POLA ASUH KELEWAT IDEAL JUSTRU BAHAYA

9 Mar


Ideal, sih, boleh-boleh saja. Tapi jangan terikat habis.Dampaknya buruk, lo, buat anak dan si ibu sendiri.

Bahwa tiap orang tua harus punya gambaran ideal sebagai titik orientasi dalam menjalani hidup, benar adanya. Termasuk dalam mendidik anak. Hanya saja, tegas Dra. Suhati Kurniawati yang akrab disapa Iin, psikolog dari LPT UI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia), jangan lalu cuma terpaku pada gambaran ideal tadi. Bisa-bisa, “Anak dididik seperti robot.”

Pola pengasuhan, jelas harus ada. Begitu juga dengan aturan, pembiasaan, maupun rutinitas. Dengan catatan, tak terlalu kaku atau berlebihan. “Apa pun juga, anak tetap harus diberi kesempatan untuk belajar memilih. Juga diajak bicara dan dikenalkan pada kebutuhan dan keinginannya. Toh, yang namanya ideal, tak harus sama dan tak mungkin pernah sama dengan kenyataan.” Yang pasti, “Orang tua harus menghargai keinginan anak dan memberinya kesempatan untuk membuat pilihan sendiri.”

Konyolnya, tak sedikit orang tua yang justru mencekoki anaknya dengan pola tertentu yang itu-itu saja dari waktu ke waktu tanpa ada alternatif lain. Anak jadi tak punya kesempatan bertanya. Bahkan sebelum sempat bertanya pun, orang tua sudah membuatkan keputusan untuknya. Tak heran jika kelak saat dewasa, anak jadi terbiasa bergantung pada pilihan dan keputusan yang dibuatkan orang tuanya. “Kelihatannya sepele, ya? Tapi dampaknya bisa berupa rentetan yang panjang sekali.”

JADWAL KELEWAT KETAT

Ironisnya, orang tua kerap terjebak pada gambaran ideal tentang seorang anak yang sering digembar-gemborkan, yaitu yang pintar secara skolastik semisal cepat pintar membaca, menulis, dan berhitung,sehat yang semata-mata “disederhanakan” lewat penampilan fisik yang gemuk dan menggemaskan, yang bisa menunjukkan sikap manis/sopan. Padahal, semua gambaran ideal tentang sosok anak tadi tak akan bermakna jika sebatas rutinitas belaka tanpa ada nilai-nilai yang mendasarinya.

“Sebetulnya, orang tua banyak yang terjebak seperti itu karena keadaan masyarakat kita yang memang masih mengkondisikan para ibu untuk pegang peran lebih besar dibanding bapak dalam mendidik anak.” Ibu-ibu yang kelewat ideal dalam arti sempit ini (karena hanya sebatas yang kelihatan), jelas Iin, seringkali membuat kehidupan anaknya jadi “very scheduled”. Misal, minum susu dan buang air harus sesuai jadwal.Bahkan, menu makannya sudah ditetapkan jauh-jauh hari tanpa boleh diutak-atik sedikit pun! Termasuk bila ikan gindara agak sulit diperoleh dibanding ayam, contohnya.

Kendati begitu, Iin tak menyangkal jika pola asuh kelewat ideal, belakangan ini seolah jadi trend di kalangan keluarga muda. Boleh jadi kesibukan mereka yang begitu padat di luar rumah menuntut mereka untuk mengatur jadwal di rumahnya menjadi sama ketatnya. Melenceng sedikit saja, dianggap salah besar. Tak heran bila para babysitterlantas harus membuat laporan sampai ke hal-hal detail mengenai rutinitas anak. “Seolah, tanpa gambaran-gambaran ideal yang digembar-gemborkan tadi, dirinya adalah nothing.”

TAK BISA BERKEMBANG

Padahal, anak yang dibesarkan dalam kondisi serba ideal justru lebih banyak mengalami benturan dalam kehidupan bermasyarakat. Entah jadi rewel setiap kali ditinggal orang yang selama ini menyediakan/mengupayakan kondisi ideal tersebut atau tak terbiasa membuka mata terhadap hal-hal di luar kebiasaannya. Bukan tak mungkin pula anak merasa tersiksa karena dianggap aneh atau berbeda dari teman-teman atau lingkungannya. “Padahal, manusia adalah makhluk sosial.”

Mau tak mau, pada anak yang pintar, misal, harus diajar berani untuk melihat bahwa ada pihak lain dalam masyarakat struktural yang lemah atau tak sepandai dirinya. “Nilai-nilai semacam ini, kan, tak bisa diajarkan begitu saja secara instan.” Selain itu, kemandirian anak yang dibesarkan dalam kondisi kelewat ideal bisa dibilang tak berkembang atau setidaknya kurang berkembang. “Bagaimana bisa berkembang kalau semua selalu disediakan dan kebutuhannya pun terlayani lewat segala bentuk pengabdian luar biasa dari si ibu?”

Bukan tak mungkin pula anak mengalami kemandekan dibanding anak seusianya lantaran ada bagian-bagian tertentu yang memang tak pernah dicoba untuk dikembangkan. “Sayang sekali, kan, bila pola pikirnya jadi sedemikian kaku? Artinya, strategi yang dipakai untuk mengatasi masalah, terbatas itu-itu lagi, padahal situasinya jelas berbeda.”

Perlu diketahui, kemandirian bukan sekadar bayangan bahwa pada usia tertentu si anak bisa ini dan itu. Yang lebih mendasar justru rasa aman buat dirinya sendiri untuk mencoba berbuat sesuatu. “Bukan tak mungkin, lo, anak yang terbiasa tergantung sepenuhnya pada orang tua, sampai dewasa pun tak pernah berani mencoba naik angkutan umum. Termasuk taksi atau pesawat yang nyaman sekalipun.”

Yang pasti, fleksibilitas atau kemampuan menyesuaikan diri juga mesti diasah sejak kecil. Minimal, si ibu yang kelewat ideal tadi diharapkan bisa menempatkan diri untuk “menurunkan standar”nya. Semisal, saat liburan atau jauh dari rumah yang tak memungkinkannya mendapatkan hal-hal yang rutin ada di rumahnya selama ini. Sebab anak yang dijadwalkan kelewat ketat, contohnya, bisa-bisa malah gampang jatuh sakit. “Soalnya, anak yang terbiasa hidup kelewat sehat, besar kemungkinan ambang terhadap gangguan kesehatannya pun jadi rendah. Masalahnya, tubuhnya tak terlatih menerima masukan-masukan yang tak termasuk kategori sehat tadi.”

MERASA JADI PAHLAWAN

Dampak buruk tak hanya pada anak. Soalnya, si orang tua akan memaksa diri tampil menjadi orang tua yang baik sesuai gambaran idealnya. Akibatnya, ia jadi tegang dan tak lagi mampu menikmati perannya sebagai orang tua. Alhasil, anak jadi merasa tak nyaman karena ibu/bapaknya jadi mudah marah atau terbiasa melampiaskan ketidakpuasannya pada orang-orang yang relatif lebih “tak berdaya” seperti pembantu.

Sebaliknya, tak sedikit pula yang kemudian justru merasa jadi superhero alias pahlawan sejati bagi anak sekaligus keluarganya. Karena lewat perannya, dia merasa amat dibutuhkan dan ia amat menikmatinya. “Biasanya, ibu yang memainkan peran ini merupakan sosok istri yang karena berbagai alasan atau bentukan lingkungan, tak melibatkan suami dalam soal pengasuhan anak.” Nah, karena “beban” berat itu, bisa-bisa ia jadi tertekan. Soalnya, kalau sampai gagal, semua kesalahan bakal ditimpakan padanya, kan?

Bahkan, meski tak bikin kesalahan pun, masyarakat akan cenderung menyalahkannya. Semisal, “Ibunya ngapain aja, sih?” Nah, kekhawatiran akan kegagalan seperti itulah yang mendorong si ibu memacu diri sedemikian ketat agar anaknya memenuhi gambaran ideal. Sedangkan jika anaknya bisa tampil sehat, pintar, dan memenuhi sederet kriteria gambaran ideal, dia bakal menemukan kebahagiaan tak terhingga.

Alhasil, harga diri si ibu jadi tergantung penuh pada “keberhasilan” si anak. Meski orientasinya terkesan materialistis karena diukur dengan hal-hal keduniawian. Padahal, ideal-ideal yang ditawarkan kerap membohongi. “Makanya, sebaiknya senantiasa pertanyakan, apakah nilai-nilai ideal tadi memang yang terbaik untuk anaknya, sesuai kebutuhan anak. Yang pasti, bukan yang terbaik menurut kacamatanya sebagai orang tua. Kalau tidak, jika si anak tak memenuhi gambaran idealnya, si ibu merasa gagal sebagai orang tua.”

Jangan Pernah Bohongi Anak

Menerapkan larangan, tak ada salahnya. Tapi, tegas Iin, akan lebih tepat jika kontrolnya ditanamkan/ditumbuhkan dalam diri anak. Dengan begitu, anak membuat keputusan sendiri karena ada alasan jelas dan bukan semata-mata karena larangan yang membabi buta.

Tak perlu pula membohongi anak bila ingin melarang anak makan makanan tertentu. “Jangan, itu, kan, makanan tikus,” misal. Pada prinsipnya, anak tak bisa dibohongi. “Kalaupun bisa,paling cuma berfungsi sebentar karena anak pasti mendapat informasi dari teman-teman.” Lebih celaka, kan, kalau ia dapat info yang beda? “Kok, temanku boleh makan permen itu?” contohnya.

Apalagi, orang tua takkan pernah bisa mengawasi anak sepanjang waktu. Terlebih saat anak makin besar sementara godaannya pun kian beragam.

Harus Bisa Tegas

Bagi lingkungannya, ujar Iin, individu yang kelewat ideal semacam ini kerap sangat menyebalkan. Semisal saat menitipkan anak di rumah kerabat, pasti ada sederet tuntutan aturan yang mesti tetap diberlakukan. Sementara anak-anak itu sendiri umumnya termasuk tipe anak sulit karena sudah terbiasa hidup dalam aturan dan kemudahan yang diberlakukan di rumahnya.

Menghadapinya, harus bisa bersikap apa adanya. Misal, katakan secara tegas, “Di rumah saya enggak bisa seperti itu. Untuk hari ini, menu kami ini dan saya tak punya waktu lagi untuk belanja kebutuhan anak-anakmu ke supermarket. Kalau mau, ya, silakan bawa makanan sendiri dari rumah.”

Lain cerita jika bilang jauh-jauh hari hingga bisa diatur. Tapi, biasanya, kan, menitipkan anak bersifat dadakan, tanpa rencana. Yang jelas, orang semacam ini umumnya tak bisa begitu saja menerima kenyataan yang tak sesuai dengan gambaran-gambaran idealnya hingga kerap muncul keributan. Nah, daripada ribut, “Lebih baik jaga jarak saja, deh, dengan orang-orang kelewat ideal.”

Masalah juga akan muncul bila yang dititipi tak kompak dengan jalan pemikiran si individu ideal tadi. Soalnya, proses pembentukan disiplin anak akan hancur. Anak akan cari-cari kesempatan alias mengembangkan sikap manipulatif. Misal, minta es krim padahal di rumah dilarang keras. “Anak kalau terbiasa kelewat ketat, saat lepas kontrol akan merasa amat merdeka. Beda sekali situasinya bila pada anak ditumbuhkan kontrol dari dirinya sendiri.”

Tergantung Kepribadian

Menurut Iin, anak justru perlu sesekali diberi kesempatan untuk merasakan sesuatu yang berbeda atau bahkan bertolak belakang dari rutinitasnya sehari-hari. Minimal, agar ia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda. Ia pun harus mendapat kesempatan untuk mencoba berbagai hal karena tak selamanya ia akan tinggal di bawah ketiak orang tua yang memberi semua fasilitas baginya. Suatu saat dia harus bisa mandiri dan keluar dari keluarga asalnya.

Apakah si anak akan menikmati atau tidak menjalani rutinitas yang serba teratur/kelewat ideal tadi, amat tergantung pada tipe kepribadian si anak. Anak yang cenderung spontan dan dinamis, tentu akan cenderung berontak jika diatur begini-begitu. Beda dengan anak penurut, yang umumnya tak punya semangat untuk mencoba hal-hal baru. Ia akan bingung dan tak memiliki rasa aman begitu memasuki lingkungan baru yang serba berbeda. Sementara bagi anak yang dinamis, hal yang sama justru dianggapnya sebagai kesempatan emas yang membuatnya tertantang.

Th. Puspayanti/tabloi nakita/Rubrik Problema/edisi 169 /29 Juli 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: