerak berputar-putar, tali pusatnya kemungkinan terlilit tanpa bisa diantisipasi atau dicegah sebelumnya. Padahal, makin sering berputar, lilitannya akan makin kuat. Nah, saat lilitan terjadi, tali pusar bisa membentuk ikatan/simpul mati yang membuat bayi tercekik atau bahkan terjadi pelepasan ari-ari plasenta sebelum persalinan. Terlebih bila sampai terjadi dry labor atau air ketuban kering. Akibatnya, terjadi amniotic bend syndrome,yakni menempelnya badan bayi pada dinding rahim yang menyebabkan cacat dan perkembangannya terhambat.

3. GERAKAN JANIN

Sebetulnya, ibu bisa mengantisipasi gawat janin lewat gerakan si kecil. Memasuki usia kehamilan 28 minggu, contohnya, minimal 10 kali gerakan per hari. Jika kurang dari itu atau malah bayinya tak bergerak sama sekali, ibu harus segera konsultasi ke dokter kandungannya. Terlebih di minggu-minggu akhir kehamilan, jangan pernah menganggap remeh perubahan semacam itu.

Atau malah dengan bangga mengatakan bahwa si janin termasuk anak lincah yang kelak bisa diharapkan jadi jagoan. Belum tentu, Bu! Soalnya, perubahan gerak yang mendadak justru bisa diibaratkan dengan orang dewasa ketika nyaris tenggelam. Dia pasti akan mengamuk sedemikian rupa karena mengalami sesak napas kekurangan oksigen, sebelum lemas, dan akhirnya mati tenggelam. Dengan begitu, perubahan drastis semacam itu merupakan tanda paling objektif dari si bayi pada ibunya.

Jadi, amat disarankan untuk mengamati gerakan bayi sejak awal. Perhatikan bagaimana ritme gerakannya dan pola waktunya. Jangan tunggu sampai bayi sama sekali tak bergerak, yang tak memungkinkan kalangan medis memberi pertolongan apa pun.

KENALI FAKTOR PENYEBAB

Yang tak boleh dilupakan, tandas Chairulsjah, gawat janin bisa terjadi setiap saat dan pada siapa pun. Artinya, tak hanya pada ibu-ibu hamil yang masuk dalam kelompok risiko tinggi. Kehamilan yang awalnya oke-oke saja, bukan tak mungkin akan mengalami gawat janin di akhir kehamilan. Bahkan, bisa saja perjalanannya sedemikian cepat. Misal, pagi hari saat memeriksakan diri tidak apa-apa, enggak tahunya malam harinya sudah gawat janin.

“Sudah bukan zamannya lagi, deh, dokter begitu enteng mengatakan, ‘O, bagus, Bu. Bayi Ibu juga baik-baik saja.’ Karena setiap waktu, dari mulai hamil hingga saat lahir, mengundang risiko. Bahkan, ketika pulang pun ancaman masa nifas masih tetap besar dan jadi ancaman serius bagi si ibu maupun bayinya.”

Pemeriksaan kehamilan atau antenatal care yang baik dan teratur bertujuan meminimalkan segala risiko yang mungkin muncul. Apapun, bukankah sebaiknya tetap mencegah ketimbang melakukan pengobatan? Pasalnya, penyebab gawat janin amat beragam dan bisa saja sama sekali tak terantisipasi sebelumnya. Faktor ibu, contohnya, merupakan salah satu penyebab munculnya gawat janin. Terutama ibu hamil yang mengalami anemia atau dengan Hb di bawah 10. Ironisnya, tutur Chairulsjah, 80 persen wanita dewasa Indonesia diperkirakan mengalami anemia.

Kemungkinan mengalami anemia ini akan semakin besar karena di usia kehamilan 32-34 minggu biasanya terjadi hemodilusi atau pengenceran maksimal. Padahal, kondisi anemia pada ibu hamil berdampak amat besar. Dari proses mulasnya yang kacau, ancaman gawat janin, sampai ari-ari yang susah keluar. Meski bayi sudah keluar pun, kontraksi pengecilan rahim tak bagus dan bisa memicu perdarahan postpartum.

Selain anemia, gawat janin juga berkorelasi dengan penyakit serius yang diderita si ibu sebelum dan selama hamil. Di antaranya kelainan jantung, kelainan dalam fungsi pernapasan semisal asma yang tergolong berat, penyakit ginjal, hipertensi dalam kehamilan, ataupun gangguan/kelainan darah yang disebabkan ACA/anticardioliphin. Semua gangguan/kelainan tersebut bisa berpengaruh pada proses oksigenasi dan metabolisme bayi.

Kendati begitu, mereka yang mengalami anemia, gangguan jantung, asma, dan penyakit serius lainnya tak perlu kecil hati. “Dengan catatan, menjalani antenatal care dengan baik, selain berserah pada keagungan Tuhan. Sama sekali enggak fair kalau menimpakan semua kesalahan semacam ini semata-mata pada dokter.”

Selain faktor ibu, tambah Chairulsjah, gawat janin bisa juga muncul akibat gangguan dari si janin sendiri. Semisal perkembangannya terhambat, ada kelainan jantung bawaan, kelainan akibat infeksi TORCH, atau dampak obat-obatan yang bisa saja terminum lantaran ketidaktahuan si ibu. Jadi, meski masih bergantung sepenuhnya pada suplai dari ibu, metabolisme dalam diri si bayi terus bekerja. Akibatnya, terjadi ketidaksempurnaan darikerja jantung, ginjal, usus/sistem pencernaan maupun kemampuan menelan, yang bisa menimbulkan gawat janin.

Pemeriksaan Penunjang

Yang jelas, kata Chairulsjah, tanda-tanda yang muncul harus bisa dipastikan sebagai gawat janin atau bukan lewat pemeriksaan dengan CTG dan USG yang bisa melihat profil biofisik bayi. Semisal perkiraan jumlah air ketuban, berat badan, pola gerakan janin maupun detak jantungnya. Hanya saja akan lebih akurat hasilnya bila pemeriksaan tersebut dilengkapi pemeriksaan penunjang. Di antaranya amnioskopi yang bisa memastikan warna air ketuban yang tak “terbaca” dengan USG biasa, ditambah amniosentesis untuk menilai kualitas air ketuban, maupun pemeriksaan pH darah kepala janin.

Akan tetapi, langkah-langkah pemeriksaan tersebut tak mungkin dilakukan dalam waktu singkat, sementara gawat janin sendiri bersifat urgent alias mendesak. Belum lagi biayanya yang tak murah dantak semua rumah sakit memiliki fasilitas laboratorium yang memungkinkan pemeriksaan semacam itu.

Perlu Kerjasama Erat

Apapun juga, tegas Chairulsjah, gawat janin harus menjadi warning buat para dokter untuk melakukan tindakan segera. Di antaranya resusitasi intrauterin atau bantuan pernapasan dengan meminta si ibu berbaring miring ke kiri maupun dengan pemberian oksigen. Selama 2 jam kemudian kondisi si ibu akan diobservasi terus, apakah terjadi perubahan atau tidak. Kalau denyut jantung bayi masih tinggi, maka dokter harus menentukan tindakan karena bila dibiarkan akan berakhir dengan kematian bayi.

Bila sudah aterm atau setidaknya mencapai 34 minggu atau malah 36 minggu, biasanya akan dipertimbangkan untuk segera melahirkan si bayi dengan tindakan sesar. “Soalnya, buat apa ditunggu kalau itu justru ibarat menunggu kematian tanpa bisa berbuat apa pun.” Tentu saja tetap harus dipertimbangkan kematangan paru-parunya. Semisal sebelumnya diberikan surfaktan atau obat-obatan sejenis lewat suntikan pada si ibu. Hingga ketika lahir, diharapkan alveoli bayi sudah memiliki kemampuan untuk berkembang.

Sebab itulah kerja sama yang erat dengan bidang keahlian yang terkait dengan gangguan bayi yang bakal dilahirkan, amat dituntut. Terutama dengan NICU (Neonatal Intensive Care Unit).

 Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 168/22 Juni 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: