MENGALAH TAK BERARTI KALAH

1 Mar

Perkawinan bukanlah ajang kompetisi yang memunculkan pihak menang dan kalah. Sangat tidak elok jika sebagai istri, Anda menumpuk kekecewaan demi kekecewaan hanya karena merasa telah berkorban habis-habisan demi anak dan suami. Kepada Theresia Puspayanti, Dra. Iin Suhati Kurniawati Psi., mengajak kita menyikapi masalah ini.

Boleh jadi pernah suatu kali dalam hidup berkeluarga, Anda seolah menyesali diri. Contohnya, “Sampai kapan sih aku mesti bersabar? Rasanya aku sudah berkorban habis-habisan, banting tulang dari pagi sampai malam cari nafkah untuk bantu-bantu penghasilan suami yang tidak seberapa. Perhiasan peninggalan orangtua pun sudah terjual semua demi menutup kebutuhan hidup keluarga, biaya sekolah dan kuliah anak-anak.”

Menurut psikolog klinis UI ini, tak ada yang salah dengan keluhan di atas yang mengekspresikan kelelahan mental seorang istri. Hanya saja tidak pada tempatnya kalau ungkapan tersebut muncul lantaran yang bersangkutan menganggap dirinya menjalani kompetisi panjang dan kini dirinya terpojok sebagai pihak yang kalah dan merasa dirinya sebagai korban. Mengapa? Tak lain karena pasangan suami istri bukanlah kompetitor alias pesaing yang masing-masing pihak harus berjuang sengit mengalahkan pihak lain demi meraih kebahagiaan tampil sebagai pemenang.

PARADIGMA WIN-WIN

Mestinya, tukas ibu 3 anak yang sudah beranjak dewasa ini, pasangan suami istri merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Mereka seyogianya menerapkan paradigma win-win dimana keduanya sama-sama menang alias tidak ada yang kalah ataupun dikalahkan. Melalui cara berpikir seperti ini, kata “kalah” harusnya dibuang dari hidup perkawinan. Lanjut Iin, bila benar ingin mengalah, jangan pernah menempatkan diri sebagai korban. Dengan kata lain, bersedia mengalah tanpa merasa menjadi pihak yang dikorbankan.

Sedangkan jika merasa diri sebagai korban, yang bersangkutan akan merasa dirinya dikalahkan atau dia sengaja mengalahkan dirinya sendiri demi pasangannya, demi anaknya, atau demi subyek maupun obyek lainnya. Mengalah dalam pengerti ini berarti ada penurunan nilai yang dilakukannya di bawah penekanan berupa keterpaksaan. Tentu saja mengalah di sini akan dibarengi dengan munculnya perasaan-perasaan negatif yang dalam jangka panjang pastilah sangat merusak, baik terhadap si individu maupun relasinya dengan orang lain.

Sebaliknya, mengalah dengan paradigma win-win sama sekali tidak berdampak negatif. Mengalah di sini boleh-boleh saja, bahkan amat dianjurkan, karena pengertian mengalah ini sangat berbeda dengan kalah. Mengalah dilakukannya secara sadar atas pilihannya sendiri tanpa ada seorang pun atau sesuatu yang memaksanya. Suami istri yang merasa sebagai satu kesatuan lazimnya akan berkeyakinan, “Kami tidak akan pernah kalah karena kami akan menang bersama-sama”. Di sini, masing-masing pihak bersedia mendengarkan dan mengerti lebih dulu kebutuhan pasangannya. Hingga ketika sampai pada gilirannya untuk menyampaikan keinginan/kebutuhan pribadinya, pastilah bukan berupa tuntutan atau pemaksaan, melainkan lebih merupakan bentuk penyesuaian.

Jika meminjam istilah Steven Covey, yang seyogianya terjadi dalam pasangan suami istri adalah sinergi. Yakni sesuatu yang dilakukan secara bersama akan memberikan hasil akhir yang jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan jika dilakukan sendiri-sendiri. Sinergi, tukas Iin pula, sebenarnya sangat  mungkin dilakukan oleh pasangan suami istri kalangan mana pun, diterapkan dalam situasi apa pun, dan saat  berhadapan dengan siapa pun. Asalkan itu tadi, mengutamakan kerja sama dan bukannya persaingan. Kalau pemahaman ini yang dikedepankan, keinginan untuk saling ngotot dan mau menang sendiri pasti akan terkikis. Tidak akan terdengar lagi keluhan, “Duh… kenapa nasib saya begini padahal saya sudah berkorban habis-habisan untuk keluarga.”

Jika paradigmanya win-win, istri tidak pernah merasa berkorban. Melainkan karena ia memang secara sadar memilih bersedia melakukan hal tersebut. Ia sama sekali bukan terpaksa atau merasa dipaksa bila harus menjual warisan dari orangtuanya. Ia melakukannya semata-mata demi perbaikan taraf hidup keluarganya, mungkin demi biaya sekolah buah cintanya. Mungkin memang situasi memaksanya berbuat demikian, namun dalam hal ini istri tidak merasa dipaksa oleh suami. Kalau suaminya meminta istri untuk menjual perhiasan tadi demi kepentingan si suami, tentu lagi-lagi cara berpikirnya bukan win-win. Dalam hal ini si suami memanipulasi alias memperalat istrinya. Mestinya, ketika meminta istri menjual perhiasan, suami tidak menyuruh ataupun memaksanya, melainkan berunding. Contohnya,  “Apa lagi ya Ma yang kita punya yang bisa kita jual untuk biaya sekolah anak-anak.” Jadi, tukas Iin, kedepankan kata “kita”, sehingga masalah yang ada adalah masalah kita dan solusinya pun mesti dicari bersama-sama. Dengan demikian, kalaupun istri mendedikasikan seluruh energi dan waktunya untuk keluarga dengan ikut mencari nafkah, bekerja mati-matian di kantor maupun dalam rumah, dia akan melakukannya dengan senang hati.

MEMBERDAYAKAN DIRI

Iin juga menyayangkan cara berpikir yang terlanjur salah kaprah dalam masyarakat. Ia mengibaratkan 2 orang yang sama-sama diminta memandang tanaman dalam pot dari dua arah yang berbeda. Penggambaran kedua orang ini mengenai pohon yang sama akan berbeda tergantung dari mana mereka melihat. Dua-duanya benar hingga tak perlu saling ngotot membenarkan pendapat sendiri. Begitu juga dengan hidup. Masing-masih pihak tidak perlu ngotot berebut tampil sebagai pemenang dengan saling menyakiti. Toh, mengalah sama sekali bukan kalah. Dalam bahasa ekonomisnya, mengalah justru membuat suami istri beruntung mendapatkan hasil yang nilainya lebih tinggi. Atau dengan bahasa yang lebih manis, mengalah Anda lakukan karena mengasihi suami tercinta. Anda begitu mencintainya, maka Anda bersedia memberikan yang terbaik baginya. Bila suami pun memakai cara berpikir yang sama, maka dia pun akan melakukan hal serupa. Akhirnya, kedua belah pihak memberikan yang terbaik bagi suami/istrinya. Bukankah ini berarti level kehidupan sebagai suami istri meningkat karena Anda berdua mendapatkan hal yang jauh lebih baik dan lebih tinggi maknanya?

Menurut Iin, kerangka berpikir yang salah kaprah bila dirunut dari sejarahnya boleh jadi berakar pada budaya patriarkat kala wanita diperlakukan secara tidak adil dimana wanita hanya dianggap sebagai kanca wingking, atau bahkan sebagai budak. Kondisi ini diperparah oleh fakta yang tak bisa dipungkiri bahwa kita dulunya sekian ratus tahun menjadi bangsa terjajah. Terlalu lama dijajah inilah yang boleh jadi membuat banyak orang cenderung merasa dirinya sebagai korban. Untuk keluar dari kungkungan ketidakberdayaan sebagai korban, mau tidak mau harus ada empowerment melalui pendidikan. Gigihnya perjuangan emansipasi, membaiknya pendidikan dan terbukanya pikiran banyak pihak, seharusnya membuat isu gender mengenai ketidakadilan semakin terkikis dari bumi Indonesia. Dengan demikian mestinya tidak ada lagi kondisi yang mengharuskan istri mengalah atau mengalahkan dirinya sendiri.

Sayangnya, mentalitas sebagai korban ini masih kerap terbawa-bawa sampai sekarang. Banyak orang tidak bergerak untuk mengubah dirinya sendiri atau masyarakat sekitarnya, bahkan keluarganya sebagai lingkungan terkecil, ke arah yang lebih baik. Mereka hanya berdiam diri menunggu uluran pemerintah ataupun belas kasih orang lain. Padahal, mestinya segera lakukan apa yang bisa dilakukannya. Begitu juga dengan kehidupan berkeluarga. Kalau de facto benar istri menjadi korban mestinya ia bisa memberdayakan dirinya, minimal agar tidak menjadi korban manipulasi orang lain, dalam hal ini suaminya.  Ia tetap berkewajiban membuat pilihan cerdas dalam segala keterbatasannya. Yang pasti, jangan pernah serahkan pilihan Anda kepada orang lain. Anda punya otonom atas diri Anda sendiri. Jangan pernah pula izinkan orang luar sana menilai dan menghakimi kehidupan keluarga Anda. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: