PLUS MINUS STREILISASI

9 Mar


Pertimbangannya bukan cuma jumlah anak, tapi juga usia ibu dan anak serta indikasi medis, bila ada. Yang jelas, dorongan seks tetap sama.

Dalam pengertian reproduksi, jelas Dr. Lastiko Bramantyo, Sp.OG, tindakan sterilisasi merupakan cara ber-KB yang bisa dilakukan pada wanita maupun pria. Pada wanita, lanjut ginekolog dari RSIA Hermina ini, dikenal dengan istilah tubektomi, yakni tindakan operasi berupa pemotongan dan atau pengikatan kedua saluran telur (tuba fallopii). Dengan begitu, sel telur dan sel sperma tak dapat bertemu hingga pembuahan/kehamilan tak terjadi. Sedangkan pada pria disebut vasektomi, karena saluran sperma (vas diferens) yang ditutup menggunakan teknik pengikatan ataupun pemotongan dengan tujuan yang sama.

Hanya saja, tegas Lastiko, ada banyak hal yang mesti dipertimbangkan sebelum suami-istri sepakat menempuh cara KB ini. “Memang, sih, umumnya cukup jumlah anak yang dijadikan pertimbangan utama. Padahal, cukup-tidaknya jumlah anak, kan, relatif, pada tiap pasangan. Artinya, bagi pasangan A, 2 anak sudah dirasa cukup tapi pasangan B, 3 anak belum cukup.” Itu sebab, persyaratan biasanya dikaitkan dengan usia ibu dan anak, yakni bila umur ibu dikalikan dengan jumlah anak mencapai 100.

Seorang ibu yang berusia 30 tahun dan sudah dikaruniai 3 atau 4 anak, misal, berarti boleh menjalani sterilisasi. Akan tetapi bila ketiga anaknya masih balita sementara angka kematian balita di daerah tertentu di Indonesia masih tinggi, keinginan tersebut mesti dikesampingkan atau dipertimbangkan kembali secara matang meski angka 100 sudah tercapai. Sedangkan mereka yang baru berusia 25 tahun dan memiliki 1-2 anak, sebaiknya tak memilih sterilisasi. Jikapun ingin ber-KB, silakan cari alternatif lain. Sementara tubektomi maupun vasektomi hendaknya dijadikan pilihan terakhir karena dianggap sebagai tindakan permanen alias tak bisa hamil lagi.

ADA INDIKASI MEDIS

Idealnya, inisiatif tindakan sterilisasi datang dari si pasien sendiri dengan pertimbangan. Sebab, bila “dipaksa” oleh dokter atau siapa pun dengan alasan anak sudah cukup, biasanya yang bersangkutan cenderung menimpakan kesalahan pada pihak yang menyuruhnya. Padahal, tentu saja tetap terbuka peluang terjadi kegagalan. “Penyebabnya bisa karena pengerjaannya tak sempurna atau malah saluran yang sudah diikat atau dipotong tadi, lambat laun menyambung kembali ke kondisi semula, meski kemungkinannya sangat kecil.”

Dokter boleh menganjurkan sterilisasi hanya pada wanita tertentu yang memiliki indikasi medis. Artinya, yang bersangkutan secara medis punya penyakit atau gangguan tertentu yang tak membolehkannya untuk hamil lagi. Semisal pada ibu berpenyakit jantung tertentu yang justru bisa mengancam dirinya sendiri bila ia hamil, atau pada wanita yang mengalami perobekan rahim (ruptur uteri) saat persalinan pertamanya. Alhasil, “teori” perhitungan angka 100 di atas tak berlaku. Artinya, bila anaknya baru satu dan umur si ibu baru 20 tahun, ia tetap disarankan menjalani sterilisasi agar tak hamil lagi jika ada indikasi medis.

Perlu diketahui, indikasi medis ini tak hanya sebatas medis fisik, melainkan juga medis-psikis. Dengan kata lain, tindakan sterilisasi pun bisa diberlakukan pada mereka yang berkelainan jiwa hingga tak bisa menjaga diri terhadap kemungkinan kehamilan. Cuma, mengingat yang bersangkutan tak bisa dimintai pendapat, biasanya dokter akan minta pertimbangan keluarga atau psikiater yang menanganinya.

WAKTU YANG TEPAT

Yang jelas, sterilisasi tergolong operasi kecil. Kalaupun pada tubektomi diharuskan puasa dengan pembiusan total, itu semata-mata agar usus kosong sekaligus melapangkan rongga perut untuk memudahkan tindakan. Meski total, toh, pembiusannya kini tak lagi menggunakan narkosa, hingga tergolong ringan. Sementara tindakan operasinya tak makan waktu lebih dari setengah jam.

Lalu kapan saat yang tepat dilakukan tindakan tubektomi? “Pada dasarnya bisa dilakukan kapan saja.” Hanya saja, pada mereka yang melahirkan secara sesar, tubektomi biasanya dilakukan secara bersamaan. Dalam kondisi terbuka seperti itu, segalanya bisa terlihat jelas hingga pelaksanaannya lebih mudah dan kemungkinan kesalahannya pun minimal. Akan tetapi penyembuhan perlukaannya relatif lebih lama dibandingkan dengan laparotomi maupun laparoskopi yang sayatannya kecil. Sedangkan pada ibu yang melahirkan nonsesar biasanya dilakukan saat yang bersangkutan masih dalam perawatan 3-5 hari usai melahirkan.

Tentu saja tak berarti mereka yang tak melahirkan tak bisa menjalani tubektomi, lo. “Bisa saja. Yang penting, tak sedang haid. Sebab, saat haid biasanya wanita yang bersangkutan merasa diri ‘kotor’ dan kondisi emosionalnya pun tengah kacau hingga dikhawatirkan keputusannya diambil secara emosional.”

DORONGAN SEKS TETAP SAMA

Adapun teknik yang umum dilakukan adalah laparoskopi dan laparotomi mini yang lebih sering disingkat menjadi minilap. Bila dengan minilap, sayatannya cukup sepanjang 2-3 cm, kira-kira 2 cm di bawah pusat. Kemudian dengan mata telanjang dan bantuan alat tertentu, saluran telur dikait sebelum dilakukan pengikatan atau pemotongan.

Sedangkan dengan teknik laparoskopi, invasi dilakukan dengan memasukkan teropong dan alat-alat lain yang digunakan lewat sayatan kecil di dinding abdomen. Lewat bantuan teropong itulah, dokter akan memasangkan cincin khusus yang berfungsi sebagai pengikat saluran telur. Melalui pengikatan tadi diharapkan jaringan saluran telur akan bernekrosis atau mengalami kematian secara perlahan. Keuntungannya, “Rawat inap pendek, meskimemerlukan keterampilan khusus dari dokter yang menangani dengan biaya relatif lebih mahal. Yang jelas, tingkat kegagalannya lebih besar bila tak dikerjakan oleh ahlinya, yakni dengan angka kejadian sekitar 1:8.000.”

Masalah pembedaan teknik laparoskopi dan laparotomi ini, antara lain ditentukan berdasarkan sarana yang tersedia di rumah sakit sekaligus kemampuan dokter yang menangani. Dokter yang kurang terlatih dengan laparoskopi karena memang lebih njlimet atau tak terbiasa lantaran di daerah tugasnya selama ini tak ada sarana semacam itu, tentu akan memilih minilap.

Selain itu, kondisi pasien pun mesti dijadikan pertimbangan. Pada pasien yang habis melahirkan, contoh, biasanya penggunaan laparoskopi dihindari. Alasannya,rahim si ibu masih besar karena belum pulih ke kondisi semula. Penggunaan teropong malah dikhawatirkan akan “menyentuh” rahim padahal yang jadi targetnya hanya saluran telur. Alhasil, umumnya minilap yang dijadikan pilihan.

Sedangkan dalam kondisi normal tak hamil maupun tak habis melahirkan, rahim sudah mengecil dan posisinya di bawah. Jadi, bisa menggunakan minilap maupun laparoskopi. Jika minilap yang dijadikan pilihan, biasanya sayatan dilakukan sekitar 2-3 cm di atas bulu kemaluan/simfisis.

Yang pasti, teknik apa pun yang dipilih, indung telur tetap ada dan sama sekali tak diutak-atik. “Jadi, hormon-hormon kewanitaan yang mengatur menstruasi dan dorongan seksual sama sekali tak akan terganggu atau mengalami perubahan. Sel telur pun akan tetap teratur keluar tiap bulan meski akhirnya terserap oleh tubuh karena tak terjadi pembuahan.”

Vasektomi Lebih Sederhana

Sterilisasi pada pria, jelas Lastiko, prosedurnya jauh lebih mudah dan sederhana dibanding tindakan serupa pada wanita. Cukup dengan pembiusan lokal untuk melakukan sayatan kecil pada kantung skrotum guna memotong saluran sperma. Berbeda dengan rahim yang terletak di dalam, saluran sperma terletak dekat permukaan kulit kantung buah zakar.

Usai menjalani vasektomi, pasien bisa langsung pulang tanpa harus rawat inap. Libido atau dorongan seksualnya pun tak terpengaruh sama sekali. Beberapa minggu kemudian akan dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui ada-tidak sel sperma pada air maninya. Selain bisa dilakukan kapan saja, angka kegagalannya pun relatif lebih kecil.

Berbagai Kemungkinan Komplikasi

Menurut Lastiko, komplikasi tindakan sterilisasi sebetulnya sangat jarang terjadi. “Kalaupun ada, biasanya tak lebih dari 1 persen.” Itu pun umumnya komplikasi fisik, seperti terjadi infeksi bila pengerjaannya kurang baik. Atau komplikasi anestesi, semisal obat yang sama dengan dosis yang sama pada mayoritas kasus, tapi bisa saja berdampak fatal pada pasien tertentu. Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah perdarahan atau hematom akibat ada pembuluh darah yang tak terikat atau malah pecah.

Yang lebih sering terjadi justru komplikasi psikologis akibat konseling yang tak mantap atau pengetahuan yang minim tentang sterilisasi. “Repot, kan, bila suatu saat muncul penyesalan atau malah menuntut bisa hamil lagi? Meski memang, sih, ada teknik tertentu untuk menyambung kembali saluran telur maupun saluran sperma yang telah diikat atau dipotong tadi dengan bedah mikro. Tapi kemungkinan keberhasilannya tidak 100 persen.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 169/29 Juni 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: