PENTINGNYA ROMANTISME DALAM PERKAWNAN

10 Mar

Salah besar kalau menganggap romantisme hanya milik muda-mudi yang tengah dimabuk cinta. Pasangan suami istri pun wajib memelihara romantisme, tanpa memandang berapa lama sudah menikah. Ingin tahu cara memelihara keromantisan itu? Berikut rangkuman Theresia Puspayanti.

Menurut psikolog Rieny F. Hasan, dalam teori cinta, romantisme masuk dalam kategori passionate love. Romantisme merupakan serangkaian aksi nyata untuk merefleksikan rasa cinta dan care atau kepedulian satu sama lain. Passionate love sendiri dibangun oleh 3 elemen utama, yakni kedekatan fisik, kenyamanan psikologis, dan caring for need of each other atau kepedulian untuk saling memperhatikan kebutuhan pasangan.

Ketiga elemen inilah yang membuat romantisme tetap bisa dirasakan oleh masing-masing pihak, sekalipun mereka sesekali tengah berjauhan atau tidak sedang bersama-sama. Dengan kata lain, mustahil mempertahankan romantisme perkawinan jika suami-istri tak lagi saling peduli dan tak lagi saling memiliki kebutuhan untuk berdekatan secara fisik. Banyak prasyarat yang dituntut untuk membangun romantisme. Kejujuran salah satunya. Omong kosong kalau suami istri berharap bisa membangun romantisme dalam rumah tangganya, sementara di saat bersamaan salah satu atau bahkan keduanya saling mengumbar kebohongan. Tanpa kejujuran, yang ada dalam perkawinan hanyalah kepalsuan dan kemunafikan.

Bisa saja di depan publik mereka terlihat romantis, obral kemesraan dengan saling menyapa menggunakan sebutan honey atau darling. Namun, itu semua hanya bersifat artifisial karena di luar bukan tidak mungkin masing-masing punya tambatan hati sendiri-sendiri. Secara psikologis, relasi suami istri seperti ini tentu saja tidak sehat. Apalagi ditambah dengan kegemaran memendam amarah dan membiarkan konflik berkepanjangan.

ESENSI PERKAWINAN

Sejatinya, romantisme sebagai bentuk perwujudan kepedulian satu sama lain menjadi esensi sebuah perkawinan. Bila kepedulian hanya muncul sepihak atau cuma istri atau suami, relasi mereka pasti hanya mengedepankan azas pemanfaatan. Seyogianya suami istri harus bersedia untuk refleksi diri apa komitmen mereka saat memasuki gerbang perkawinan. Termasuk mempertanyakan kembali apa niat mereka sewaktu memutuskan untuk melangsungkan perkawinan. Sebatas memenuhi target, cemas dikejar usia, cari amannya saja, sekadar menutup malu, atau memang benar-benar tulus mencintai pasangan.

Selanjutnya, jabarkan komitmen tadi dalam keseharian berupa langkah-langkah nyata yang harus mereka upayakan agar perkawinan langgeng. Yakni harus senantiasa mencoba memahami pasangannya sekaligus menjadikan pasangann sebagai pusat perhatian atau centre of attention. Pemahaman inilah yang semestinya menjadi akar dari terciptanya kepedulian dan romantisme.

Sayangnya, begitu perkawinan diramaikan oleh kehadiran si buah hati, perhatian dan waktu istri seolah terkuras habis hanya tertuju pada si kecil. Akibatnya? Suami jadi merasa terabaikan. Coba perhatikan, begitu banyak bukan istri yang beralasan tak punya waktu lagi untuk suami gara-gara repot ngurus anak. Mungkin kita salah satunya.

Padahal, alasan klise ini sama saja dengan mengumumkan pada dunia bahwa sejak kehadiran si Kecil, suami tak lagi masuk hitungan alias berada di luar skala prioritas istri. Mendapat perlakuan begini tentu saja suami tak terima karena mana ada sih orang yang mau dinomorsekiankan, sekalipun yang jadi “saingan” adalah anaknya sendiri.

Tak sedikit juga istri yang enggan berdua-duaan bila harus meninggalkan anaknya. Alam bawah sadar mayoritas perempuan meyakini bahwa kalau sudah punya anak, suami enggak bakal “lari” ke mana-mana. Padahal, ada atau tidak ada anak, romantisme perkawinan tetap perlu terus dijaga dan ditumbuhsuburkan. Jadi, tak perlu merasa bersalah bila sesekali meninggalkan si kecil demi bisa bersenang-senang dengan suami. Toh, tak pernah ada aturan baku untuk selalu membawa-bawa anak ke mana pun orang tua pergi. Dengan selalu mengikutsertakan si Kecil ke mana pun Anda pergi, kedekatan hubungan suami-istri tak akan terbangun karena sebentar-sebentar akan selalu ada gangguan teknis berupa teriakan dan rengekan si Kecil.

Kesalahan semacam ini bukan hanya monopoli istri kok. Banyak juga para ayah yang terlalu mengistimewakan anak, hingga mengabaikan istri. Padahal, sebagai orangtua kita tidak dibenarkan untuk menciptakan ketergantungan mutlak dalam diri anak kepada kita sebagai ayah ibunya. “Selain tak baik dampaknya bagi perkembangan si anak sendiri, romantisme sebagai pasangan suami istri juga akan menguap entah ke mana dengan berjalannya waktu.

SEDIAKAN WAKTU KHUSUS

Sekali lagi Rieny menegaskan, apa pun permasalahan dan bagaimana pun kondisi masing-masing rumah tangga, suami istri tetap harus punya waktu bagi pasangan. Bahkan harus sengaja menyediakan waktu khusus berdua. Di sinilah pentingnya pengaturan waktu yang selamanya akan tetap sama buat semua orang, yakni 24 jam sehari. Apakah mau mengalokasikan waktu khusus selama 1 atau 2 jam setiap hari bersama pasangan, silakan saja sepakati bersama. Yang terpenting bukan kuantitasnya, melainkan bagaimana pemanfaatan waktu tersebut secara berkualitas.

Perlu digarisbawahi juga bahwa perhatian kepada anak dan pasangan merupakan dua hal yang jelas-jelas berbeda. Terhadap anak, orangtua wajib membantu agar mereka tumbuh baik. Antara lain dengan mengupayakan pengasuhan dan pendidikan yang maksimal. Sementara kepada pasangan, perhatian lebih diarahkan pada pemenuhan kebutuhan pasangan akan kenyamanan psikologis. Caranya, dengan mengamati dan mengikuti perubahan yang terjadi secara cermat. Sekaligus senantiasa mensejajarkan diri dan menyamakan langkah agar tetap senada seirama.

Meski perannya sedemikian penting, memelihara romantisme suami-istri tidak bisa berdiri sendiri. Harus diupayakan bersamaan dengan membina komunikasi yang baik. Jika tidak, komunikasi di antara suami-istri umumnya tak nyambung lagi. Keinginan suami mengajak makan malam di luar atau membelikan hadiah di hari-hari istimewa, contohnya, malah dicurigai istri sebagai bentuk penyuapan atas kesalahan yang telah dilakukan suami. Niat baik yang  tidak terkomunikasikan ini tentu saja akan menyisakan suasana tak enak yang akan berkembang menjadi konflik. Padahal konflik yang tak terselesaikan pastilah berpotensi menjadi batu sandungan.

Akan tetapi jangan buru-buru beranggapan bahwa perkawinan romantis pastilah berjalan tanpa konflik. Perkawinan yang murni tanpa konflik justru patut dipertanyakan karena besar kemungkinan menyimpan segudang kepalsuan. Ingat, perkawinan tanpa konflik maupun perkawinan yang didominasi oleh konflik yang tak terselesaikan, sama-sama tak memiliki romantisme.

TAK HARUS MAHAL

Romantis sama dengan kemewahan yang harus dibayar mahal? Itu keliru. Jangan repot-repot mengartikan romantisme dengan candle light dinner di restoran mewah, bermalam di hotel berbintang 5 berlian, atau tamasya ke ujung dunia, dan sejenisnya. Boleh-boleh saja janjian kencan di hari jadi, ulang tahun perkawinan, atau mengirimi pasangan hadiah di hari Valentine. Namun, sebetulnya setiap momen dalam keseharian bisa dimanfaatkan untuk membangun romantisme dengan pasangan. Termasuk ketika terjebak dalam kemacetan atau saling meneguhkan saat menunggui anak yang tengah terbaring sakit. Begitu juga dengan tatapan penuh kekaguman, pujian tulus, apresiasi atas segala kebaikannya, memberi kehangatan dengan merengkuh bahunya atau menggandeng tangannya dalam genggaman.

Hal-hal “kecil” semacam itu sudah termasuk dalam romantisme karena merupakan ekspresi rasa sayang dan kepedulian kita pada pasangan. “Selain itu, tak perlu juga mengartikan romantisme sebagai ajakan untuk berintim-intim. Romantisme tak harus selalu berakhir di ranjang, kok,” pesan Rienny.

(Dimuat dalam majalah SEKAR – edisi 77/12, tgl 22 Februari 7 Maret 2013, rubrik CINTA)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: