KETIKA HARUS MENAMPUNG MERTUA

2 Mar

Relasi mertua dengan menantu kerap diwarnai ketidakharmonisan. Karena itulah, banyak orang yang tidak ingin tinggal satu rumah dengan mertua atau menantunya. Tapi, bagaimana jika hal itu tak bisa dihindari lagi? Simak ulasan Theresia Puspayanti.

“Tinggal sama mertua? Hmm… makasih deh!” Begitu penolakan halus yang kerap diucapkan para menantu ketika kepadanya dilontarkan ide untuk tinggal serumah dengan mertua. Sejak dulu kala sampai saat ini, hubungan antara menantu dan mertua memang sering digambarkan tidak harmonis dan rentan masalah.Terutama antara mertua perempuan dengan menantu perempuan. Karena itulah, jika ada pilihan, banyak orang yang lebih memilih tinggal terpisah dari mertuanya.

Hal tersebut dibenarkan psikolog Denrich Suryadi, M.Psi.,Psi. Namun kenyataannya, tidak selamanya itu bisa dihindari. Ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat Anda,  sebagai menantu perempuan,  dianjurkan atau bahkan wajib mengajak sang mertua tinggal bersama.

Kondisi tersebut, lanjut psikolog klinis yang juga PUDEK I Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta, ini di antaranya jika mertua masih dalam keadaan terguncang karena pasangannya baru saja berpulang. Atau sang mertua sudah tinggal sendiri dan tempat tinggalnya sangatjauh, bahkan beda kota, sementara tak ada kerabat dekat yang bisa dipercaya untuk ikut menjaga. Terlebih lagibila kondisi fisik mertua sangat mengkhawatirkan, semisal sudah lanjut usia dan memiliki sejumlah penyakit yang mengganggu mobilitasnya, seperti demensia atau pikun, jantung, stroke dan sebagainya.

Agar tinggal serumah bersama mertua tidak menjadi duri dalam daging bagi relasi suami-istri,  ada sejumlah rambu yang patut disimak guna meminimalkan masalah yang berpeluang muncul.  Berikut beberapa di antaranya:

– Suami-istri hendaknya lebih dulu sepakat akan berusaha selalu satu suara alias seia-sekata ketika diterpa masalah apa pun. Dalam hal ini baik suami maupun istri sebaiknya tahu persis apa kebutuhan dan keinginan pasangannya maupun kebutuhan dan keinginan orangtua atau mertua.

– Suami harus konsisten. Artinya, jangan sampai di depan istrinya dia bilang A, sementara saat berhadapan dengan orangtuanya sendiri yang notabene adalah mertua bagi istrinya, ia mengatakan hal lain yang justru berseberangan. Suami juga harus berani tampil sebagai pengambil keputusan, tentunya setelah berkompromi dengan istri.

– Suami harus mampu bersikap tegas dan berani berdiri di tengah membela kepentingan anak dan istrinya sekaligus mencitrakan keluarga intinya tetap positif di mata siapa pun, termasuk di hadapan orangtua dan mertua.

– Suami harus bisa membawakan dirinya sebagai juru bicara keluarga. Sebagai juru bicara, ia harus memiliki kemampuan atau keterampilan berkomunikasi yang baik. Dengan demikian, saat menghadapi konflik sehebat apa pun, ia bisa menyuarakan permasalahan dengan jelas dan menyampaikan alternatif solusi secara komunikatif dengan tetap mengedepankan kesopanan dan sikap menghargai orangtua.

– Kalau suami termasuk pribadi yang cuek, bukan pengambil keputusan jitu, dan bukan pula sosok yang komunikatif, menantu boleh tampil mewakili suami sebagai juru bicara dan penengah, terlebih bila relasi menantu-mertua selama ini sudah terjalin sedemkian baik.

– Bila mertua pada dasarnya termasuk sosok “rewel”, suami harus memberi dukungan luar biasa pada istri. Ia harus cerdas menengahi semua masalah yang muncul tanpa membela istri maupun orangtuanya secara frontal dengan menyalahkan salah satu pihak.

– Jika mertua perempuan termasuk tipe otoriter, boleh jadi ia akan merasa lebih berhak tinggal di rumah kita, meski rumah itu milik pribadi (bukan rumah keluarga). Jika sang menantu “hanya” ibu rumah tangga yang tidak bekerja, bukan tidak mungkin mertua malah menganggap menantunya hanya orang luar yang nebeng tinggal di rumah anaknya. Dalam kondisi seperti ini, suami harus selalu siap menjadi sosok sentral yang bisa bersikap tegas sekaligus bijak.

– Pahami bahwa ketika memutuskan menikah dengan suami, Anda berarti juga menyatakan kesediaan untuk “menikah” dengan keluarga besarnya. Maklumi pula kalau di usia tua, orangtua umumnya “kembali” bertingkah layaknya anak kecil.

– Maklumi saja jika mertua merasa diri sok tahu dan merasa lebih berpengalaman dalam mengurus dan mendidik anak. Agar tak menyisakan sakit hati dalam diri mertua, tetaplah bersikap manis. Kalaupun ada perbedaan prinsip yang mendasar dalam mendidik anak, kemukakan prinsip Anda menggunakan bahasa yang santun.

– Sangat mungkin mertua menganggap anak-anak Anda yang tak lain adalah cucunya. Sikap ini tentu wajar tapi bisa berakibat kurang baik. Sampaikan secara bijak pada beliau bahwa anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab orangtua, bukan mertua. Tapi, katakan juga bahwa kita sangat terbuka pada setiap masukan yang diberikan,  selama itu untuk kebaikan si anak.

– Sampaikan di awal mengenai kondisi umum keluarga Anda saat mengajak mertua masuk lebih dalam sebagai “anggota keluarga” di situ. Contohnya, “Rumah kami lebih kecil dari rumah Mama, jadi mungkin terlihat sumpek dan agak berantakan. Terus jam-jam tertentu anak-anak juga aktif bermain, jadi mungkin nanti agak berisik.” Intinya, kedepankan selalu komunikasi dan kompromi,  demikian tegas Denrich.

– Bahas juga kebiasaan-kebiasaan hidup yang sangat mungkin berbeda. Contohnya, soal pengaturan rumah maupun regulasi waktu. Jangan sampai mertua nyinyir menganggap menantunya yang terbiasa bangun jam 7 sebagai perempuan malas. Padahal bisa jadi pekerjaan menuntut kita beberapa hari harus pulang lewat tengah malam. Jika tidak dijelaskan, mertua tidak akan mengerti.

– Kebiasaan berpakaian juga kerap memicu konflik. Sebenarnya sah-sah saja bila selama di rumah menantu mengenakan celana pendek. Tapi karena tidak terbiasa, bisa jadi mertua menganggapnya tak sopan. Jika ditegur, menantu tak perlu langsung emosi.  Jelaskan saja baik-baik bahwa “kostum”itu sangat nyaman dan praktis kala harus menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah tangga.

– Kebutuhan finansial mertua yang akan tinggal bersama kita juga perlu dipikirkan, terlebih dana pemeliharaan kesehatannya. Bila masalah ini jadi kendala, tak perlu sungkan untuk sedikit “hitung-hitungan” dengan saudara kandung lain. Ini akan lebih baik daripada di kemudian hari merasa sungguh terbebani dan sakit hati yang ujung-ujungnya berdampak pada tidak primanya “pelayanan” terhadap mertua.

– Seperti apa pun karakter mertua, lazimnya menantulah yang diharapkan atau dituntut untuk lebih menyiapkan mentalnya tampil sebagai sosok yang selalu bersedia mengalah. Jadi, sejengkel apa pun, cobalah terus bersabar menghadapi mertua yang juga mesti kita anggap sebagai orangtua sendiri.***

(dimuat dalam majalah SEKAR – edisi 84/12, tgl 30 Mei-13 Juni 2012,  rubrik Anda & Keluarga)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: