CEGAH URUSAN PRIBADI JADI POLUSI

2 Mar

Banyak wanita yang menjalani multiperan: sebagai istri, ibu, pengasuh anak, pengurus rumah tangga, sekaligus pencari nafkah. Tak heran kalau pikirannya jadi kerap terbagi-bagi. Bagaimana agar urusan pribadi tidak mengganggu pekerjaan? Berikut ulasan Theresia Puspayanti.

Sepanjang hari Tita (sebut saja begitu) merasa amat gelisah dan serbasalah. Ia berusaha keras memeras otaknya agar bisa menghasilkan ide-ide kreatif sesuai tuntutan kerjanya sebagai copy writer. Apa boleh buat, pikirannya serasa buntu karena terbelah antara urusan anak dan kantor. Bagaimana tidak? Tadi pagi saat berangkat, anak semata wayangnya mendadak demam tinggi. Tita sudah memberinya obat penurun panas, sudah pula meminta pengasuh membawa si kecil ke dokter. Tetap saja bayangan gadis ciliknya yang rewel sambil sesekali merintih menyebut namanya tak bisa dihapus dari pelupuk matanya. Alhasil, pekerjaannya hari itu jadi terbengkalai.

Kejadian serupa juga dialami Nani (bukan nama sebenarnya). Sudah sejak lama ibu 2 anak ini memanfaatkan kepiawaiannya meracik bumbu dan mengolah aneka bahan pangan menjadi hidangan nan lezat dengan membuka bisnis katering. Sayangnya, ketika bisnisnya melesat, suami tercinta malah berulah. Celakanya, WIL sang suami tak lain adalah chef kepercayaan Nani selama ini. Berbulan-bulan lamanya Nani terpaksa jatuh bangun menata hatinya sambil mencari solusi agar rumah tangganya kembali utuh dan bisnisnya tak gulung tikar.

Pengalaman Tita maupun Nani boleh jadi amat familiar dalam hidup wanita, termasuk Anda. Entah sudah seberapa sering pikiran kita terpecah-pecah antara urusan kerja dan masalah pribadi. Tak perlu kelewat cemas kalau Anda berada dalam posisi mereka. Toh, konflik memang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari setiap individu. Idealnya, kedepankan selalu sikap profesional. Artinya, ketika berada di kantor, tunjukkan prestasi kerja yang maksimal. Sementara selagi di rumah, dedikasikan diri sepenuhnya untuk keluarga.

Di sinilah pentingnya keterampilan menyelesaikan masalah secara efektif agar tak melebar ke mana-mana dan menjadi sedekian ruwet. Ingat, menyelesaikan konflik bukan berarti menihilkan konflik, melainkan sebatas meminimalkan intensitas dan durasi berlangsungnya konflik tersebut. Sebagai panduan, berikut 10 langkah yang perlu dilakukan:

1. Berusaha Fokus

Apa pun masalah yang dihadapi, tetaplah fokus pada masalah tersebut. Jangan melebar ke mana-mana atau mencampuradukkannya dengan masalah lain. Mengungkit-ungkit masa lampau atau kelewat mengkhawatirkan hal-hal yang berlum terjadi hanya akan mematahkan kemampuan untuk melihat kenyataan berupa situasi saat ini. Jadi, cobalah fokus memikirkan apa yang bisa dikerjakan saat ini untuk mengatasi masalah yang ada.

2. Tetapkan Batasan

Konflik muncul karena perbedaan nilai, opini dan kepentingan. Agar tak terombang-ambing, tentukan batasan yang jelas antara kerja dan rumah tangga. Buatlah aturan main secara tertulis lalu patuhilah aturan main tersebut. Ucapkan secara gamblang apa yang  menjadi tujuan Anda bekerja begitu memasuki ruang kerja. Bila tidak, apa pun yang Anda lakukan akan kehilangan arah dan tanpa harapan.

3. Bina Kerjasama

Apa pun profesi kita, setiap individu perlu mengasah kecerdasan emosionalnya. Dengan demikian, di mana pun ia berada dan apa pun masalah yang dihadapinya, ia akan mampu bersikap positif. Sekaligus mampu bekerja sama dengan baik bersama siapa pun. Baik dengan atasan, bawahan, dan sesama rekan kerja selagi di kantor, maupun dengan suami, anak-anak, dan si Mbak saat berada di rumah. Kerjasama yang baik akan menumbuhkan kepercayaan, komunikasi yang akrab dan hangat, semangat kebersamaan yang dijunjung tinggi, kesediaan untuk saling memahami dan berbagi peran.

Dukungan psikologis ini akan menumbuhsuburkan perasaan nyaman yang ujung-ujungnya akan memberi dampak positif terhadap semua aspek.

4. Upayakan Kompromi

Gigihlah dalam mencari titik temu yang dirasa adil bagi semua pihak. Sesekali selipkan humor karena dapat membantu mencairkan suasana hingga solusi bisa lebih cepat ditemukan. Ingat, konflik yang tidak diselesaikan dengan baik, bukan hanya merongrong individu yang bersangkutan, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Orang jadi cenderung menarik diri, menunjukkan agresi yang bukan tidak mungkin mengarah pada depresi. Sebaliknya, bila ditangani semestinya, konflik justru akan membantu orang mengasah kemampuannya berkomunikasi dan mengelola diri.

5. Bersikaplah Profesional

Artinya, jalani dan penuhi tanggung jawab sesuai peran yang kita sandang. Saat berada di tempat kerja, tunjukkan tanggung jawab, loyalitas dan kontribusi Anda pada perusahaan ataupun bisnis yang Anda geluti. Begitu juga saat di rumah. Dengan kata lain, dedikasikan semua potensi yang ada demi pencapaian kinerja optimal dalam situasi apa pun dan di mana pun.

6. Bicara

Saat dilanda konflik, termasuk konflik dengan diri sendiri, yang paling mendesak adalah keinginan untuk bicara dan didengarkan. Dengan bicara, yang bersangkutan akan mengalami katarsis atau pembersihan diri. Proses pembersihan diri ini akan meredakan gejolak emosional, menjernihkan kembali pikiran hingga bisa menemukan solusi lebih mudah dan cepat. Jadi, “bicaralah” pada diri sendiri dan “dengarkan” apa yang menjadi ungkapan hati. Atau cobalah tuliskan apa yang tengah berkecamuk dalam benak Anda. Dari situ Anda bisa melihat secara terinci apa yang menjadi akar masalah dan bagaimana mencari solusinya.

7. Kerahkan Energi Positif  

Tunjukkan kemampuan untuk hidup produktif dengan belajar menempatkan diri secara benar dalam berbagai situasi. Fokuskan seluruh energi yang Anda miliki pada hal-hal positif. Belajarlah mengelola diri agar tak mudah lelah fisik dan psikis. Bila tidak, Anda akan sulit menjadi sosok produktif. Tanpa kemampuan mengelola diri, produktivitas, kreativitas, dan kinerja bakal mandek, bahkan menurun drastis. Kelelahan fisik bisa diatasi dengan istirahat yang cukup dan asupan gizi yang baik. Namun bagaimana dengan kelelahan psikis yang tercipta akibat kekecewaan yang mendalam? Tunjukkan sikap positif dibarengi rasa tanggung jawab yang tinggi. Jangan biarkan sakit hati, perasaan terluka, sedih berkepanjangan menggegrogoti hidup Anda. Singkirkan amarah, ragu-ragu, takut, curiga dan kecenderungan menghakimi. Membiarkan diri hanyut bersama emosi negatif akan menutup akal sehat, hingga hidup Anda justru akan didominasi oleh ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan.

8. Pentingnya Evaluasi

Tumbuhsuburkan kesediaan bersikap introspektif alias kemampuan untuk mengamati dan menilai diri sendiri. Secara teratur, entah seminggu atau sebulan sekali, evaluasi dan perbaiki pola kerja sesuai dengan tuntutan kerja. Jangan abaikan masukan dari bawahan dan bawahan sebagai rekan kerja. Untuk urusan rumah, pertimbangkan masukan dari suami, anak atau anggota keluarga lainnya. Untuk memperbaiki kondisi yang tak mengenakkan, tak perlu tunggu orang lain berubah. Mulailah dari diri sendiri.

9. Kedepankan Sikap Sabar

Apa pun bentuknya, konflik pasti akan sangat melelahkan. Terlebih jika makan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan dan dibarengi dengan emosi tingkat tinggi. Bersikap sabar menghadapi proses pencarian solusi akan sangat menguntungkan Anda maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tunjukkan empati, termasuk pada diri sendiri, karena empati memungkinkan kita melihat situasi secara objektif, bisa memahami sudut pandang yang berbeda, sekaligus mengedepankan pilihan rasional dalam pengambilan keputusan.

10. Pasrah pada Kuasa Illahi 

Ada hal-hal dalam hidup yang solusinya baru ditemukan saat kita berpasrah diri kepada kuasa illahi. Kepasrahan diri ini hendaknya diikuti dengan perilaku hidup yang senantiasa mengobarkan semangat, motivasi, mau bekerja keras dan harapan yang tak kunjung padam.

(dimuat dalam majalah SEKAR – edisi 85/12, tgl 13-27 Juni 2012, rubrik KARIER)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: