BERDAMAI DENGAN BULU

1 Mar

Sebagian wanita dikaruniai kulit halus mulus, sebagian lagi mendapat “bonus” berupa bulu-bulu halus. Tak sedikit yang merasa terganggu dengan tumbuhnya bulu-bulu kasar, terutama di betis. “Kalau memang tergolong bulu-bulu halus, baik di lengan maupun di betis, tidak masalah kok. Biarkan saja tumbuh apa adanya. Buat apa digunting, dicabuti, atau dicukur?” tukas dr Gunawan Budisantoso, Sp KK.

Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin dari RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, ini, tidak sedikit kalangan yang menganggap bulu-bulu halus di tubuh wanita justru merupakan sesuatu yang seksi sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi si empunya. Berbeda dengan bulu halus, bulu-bulu kasar yang biasanya tumbuh di betis, memang dianggap mengganggu penampilan.

Jalan pintas yang kerap ditempuh banyak orang adalah dengan mencabutinya. Padahal, cara ini sama sekali tak bisa menyelesaikan masalah mengingat akar dari bulu-bulu tadi tetap ada. Selain juga berisiko infeksi yang umumnya terjadi pada folikel atau akar rambut akibat adanya perlukaan halus yang tak terlihat secara kasat mata saat terjadi pencabutan atau pencukuran.

BISA PICU KANKER?

Adakah keterkaitan langsung antara kebiasaan mencabuti atau mencukur bulu ketiak dengan kanker payudara yang kini semakin banyak menyerang wanita? Gunawan tak sependapat. Ini bisa dimaklumi, mengingat sampai saat ini, penyebab kanker memang belum diketahui secara pasti.Namun, terlepas dari pro dan kontra seputar hal ini, tak ada salahnya menyimak hasil penelitian Anderson Cancer Center di Houston, AS, yang menyatakan bahwa wanita yang punya kebiasaan mencukur bulu ketiaknya berpeluang 10 kali lebih besar terkena kanker payudara dibandingkan wanita yang membiarkan bulu ketiaknya tumbuh alami. Banyaknya luka kecil yang tak terlihat oleh mata telanjang dan melebarnya pori-pori akibat aksi pencukuran atau pun pencabutan inilah yang memungkinkan terjadinya kanker payudara.

Asal tahu saja, setiap helai rambut yang tumbuh di tubuh kita diberi peran untuk menjaga organ tubuh vital yang ada di dekatnya. Bulu-bulu ketiak bertugas melindungi ketiak dari zat-zat kimia luar tubuh yang mungkin saja beracun. Entah itu berasal dari bedak tabur, deodoran, atau parfum yang dipakaikan ke daerah sekitar ketiak. Karenanya, amat disarankan untuk rajin membersihkan sisa-sisa deodoran di area ketiak minimal 2 kali sehari menggunakan sabun atau susu pembersih.

Selain itu, dekat dengan ketiak terdapat kelenjar limfa yang berperan besar dalam sistem peredaran darah. Sesuai fungsinya, kelenjar getah bening ini pun akan memudahkan transportasi zat-zat toksik lewat luka-luka kecil di ketiak tadi ke bagian-bagian tubuh, termasuk ke payudara. Bisa dibayangkan, apa jadinya kalau di situ sudah bercokol sel dengan bakat kanker.

Tidak adanya bulu-bulu ketiak akibat dicukur atau dicabuti juga memperbesar kemungkinan masuknya bakteri dan kuman lewat pori-pori yang kemudian menginfeksi dan menimbulkan radang berupa bisul atau abses.

CARA LAIN MENGUSIR BULU

Kendati belum pernah menerapkan kepada pasiennya, Gunawan menyebutkan beberapa cara lain yang bisa ditempuh untuk menangani bulu-bulu yang tak diinginkan. Salah satunya dengan mengoleskan “obat” berupa cairan atau krem yang mengandung tioglikolat. Cara ini amat praktis karena tinggal mengoleskan saja. Selain tanpa rasa sakit karena bulu-bulu tadi akan lepas atau rontok dengan sendirinya, hasil yang didapat bersifat permanen. Hal ini berbeda dengan proses waxing, bulu-bulu yang tercabut akan tumbuh kembali (sehingga Anda harus melakukan waxing secara berkala, setidaknya 3-4 minggu sekali).

Khusus penanganan bulu-bulu kasar yang tidak mengganggu penampilan, bila pasien menghendaki, dokter akan mengandalkan radiofrekuensi yang mengharuskan pasien menjalani bius lokal. Namun, cara ini pun tidak cukup hanya dilakukan 1-2 kali, tetapi harus berkali-kali, terutama bila bulu-bulu kasarnya terbilang lebat. Sementara itu, satu-satunya cara yang dijamin tidak menimbulkan rasa sakit adalah penggunaan sinar laser. Namun, biayanya jauh lebih tinggi dibanding metode lainnya.

Yang perlu Anda ketahui, proses ini sebaiknya dilakukan dengan berkonsultasi ke dokter, bukan ke salon yang menawarkan jasa tersebut. “Alat-alat seperti laser dan radiofrekuensi kan memang bukan untuk konsumsi salon. Kalau pun pihak salon menyediakannya, sudah seharusnya konsumen bisa berpikir kritis dan menjadi konsumen cerdas,” tukas Gunawan.

(Theresia Puspayanti, tabloid nakita)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: