SI AKTIF YANG BUKAN HIPERAKTIF

12 Mar

Sering merasa kesal pada buah hati tercinta gara-gara dia luar biasa aktif? Sah saja. Yang perlu diingat, hindari menghakiminya dengan sebutan anak hiperaktif. Aktif dan hiperaktif tidaklah sama.  Untuk keterangan lebih lengkap,  simak ulasan Theresia Puspayanti.

”Duh… anak Mama kok enggak bisa diem sih? Kerjaannya lari-lari ke sana kemari, petakilan melulu! Dasar hiperaktif!” Eiiittt, hati-hati member label negatif pada anak. Menurut psikolog Irma Gustiana Andriani, M.Psi., anak disebut aktif jika memiliki mobilitas tinggi, senang mengeksplorasi apa saja, namun tindakannya positif dan terstruktur. Artinya, anak menunjukkan minat tinggi dan berusaha menyelesaikan apa yang dimulainya. Apa yang dikerjakannya selalu memiliki tujuan dan menunjukkan hasil nyata. Kalau main balok susun, contohnya, ia mampu membuat bangun tertentu yang merupakan kreasi berdasarkan hasil imajinasinya.

Yang menggembirakan, anak aktif yang bukan hiperaktif biasanya memiliki kemampuan intelektual atau kemampuan berpikir jauh lebih tinggi dibanding anak normal yang sebaya dengannya. Daya imajinasinya juga tinggi, begitu pula kemampuan visualisasinya. Kemampuan motorik halus maupun motorik kasarnya sama-sama berkembang sebagaimana mestinya. Daya tangkapnya yang di atas rata-rata membuat anak aktif bisa cepat sekali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang dimasukinya. Ia amat kritis dan tidak menunjukkan sikap malu-malu. Namun saat diminta untuk duduk tenang atau melakukan hal-hal normatif alias berdasarkan aturan umum yang berlaku, ia akan segera menaatinya.

“Kendati luar biasa aktif, ia bisa memosisikan dirinya di mana pun berada mengingat kemampuannya memilah-milah amat bagus. Dalam pergaulan si aktif terkenal responsif, hingga ia bisa tampil luwes dan tidak kaku dalam berinteraksi dengan orang lain,” jelas Irma.

KENALI SI HIPERAKTIF

Berbeda dari anak aktif, anak hiperaktif umumnya melakukan berbagai aktivitas hanya dengan mengandalkan motorik kasar. Demikian diungkap psikolog yang juga berpraktik di LPT UI tersebut.Anak hiperaktif selalu gelisah dan tidak bisa tenang. Apa saja yang dilakukannya cenderung tidak terstruktur. Tak heran kalau dalam hitungan menit dia sudah berganti aktivitas karena bosan tanpa memperlihatkan hasil apa pun. Aktivitas yang semula dilakukan, ditinggalkannya begitu saja karena ia hanya ingin mengerahkan energinya yang berlebih tanpa intensi tertentu.

Hiperaktif merupakan bentuk gangguan pada anak yang mesti dicermati orangtua guna mendapat penanganan semestinya. Kalau anak aktif cenderung memiliki berbagai kemampuan di atas rata-rata dan tak mengalami keterlambatan/gangguan apa pun, anak hiperaktif justru sebaliknya. Ada sederet kekurangan sebagai gejala yang menyertai hiperaktivitas. Antara lain rendahnya kemampuan si anak untuk beradaptasi dengan lingkungan. Kemampuannya mengikuti aturan yang berlaku juga tidak terlalu baik karena kontrol dirinya tergolong rendah. Tak heran kalau kita jadi gampang tersulut emosi saat mengingatkannya untuk sejenak duduk manis.

Selain itu, anak hiperaktif akan selalu tidak tuntas mengerjakan kewajibannya. Mereka sering kali mengalami gangguan komunikasi dan perkembangan motorik halus. Ia akan mengalami kesulitan belajar karena kemampuan menggambar, membaca dan menulisnya tidak bagus. Selain itu, kemampuan sensorik yang tidak berkembang sebagaimana mestinya membuat anak hiperaktif secara keseluruhan benar-benar tidak terarah. Ia cenderung menghindari tugas, selalu gelisah, hobi jalan-jalan di kelas, gemar mengganggu teman, dan berisik yang sama sekali tidak mencerminkan sikap kritis. Kalau anak konsisten memperlihatkan perilaku yang sama, baik di rumah, di sekolah, maupun di tempat umum, sebaiknya orangtua segera mencari bantuan pada pakarnya, baik psikolog, dokter anak ataupun gabungan keduanya.

Untuk memastikan apakah seorang anak hiperaktif atau bukan, paling tidak butuh waktu 6 bulan untuk mengobservasinya. Pantau perkembangannya sejak bayi, apakah melalui tahapan merangkak (yang terkait dengan kemampuan sensorik dan keseimbangan) atau tidak. Cermati juga bagaimana perkembangan bicaranya, terlambat atau tidak. Kalau anak tidak melalui tahapan merangkak dan perkembangan bicaranya juga terlambat, besar kemungkinan si anak memang mengarah pada hiperaktivitas. Sayangnya, meski gejala awal hiperaktif sudah muncul di usia dini, biasanya orangtua baru “sadar” ada yang tak beres dengan anaknya saat si anak sudah sekolah.

DAMPAK BURUK

Berdasarkan gambaran perbedaan-perbedaan yang telah dibahas sebelumnya, Irma mengingatkan para orangtua maupun guru untuk bijaksana sekaligus hati-hati. Jangan sampai melabel anak aktif dengan sebutan hiperaktif. Pelabelan salah kaprah ini secara psikologis akan berdampak merugikan pada anak aktif yang bukan hiperaktif. Yang pasti anak merasa tidak nyaman, apalagi pengucapannya biasanya disertai dengan nada tinggi.

Sayangnya, lantaran anak umumnya belum bisa mengekspresikan ketidaknyamanannya, biasanya ia hanya menginternalisasi label tersebut yang membuatnya pasif dan menarik diri atau mengalami regresi alias kemunduran. Contohnya, anak umur 6-7 tahun yang tadinya sudah mandiri dan tidak ngompol, mendadak ngompol kembali dan minta diperlakukan seperti bayi. Dampak buruknya bisa juga dalam bentuk pemberontakan. “Ah karena bu guru bilang aku anak nakal yang enggak bisa diam, sekalian aja aku begitu!”

Jadilah si anak hobi mengganggu adiknya, usil pada temannya, ngomong kasar, dan mencoba-coba sesuatu yang berbahaya.

AKTIVITAS  PENUNJANG

Jika si Kecil termasuk anak aktif yang bukan hiperaktif , orangtua sebaiknya menyediakan sarana dan serangkaian kegiatan positif agar daya imajinatif anak bisa terarah. Di luar sekolah, ikutkan anak pada kegiatan olahraga, musik, seni, dancing atau sejenisnya. Selain kemampuannya makin terasah, kesempatan untuk tampil pasti akan menambah keberanian dan rasa percaya dirinya. Di sinilah pentingnya orangtua bersikap responsif dalam mendampingi dan mengimbangi keaktifan anak. Ingatlah selalu bahwa buah hati masih membutuhkan pendampingan psikologis dan kenyamanan dari orangtua. Kalaupun orangtua mampu menyediakan fasilitas lengkap namun tidak hadir mendampingi anak, tetap saja anak merasa “kosong”.

“Pertanyaan yang kemudian sering muncul adalah sekolah apa yang paling cocok untuk si aktif. Untuk ini, kembalikan pada anak. Orangtualah harus peka membaca kebutuhannya. Libatkan anak saat mencari sekolah. Tidak semua sekolah memiliki sarana yang mampu mengakomodasi kebutuhan anak aktif, tapi setidaknya carilah sekolah yang kriterianya mendekati. Contohnya, sekolah yang tak menuntut anak selalu duduk manis. Atau sekolah yang tidak mendewa-dewakan ranking dengan mengharuskan anak saling berlomba mengejar nilai 100. Orangtua juga harus memantau perkembangan anak dari hari ke hari,” urai Irma panjang lebar.

Begitu juga dengan pilihan kegiatan nonformal. Ikutkan anak ke berbagai kursus dengan melihat minat dan kebutuhannya, bukan mengutamakan gengsi orangtua. Pertama, berikan pilihan pada anak. Begitu ia bisa mencerna, bantu anak untuk bisa membuat keputusan mana yang dipilihnya. Kemudian minta anak untuk berkomitmen terhadap pilihannya. Arahkan anak untuk memilih kegiatan yang memungkinkannya menyalurkan potensi, minat, dan energinya yang berlebih. Dengan demikian kehidupan anak jadi lebih seimbang karena bukan hanya otak kirinya yang distimulasi melaui proses belajar di sekolah. Otak kanannya pun terstimulasi, hingga kemampuan anak untuk memecahkan masalah juga ikut berkembang. Nantinya, anak mampu mengantisipasi masalah dengan baik, tak mudah cemas dan tak gampang menyerah.

(dimuat dalam majalah SEKAR – edisi 77/12, tgl 22 Februari – 7 Maret 2012, rubrik ANDA & KELUARGA)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: