10 TANDA (HARUS) PINDAH KERJA

1 Mar

Memutuskan berhenti bekerja dalam situasi ekonomi serbasulit seperti sekarang ini, tentu bukan perkara mudah. Terlebih jika belum mendapatkan pekerjaan baru. Akan tetapi buat apa pula bertahan bila setiap hari batin Anda tersiksa terus-menerus?  Kepada Theresia Puspayanti, Muhammad Rizal, Psi., merincinya dalam 10 poin berikut.

Menurut Senior consultant/Senior Psychologist dari LPT UI ini, pindah kerja adalah hak setiap karyawan. Keputusan untuk resign tak harus menunggu 5-6 dari 10 poin berikut kok. Hanya 1 poin pun bila dirasa amat mengusik,  segeralah ambil keputusan. Ingat, kesehatan mental Anda tidak akan pernah terbayar materi.
#1. Karier Mandek

            Jika sudah lebih dari 2-3 tahun Anda berada di posisi yang sama terus-menerus dengan fasilitas kerja dan paket numerisasi yang tak mengalami peningkatan, saatnya Anda mempertimbangkan lahan baru. Apalagi bila ada rekan kerja yang sama-sama selevel dengan prestasi kerja yang kurang lebih sama dengan Anda, mendapat promosi sementara Anda tidak. Idealnya, dalam bidang pekerjaan apa pun selalu ada peningkatan jenjang karier yang jelas bagi karyawan yang memenuhi atau bahkan melampaui target kerja. Kalaupun posisi untuk jabatan tertentu sangat terbatas, paling tidak Anda berhak mendapat peningkatan dalam grade jabatan, semisal dari reporter yunior menjadi reporter senior. Berbagai tunjangan dan take home pay-nya pun harus mengalami peningkatan secara signifikan.

#2. Gaji Stabil

Biasanya fresh graduate alias mereka yang baru lulus kuliah dan belum punya  pengalaman, masih mau menerima pekerjaan dengan gaji di bawah standar. Namun perlu digarisbawahi bahwa pekerjaan di bidang apa pun seharusnya memberi kenaikan gaji yang pasti dalam 1-2 tahun berikutnya. Jadi, bila Anda setidaknya sudah punya pengalaman kerja dan pekerjaan yang sama di tempat lain jauh melebihi standar gaji yang Anda terima saat ini, tak ada salahnya Anda mulai melirik-lirik lowongan pekerjaan di tempat lain. Tentu saja dengan catatan Anda sudah menunjukkan loyalitas dan prestasi kerja yang menggembirakan, namun pihak perusahaan tidak memperlihatkan niat baik untuk memberi kenaikan gaji.

#3. Tak Akur dengan Rekan Kerja 

Cukup banyak orang yang menomorsekiankan gaji asalkan suasana kerja dan relasi dengan rekan-rekan kerja sungguh menyenangkan. Namun berapa pun besarnya gaji yang diterima, Anda pasti tidak akan betah bila selalu menjadi loner, sosok yang kesepian dalam kesendirian karena dikucilkan oleh rekan kerja. Bila ini yang Anda hadapi, cobalah introspeksi mengapa mereka bersikap seperti itu. Kalau ada yang salah dengan perilaku Anda, segera perbaiki. Sebaliknya, bisa juga kehadiran Anda dianggap sebagai batu sandungan atau bahkan seteru alias musuh bagi mereka. Entah karena mereka tidak memiliki etos kerja yang terpuji seperti Anda, atau ada hal-hal lain yang membuat mereka iri dan dengki. Kalau Anda sudah berusaha menyesuaikan diri untuk tune in, namun mereka tetap memasang pagar batas rapat-rapat, jangan segan-segan untuk mengucapkan selamat tinggal.
#4. Tak Harmonis dengan Atasan 

Gara-gara relasi dengan atasan tak harmonis, sangat mungkin Anda tidak mendapat penugasan-penugasan penting yang berimbas pada pesatnya peningkatan karier. Akibatnya, Anda tidak bisa menunjukkan performance optimal. Padahal perusahaan berkewajiban mengembangkan potensi seluruh karyawan, baik hard skill maupun soft skill. Nah, kalau peluang untuk berkembang ditutup rapat oleh atasan hanya gara-gara relasi Anda dengannya tidak harmonis, ada baiknya Anda minggir saja. Toh, Anda tidak punya otoritas  untuk memperbaiki relasi tersebut, Mempertanyakannya langsung m hanya akan membuat situasi menjadi semakin konfrontatif. Yang bisa Anda lakukan hanyalah sebatas mengamati seperti apa perlakuannya kepada rekan lain dan seperti apa gaya kepemimpinannya. Gunakan feed back yang Anda peroleh untuk menetapkan pilihan, apakah mau bertahan di situ atau mencari pekerjaan di tempat lain. Seandainya masih merasa sanggup menyesuaikan diri, silakan saja. Namun bila semakin lama Anda merasa semakin tidak nyaman dijadikan bumper bagi setiap kesalahan yang terjadi di unit kerja Anda atau  dikucilkan tanpa sebab yang jelas, amatlah penting untuk segera menyelamatkan kehidupan psikis Anda.
#5. Meragukan Masa Depan Perusahaan

Peluang untuk pengembangan karier dan peningkatan pendapatan bisa saja tertutup lantaran kondisi perusahaan memang tidak bisa lebih baik. Dengan kata lain, perusahaan tak memiliki masa depan atau bahkan di ambang kebangkrutan. Entah karena pemiliknya terlilit utang, beberapa bagian ditutup, tak mampu bersaing dengan kompetitor, penjualan menurun drastis, atau sejumlah besar karyawan terpaksa dirumahkan. Kalau kondisinya demikian, tak perlu merasa bersalah untuk meninggalkan perusahaan. Jika perusahaan diibaratkan sebagai perahu, segeralah menyelamatkan diri agar Anda tak ikut tenggelam. Berpikirlah realistis.

#6. Rajin Berburu Lowongan Kerja

Tentu sangat tidak fair jika sebagian besar waktu kerja Anda habiskan untuk buka-buka situs lowongan kerja dan sibuk bertanya ke sana kemari. Besar kemungkinan Anda merasa tidak nyaman dengan pekerjaan saat ini karena memang tidak sreg dengan pekerjaan tersebut. Bisa juga Anda suka pada pekerjaannya, namun tidak nyaman dengan suasana kerjanya. Apa pun yang menjadi ganjalannya, komitmen Anda patut diragukan.

#6. Tak Sejalan dengan Prinsip Perusahaan

Poin ini biasanya menjadi pertimbangan yang paling menentukan apakah harus bertahan atau say good bye. Taruhlah Anda sosok pekerja yang menjunjung tinggi kejujuran. Tentu akan sangat risih bila budaya perusahaan justru menumbuhsuburkan kebiasaan setor, pungli, atau bahkan korupsi terang-terangan secara beramai-ramai. Begitu juga bila Anda pejuang lingkungan, namun instansi tempat bekerja terbukti mencemari lingkungan. Awalnya mungkin Anda masih bisa memberi toleransi dan berkompromi untuk bertahan.

#7. I Hate Monday

Wajar kok kalau di hari Senin Anda merasa sedih kala kebahagiaan bersama keluarga di akhir pekan harus berakhir berganti dengan rutinitas kerja. Namun kalau Anda selalu dan sedemikian membenci Senin, Anda harus introspeksi diri. Apalagi kalau Anda selalu mendadak sakit perut hebat, pening tujuh keliling dibarengi dengan semangat yang merosot ke batas minimal setiap kali mau berangkat kantor. Sesekali kehilangan semangat kerja bisa dimaklumi, tapi kalau berlangsung terus-menerus tentu ada setumpuk masalah yang harus dicarikan solusinya. Anda pun patut bercermin jika setiap kali berangkat kerja ogah-ogahan, tapi pulang selalu “teng go”, bahkan sebelum jam kerja berakhir sudah bersiap-siap pulang tak peduli apakah pekerjaan sudah selesai atau belum. Begitu juga kalau Anda selalu memperpanjang jam makan siang dan mencari-cari alasan untuk tidak masuk kerja.

#8. Tawaran Menggiurkan

Jika ya, mengapa tidak mempertimbangkannya? Ingat, kesempatan emas tak akan datang dua kali lho! Tak harus dalam bentuk uang/gaji besar, tapi bisa juga berbentuk tunjangan ini-itu, keleluasaan untuk traveling ke luar negeri atau kesempatan menimba ilmu. Cobalah duduk manis, perhitungkan betul prospek kerja Anda sekarang dibandingkan peluang pengembangan diri di tempat baru. Kalau peningkatan jenjang karier jauh lebih cepat dan lebih jelas dengan peningkatan pendapatan yang lebih menjanjikan, jangan ragu untuk menerima tawaran tersebut. Contohnya, bila perusahaan baru menjanjikan kenaikan gaji berkala sebesar minimal 35% per tahun, sementara perusahaan sekarang hanya dalam kisaran 5-7%.
#9. Tidak Dihargai Sepantasnya

Anda lulusan S2 manajemen, namun di tempat kerja Anda hanya diberi wewenang mengerjakan hal remeh-temeh yang semestinya bisa dikerjakan oleh lulusan D3. Atau pengalaman kerja Anda sekian tahun lamanya sama sekali tak dilirik oleh pemberi kerja. Tak hanya wewenang kerja, take home pay yang Anda peroleh tak sebanding dengan kapasitas kerja Anda. Jangan sia-siakan seluruh potensi terbaik Anda pada perusahaan yang jelas-jelas tak menghargainya.

#10. Makan Gaji Buta

Bagi sebagian orang, kondisi ini tentu sangat menyenangkan karena tak harus keluar keringat setetes pun namun rutin memperoleh gaji bulanan. Namun bila Anda cukup memiliki harga diri, makan gaji buta justru identik dengan penghinaan sekaligus tamparan keras yang sangat menyakitkan. Yang bisa Anda lakukan di kantor hanyalah browsing,  nongkrong di kantin atau sekadar ngobrol ngalor ngidul tanpa mengerjakan sesuatu yang bermakna. Masihkah bisa tinggal diam bila Anda “tak dianggap ada” oleh perusahaan sekaligus tahan menghadapi ejekan rekan kerja?***

TheresiaPuspayanti/majalahSEKAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: