TAK PERLU BEDA-BEDAKAN SI UPIK & SI BUYUNG

9 Mar


Sering, kan, Bu-Pak, kita membeda-bedakan perlakuan hanya lantaran jenis kelamin anak yang tak sama? Padahal, kemampuan mereka sama-sama bisa berkembang optimal, lo.

“Ayo, stop! Jangan cengeng! Masa anak laki-laki cengeng?” Itu, kan, biasanya yang kita katakan pada si Buyung jika ia menangis? Giliran adik/kakaknya menangis, perlakuan kita lain karena “kebetulan” sang kakak/adik berjenis kelamin perempuan.

Padahal, seperti dijelaskan psikolog Rahmitha P. Soendjojo, perbedaan perlakuan pada anak berdasarkangender, sebetulnya terpulang dari seberapa banyak informasi yang dimiliki orang tua tentang proses tumbuh-kembang anak.

Artinya, bisa jadi si ibu/ayah bersikap begitu gara-gara keterbatasan informasi. Misalnya, dulu ia besar dalam keluarga bertipe feodal di mana lelaki selalu diistimewakan dalam segala hal. “Kalau budaya semacam itu terus dibawa, secara tak sadar sebetulnya orang tua sudah menanamkan nilai-nilai sempit yang pada gilirannya bakal mencetak anak-anak pengekor. Yakni, individu yang merasa betah dalam kungkungan budaya yang sebetulnya merugikan.”

KIRI KANAN BISA DIKEMBANGKAN

Memang, kata Mitha, mungkin saja akan ada benturan dari lingkungan/masyarakat jika kita memutuskan “keluar” dari mitos-mitos warisan budaya feodal tadi. Misalnya, diprotes orang tua. “Kamu ini bagaimana, masa si Anto disuruh menyapu? Itu, kan, pekerjaan perempuan?” Kalau itu yang terjadi, “Tak usah bersikap frontal,” saran psikolog dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) ini. “Cukup beri alasan, kenapa kita melanggar mitos-mitos itu. Misalnya, ‘Lo, kami memang mengajarkan, menjaga kebersihan dan kerapian rumah bukan cuma tugas pembantu atau siapa pun yang kebetulan perempuan.’ Malah dengan begitu, anak laki-laki jadi cekatan menyapu, merapikan kamar, dan lainnya.”

Karena itu, saran Mitha lebih lanjut, “Tak perlu terpaku pada anggapan yang mengkotak-kotakkan individu hanya berdasar jenis kelaminnya. Umpamanya, perempuan harus halus, lebih perhatian, dan seterusnya. Pendeknya, otak bagian kanannya yang berkembang. Sedangkan pada anak laki-laki, sebaliknya. Padahal, secara umum kita bisa, kok, mengembangkan baik otak kiri dan kanan, pada anak lelaki juga perempuan.”

Sebab, lanjut Mitha, sifat-sifat tertentu semisal halus/lemah lembut ataupun pemberani, sebetulnya tidak identik dengan gender tertentu. Melainkan lebih pada pembiasaan-pembiasaan yang menempa anak. Dengan demikian, kondisi-kondisi kemampuan apa pun pada anak laki maupun perempuan, sebetulnya sama-sama bisa dikembangkan. “Matematika anak perempuan bagus, kenapa tidak? Anak laki-laki terampil bebenah di rumah, mengapa harus dihambat dengan segudang larangan?”

MENGGUGAH MINAT

Agar tak terjebak pada mitos-mitos yang merugikan semacam itu, terang Mitha, mau tidak mau orang tua harus membuka diri. Dalam arti, mau membuka wawasan dan menerima informasi sebanyak mungkin, “Termasuk memiliki motivasi untuk menerapkannya.” Bukankah ketika mendapat informasi dan penjelasan gamblang, “Oh, ternyata anak laki boleh menangis, kok, dan anak perempuan tak mesti tulisannya bagus”, kita akan semakin terpanggil untuk berpikir lebih jauh.

Dengan begitu, kita pun lebih mampu bersikap toleran sekaligus memperluas/menggugah minat anak bereksplorasi. Kala anak perempuan getol bongkar pasang/utak-atik mobil-mobilannya, jangan pernah menghalanginya. Saat anak laki kedapatan sedang menyapu atau menyiangi sayuran, tak perlu lagi berteriak melarangnya. “Eh… jangan!”, hanya lantaran itu pekerjaan si Mbak atau si Bibi yang notabene perempuan.

Selain itu, terang Mitha, selalu beri kesempatan yang sama untuk melakukan kegiatan apa saja pada anak tanpa membedakan gender. Singkirkan pula sikap kelewat melindungi pada anak hanya karena dia wanita, misalnya. Seperti, “Aduh, Dek, enggak usah, deh. Biar saja nanti Mas yang bawain atau selesaikan.” Dengan begitu, dalam diri tiap anak tetap harus ditumbuhkan sikap/kesediaan saling melindungi/membantu, tanpa harus mengalihtugaskan hal yang sama ke saudaranya. Dengan kata lain, kita tidak perlu meringankan yang satu namun membebani yang lainnya.

Apa pun, anak perempuan harus punya pengalaman menangani/menyelesaikan pekerjaan yang “berat”. Jangan sampai terucap, “Biar Mas yang bawa, Adek pegang ini aja.” Akan lebih baik bila mereka dilibatkan secara bersama. Manfaatnya, mereka belajar menjalin kerja sama sementara pekerjaan pun jadi terasa lebih ringan.

BERI CONTOH NYATA

Untuk bisa memberi kesempatan yang sama, tentu harus ada usaha dari orang tua. Jangan hanya berikan kegiatan “kasar” seperti memanjat, lari-larian, atau sejenisnya. Ajarkan juga cara melipat baju, merapikan tempat tidurnya atau meronce untuk mengembangkan kemampuan motorik halusnya. Dengan membiasakan hal-hal semacam itu, anak-anak laki akan bisa mengembangkan kemampuan motorik halusnya sejajar dengan kemampuan motorik kasarnya. Sebaliknya, izinkan pula anak perempuan bergelantungan memanjat pohon, ngebut naik sepeda atau mengejar-ngejar bola.

Untuk bisa memberi kesempatan yang sama pada anak tanpa membedakan jenis kelamin, pembiasaan harus dimulai dari atas. Artinya, di hari Minggu pun, bapak bersedia menyirami bunga, memasak, atau beres-beres rumah. Dengan begitu anak akan terbiasa melihat “pemandangan” tersebut sekaligus ingin menirunya karena ada contoh nyata.

Contoh langsung semacam itu, terang Mitha, akan lebih mengena diterapkan pada anak dibanding penjelasan panjang lebar yang cuma bikin anak bosan dan akhirnya ogah mendengar. Untuk menggugahnya agar mau menulis rapi/bagus, mengapa tak ditonjolkan pujian dan kelebihannya? “Bagus banget, ya, tulisan Kakak. Mama/Papa jadi bisa baca. Pasti nanti Kakak dapat bintang dari ibu guru di ‘sekolah’.”

Yang perlu diingat pula, kedepankan hal-hal konkret.Soalnya, buat anak, konsep “pintar” jelas tak dipahaminya karena kelewat mengawang-awang. Anak akan lebih cepat menangkap informasi positif tentang dirinya. Semisal, “Kata Mama aku pintar melipat.”, “Kata Papa tulisanku bagus.”, atau “Bu Guru bilang aku mewarnainya enggak keluar garis, lo.” Nilai-nilai konkret itulah yang mudah dicerna oleh anak yang akan mendorongnya mempertahankan sekaligus meningkatkan “prestasi”nya. Sebab, si anak merasakan sendiri bahwa aktivitas-aktivitas tersebut ternyata menyenangkan. Tuh, asyik, kan, punya anak laki-laki tekun dan anak perempuan “tegar”?

Asah Motorik Halus

Kerapian, kata Mitha, juga merupakan nilai yang perlu diajarkan karena sama sekali tak identik dengan jenis kelamin tertentu. Tentu saja, lagi-lagi, harus dibarengi dengan pembiasaan dan contoh konkret. Jika semua benda tertata dengan rapi, bisa dipastikan anak pun akan belajar mengenai hal ini. Kalaupun ia belum terbiasa, sikap cerewet justru membuat proses pembelajaran jadi tidak efektif. “Jadi, tak perlu banyak omong begini-begitu. Beri contoh konkret semisal selalu menaruh handuk di tempatnya setiap kali habis mandi, sambil menginformasikan apa dan bagaimana ia harus melaksanakan tugas tersebut.”

Perkuat pula pembelajaran itu saat anak melakukan kesalahan. umpamanya saat ia “heboh” mencari-cari mainan kesukaannya. “Kakak/adik, kalau kamu enggak rajin merapikan mainanmu, ya, seperti ini akibatnya.” Atau, “Kalau pensil warna Kakak taruh di tas, pasti enggak akan ketinggalan.” Teguran-teguran semacam itu tentu akan membuat anak menangkap dengan jelas, “O…supaya enggak terselip atau lupa, aku harus menaruh setiap benda di tempatnya.” Sebaliknya, kalau omelan yang berulang kali muncul, anak akan kesal, selain tak tergerak untuk belajar. “Ingat, lo, buat balita, rumah tetap harus dijadikan home base untuk menanamkan semua nilai keluarga.”

Demikian pula soal menulis halus, menurut Mitha, bukan karena yang bersangkutan perempuan atau laki-laki. Melainkan lebih karena kemampuan motorik halusnya yang terlatih. “Lihat saja orang tua zaman dulu. Mau perempuan atau laki-laki, tulisannya sama bagus dan ‘seragam’ miring ke kanan. Mengapa bisa begitu? Karena mereka memang di-drill untuk menulis halus seperti itu.”

Sementara dewasa ini, selain tak dilatih secara intensif, kondisi pun cenderung membentuk individu mencari gampangnya saja dalam banyak hal. Tak heran kalau tulisannya kerap tak terbaca. Padahal, mengasah kemampuan motorik halus ini tak selalu harus dengan memegang pensil, tapi juga bisa dengan beragam aktivitas. Semisal mengancingkan baju atau mengikatkan tali sepatunya sendiri. Selain menumbuhkan kemampuan membantu diri sendiri, kegiatan semacam ini bukan tanpa makna, lo.

Gali Informasi

Salah satu nilai yang perlu ditanamkan pada anak tanpa membedakan gender adalah ketekunan yang merupakan masalah disiplin. Bila tidak, anak akan berkembang jadi pribadi yang gemar mencari jalan pintas. Konkretnya, meski anak masih sulit memfokuskan diri pada satu kegiatan tertentu, ia tetap harus dikenalkan pada nilai ketekunan tadi. Seperti, “Aku harus merapikan mainanku yang ini sebelum aku main dengan mainan yang itu.”

Mengenalkan anak bahwa ia harus berdisiplin melakukan ini-itu sejak kecil, kata Mitha, sebetulnya amat penting agar ia tak bingung/pusing sekaligus bisa mengantisipasi apa kegiatan berikutnya. Anak rewel, contoh Mitha, sebetulnya lebih karena ia tidak diajarkan berdisiplin. Contohnya adalah bayi yang diberi ASI setiap 2-3 jam sekali. Meski ia belum tahu 2-3 jam itu seperti apa, tapi paling tidak ia bisa mengantisipasi, sebentar lagi ibunya akan datang menyusui. Kalau pola semacam itu selalu menjadi kenyataan, berarti ia belajar membina rasa percaya atau yang dinamakan kepercayaan dasar pada ibunya.

Begitu juga ketika anak bertambah besar. Anak yang dilepas begitu saja semaunya, besar kemungkinan justru akan bingung. Saat ia tengah asyik bermain, si ibu berteriak, “Adek, ayo bobo, ini sudah jam 12!” Alhasil, ia pun jadi rewel karena kenikmatannya distop mendadak. Sebaliknya, anak justru akan mudah mengantisipasi bila sejak awal dikenalkan dengan waktu: kapan bermain, makan, minum susu, dan kapan pula harus tidur. Jika ingin anak mengikuti jadwal secara ketat, awalnya cobalah mengingatkannya. Semisal, “Kak, ini sudah jam 11 lebih, lo, sebentar lagi tidur, ya.” Pembiasaan semacam ini, kata Mitha, akan mempermudah orang tua saat menanamkan disiplin dalam bentuk apa pun.

Tentu saja ketekunan dalam arti penuh, belum bisa diharapkan dari balita. Masalahnya, perhatian anak seusia ini masih gampang terpecah. Cara mengatasinya, bantu anak untuk lebih memperhatikan sesuatu secara lebih intens. Antara lain dengan mengupayakan agar si objek jadi lebih menarik. Semisal, “Nak, ini apa, ya?” Jika ia sudah menaruh perhatian, lanjutkan dengan penamaan, “Ini namanya boneka.” Begitu seterusnya dengan menggali sebanyak mungkin informasi yang bisa disampaikan pada anak. Informasi-informasi tersebut mau tidak mau membuat anak belajar menaruh perhatian secara khusus alias memfokuskan diri pada objek yang kita maksud. Pokoknya, jadikan banyak hal sebagai pelajaran bagi anak. “Hanya saja, saat belajar ini, jangan sesekali kita menunjukkan sikap tak peduli atau asal lewat saja.”

Th. Puspayanti/tabloid nakita/Rubrik Problema/edisi 151/23 Februari 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: