KALA KATA JADI SENJATA

2 Mar

Disadari atau tidak, perkataan istri bisa meruntuhkan harga diri suami, begitu juga sebaliknya. Ujung-ujungnya, kelangsungan hidup perkawinan pun terancam. Karena itu,  berhati-hatilah saat bicara.

“Mana tanggung jawab Papa sebagai kepala keluarga?” “Gaji cuma segini, mana cukup buat belanja dan beli susu anak-anak?” ”Seharian di rumah memangnya Mama  ngapain aja sih? Anak enggak keurus, rumah juga berantakan begini!”

Kalau Anda penggemar tayangan sinetron, boleh jadi telinga  cukup akrab dengan kalimat-kalimat bernada keras seperti itu yang diucapkan oleh istri atau suami ketika mereka sedang dikuasai emosi. Umpatan, makian, hujatan dan sejenisnya seolah menjadi bagian dari keseharian mereka. Mirip seperti itu jugakah kehidupan Anda sebagai pasangan suami istri? Jika ya, tak ada kata terlambat untuk segera bebenah diri. Kalau Anda merasa pernah melontarkan kata-kata serupa, segeralah minta maaf pada suami sekaligus berjanji padanya dan pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi di lain waktu.

“Mengapa? Tak lain tak bukan karena kata tak ubahnya seperti pedang yang amat mematikan. Sekuat atau setegar apa pun penampilan seorang suami, kata-kata keras/pedas yang dilontarkan istrinya pasti akan sangat menusuk hati dan melukai harga dirinya,” ujar psikolog Ratih Ibrahim, MM, M.Psi.

Karena itulah, Ratih mengingatkan, kita harus super hati-hati dengan kata-kata yang kita ucapkan, terutama kepada pasangan. Bila tak bijak menggunakannya, kata-kata yang kita ucapkan malah bisa menjadi pedang yang mematikan. Seperti kata pepatah: Mulutmu adalah harimaumu.

Bukan cuma itu. Bagaimana cara kita menyampaikannya juga ikut berpengaruh. Jika diucapkan dengan kasih, kalimat yang sama-sama keras akan terdengar berbeda dengan yang  semata-mata memang diniatkan untuk menyerang dan menjatuhkan pasangan. Kata-kata yang diucapkan saat marah sekalipun, bila disertai rasa cinta, nadanya tidak terdengar sebagai pelecehan yang  menyakitkan, melainkan tampil sebagai kritik yang membangun. Nah, kitalah yang tahu persis apa niat sebetulnya yang terbungkus dalam kata-kata yang kita ucapkan kepada suami.

KENDALIKAN DIRI

“Maklum deh, aku kalau lagi emosi memang suka meledak-ledak begitu dan susah dibendung.” Begitu kalimat pembenaran diri yang kerap kita dengar. Sesekali mungkin sah-sah saja, namun sebagai manusia dewasa tentu tidak sepantasnya bila kita selalu berlindung di balik ketidakmampuan mengontrol diri kala tengah dilanda emosi.

Ego dan superego mestinya memampukan kita mengendalikan diri untuk tetap berkepala dingin meski hati sedang bergolak. Pengendalian diri ini sendiri merupakan proses yang membutuhkan effort dan waktu. Kalau kali ini gagal, niatkan lagi untuk memperbaikinya di lain waktu. Begitu seterusnya. Ratih yang juga pendiri biro psikologi Personal Growth, menyarankan agar kita meninjau kembali apa tujuan kita memasuki gerbang pernikahan. Bila ingin meleburkan diri sebagai partner, landasan utamanya pasti trust, love, dan keinginan untuk tumbuh bersama.

Suami istri yang rajin memupuk rasa saling percaya, tipis kemungkinan akan gampang saling curiga dan menimpakan kesalahan pada pasangan. Begitu juga kalau keduanya senantiasa tumbuh dalam perasaan saling cinta, bisa dipastikan mereka emoh hitung-hitungan  apa yang sudah diperbuatnya dan apa yang harus ia dapatkan sebagai imbalan.

Sama halnya bila suami istri mendasarkan diri pada keinginan untuk tumbuh bersama. Mereka  akan menyadari dirinya tidak lebih unggul dari pasangan. Jika ketiga aspek tadi terpenuhi, kata-kata yang terucap pun akan tetap terdengar enak dan tidak menyinggung perasaan pasangan. Sebagai partner, suami istri tidak akan saling menyalahkan, mencela, atau bahkan menjatuhkan harga diri pasangan jika suatu ketika masalah muncul dalam kehidupan perkawinan.

KENALI PASANGAN

Tentu saja kita pun tidak perlu menutup mata pada kenyataan bahwa tidak ada perkawinan sempurna. Tak ada suami istri yang selama menikah hanya mengucapkan kata-kata manis belaka tanpa pernah ribut. Kata-kata pedas dan keras pasti ada sesekali. Yang perlu diperhatikan adalah intensitasnya, seberapa sering kata-kata yang meruntuhkan harga diri muncul.

Memang tidak ada patokan baku seberapa banyak atau seberapa sering kata-kata keras yang bisa ditolerir dalam perkawinan. Jika sesekali tentu masih “wajar” meski dianjurkan segera mencari waktu untuk bicara, membenahi komunikasi suami istri. Sedangkan bila sudah menjadi “makanan” sehari-hari, tentu saja mengkhawatirkan. Segeralah minta bantuan ahli untuk membantu menanganinya.

Selain itu, sesuaikan materi  yang hendak kita sampaikan dengan kondisi pasangan. Di sinilah pentingnya mengenali kepribadian pasangan secara mendalam. Istri yang berkepribadian lembut, tentu akan langsung terkejut bila dihujani kalimat keras. Sementara kepada suami yang “bermuka badak” boleh jadi tak akan mempan bila istri menyampaikan pesan dengan nada biasa. Tanpa berbekal pengenalan mendalam, apa yang hendak kita kemukakan justru tidak sampai pada pasangan atau malah membuat relasi suami istri semakin jauh. Setiap individu diharapkan lebih mengenali diri sendiri sekaligus mengenal pasangan, termasuk apa yang dibutuhkan pasangan dan apa yang berkenan di hatinya.

YANG BERPOTENSI RUNTUHKAN HARGA DIRI

# Membanding-bandingkan

Dalam setiap perkawinan akan selalu muncul ketidakpuasan. Ingat-ingat kembali tujuan perkawinan. Bukankah kita sama-sama sepakat dan berkomitmen untuk bertanggung jawab membangun keluarga? Tumbuhkan kesadaran untuk menjembatani ketidakpuasan yang muncul. Sampaikan masalah secara langsung kepada pasangan tanpa harus membanding-bandingkan keterbatasannya dengan orang lain.

# Banyak Menuntut

Manusiawi sekali kalau muncul berbagai ketidakpuasan dalam relasi perkawinan. Siasati kondisi ini dengan lebih banyak bernegosiasi yang menawarkan solusi yang menguntungkan kedua belah pihak, ketimbang memaksakan kehendak sendiri. Ingat, suami istri adalah partner, bukan atasan dan bawahan. Kedepankan apa kesalahan masing-masing kemudian berupaya memperbaikinya. Kedepankan apa yang bisa dilakukan masing-masing pihak, dan bukan malah membesar-besarkannya tanpa fokus mencari solusi.

# Terlalu bergantung

Sesekali manja mungkin membuat pasangan merasa dibutuhkan. Namun bila sepanjang waktu “menggantungkan nasib” tentu akan menimbulkan masalah. Di sinilah pentingnya pemahaman tentang hubungan suami istri. Keduanya, sebagai partner, harus sama-sama aktif berperan membangun perkawinan.

# Gampang curiga

Kebiasaan negatif ini akan muncul bila tidak ada lagi kepercayaan. Membangun kepercayaan haruslah dilakukan terus-menerus oleh kedua belah pihak. Begitu rasa percaya tercoreng, butuh waktu panjang dan energi ekstra untuk membangun kembali. Itulah mengapa pihak yang dicurigai harus berusaha keras menunjukkan kepada pasangan bahwa dirinya memang bisa dipercaya. Sementara pasangannya pun tak boleh malas belajar menaruh kepercayaan pada pasangan.

# Gemar merajuk

Kebiasaan ini hanya cocok dilakukan kanak-kanak untuk menarik perhatian atau mendapatkan apa yang diinginkannya. Awalnya, mungkin istri atau suami berhasil memanfaatkan pasangannya dengan megandalkan kebiasaan ini sebagai “senjata”. Agar pasangan mau mendengarkan apa yang hendak kita sampaikan, bersikaplah dewasa. Kenali pasangan dan binalah komunikasi secara sehat, bukan dengan merajuk.

# Rajin mengomel

Kebiasaan yang satu ini lazimnya didasari atas ketidakmampuan berkomunikasi, tepatnya kurang mampu bersikap asertif. Asertif artinya mampu menyampaikan pendapat dengan tegas, tenang, tanpa emosi atau marah-marah. Jika yang dilakukan malah sebaiknya, apa yang hendak dikemukakan malah tidak sampai.

Naskah:Theresia Puspayanti

(dimuat dalam majalah SEKAR – edisi 78/12, tgl 7-12 Maret 2012,  rubrik CINTA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: