SENTUHAN KECIL BERMANFAAT BESAR

9 Mar


Bayi/janin yang miskin sentuhan, umumnya tumbuh jadi pribadi “nakal” dan selalu cari perhatian. Padahal, apa, sih, susahnya memberinya sentuhan plus ungkapan cinta yang tulus?

Janin sebetulnya sudah bereaksi terhadap rangsang dari luar sejak berusia 16 minggu. Baik itu suara, cahaya, dan sentuhan. “Janin juga sudah bisa mengenali suara ayah dan ibunya,” kata Dra. M. Louise M.M., Psi. Di saat yang sama, ibu juga sudah bisa merasakan gerakan janin yang disebut kontraksi.

Karena janin sudah bisa mendengar, “Kalau orang tuanya suka ribut, janin berontak yang dirasakan ibu sebagai kontraksi. Begitu juga kalau si ibu jengkel. Ini pertanda janin tahu permasalahan orang tuanya. Dengan cara itulah ia berkomunikasi dengan ibunya,” ungkap psikolog dari Parent Education Program RSAB Harapan Kita, Jakarta, ini.

KONTAK ANTARA IBU DAN JANIN

Uniknya, tendangan janin sekeras apa pun, “Biasanya langsung bisa ‘jinak’ dengan sentuhan.” Dengan kata lain, sentuhan amat besar artinya bagi janin. Lewat sentuhan pula, kata Louise, berarti ada kontak antara ibu dan bayi. Sejak awal ibu jadi kenal bayinya, begitu pula sebaliknya.

Hebatnya, meski tak mengena secara langsung, sentuhan di dinding perut ibu akan dirasakan janin. Terlebih bila dibarengi ungkapan sayang sambil betul-betul memfokuskan pikiran-pikiran positif pada si kecil. “Halo, sedang apa kamu, Nak? Bunda sayang sekali sama kamu.”

Sentuhan memang sebaiknya diberikan sambil mengobrol dengan si kecil sementara ibu pun mengambil posisi senyaman mungkin. Tanpa beban pikiran atau mengerjakan apa pun. Dijamin, janin akan merespon dengan baik. Gerakan janin yang semula meronta-ronta, langsung jadi lembut.

Yang juga patut diingat, kata Louise, tiap individu belajar bicara lewat mendengar. Dengan mengajaknya ngobrol sejak dini, kemampuannya berbicara kelak juga makin cepat terasah.

IBARAT KELAS PERTAMA

Nah, agar sentuhan makin efektif, sebaiknya lakukan secara ajek pada jam-jam tertentu. Bila sudah terpola, bayi akan tahu kapan ibu/bapaknya mengelus-elus dan mengajaknya mengobrol. “Yang aneh, jika sudah tiba jamnya tapi si ibu lupa, janin seolah menagihnya dengan isyarat tertentu.”

Yang jelas, ungkap Louise, ungkapan sayang lewat sentuhan harus dilakukan dengan hati tulus. “Kebohongan sekecil apa pun pasti akan ‘terbaca’janin dan bayi lewat bahasa tubuh kita. Justru mereka yang paling peka merasakan hal-hal semacam itu.” Perhatikan saja saat ibu sedang capek, jengkel, atau malah tak suka,bayi akan menangis atau rewel terus karena merasa tak nyaman. Sikap tubuhnya kaku dan kalau digendong pun pasti menolak.

Soalnya, jelas Louise, rahim ibu bisa dibilang merupakan kelas pendidikan pertama. Artinya, bagaimana perilaku si ibu selama mengandung bayinya, seperti itu pulalah perilaku bayinya. Kalau ibu gelisah,contohnya, janin pun akan gelisah. Saat ibu dilanda stres, misal, hormon-hormon tertentu semisal adrenalin dan kortikotrophin akan meningkat. Padahal peningkatan ini membuat asupan oksigen dan nutrisi ke janin jadi berkurang. Akibatnya, bisa mengundang risiko fatal. Antara lain, memicu terjadi hipoksia yang umumnya berakhir dengan kematian janin. Selain itu, gerakan janin yang kekurangan oksigen biasanya sangat cepat hingga tali pusatnya terpeluntir yang akhirnya dapat mendatangkan kematian.

TAK GAMPANG MENYERAH

Manfaat lain sentuhan, jelas Louise, terpenuhinya kebutuhan afeksi, yakni merasa dicintai dan diterima. Semua itu akan menumbuhkan rasa aman dan kemudian memunculkan basic trust yang amat menentukan dalam pembentukan kepribadiannya kelak.

“Sentuhan juga sekaligus bermanfaat untuk menstabilkan debaran jantung dan melemaskan ketegangan.” Dengan kata lain, ia berperan sebagai pereda ketegangan sekaligus melancarkan peredaran darah hingga menjamin tercukupinya asupan oksigen dan nutrisi ke janin. “Alhasil, tumbuh-kembangnya pasti bagus. Kalau perkembangan fisiknya bagus dan kondisi psikisnya oke, bayi bakal lebih kuat dan tegar menghadapi tantangan hidup alias tak mudah menyerah.”

Karena itu, tegas Louise, apa pun kondisi yang dihadapi, ibu harus belajar relaks sekaligus belajar bersyukur atas karunia dan kebesaran Tuhan bahwa ia dipercaya/dianggap mampu menjadi seorang ibu. Lewat kondisi mental yang positif ini, otomatis diharapkan terbentuk keseimbangan hormonal dan emosional si ibu.

Sebaliknya, kalau si ibu cuma bisa mengeluh dan menyalahkan kehamilannya, umumnya hanya akan berakhir dengan keguguran, kelahiran prematur, atau malah kematian janin.

SELALU MINTA PERHATIAN

Pada dasarnya, sentuhan juga mengasah ibu untuk mengasihi orang lain. Dalam hal ini, bayinya. Tanpa mengembangkan keinginannya untuk menyentuh, ikatan batin dengan si kecil juga sulit terbentuk. Sementara dalam diri si kecil besar kemungkinan akan muncul perasaan ditolak dan tak dicintai yang menghambat pembentukan basic trust. “Kalau ini yang terjadi, bisa dipastikan proses tumbuh-kembangnya akan buruk alias tidak optimal. Umpamanya, kebutuhannya untuk diperhatikan jadi amat tinggi dan muncul sebagai perilaku cengeng setengah mati atau ‘nakal’ di mata orang dewasa.” Padahal, sebetulnya itulah cara mereka mengungkapkan keinginannya demi disayang dan diperhatikan. Ironis, kan?

Bayi yang tak pernah disentuh atau miskin sentuhan sejak dalam rahim, biasanya akan tumbuh jadi anak pemalu, takut lihat orang, bersikap dingin, serba kaku, tertutup, dan gampang terluka. Yang paling sering terjadi, “Anak kelak mengalami gangguan belajar karena susah berkonsentrasi, meski mungkin ia pintar. Sebab, pola semacam itu yang ditanamkan si ibu sejak ia di kandungan.” Si kecil pun jadi terbiasa merasa tertolak dan tak punya kesempatan untuk mengembangkan ekspresi kasih sayangnya. Tak heran kalau ia jadi selalu berusaha mengontrol emosinya sedemikian kuat hingga terkesan datar dan sulit ditebak. Ia tampil sebagai pribadi berwatak keras, namun perasaannya sangat peka/sensitif.

Sayangnya, lanjut Louise, individu semacam ini cuma peka terhadap hal-hal yang menyangkut dirinya dan bukan pada kepentingan orang lain. Dengan kata lain, semua terfokus hanya pada dirinya sendiri. Semisal, “Tuh, kan, aku enggak diperhatiin.” Padahal, dalam aktivitasnya pun ia teramat sulit mencoba memperhatikan orang lain. “Ini bisa dimaklumi karena mereka memang tak punya konsep dan tak pernah dilatih menerima maupun memberi kehangatan lewat sentuhan.” Meski si anak pintar, namun potensi kecerdasan emosinya sulit berkembang. Akibatnya, sosialisasi/hubungan interpersonalnya jadi terhambat dan ini bisa jadi ganjalan bagi keberhasilannya di bidang lain. Jadi, berilah ia sentuhan dengan penuh rasa cinta yang tulus. Tak sulit, kan?

Tak Harus Tangan Selembut Sutera

Mereka yang tangannya tak sehalus sutra, kata Louise, tak perlu berkecil hati. “Kekasaran fisik tak identik dengan kekasaran sentuhan itu sendiri. Yang terpenting justru niat dan motivasi kita untuk sepenuhnya menerima dan menyayangi bayinya.”

Elusan Suami Sama Pentingnya

Menurut Louise, ibu hamil bisa menjalankan tugasnya dengan baik jika ia memperoleh dukungan dari lingkungan, terutama suami. Pak, tinggalkan gaya konvensional yang membiarkan istri seolah “berjuang” sendirian saat memeriksakan diri maupun menjalani kehamilan dan persalinannya. Semisal dengan enteng mengatakan, “Mama aja, deh. Kan, Mama yang hamil, kok, Papa yang mesti repot, sih.”

Ingat, lo, terutama di trimester awal, istri amat membutuhkan perhatian dan dukungan suami. Sebab, masa-masa ini amat menentukan perkembangan selanjutnya karena di saat ini semua cikal-bakal janin tengah terbentuk. Sementara itu, kondisi si ibu masih dalam taraf penyesuaian terhadap perubahan besar yang terjadi.

Jadi, usahakan untuk terlibat pada tumbuh-kembang janin. Termasuk ikut mengelus-elus perut istri yang tengah membuncit. Si ibu bisa menjembatani mengatakan pada bayinya, “Nak, ini tangan Ayah,” dan pada suaminya bilang, “Ini, lo, Ayah, anak kita sedang gerak-gerak.”

Getaran-getaran lembut kontraksi janin pasti akan menimbulkan sensasi tersendiri di hati para calon ayah. Dengan penuh kekaguman biasanya mereka akan semakin merasa “tertantang” untuk terlibat pada kehamilan istrinya.

Hindari Lingkaran SetanKalaupun sebagai orang tua kita telanjur terbentuk sebagai pribadi yang dingin karena dibesarkan dalam budaya miskin sentuhan,tandas Louise, kita harus berani mendobraknya. Toh, banyak sarana pembelajaran yang bisa dimanfaatkan untuk memberi yang terbaik pada si kecil.

Jangan malah terjebak dalam lingkaran setan, “Ah, ngapain, sih, repot-repot.” Atau, “Aduh, aku mesti gimana, dong? Aku, kan, bingung karena dari dulu juga enggak pernah diperlakukan begitu sama orang tua.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Menyambut Si Kecil/edisi 163/18 Mei 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: