5 KARAKTER ATASAN & TRIK MENGHADAPINYA

2 Mar

Mengenali karakter pimpinan perlu dilakukan karena sedikit banyak akan berpengaruh pada kinerja kita. Berikut beberapa tipe atasan, plus cara paling tepat untuk menghadapinya.

1. MEMILIKI DEDIKASI TINGGI

Atasan yang memiliki dedikasi kerja tinggi biasanya datang paling pagi dan pulang kantor belakangan. Ia akan selalu berusaha menemukan cara-cara ampuh guna memelihara optimisme unit kerjanya. Ia tak akan pernah lelah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan diri serta membina jaringan kerja. Kemampuan lebih inilah yang membuat atasan dengan karakter seperti ini selalu terbuka terhadap ide-ide bawahannya. Ia juga tak segan-segan menyampaikan berbagai masukan, hingga bawahan tahu persis bagaimana kemampuan kerjanya sejauh ini.

Sisi buruknya, atasan terkesan menuntut anak buah mencontoh dirinya. Biasanya, atasan tipe ini merupakan sosok legendaris, yakni pekerja teladan yang sudah sekian lama begitu setia mengabdi di perusahaan. Sisi baiknya, beliau tak segan-segan menantang sekaligus membimbing bawahan meraih pencapaian tertinggi.

Bagaimana harus bersikap?

Tunjukkan perilaku kerja yang baik. Usahakan selalu tepat waktu dan penuhi tenggat waktu. Mintalah tugas-tugas yang menantang. Lakukan langkah-langkah antisipatif terhadap berbagai kebutuhan pekerjaan sendiri maupun pekerjaan dalam tim. Beranilah pegang kendali dan berusahalah menjadilah pakarnya di bidang pekerjaan yang Anda geluti. Jangan ragu untuk membuka diri sekaligus menawarkan kesediaan untuk berbagi pengetahuan dengan rekan kerja. Tunjukkan pula kesiapsiagaan saat atasan berhalangan. Atasan dengan karakter ini tak akan segan-segan memperlihatkan apresiasinya terhadap bawahan.

2. SAHABAT SIAPA SAJA

Atasan dengan karakter ini umumnya menjadi sosok yang disukai semua orang. Tak heran kalau ia selalu berusaha menghindari konflik. Ia cenderung membiarkan begitu saja masalah atau perilaku yang tidak pada tempatnya. Ia baru akan bertindak jika memang sudah tidak bisa ditoleransi lagi.

Sikap seperti ini sebetulnya merugikan karena bawahannya tidak mendapat masukan berarti bagi perkembangan karier mereka. Apalagi kalau kebetulan Anda termasuk karyawan yang memiliki standar kerja tinggi. Atasan dengan karakter seperti ini akan jauh lebih mudah melimpahkan porsi kerja lebih besar kepada bawahan yang memiliki etika kerja tinggi ketimbang terang-terangan menegur bawahan dengan motivasi kerja rendah.

Bagaimana harus bersikap?

Saat atasan memperlihatkan prestasi menggembirakan, pujilah dengan tulus. Atasan pasti akan selalu mengingat jasa Anda bila Anda memposisikan diri sebagai sumber informasi baginya. Karena atasan begitu bangga pada reputasi kerjanya, carilah kesempatan-kesempatan untukmembuatnya dihargai, baik saat rapat, dalam lingkup internal maupun di depan klien.

Mengingat ia tak pernah melempar kritik secara langsung, jangan segan untuk minta masukan dan penugasan yang diperkirakan akan membantu Anda menaiki jenjang karier.

3. SI BATU SANDUNGAN

Atasan seperti ini akan bekerja sesedikit mungkin. Ia juga lebih suka mempekerjakan karyawan dengan prestasi dan gairah kerja biasa-biasa saja serta tidak memberlakukan tuntutan tinggi pada staf. Atasan yang termasuk dalam kategori ini umumnya memilih bersikap status quo alias cari aman. Beliau tak mampu bersikap tegas saat bawahan melakukan berbagai kesalahan atau terjebak dalam sistem kerja yang tidak efisien. Biasanya bawahan maupun rekan kerjanya justru merasa risih dengan keberadaan atasan seperti ini. Ia dijuluki sebagai batu sandungan karena jarang mempromosikan karyawan dengan prestasi kerja cemerlang. Ia menutup jalan bagi bawahan menuju puncak sukses sekaligus tak berusaha menggali potensi terbaik di unit kerjanya.

Bagaimana harus bersikap?

Atasan seperti ini gampang merasa terancam. Jadi, posisikan dia dalam kondisi nyaman dengan memperlihatkan padanya bahwa dialah yang memegang kendali sementara Anda adalah staf yang akan memudahkan hidupnya. Pastikan ia tak ketinggalan informasi mengenai kantor maupun para pesaing. Bina relasi dengan dunia di luar unit kerja Anda. Kalau bekerja dengan atasan seperti ini membuat Anda serasa menghadapi jalan buntu, mengapa tidak mencari ladang lain untuk dieksplorasi? Tingkatkan pengetahuan dan keterampilan kerja tanpa harus membuat atasan semakin merasa terancam.

4. GEMAR PROMOSIKAN DIRI

Waspadai atasan yang getol mencari nama untuk kepentingan dirinya sendiri. Bukan tidak mungkin lho atasan seperti ini akan mengakui prestasi kerja tim atau bawahannya sebagai prestasi pribadi. Sebaliknya, saat ada kesalahan, dia akan membagi rata kesalahan itu kepada seluruh bawahannya. Karena sibuk mencari kesempatan guna mendongkrak popularitasnya, tentu sedikit sekali waktu yang dimilikinya untuk membimbing bawahannya.

Bagaimana harus bersikap?

Temukan cara-cara ampuh guna meningkatkan wibawanya. Aturlah kesempatan-kesempatan yang memungkinkannya mendapat publikasi. Jangan ragu untuk mengulurkan bantuan saat ia menggarap riset. Rekomendasikan beliau untuk mengikuti panel diskusi dan menghadiri berbagai acara pemberian penghargaan. Meskipun mayoritas waktu Anda akan tersita habis hanya untuk menjadi corong bagi popularitasnya, jangan lantas mengabaikan kepentingan diri. Teruslah memperkaya diri, perluas jaringan kerja, dan jangan ragu menyongsong kesempatan besar berikutnya.

5. TIDAK MUMPUNI

Atasan yang tak lebih unggul dibanding bawahannya dalam hal pengetahuan dan kemampuan kerja, sebetulnya memang tak layak ditunjuk jadi pimpinan. Jangan berharap banyak Anda akan mendapat bimbingan dari atasan seperti ini. Bahkan sangat mungkin ia tak punya pengaruh besar di lingkup kerjanya, baik di antara sesama manager, atasan, ataupun rekan kerjanya. Namun sisi positifnya, Anda memiliki kesempatan besar untuk menangani beberapa pekerjaan penting yang menjadi tanggung jawabnya. Selain itu, ada peluang untuk mendampinginya menghadiri pertemuan-pertemuan penting karena atasan model begini biasanya butuh dukungan khusus dari stafnya.

Bagaimana harus bersikap?

Jadilah sumber informasi, baik secara teknis maupun prosedural. Temukan cara-cara elegan untuk mendukungnya. Tanyakan dengan halus apakah ia membutuhkan pendampingan saat harus menghadiri rapat-rapat penting. Bantu dia mempersiapkan presentasi, namun jangan pernah memposisikan diri sendiri terlihat jauh lebih bersinar ketimbang atasan.

Jangan pernah memuji sekadar basa-basi. Perluas jaringan kerja dan biarkan mata Anda tetap terbuka terhadap proyek-proyek penting karena bisa jadi atasan malah tak tahu kalau proyek tersebut sedemikian berarti. Jangan merasa frustrasi atau bersikap apatis lantaran prestasi kerja atasan yang memprihatinkan. Anda justru harus mengerahkan kreativitas untuk mengatasi hal tersebut. sekaligus membina relasi.

Naskah:Theresia Puspayanti

(dimuat dalam majalah SEKAR – edisi 80/12, tgl 4-18 April 2012, rubrik KARIER)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: