SUAMI ISTRI SATU KANTOR

2 Mar

Ada banyak keuntungan yang sebetulnya bisa ditangguk suami istri kala bekerja di satu perusahaan. Tapi,  untuk bisa mendapatkan hal tersebut dibutuhkan sikap dan strategi tertentu.  Berikut ulasan lengkapnya.

Saat ini banyak perusahaan yang menerapkan aturan suami istri tidak boleh satu kantor.  Meski begitu,  tak sedikit juga yang mengizinkan. Banyak keuntungan yang bisa didapatkan jika kita bekerja di satu perusahaan dengan suami. Salah satunya hemat ongkos karena bisa berangkat bersama.  Selain itu ada rasa nyaman karena bekerja dengan orang yang sudah sangat dipercaya.

Namun,  konsekuensinya juga  tidak  ringan. Demikian dijelaskan Sandi Kartasasmita,M.Psi., psikolog dari Universitas Tarumanagara, Jakarta. “Salah satunya yang paling merisaukan adalah saat perusahaan gulung tikar. Dengan begitu, suami istri sama-sama kehilangan sumber penghasilan. Hal ini tentu akan sangat merugikan perekonomian keluarga,” ungkap Sandi.

Selain itu, suami istri sekantor kerap “dicurigai” bersekongkol menggerogoti ekonomi kantor. Pasangan yang bekerja satu kantor juga sering dianggap lebih menguntungkan karena gampang “mengawasi” suami atau istri. “Yang jadi pertanyaan, untuk apa merasa perlu ‘mengawasi’ pasangan? Mengapa pula harus merasa dimata-matai? Jadi, rasanya tidak pas jika ‘kemudahan’ mengamati pasangan dianggap sebagai keuntungan,” tegas Sandi.

PERLU DIPERHATIKAN

Banyak hal yang harus diperhatikan saat suami istri bekerja di perusahaan yang sama. Berikut beberapa di antaranya:

# Setiap karyawan dituntut untuk tetap menjunjung profesionalisme kerja sekalipun status mereka sebagai suami istri. Saat di kantor, bicarakan urusan pekerjaan saja, meski wajar dan manusiawi bila sesekali terselip pembicaraan soal anak atau urusan rumah tangga. “Tapi sebaiknya di jam-jam kerja, jangan ganggu pasangan dengan hal remeh temeh seputar keluarga. Pendek kata, selama jam kerja fokuskan seluruh atensi dan kemampuan diri untuk bekerja dengan baik dan benar,” ujar Sandi.

# Bedakan peran di tempat kerja dan di rumah. Artinya, kalau istri kebetulan menduduki jabatan lebih tinggi di kantor, selama di kantor suami tetap harus menaruh hormat kepada istrinya, sesuai budaya kantor yang berlaku. Pandai-pandailah membawa diri tanpa perlu mengumbar kemesraan di depan rekan-rekan kerja.

# Tak sedikit prahara yang muncul di lingkup kantor kala suami menganggap konflik istri tercinta dengan atasan atau rekan kerja terkait pekerjaan, otomatis menjadi konflik pribadinya. Padahal sebagai sesama karyawan, suami tetap harus mampu bersikap obyektif, hingga sama sekali tidak dibenarkan ikut-ikutan meledak marah atau langsung berpihak pada istri tanpa berusaha mencari tahu duduk persoalan yang sebenarnya. “Ingat, cinta pada pasangan tidak berarti membelanya secara membabi buta. Bila pasangan terbukti sebagai penyebab masalah, jangan ragu menasihatinya. Tentu saja tidak serta merta di depan umum yang akan membuatnya merasa dipermalukan,” tegas Sandi.

# Boleh jadi akan lebih efektif saat suami istri menangani pekerjaan bersama mengingat mereka sudah lebih saling mengenal dibanding rekan kerja lain. Namun, harus dipertimbangkan juga kemungkinan terburuk bila terjadi sesuatu di antara mereka. Contohnya proyek berantakan gara-gara mereka kelewat melibatkan emosi dan hati.

PERANGI RASA BOSAN

Salah satu konsekuensi kerja satu kantor dengan pasangan adalah rasa bosan mengingat kebersamaan suami istri begitu intens. Di rumah, di kantor, maupun selama perjalanan pergi dan pulang kantor hampir selalu bersama.

Bila dianalogikan dengan makanan, kita tentu akan bosan jika harus menikmati soto setiap hari. Namun, rasa bosan itu bisa berkurang jika kita kreatif. Misanya, memberi garam, menambahkan sambal, atau memodifikasinya dengan bahan lain.

Begitu juga bila kebosanan pada pasangan melanda. Carilah cara-cara produktif untuk mengatasinya. Misalnya, menyediakan waktu khusus untuk mencari kesenangan bersama tanpa menyertakan urusan kantor maupun rumah tangga. Yang perlu diperhatikan juga, jangan langsung meradang saat mendengar pasangan mengutarakan kebosananannya. Untuk apa marah? Bukankah lebih baik mencerna pernyataannya dengan bertanya, “Kenapa sampai bosan?” tanpa harus dibarengi dugaan-dugaan buruk.

Yang tak kalah penting untuk diingat, bekerja bersama suami bukan berarti jadi menutup diri dari teman-teman. Sesekali perlu juga pergi bersama rekan lain tanpa harus mengikutsertakan pasangan. Toh, niatnya baik, yaitu mencari penyegaran, bukan untuk berbuat macam-macam. “Selingan semacam itu diperlukan untuk mencegah munculnya kebosanan. Jadi, lakukanlah sesekali,” saran Sandi.

EKSIS SEBAGAI REKAN BISNIS

Ada perbedaan mendasar antara suami istri yang sama-sama bekerja di satu perusahaan dengan mereka yang membangun bisnis bersama. Kendati  sama-sama seatap, menjalankan bisnis bersama merupakan pilihan, bukan keharusan, hingga sifatnya jauh lebih luwes. Mereka sendirilah yang mengatur berbagai kesepakatan mengenai usaha yang digeluti.

Sedari awal jangan ragu untuk memanfaatkan jasa notaris agar jelas aturan mainnya di mata hukum dan bagaimana pembagian tugas dan wewenang masing-masing. Secara tidak tertulis, tegaskan suami adalah suami, istri adalah istri, namun bisnis tetaplah bisnis. Dengan demikian bila terjadi hal yang tidak mengenakkan, tidak akan berimbas pada relasi mereka sebagai suami istri. Kalaupun perusahaan bangkrut, hanya perusahaanlah yang diakhiri dan bukan kesatuan mereka sebagai keluarga.

Di sinilah pentingnya kemampuan membedakan peran. Kalau suami istri bisa sampai pada tahap pemikiran seperti ini berarti tak ada ganjalan untuk memulai bisnis bersama. Namun sekiranya belum bisa seperti itu, salah satu harus mengalah untuk berada di luar lingkaran bisnis. Cukup posisikan diri sebagai konsultan atau sebatas penyemangat yang tidak nyemplung secara langsung.

Pembagian kerja dalam bisnis bersama pun hendaknya berdasarkan kompetensi. Jadi, bukan mengangkat suami sebagai pimpinan hanya karena ia kepala keluarga. Atau istri ditunjuk sebagai direktur utama lantaran menyumbangkan modal terbesar. Sejak awal, pikirkan matang-matang siapa yang tepat sesuai kemampuan menjalankan roda perusahaan. Suami yang teliti soal keuangan, contohnya, mengapa tidak ditempatkan sebagai direktur keuangan . Sementara bila istri memiliki social networking yang luas bisa diberdayakan sebagai direktur pemasaran yang akan mensosialisasikan perusahaan sekaligus mempromosikan produk mereka. Kalau penempatan SDM tidak berdasarkan kompetensi, bisnis sulit berkembang lebih maksimal.

Yang juga patut diingat, tak ada seorang pun yang ingin merugi. Seandainya perusahaan merugi, hendaknya jangan saling menyalahkan, melainkan justru sama-sama belajar memperbaiki langkah demi bisnis mereka di masa depan. Begitu juga bila di tengah jalan terjadi konflik. Ingat, konflik biasa dan bisa terjadi di mana saja, tinggal bagaimana kita menyikapinya guna mencapai sesuatu yang lebih baik. Dalam bisnis, grafik naik turun itu lumrah kok. Jangan berharap langsung dapat untung besar.

Jadikan dua tahun pertama sebagai momen penancapan pondasi. Fokuslah mengerahkan segala upaya menggerakkan roda bisnis. Jangan lupa,  siapkan tabungan untuk menghidupi keluarga,  sekaligus mental baja menghadapi masa-masa tanpa kepastian.

(dimuat dalam majalah SEKAR – edisi 79/12, tgl 21 Maret-4 April 2012, Rubrik CINTA)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: