12 TANDA PERNIKAHAN BERMASALAH

10 Mar

Banyak orang yang  merasa tiba-tiba saja hubungannya dengan pasangan sudah di ujung tanduk. Sebenarnya, tidak ada yang “tiba-tiba”.  Perkawinan yang bermasalah didului dengan tanda-tanda. Simak beberapa di antaranya.

Banyak tanda yang menunjukkan adanya masalah dalam pernikahan. Sayang, tidak semua individu menyadari kemunculan “bahaya” tersebut. Henny Wirawan, Psi., M.Hum., Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, mengulas 12 tanda yang harus dicermati dalam perkawinan.

1. KOMUNIKASI MACET

Perkawinan bahagia selalu ditunjang oleh komunikasi yang efektif. Suami istri dengan leluasa bisa membicarakan berbagai persoalan, memahami apa yang dikemukakan pasangan, peka terhadap perasaan dan kebutuhan pihak lain, sekaligus mampu menggunakan komunikasi nonverbal maupun komunikasi verbal. Sebaliknya, dalam pernikahan bermasalah, pasangan cenderung menyalahartikan pesan-pesan verbal maupun nonverbal secara negatif. Ketika komunikasi macet, maka kenyamanan bersama pasangan pun jadi berkurang. Tak heran kalau suami istri tak lagi ngobrol sebelum tidur, dan tak lagi peduli terhadap keluhan ataupun sapaan pasangannya.

2. PERUBAHAN DRASTIS

Coba amati, adakah yang berubah drastis dalam diri pasangan? Hidup perkawinan memang penuh dinamika dimana tiap individu juga mengalami perubahan dan perkembangan. Akan jadi masalah bila salah satu pihak tak lagi mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan selera , contohnya. Akan jadi masalah bila di meja makan tersaji sayur lodeh dengan lauk tahu dan tempe bacem saat suami yang seleranya kini beralih kebarat-baratan. Istri yang sudah bersusah payah tentu merasa tidak dihargai, sementara suami menganggap istrinya kampungan.

3. TAMPIL NECIS

Tak ada salahnya pula untuk waspada kala suami yang biasanya tampil biasa-biasa saja atau bahkan cenderung slebor, kini mendadak selalu tampil necis dan rajin mengoleksi wewangian tubuh. Tentu saja tak perlu sampai curiga berlebih. Amati apakah perubahan soal penampilan ini terkait dengan tuntutan jabatan maupun status sosial atau tidak. Jika karena jabatan dan status sosial menuntut seseorang untuk lebih serius mematut diri, tentu tidak ada patut dicurigai.

4. PENUH KEBOHONGAN

Kebohongan kerap dimaksudkan oleh yang bersangkutan untuk melindungi konsep diri. Agar konsep dirinya sebagai pekerja sekaligus kepala keluarga tetap baik di mata istrinya, sangat mungkin seorang suami akan mengaku ada rapat atau ada pekerjaan tambahan di kantor selagi ia sebenarnya tengah intens menjalin relasi dengan WIL-nya. Pasangan suami istri dapat terhindar dari kebohongan satu sama lain bila masing-masing pihak memiliki komitmen untuk senantiasa menjaga ikatan perkawinannya sekaligus memberi rasa aman terhadap pasangannya.

5. HOBI MAIN RAHASIA

Pihak suami atau istri yang hati dan pikirannya tak lagi tercurah pada keluarganya umumnya jadi gemar main rahasia. Ketika istri mendekat, contohnya, suami segera meminimalkan layar komputer atau langsung menutup pembicaraan di ponsel. Jika “dikejar” lebih jauh mengapa ia langsung mengakhiri semua aktivitas tadi, yang bersangkutan biasanya akan menghindar. Bukan tidak mungkin ia malah marah-marah dan balik menuduh istri kelewat curiga, terlalu mau ikut campur urusan suami.

6. PENUH DENGAN KETIDAKSETUJUAN

Coba cermati apakah sepanjang waktu suami/istri hampir selalu terang-terangan menyatakan ketidaksetujuan atau ketidaksepahamannya dengan Anda. Anda jadi kerap merasa selalu salah di matanya tanpa bisa menemukan apa sebetulnya kesalahan yang telah Anda dilakukan.

7. MENJAGA JARAK

Kalau semula kontak fisik terasa nyaman, kini salah satu atau bahkan keduanya menunjukkan gelagat tak nyaman setiap kali didekati, entah sekadar untuk menyapanya atau membicarakan hal tertentu terkait dengan keluarga.

8. TAK PEDULI PENAMPILAN

Seseorang bisa dikatakan tidak menghargai pasangan hidupnya kalau ia terbiasa tampil elegan hanya di luaran, sementara di rumah justru berpakaian seadanya. Padahal relasi perkawinan menyandarkan diri pada keintiman, kelekatan, sekaligus kepedulian terhadap kesejahteraan pihak lain. Jadi,  perlu dipertanyakan jika ada yang tak peduli dengan penampilannya.

9. BERSIKAP MASA BODOH

Idealnya, dalam perkawinan kedua belah pihak saling berusaha untuk mememuaskan kebutuhan psikologis pasangannya. Bersikap masa bodoh berarti meminimalkan kesediaan untuk saling berbagi dalam melakukan berbagai aktivitas. Contohnya, kalau dulu istri mengeluh pusing sedikit saja, suami langsung heboh mencarikan obat. Kini istri sudah tergeletak sakit pun, suami tak kunjung merawat.

10. HUBUNGAN INTIM SEMAKIN JARANG

Yang dulu mungkin minta jatah siang dan malam atau bahkan tiga kali sehari seperti minum obat, kini belum tentu seminggu sekali. Tentu saja penurunan frekuensi hubungan intim sebaiknya dijadikan penanda kesekian untuk mencermati apakah perkawinan tengah bermasalah atau tidak. Pasalnya, harus diperhatikan juga faktor usia. Makin lanjut usia seseorang, makin berkurang energinya sehingga aktivitas berintim-intim sangat mungkin menurun frekuensinya.

Tapi tentu ada pwerbedaan mendasar jika dibandingkan dengan pasangan yang berkonflik. Suami istri yang perkawinannya tidak bermasalah ini masih tetap mampu menunjukkan keintiman dengan cara-cara lain. Misalnya, mereka tetap mesra menyapa, saling memandang penuh gelora cinta, tak sungkan berpelukan dan bergandengan tangan ketika berjalan bersama, tidak segan mencium secara spontan. Sedangkan pasangan yang bermasalah akan enggan mengekspresikan cintanya dengan beragam cara sederhana itu.

11. MENOLAK PASANGAN

Persediaan alasan dalam kehidupan pasangan yang tengah bermasalah lazimnya melimpah ruah. Ada saja alasan untuk menolak pasangan hidupnya. Entah sedang capeklah, lagi banyak pekerjaanlah, repotlah dengan urusan anak, dan segudang alasan lain yang tentu saja diupayakan terdengar masuk akal. Penolakan ini umumnya dilakukan karena yang bersangkutan sudah menemukan minat tinggi terhadap kehidupan di luar keluarganya. Tak heran kalau yang bersangkutan jadi sungguh merasa sangat tidak nyaman saat bersama pasangan atau keluarganya. Yang bersangkutan akan berusaha selalu menghindar kala pasangan mencoba mengajaknya bicara, atau baru mendekat sekalipun. Bahkan ia pun menolak diladeni atau menerima kebaikan pasangannya.

12. JALAN SENDIRI

Istilahnya lu-lu, gue-gue. Kalau dulu selalu seiring sejalan berangkat atau pulang kantor sama-sama, kini memilih pulang duluan atau belakangan asalkan tidak bersama pasangan. Kalau kecenderungan jalan sendiri-sendiri ini disertai deengan penurunan dalam segala aspek, semisal rasa hormat plus penghargaan kepada pasangan, jelaslah bahwa pernikahan mereka memang bermasalah. Umumnya, pasangan yang awet akan menganggap pasangannya sebagai sehabat terbaiknya.

Perlu digarisbawahi, banyak faktor yang bisa menjadi sumber masalah dalam perkawinan. Siapa pun tak akan lepas dari kemungkinan mengalaminya. Bagaimanapun,  ada dua orang dengan dua latar belakang yang dipersatukan dalam sebuah keluarga. Pastilah, ada hal-hal yang perlu penyesuaian dan kesepakatan.

Konflik tidak akan menjadi masalah besar bila dapat dikomunikasikan dengan baik. Bisa jadi ada pihak yang harus mengalah, namun tidak menutup kemungkinan kedua belah pihak harus bersedia menurunkan standar, duduk bersama, berdiskusi, lalu mengambil keputusan dari suatu perundingan yang mendalam.

Teks:  Theresia Puspayanti

(dimuat dalam majalah SEKAR – edisi 75/12, tgl 25 Januari-8 Februari 2012, rubrik ANDA & KELUARGA)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: