PENTINGNYA MENGHITUNG USIA KEHAMILAN

9 Mar


Kendati terkesan sepele, perhitungan yang akurat bisa amat membantu pemantauan tumbuh-kembang janin. Juga sekaligus memperkirakan waktu persalinan.

Dalam bahasa awam, jelas dr. Indrawati, Sp.OG, masa gestasi adalah umur kehamilan. Berapa persisnya umur kehamilan pada saat tertentu, bisa dihitung berdasarkan berbagai cara. Mulai anamnesa, pemeriksaan sederhana, hingga pemeriksaan dengan alat-alat canggih.

Pada anamnesa, ungkap ginekolog dari RS Mitra Keluarga, Jatinegara, Jakarta ini, pertanyaan mendasar umumnya seputar haid. Sebab, masa gestasi akan dihitung berdasar pola haid yang bersangkutan. “Artinya, untuk mereka yang siklus haidnya teratur 28 hari, akan digunakan rumus tertentu. Sedangkan mereka yang siklusnya di luar angka tersebut atau malah tak mengenal siklus sama sekali, lain lagi perhitungannya.”

Memang, agak sulit mendapat kepastian mengenai masa gestasi bila hanya didasari siklus haid. “Tak jarang pasien lupa kapan haid terakhirnya. Apalagi kalau selama ini ia tak mempedulikan siklus haidnya.” Sebagai alternatif, dokter akan mencari kepastian dengan menanyakan kapan si ibu mulai merasa mual-mual sertamerasakan gerakan pertama dari bayinya.

Dari tanda-tanda pasti kehamilan itulah, dokter bisa memperhitungkan masa gestasi pasien. Untuk memastikannya, dilakukan pemeriksaan dalam maupun perabaan luar dengan memperkirakan besar rahim.

Lebih lanjut, anamnesa dan pemeriksaan dasar ini dilengkapi lagi dengan pemeriksaan yang lebih canggih untuk mengkonfirmasi- kan usia kehamilan. Di antaranya dengan USG guna menentukan berapa diameter kantong gestasi yang merupakan tanda paling dini mengenai kepastian ada-tidaknya suatu kehamilan. Bahkan, dari pantauan kecepatan pertumbuhan kantong gestasi ini pula bisa dievaluasi perkembangan kehamilan dari hari ke hari pada 7 minggu pertama.

KEHAMILAN CUKUP BULAN

Penentuan masa gestasi, kata Indrawati, penting untuk menentukan apakah kehamilan sudah cukup bulan atau justru telah lewat waktu. Ini erat kaitannya dengan tingkat morbiditas dan mortalitas janin. “Bayi yang memang belum cukup umur, contohnya, sangat rentan terhadap ancaman kematian kalau harus dilahirkan sebelum waktunya mengingat organ-organ tubuhnya belum berkembang sempurna.”

Selain itu, menentukan umur kehamilan juga sangat penting untuk memperkirakan persalinan. Salah satu yang paling populer adalah menggunakan rumus Naegle yang memperhitungkan kehamilan berlangsung selama 288 hari. Perhitungan kasarnya dapat dipakai dengan menentukan hari pertama haid terakhir ditambah 288 hari. Atau harinya ditambah 7 dan bulannya ditambah 9. Contoh, hari pertama haid terakhir jatuh tanggal 5 Januari 2002, maka perkiraan persalinan adalah tanggal 22 (dari 15 + 7) bulan Oktober (dari 1+9) di tahun yang sama.

Secara ginekologis, tutur Indrawati, kehamilan dikatakan matur/aterm bila mencapai fullweek, yakni 36 minggu ditambah 7 hari. Artinya, bila dilahirkan saat itu, kemungkinan besar bayi tak akan mengalami gangguan berarti karena pertumbuhan organ dan proses penulangannya sudah sempurna, berat badannya sudah mencapai kisaran 2.500-4.000 gram. Begitu juga rambut kepalanya sudah tumbuh dengan baik dan kulit tubuhnya pun licin. Bila laki-laki, testisnya sudah turun ke dalam skrotum. Saat itulah merupakan saat terbaik bagi bayi untuk dilahirkan.

Namun ada sejumlah kondisi tertentu yang tak memungkinkan ginekolog menunggu saat cukup bulan tersebut. Semisal pada ibu yang mengalami preeklampsia, sindrom ACA, atau gangguan jantung, mengingat gangguan-gangguan tersebut biasanya akan semakin buruk dengan bertambahnya usia kehamilan. “Tidak benar, kan, membiarkan si ibu dalam keadaan sakit hanya untuk menunggu bayi matur? Apa pun, kondisi bayi dan ibu yang harus sama-sama optimal menempati prioritas utama.”

Itu sebab, dokter kandungan akan memperhitungkan saat tepat, kapan si bayi cukup aman untuk dilahirkan, yakni bila lingkungannya dalam rahim sudah tak optimal lagi untuk tumbuh-kembang.

KEHAMILAN PREMATUR

Bayi dikatakan prematur bila masa gestasinya kurang dari kurun waktu 36 minggu 7 hari. Penyebabnya macam-macam. Karena gizi buruk, ada riwayat persalinan prematur sebelumnya, jarak persalinan yang terlalu rapat, pekerjaan yang terlalu berat, depresi selagi hamil, kebiasaan minum minuman beralkohol dan merokok, kehamilan kembar/gemeli, serta mioma uteri (tumor jinak pada otot rahim). Bisa juga karena infeksi vagina, infeksi cairan ketuban, dan selaput ketuban/korioamnionitis akibat ketuban pecah dini.

Penyakit-penyakit sistemik yang mengganggu sistem organ tubuh yang bersangkutan juga bisa jadi penyebab, misal, hipertensi dan gangguan jantung. Atau ada kelainan organ reproduksi, seperti mulut rahim lemah hingga cenderung selalu menganga.

Jika kondisi-kondisi seperti itu dibiarkan, akan memicu terjadi abortus atau persalinan prematur. Alhasil, jalan terakhir yang biasanya ditempuh untuk menyelamatkan kehamilan adalah pengikatan mulut rahim.

Mengingat kematangan paru-paru mereka belum sempurna, jelas Indrawati, bayi-bayi prematur memang amat berpeluang mengalami banyak gangguan. Di antaranya sangat peka terhadap berbagai infeksi, trauma pada otak, gangguan pernapasan, dan hipotermi.

Semakin pendek masa gestasi yang dilaluinya, makin sulit dan kian banyak ancaman yang dihadapi, serta makin tinggi pula angka kematiannya. “Ini perlu diantisipasi mengingat sekitar 50 persen kelahiran bayi prematur merupakan penyebab utama dari seluruh kematian neonatal atau bayi baru lahir. Terutama karena tak ada hyaline membrane yang umumnya berujung pada RDS atau Respiratory Distress Syndrome, yang ditandai dengan kesukaran bernapas secara mendadak.”

Sebab, lapisan paru-paru pada bayi prematur belum terbentuk. Padahal, faktor kematangan paru ini merupakan syarat mutlak baginya untuk bisa bertahan hidup di luar rahim. Atas pertimbangan itulah, pada bayi-bayi yang kira-kira kansnya besar untuk lahir prematur, biasanya akan diberikan obat tertentu untuk membantu pematangan paru-parunya. Terlebih bila disertai berat bayi lahir rendah atau kurang dari 2.000 gram.

KEPALA DILINDUNGI

Tak kalah penting, tegas Indrawati, kerjasama dengan bagian Perinatologi yang harus juga siaga mengatasi berbagai kemungkinan buruk yang akan dihadapi begitu si bayi lahir. Terutama mengingat bayi prematur umumnya belum sempurna refleks mengisapnya. Belum lagi kapasitas lambungnya kecil dan daya kerja organ maupun enzim-enzim pencernaan masih lemah. Untuk memberi ASI/susu formula pun dianjurkan menggunakan pipet sedikit demi sedikit.

Kalau masalah yang terkait dengan kematangan paru-paru dan pencernaannya sudah bisa diatasi, biasanya di waktu-waktu selanjutnya bayi prematur tak lagi mengalami gangguan berarti. “Meski belum ada penelitian khusus, tapi dari pengalaman selama ini, tak bisa dipastikan mereka yang lahir prematur pasti lebih tertinggal tumbuh-kembangnya dan semua aspek kemampuannya dibanding yang tidak prematur. Toh, tingkat kecerdasan juga tak selalu signifikan dengan prematur.”

Hanya saja, lanjutnya, proses kehamilan dan persalinan bayi prematur dikategorikan berisiko tinggi. Karena itu, ahli kandungan biasanya harus meminimalkan manipulasi di daerah kepala bayi. Artinya, harus diusahakan sedemikian rupa agar bayi prematur jangan sampai terlalu lama menunggu di jalan lahir, semisal dalam persalinan macet. Sebab, kepala si bayi sudah berisiko terhadap proses persalinan itu sendiri mengingat proses penulangan- nya yang belum sempurna. “Kalau dibiarkan terlalu lama di jalan lahir, kondisi kepalanya bisa semakin buruk.”

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melindungi daerah kepala dengan forsep menjelang persalinan. “Berbeda dengan persalinan menggunakan alat bantu, forsep di sini bukan untuk menarik bayi. Justru untuk melindungi bayi dari kompresi atau tekanan pada bagian kepala saat berada di jalan lahir.”

Selain itu harus diupayakan pula untuk menahan kepala bayi agar jangan terlalu cepat meluncur keluar. Alasannya, tekanan yang mendorong kepala bayi jadi amat besar dan ini bisa membahayakan saraf-saraf di kepalanya. Di sinilah pentingnya penanganan yang cermat dan intensif dari tim penolong persalinan yang kuat. “Jadi, kalau diputuskan lahir secara sesar, itu semata-mata demi keamanan si bayi.”

SUDAH LEWAT WAKTU

Sedangkan usia kehamilan yang melebihi fullweek disebut postmatur. “Meski sebenarnya lebih tepat dikatakan postdate atau lewat waktu.” Soalnya, terang Indrawati, meski di atas kertas sudah fullweek, tapi belum tentu ada tanda-tanda postmaturitas kehamilan, semisal infark atau perkapuran plasenta. Kehamilan postmatur biasanya terjadi pada mereka yang siklus haidnya bukan 28 hari, seperti 38-45 hari atau malah amat panjang semisal 2-3 bulan sekali baru mens.

Menurut Indrawati, di sini pentingnya memantau perkembangan janin dengan USG. Bila sudah ada infark yang berarti sirkulasi darah ibu ke janin terganggu, maka bayi harus segera dilahirkan. Meski infark plasenta bisa saja disebabkan penyakit lain seperti sindrom ACA dan darah tinggi. Jadi, pesannya, “Buang anggapan bahwa dengan usia kehamilan yang lewat waktu, tumbuh-kembang bayi akan lebih bagus. Anggapan itu sama sekali tak benar!”

Sementara penyebab mengapa si ibu tetap tak merasakan mulas atau memperlihatkan tanda-tanda persalinan meski sudah saatnya, boleh jadi karena faktor salah hitung atau memang karena hormon prostaglandinnya belum mencukupi tingkat yang dibutuhkan untuk memunculkan rasa mulas tadi.

Menghadapi kasus-kasus semacam ini, biasanya dokter akan memberi toleransi waktu 1 minggu. Bahkan di rumah-rumah sakit pusat pendidikan biasanya malah akan ditunggu sampai usia kehamilan 42 minggu. Tentu saja dengan monitoring ketat menggunakan CTG/kardiotokografi.

Selama hasilnya masih baik dan bayinya masih reaktif, akan tetap ditunggu. Tapi bila seminggu kemudian belum juga ada tanda-tanda persalinan, meski janin masih reaktif, biasanya kehamilan harus diakhiri dengan persalinan. Sedangkan jika bayi tak reaktif dalam minggu kedua masa penantian tadi,akan diakhiri dengan persalinan sesar.

Pertimbangannya, janin yang lewat waktu tak boleh diberi stres lewat induksi. “Kalau diinduksi, kan, berarti si ibu dibikin mulas dan itu berarti semua pembuluh darahnya terjepit. Akibatnya, sistem uteroplasenter untuk sesaat akan berhenti yang akan membuat janin makin kekurangan oksigen.” Ini jelas berbahaya. Sebab, janin akan mengalami hipoksia, yang bisa berdampak, antara lain kerusakan otak, yang tentunya akan berpengaruh terhadap adaptasi bayi pada lingkungan pascalahir maupun tumbuh kembang selanjutnya. Lain hal bila semuanya berjalan baik, Meski lahir lewat waktu, tumbuh-kembangnya kemudian tak beda dengan bayi-bayi yang lahir cukup bulan.

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 164/25 Mei 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: